Unforgettable Mistake

Unforgettable Mistake
UM (105)


__ADS_3

Aryan menggeliat pelan, sebuah decitan pintu terbuka berhasil membuatnya terbangun. Matanya menyipit mengintip jam dinding diatas televisi. Jam menunjukkan pukul setengah sembilan malam, masih terlalu sore untuk bangun dari tidur.


Bukankah ia baru saja memejamkan matanya, kenapa sekarang ia sudah terbangun? Aryan melihat kearah pintu, masih tertutup rapat. Lalu decitan apa yang membuatnya terbangun.


Membuka pintu pelan, kepalanya melongok keluar, lampu ruang tengah masih menyala terang. Udayana, Abraham dan Gena masih terjaga, mereka masih serius menatap layar televisi.


Dari pada tidak bisa melanjutkan tidurnya lagi, lebih baik ia mencari udara malam yang menyejukkan.


Menaiki anak tangga satu demi satu, namun pada anak tangga terakhir, kakinya melayang. Menapakkan dengan pelan agar tidak terdengar.


"Come on, I just can't open my feelings to anyone right now." Wanita itu mendesah kecil, tangan satunya sibuk meremas rambutnya yang terurai dengan sebatang rokok yang terselip dijarinya. Satu tangannya lagi menggenggam ponsel yang menempel pada telinga. "Kamu tahu? aku sudah memiliki tunangan."


"I know, even I know everything about you very quickly. Aku mohon Berlian, izinkan aku mendekatimu." Berlian menggaruk kepalanya dan rokoknya ia hisap sedikit. "Tunanganmu menghilang, aku tidak akan membiarkanmu merasa sendirian. At least for now."


Berlian tertawa kecil. "Ummm," menghisap lagi. "Ya, aku yakin sebentar lagi dia akan kembali, saat ini Aryan hanya..." menghisap lagi dan ia hembuskan dengan pelan. "I mean. He just needs time to accept me back."


"Tidak Berlian, dia tidak menginginkan kamu kembali, I said according to reality." Terdengar suara tawa nyaring dari sebrang sana. Ya, pria itu sedang menertawakan Berlian. "Please trust me. Aku akan benar-benar membuatmu bahagia."


"Cleno, I beg you, forget about what Daddy and Mr. Smith said. Mereka cuma bercanda, tidak ada percakapan mereka yang serius, apalagi tentang perjodohan antara aku dan kamu."


Pria disebrang sana mendesah kesal. "No one is kidding about me and you!!!!" ucapnya terdengar setengah berteriak.


"Please stop. You are my friend, forever will remain friends. Nothing can bring us together. Saat ini yang aku butuhkan hanya dukunganmu, karena kita adalah teman. Right?" menghisap rokok yang tersisa setengah batang. "Kamu dengar aku Clen?"


Tidak ada jawaban dari sebrang sana. Berlian ikut terdiam, ia tidak perduli Cleno akan marah atau apapun. Saat ini ia hanya ingin mengembalikan ingatan Aryan, Hanya itu.


Terdengar Cleno berdehem. "It is up to you. Aku akan menunggu. Until he actually comes back to you, Until he really wants you back. Aku masih akan menerimamu, jika dia tidak menerimamu."


"Thank you."


"Ehem.." Berlian tersentak, ia lemparkan setengah batang rokok yang tersisa kelantai, ia sampai terlonjak dan berdiri.


Matanya membulat sempurna, Aryan. Pria itu berdiri disisi kiri kursi besi putih yang ia duduki, dengan tangan bertautan dibelakang. Pandangannya lurus menatap kedepan.


"Aryaan.. Kamu belum tidur?"


Matanya menatap Berlian sekilas sebelum melirik kelantai, menatap sebatang rokok yang tergeletak dengan api masih menyala. Melihat Aryan melirik itu, tanpa sadar Berlian matikan dengan menginjak rokok itu tanpa alas kaki.


Berlian merintih. "Awww,," kemungkinan melepuh terkena abu rokok.


Aryan sedikit terkejut, namun ia netralkan lagi pandangannya. "Lanjutkan saja, aku hanya ingin mencari udara segar."


"Itu yang dulu kamu ucapkan pertama kali saat menemukanku sedang merokok." Aryan menatap Berlian.


"Begitukah? aku terlalu baik."


Berlian tersenyum tipis. "Ya, sangat baik."


"Saking baiknya, aku sampai rela dijodohkan oleh wanita sepertimu."


Mendongak, mendengar ucapan Aryan yang tampak sedikit menyakitkan. "Sepertiku?"


"Ya, terlalu barbar. Aku tidak tahu, kenapa aku sampai mau menerimamu. Jelas-jelas kamu bukan wanita idamanku."


Berlian tersenyum, ia beranikan menatap Aryan yang sudah kembali menatap kearah depan. "Aku tahu, aku juga sedikit heran, pria seperti dirimu mau menerimaku sebagai pendampingmu. Seharusnya kamu bahagia bersama Zivana bukan?"


Aryan menoleh. "Kamu tahu soal Zivana?"


Hanya dengan menyebutkan nama itu saja, Aryan baru mau menatapnya. "Aku tahu, semua tentangmu. Yang hanya aku tidak tahu adalah, kamu sudah jatuh cinta padaku sebelum kita bertemu."


Terdengar Aryan tertawa, bahkan ia tertawa lama sembari meremas perutnya. Berlian tersenyum perih, Aryan seperti sedang menghinanya. "Kamu sangat percaya diri."

__ADS_1


"Aku harap, aku bisa memiliki kepercayaan diri sebesar itu." Aryan menghentikan tawanya, ia menatap Berlian penuh, bahkan badannya ia geser untuk benar-benar bisa melihat kearah Berlian.


"Sampai kapanpun, sampai ingatanku kembali sekalipun, aku tidak akan mau menerimamu. Pergilah, terima saja tawaran pria diteleponmu. Karena aku tidak akan menerimamu."


Berlian terdiam menatap Aryan. "Aryan, sejujurnya aku sangat sangat tidak menyukaimu sedari awal. Tapi keyakinanmu membuatku akhirnya membuka diri." Aryan tersenyum meremehkan. "Taman, pertama kalinya kamu menggenggam tanganku. Buku, pertama kalinya aku memelukmu. Pantai, kita berciuman. Seharusnya aku mengatakan satu kata lagi. Konser The Rocky, pertama kalinya kamu menciumku saat aku tidak sadar."


Aryan tidak mengerti maksud wanita dihadapannya. "Aku tidak ingin membuatmu berpikir keras. But I beg you. You have to remember everything, before you regret that I go for the second time. Again."


Aryan tersenyum, sepertinya pria itu tidak mendengarkan ucapannya dengan serius. "Please If you wanna go, because whenever I will never regret it."


Berlian melangkahkan kakinya menuruni tangga dengan cepat, tidak ia perdulikan lagi soal kakinya yang melepuh akibat abu rokok yang ia pijak tadi.


********


Mobil sedan berwarna putih sudah keluar dari halaman rumah mewah Mahesvara, tanpa suatu penyesalan Aryan tersenyum kecil, akhirnya. Wanita itu telah pergi darinya, seharusnya ia mengusirnya dengan cepat saat itu.


Kenapa ia tidak kepikiran sama sekali waktu itu.


Aryan berbalik untuk masuk kedalam rumah, terlalu lama terkena angin malam juga tidak baik. Tiba-tiba pandangannya memburam, sakit kepalanya kambuh, ia batalkan untuk menuruni tangga, takut kalau sampai terjatuh. Dengan kedua tangannya, ia meremas dan sesekali memijit kepalanya yang terasa sangat sakit.


Ingatan kecil muncul, saat wajah Berlian berada disana, ia menangkup wajah Berlian dan mengelus kedua pipinya dengan lembut menggunakan ibu jarinya.


"Berlian dengar ini." mata Berlian perlahan membuka, sayu tanpa sorotan mata tajam dan sinis. "Aku menyukaimu." ketika Berlian mengangguk, ia meminta maaf terlebih dahulu sebelum ia mencium bibir lembut Berlian lagi dengan perlahan.


"Apa itu?" Aryan memukul kepalanya, ingatan macam apa itu yang tiba-tiba muncul dalam kepalanya. "Konser The Rocky?"


Mencoba mengingat ucapan Berlian, konser The Rocky pertama kalinya ia mencium Berlian. Apa benar kalau ia dulu yang menyukai Berlian.


Aryan teduduk dilantai, ia memukul kepalanya lagi dan lagi, hingga sebuah ingatan kecil muncul.


"Jadi. Sejak kapan kamu menaruh hati untukku?"


"Aku tahu, semuanya. Saat konser The Rocky kamu menciumku, saat kamu pulang dengan keadaan mabuk kamu menciumku, saat aku tertidur dikamarmu pertama kali kamu menciumku, saat kita tidur di Apartment sehabis dating kamu juga menciumku. Mana yang udah buat kamu jatuh hati sama aku?"


Aryan melebarkan matanya, ia ingat sekarang..


Suara gemuruh angin kencang tidak lagi terdengar, deru nafas yang memburu semakin jelas terdengar. Matanya berkeliling, otaknya terus berputar. Apa yang telah ia lakukan? Mengatakan bahwa ia tidak akan pernah menerima wanita itu, sekalipun ia telah mengingat segalanya.


Aryan berlari begitu kencang, menuruni anak tangga dengan buru-buru hingga membuat keluarganya menoleh keharanan.


Udayana bangkit. "Sayang, bisa kamu pelan-pelan turunnya. Kamu bisa terjatuh nanti."


"Maa....." Aryan mencekam kedua bahu Udayana, air matanya seketika turun. "Kenapa gak ada yang ngasih tahu Aryan soal Berlian."


Abraham beridiri mengampiri. "Aryan....."


"Pa, kenapa kalian semua tega menyembunyikan siapa Berlian," Aryan memukul kepalanya. "Kenapa Aryan harus hilang ingatan? dimana Berlian?"


"Berlian, baru aja keluar. Tolong kamu tenang sebentar sayang, kita......." belum mendengar ucapan Mamanya, Aryan sudah pergi berlari masuk kekamarnya mengambil kunci mobil dan jaket. Lalu menuruni anak tangga, berlari keluar. Sebelum melakukan itu, ia setengah berteriak.


"Aryan pergi cari Berliaann....."


"Aryaann..." Abraham menahan lengan istrinya, lalu menariknya dalam pelukan. "Pa, Aryaan.."


"Biarkan dia," mengelus puncak kepala Udayana.


********


"Sial....." mulutnya terus mengeluarkan sumpah serapah. Kenapa malam ini harus ada kemacetan? jarang sekali kota ini mengalami hal semacam ini.


Aryan melihat seorang pria tengah berjalan ditengah-tengah kemacetan. Buru-buru ia keluar menghampiri. "Ee Mas, ini macet kenapa ya?"

__ADS_1


"Eh iya, itu Mas ada kecelakaan didepan pas lampu merah. supirnya ngantuk kayaknya."


"Masih lama yang." seorang wanita keluar dari mobil disebelah Aryan.


"Iya, lama banget mungkin. Sabar ya?" wanita itu mengangguk.


"Katanya sih masih ngabarin keluarganya, orang kaya tapi supirnya kurang ahli, sayang mobilnya," memasang wajah sedih. "Sedan warna putih, astaga itu yang aku inginkan padahal."


Aryan membeku, Sedan warna putih. Bukankah.....


"Mari, kami masuk mobil duluan." Aryan ikut tersenyum ramah. "Makasih Mas informasinya." pria itu mengangguk dan masuk kedalam mobilnya.


Dengan sigap Aryan langsung membawa mobilnya kepinggiran. Dan ia Berlari, meninggalkan mobilnya, jangan sampai terjadi apa-apa sama Berlian. Ia tidak akan memaafkan dirinya kalau sampai sesuatu terjadi pada Berliannya.


Ditengah-tengah ia berlari seseorang memanggilnya. "Mas Aryaaaann...."


"Jeff," Aryan mendekat, Jeff penjaga gerbang rumahnya sedang bersandar pada mobil sembari merokok. Pria itu langsung berdiri tegap ketika melihat Aryan mendekat. Aryan mengintip kemobil. "Kamu bawa Berlian?"


"Iya Mas."


Aryan menghela nafas lega, ternyata Berliannya tidak apa-apa. "Dimana dia? kenapa dimobil tidak ada?" Jeff menelan salivanya dengan susah payah.


"Karena macet panjang, Nona mau mencari udara segar Mas. Jadi Nona sedang jalan-jalan keluar, kalau sudah gak macet saya disuruh menghubungi Nona nanti." Jeff menjelaskan.


"Kemana?"


"Mungkin ketaman." ucapnya sembari menunjuk kearah pintu masuk taman.


Tanpa mengucapkan apa-apa lagi pada Jeff, Aryan langsung berlari memasuki kawasan taman. Lumayan ramai, kemungkinan besar karena mereka terlalu lelah menunggu antrian yang panjang akibat kecelakaan yang akhirnya mereka memilih singgah bermain ditaman.


Tubuhnya terus berputar, matanya berkeliaran mencari sosok Berlian. Tidak ada Berlian dimana pun. Ia berlari lebih kedalam lagi, jantungnya terus berdetak, takut kalau ia tidak bisa menemukan Berliannya.


Nafasnya tersenggal, deguban jatungnya masih sulit ia kontrol. Ini sudah kesekian kalinya ia menghela nafas sebelum langkah kakinya membawa tubuh gelisahnya menuju sosok wanita yang ia cari.


Berlian tengah duduk diayunan kayu kecil. Matanya terus tertuju kebawah, hingga kedatangan Aryan membuatnya mendongak dan langsung berdiri.


Masih sama-sama terdiam, pikiran Aryan sedang beradu argument, haruskah ia meminta maaf terlebih dahulu atau ia langsung saja memeluk tubuh Berlian, wanita yang sangat ia rindukan. Tapi tidak bisa ia lakukan, berakhir dengan kedua tangan yang erat mengepal. Sedangkan Berlian, pikirannya masih tertuju ada apa dengan Aryan? kenapa pria itu kini berdiri dihadapannya dengan nafas yang memburu.


"Ar... Kamu ngapain disini?" Berlian menunduk. "Apa masih ada yang mau kamu omongin? aku udah sadar diri kok, jadi kamu gak perlu lagi ngeluarin kata-kata kasar kamu buat aku." Berlian mendongak ketika ia merasa keningnya tertempel sesuatu yang lembut dan basah. Aryan mencium keningnya. "Kamu ngapain?"


Aryan menangkup wajah Berlian dan mengelusnya. "Seharusnya kamu kasih tahu sejujurnya, maaf kalau kata-kata aku menyakitimu."


Terkejut sudah pasti, ketika ia hendak melangkah mundur kecepatan tangan Aryan lebih dulu mengecup bibir Berlian lembut. "Maaf, untuk semuanya. You're right, I'm really sorry for the second time," Aryan mencium seluruh wajah Berlian tanpa berhenti. "Aku menyesal Berlian, tidak menceritakan semuanya langsung kepadamu. Aku menyesal menunda semuanya."


Berlian mendorong dada Aryan pelan, agar pria itu menjauh. "Kamu sudah ingat?"


Aryan mengangguk. "Dan aku gak akan pernah menyesal sudah bertunangan dengan wanita sepertimu."


Aryan maju lagi, meraih tangan Berlian dan mengecup jari manis yang tersemar cincin pertunangan mereka. "Cincin ini pemberian Farrel, ada nama dia didalamnya. Dan aku hanya merombaknya dengan menambahkan berlian diatasnya."


"Benarkah?"


"Malam itu, seharusnya dia melamarmu dengan cincin itu," Aryan mengusap air mata Berlian yang jatuh. "Maafkan aku Berlian, seharusnya kamu sudah bahagia bersamanya. Maaf sudah merusaknya."


Berlian meraih tangan Aryan dan mengecupnya. "Bertanggung jawablah atas semua yang kamu perbuat Aryan. Jangan pergi, jangan tinggalkan aku. Maka aku akan bahagia."


Mereka berpelukan, dengan Berlian yang sudah menumpahkan seluruh air mata bahagia dan sedihnya yang menjadi satu. Aryan melepaskan pelukan itu dan menatap Berlian dengan penuh rasa bahagia dalam jarak sedekat mungkin.


Berlian memejamkan matanya ketika pria tinggi itu mengecup kedua matanya yang mulai sembab.


"Berlian." panggilnya lirih hampir tidak terdengar. Berlian membuka mata, jantungnya benar-benar kurang ajar. Tidak mau berdegub pelan barang sebentar. Ia mendongak menatap Aryan yang senantiasa menatapnya sangat dalam dengan jarak hanya sedikit, membuat mereka sama-sama bisa merasakan hembusan nafas masing-masing. "Will you marry me?"

__ADS_1


(((((((((((((((((((((TAMAT)))))))))))))))))))


__ADS_2