
"Gimana kabar keluarga ma?" Abraham menatap istrinya dengan penuh kerinduan, membelai lembut kepala Udayana. Jomblo pasti iri melihat ini.
"Baik, pa. Mereka minta kalau ada waktu kita ke sana semua," sembari mengelus pipi Gena yang ia tidurkan di pangkuannya.
"Boleh. Nanti papa akan cari waktu yang pas buat ambil libur, akhir-akhir ini banyak pertemuan berasa client dari luar."
"Oke, setuju." Merebahkan kepalanya di pundak Abraham.
Mereka saling melemparkan candaan berdua, Berlian seakan-akan tidak di anggap disini.
Seperti sepasang kekasih yang telah lama berpisah, padahal Udayana baru beberapa hari pergi.
Benar kata Gena. Siapapun yang melihat Abraham dan Udayana berdua, pasti akan iri melihat ke romantisan mereka.
"Berlian?"
"Eh iya tante," Udayana tertawa kecil.
"Kenapa? Kamu lagi mikirin sesuatu ya?" Tanyanya melihat kelagat Berlian kaget.
"Ah, engga kok tante. Tadi fokus nonton," Jawabnya asal,
"Berlian, kamu tidur duluan gih. Ini sudah malam soalnya," Perintah Abraham.
Udayana menimpali. "Iya sayang. Kamu pastinya sudah ngantuk kan?"
"Belum kok tante," memandang Gena yang terlelap.
"Udah tidur aja, Gena biar kami yang urus," Berlian mengangguk menurut, padahal ia sama sekali belum merasa ngantuk.
Tapi, di bandingkan disini melihat Abraham dan Udayana bermesraan. Lebih baik di kamar saja.
Berlian bangkit dari duduknya dan pamit kepada Abraham dan Udayana bergantian.
"Good night sayang" Berlian membalas tersenyum.
Sampai di depan pintu, Berlian menatap ke arah Udayana dan Abraham sebentar, mereka sibuk membangunkan Gena yang sudah tertidur pulas.
__ADS_1
********
Bukan langsung tidur, Berlian malah menuju rak bukunya, dan membawa salah satu buku ke atas ranjang tidurnya. Masalahnya ia belum mengantuk. Ia menuruti perintah Abrahan karena ingin menjauh saja dari mereka.
Dan jalan satu-satunya saat dirinya tidak bisa tidur adalah membaca buku.
Berlian membolak-balikkan bukunya berulang-ulang. Sampai pada beberapa paragraf Berlian masih belum mengerti dengan alur ceritanya. Pikirannya entah kemana, biasanya ia tidak menyadari waktu kalau sudah membaca, tapi ini sudah lewat dua jam Berlian belum juga menyelesaikan satu bab buku.
Dia menutup bukunya dan mulai memikirkan hal lain. Memikirkan siapa yang telah menelpon Aryan, bahkan membuat laki-laki itu pergi dengan tergesa-gesa, apalagi melihat pakaian Aryan yang seketika rapi.
Berlian menggeleng kecil, bahaya kalau pikirannya berkeliaran memikirkan ketampanan Aryan yang bertambah setiap harinya
Saat sibuk beradu argument dengan pikirannya. Pintu terbuka membuatnya terkejut, apalagi dengan Aryan yang berdiri di ambang pintu.
"Baru pulang? Kemana lo tadi?" Aryan sama sekali tidak menjawab pertanyaannya, laki-laki itu hanya diam. Membuat Berlian turun dari ranjang dan berjalan menaruh buku di rak.
"Kenapa...." Saat membalikan badannya melihat Aryan yang sudah didepannya. Berlian mundur sedikit. Sorot mata Aryan terus menatap dirinya kosong, Berlian mencium bau alkohol dari nafas Aryan. "Lo minum?" Aryan masih tidak menjawab.
Laki-laki itu maju. "Berlian,," Membuatnya mundur lagi hingga berbentur dengan rak buku di belakangnya.
"Hmmm," jawabnya singkat, berusaha mengontrol detak jantungnya.
"Hmm..." Berlian mendorong tubuh Aryan pelan, "bisa mundur dikit..."
Bukannya menuriti, Aryan malah maju sampai membuat mereka tidak berjarak. "Jangan tinggalin aku apapun yang terjadi,"
Berlian mengerutkan keningnya. "Hah???"
"Kamu harus percaya sama aku di bandingin sama omongan orang lain," Berlian semakin mundur walaupun tubuhnya sudah terlalu mepet pada rak buku.
"Kenapa gue harus---" Berlian membulatkan matanya melihat Aryan yang hampir menempelkan bibirnya.
Membuatnya menahan nafas, Aryan tidak menciumnya, laki-laki itu hanya menempelkan hidungnya saja pada bibir Berlian. Sedangkan bibirnya menempel pada dagu Berlian.
Saat Berlian mendorong tubuh Aryan, pria itu sudah lebih dulu memeluk pinggang Berlian erat.
"Aryan,,,,,"
__ADS_1
"Kamu mau menanyakan sesuatu?"
"Hah? nanya soal apa?" Berlian kebingungan sembari menahan tubuh Aryan.
"Aku akan jawab jujur,,"
"Iya, nanya soal apa?"
"Soal apapun," Semakin erat memeluk Berlian. "Aku akan menjawabanya dengan jujur tapi dengan satu syarat kamu tidak boleh pergi."
Berlian tertawa, "apasih maksudnya?"
Aryan menatap wajah Berlian lekat. "Kamu suka dengan kejujuran kan?" Berlian mengangguk. "Aku akan jujur"
"Soal apa?"
"Whatever it is " Berlian hanya membalas cengiran, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Oke gini saja." Bersandar pada bahu Berlian. "Janji sama aku?"
"Janji?" laki-laki itu mengangguk. "Janji soal apa?" Berlian terus beristigfar di dalam hatinya, memohon untuk bisa mengontrol ketika Aryan berlaku seperti ini.
"Satu, ikuti semua yang aku ucapin. Kedua, jangan pergi setelah tau semuanya," ucap Aryan. Sadar atau tidaknya, pria itu masih memeluk dan bersandar pada bahu Berlian.
"Kedua. About what?" Aryan menggeleng.
"About everything. My feelings and your heart." Berlian terpaku ketika Aryan mengecup pipinya lembut.
Berlian mengangguk samar. "Okay. I promise,"
Aryan mengangkat kepalanya. "So, kamu tidak mau bertanya sesuatu? aku sudah siap menjawab dengan jujur."
Berlian menggeleng. "Gak ada yang perlu gue tanya sama lo?"
Aryan menatap wajah Berlian dengan samar-samar. "Good night," lalu mengecup kening Berlian dan pergi.
Setelah melihat Aryan pergi meninggalkannya, menghilang dari balik pintu yang tertutup. Berlian merosot jatuh, menyentuh dadanya. "Jantung gue, kenapa cepet banget detaknya. Astaga, gue kenapa?" Mulai mengatur nafasnya.
Menyentuh pipi dan kening bekas kecupan Aryan, dan tersenyum. "Dasar cowok mesum, liat aja. Besok gue laporin sama om Abraham," dan dia langsung berlari menuju ranjang tidurnya, menutup seluruh tubuh dengan selimut tebal.
__ADS_1
Belum lewat sepuluh menit Berlian sudah membuka selimutnya, dan tertawa kecil. "Dia kenapa sih??" Menyentuh pipinya lagi, menerawang menatap langit-langit kamar, dia tersenyum lagi membayangkan wajah Aryan ketika menciumnya tadi hingga dia terlelap tidur.
...☘️☘️...