Unforgettable Mistake

Unforgettable Mistake
UM (45)


__ADS_3

"Aaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!!" Gena berteriak sangat kencang, menyusuri setiap penjuru ruangan. Deguban jantungnya lebih cepat di bandingkan langkah kakinya.


Bu Nuri berhasil menangkap Gena, sedangkan gadis itu sudah meronta-ronta minta di lepaskan, sembari menenteng slim bagnya dan sepatu ketsnya.


Karena kekuatannya lebih besar di bandingkan Bu Nuri, Gena berhasil kabur dan bersembunyi.


"Ya ampun Gena, jangan ikut ya," bu Nuri menarik-narik Gena yang bersembunyi di belakang Berlian.


"Mas Aryan yang ngajak Gena kok bu, Gena gak bakal ganggu mereka kencan," bu Nuri bersikeras ingin Gena tidak ikut pergi.


"Aduh Bu,," menghentikan aksi bu Nuri yang terus memaksa Gena melepaskan peluknnya dari tubuhnya. "Kita memang mau ngajak Gena pergi, mumpung Aryan lagi libur juga kan?"


Aryan mengangguk menyetujui. "Iya bu, saya memang yang ngajak Gena kok," ucap Aryan yang berusaha menyelamatkan Berlian dari anak dan ibu itu.


Dengan berat hati, bu Nuri mengizinkan Gena untuk ikut dengan berjanji untuk tidak mengganggu Aryan dan Berlian.


********


Di dalam mobil, Gena sibuk menelpon kekasihnya. "Iya, lagi senggang kan?" Sembari mengikat tali sepatunya, karena sibuk tarik menarik bersama bu Nuri membuatnya tidak sempat memakai sepatu. "Iya, aku ada tabungan kok. Enggak, gak usah pakai uang kamu, aku ada!! Pokoknya dateng yaa, please," Gena sedikit mengeram kesal. "Ada film yang mau aku tonton, Bimoo!!!!!"


Berlian menatap Aryan yang sedang menyetir.


"Tanya dia sendiri," seperti mengerti arti dari tatapan mata Berlian.


"Kemarin kita belum sempat cerita tentang Bimo loh Gena," ucap Berlian menatap Gena, gadis itu sedang merapikan rambutnya. "Dari kemarin kamu kekeh gak mau bimo tahu kamu berangkat bareng aku?? Tapi aku belum paham sama ceritanya,"


"Panjang, pokoknya dia gak boleh tau kalau aku anak angkat dari keluarga Mahesvara," Berlian menatap Aryan lagi, laki-laki itu menggidikkan bahunya. "Cuma dia satu-satunya orang yang mau deketin aku, tanpa dia tau aku siapa," merebahkan dirinya, menatap langit-langit mobil.


"Terus kenapa emangnya kalo dia tau kamu anak angkat dari keluarga Mahesvara?"


Gena menghela nafas berat. "Ada dua kemungkinan dia bakal ninggalin aku."


"Kenapa dia harus ninggalin kamu?"


"Sulit di lukiskan dengan kata-kata kakk."


"Okay, kalau gitu apa kemungkinan pertamanya??"


Gena tersenyum kecut. "Dia akan kecewa kalau ternyata aku bukan anak sederhana, dia pasti merasa aku sudah membohongin dia,"


Berlian mulai mencoba mengerti. "Kemungkinan kedua??"


"Dia bakal kecewa kalau ternyata aku bukan anak kandung dari keluarga Mahesvara," Berlian mengerutkan keningnya. "Ahh, pokoknya kak Berlian gak bakal paham."


"Dulu, semua mantan Gena rata-rata anak temen bisnis papa atau adik dari temen bisnis aku. Tapi, setelah tau Gena bukan keluarga Kandung. Semuanya mutusin Gena tiba-tiba," timpal Aryan.


"Kok bisa???"

__ADS_1


"Berlian, kalau dari mereka bisa menjalin kedekatan dengan keluarga kami, pasti ada keuntungan dari mereka,"


"Lo sama gue bisa jadi contohnya gak?" Aryan diam menatap lurus.


"Bedalah, kalian kan emang takdir dari Yang Maha Kuasa sama Yang Mama pengenin." Berlian tertawa. Ada benarnya juga ucapan Gena.


"Mas minggir, Gena turunin disini aja," Aryan langsung menepikan mobil sebelum masuk dalam kawasan Mall. "Inget ya mas," Aryan mengacungkan jempolnya.


Gena berlari menjauh sembari melambaikan tangannya ke arah mobil. Sedangkan Aryan kembali mengemudikan mobil untuk masuk kedalam kawasan Mall.


"Inget apa?" tanyanya ketika keluar dari dalam mobil.


"Pura-pura gak tau," Berlian mengerutkan keningnya, mereka berjalan beriringan.


Berlian tersenyum melihat Gena berdiri di depan pintu masuk. Namun, Aryan mencegahnya untuk menghampiri Gena. "Jangan, nanti Bimo bisa lihat. Kita langsung masuk aja, jangan lihatin dia," Berlian menuruti, tapi matanya sedikit melirik Gena. Gadis itu benar-benar berakting seakan-akan tidak mengenalinya.


Saat menaiki eskalator, Berlian melihat Gena sejenak. "Sering gini ya?"


Aryan mengangguk. "Sering, kadang gak sengaja ketemu sama Bimo disini pas kami lagi berdua,"


"Terus???"


"Ya, aku pura-pura pergi aja. Kayak gak sengaja berdiri deketan gitu," Berlian tersenyum kecil.


"Awal mulanya kenapa?" Berlian mulai tertarik dengan cerita tentang Gena.


"Dulu, dia sekolah di Jakarta. Gena cukup pintar dan memiliki banyak teman. Tapi setelah mereka tau Gena bukanlah anak kandung dari keluarga kami, dia di jauhi. Bahkan dia sempat dibully juga," Berlian merasa iba kepada Gena, hanya karena anak kandung dan angkat.


Berlian bertanya-tanya sendiri, ia juga tidak tahu soal itu, karena dulu hidupnya hanya mau berteman dengan Angga dan Farrel saja.


"Terus???"


"Akhirnya dia pindah kesini. Mereka cukup baik, setelah lulus. Gena balik lagi ke Jakarta, karena waktu itu aku tugas disana, jadi dia mikirnya bakal ada yang jagain. Tapi, ternyata kejadian sewaktu SMA keulang lagi,"


"Teruss???"


"Terus numbur," Menarik Berlian hampir menabrak meja penjual.


"Ihhh,," Aryan tersenyum. "Kenapa gak lanjut kuliah diluar Negri aja"


"Dia gak mau pisah sama Pak Hendra" Berlian mengerti, Gena selalu mendapat perhatian dari siapa saja. Tapi, Pak Hendra tampak sangat memperhatikan Gena. Mungkin itu yang membuat Gena sangat menyayangi Pak Hendra.


"Dia pindah kuliah disini?"


Aryan mengangguk. "Ternyata sama aja, dia di jauhin juga. Tapi, semakin lama dia kebal sendiri, dan tidak perduli. Di situ Bimo mengira Gena anak orang kecil yang tidak memiliki temen. Makanya dia nemenin Gena," melihat kebelakang, Gena sudah berjalan beriringan bersama Bimo di sebelahnya. "Tapi aku cukup menyukai Bimo, anak yang sopan, aku selalu menjadi pengawal kalau mereka jalan, ternyata Bimo anak yang benar-benar sayang sama Gena."


"Lo kurang kerjaan banget ngikutin mereka?"

__ADS_1


"Waktu itu gena masih takut dan kurang percaya sama Bimo," mereka berjalan memasuki gedung Bioskop. Aryan mengetik pesan kepada Gena tentang pilihan film yang akan dia tonton Bersama Berlian, dan Gena memilih film yang sama agar mereka satu ruangan. "Ada yang lucu,"


Berlian menatap Aryan, ketika mereka berjalan menjauhi antrian pemesanan tiket film, "Apa?"


"Sewaktu aku ada urusan di Amerika, Gena menelpon dan meminta aku untuk membelikan jaket, sweater, or something like that. Dan setelah dia berikan kepada Bimo, satu minggu kemudian Bimo jual semua."


Berlian membelalak kaget. "Kenapa di jual?"


"Katanya dia kekurangan uang untuk membayar tagihan kost nya." Jawab Aryan.


"Umm, lalu di mana lucunya??" Berjalan mengikuti Aryan menuju ruang tunggu, Berlian duduk saat di arahkan oleh Aryan.


Aryan masih menahan tawanya. "Dia di tawari sama penjualnya dengan harga tinggi, makanya dia mau jual itu. Sewaktu di tanya berapa dia jual, kamu tau dia jual berapa?"


"Berapa???" Aryan duduk di sebelahnya setelah membukakan botol minuman untuknya.


"Kemeja sama Jaket, lima ratus ribu." Berlian masih menatap Aryan. "Gena marah bukan main saat itu, bahkan dia sampai mengtakan ingin putus tapi Bimo memohon untuk tidak melakukan hal itu,"


"Gena semarah itu?"


"Tentu saja, I bought it for 5000 dollars," hal itu membuat Berlian mengangga besar, bahkan dia juga sempat tertawa.


"Lo gak marah waktu tau itu????"


"Ya, aku mau marah gimana?? biarkan saja."


Wah, orang kayak itu bebas ya???? Berlian saja, walaupun beberapa baju yang setara dengan kemeja dan jaket itu ia punya. Tapi ia tetap akan marah jika yang di belikan sembarangan menjual.


"Terus Bimo tau??" Aryan menggeleng.


"Bimo taunya cuma Gena marah karena dia jual kadonya aja sih, soal harga Gena tidak memberitahunya."


"Terus, Gena tau dari mana kalau Bimo menjual kado darinya?"


"Karena Gena merasa kemeja yang di pakai Bimo berbeda sama yang di kasih, setelah di cari tau. Ternyata dia beli kemeja bekas terus yang di kado dia jual," Berlian kembali tertawa, tapi dilihat dari mereka jalan berdua, kelihatan sekali kalau Gena benar-benar menyukainya. Apalagi saat Gena menatap Bimo. Tatapan mata ya. Itu juga sering ia dapati saat Aryan menatapnya.


Berlian memperhatikan pria yang duduk disebelahnya.


"Aryan," laki-laki itu menoleh.


"Hmmm,,,"


'Mohon perhatian anda, pintu theater dua telah dibuka. Kepada para penonton yang memiliki karcis, di persilahkan memasuki ruangan theater'


Aryan Berdiri. "Ada apa?"


"Ahh enggak," Aryan meraih tangan Berlian dan membawa perempuan itu masuk Bersamanya.

__ADS_1


Menikmati film Thriller dengan Aktor Frank Grillo. Berlian juga melihat Gena dan Bimo duduk di bangku yang tidak jauh dari dirinya duduk.


...☘️☘️...


__ADS_2