Unforgettable Mistake

Unforgettable Mistake
UM (60)


__ADS_3

"Kira-kira tempatnya masih jauh gak mas?" karen lampu merah menyala, membuat Berlian mendapatkan kesempatan untuk bertanya. Mobil yang dikendarai Aryan sudah tidak terlihat lagi. Berdebat dengan pak Jerden membuat mereka kehilangan jejak Aryan, untungnya Berlian sempat melihat location yang Zivana berikan tadi kepada Aryan melalui pesan singkat menjengkelkan itu.


"Sekitar tiga puluh menit lagi, tapi kalau saya ngebut insaAllah akan cepat sampainya mba-eh-non,"


"Ya sudah kalau gitu ngebut saja,"


"Tadi pak Jerden memberi pesan untuk tidak mengendarai motor dengan kecepatan melebihi empat puluh,"


Berlian berdecak, "kan sekarang pak Jerden tidak ada, saya gak akan kasih tau siapa-siapa kalau mas ini ngelanjar perintah."


"Tapi nona,"


"Perintah dibuat untuk dilanggar kan?"


"Jadi, tidak apa-apa nih kalau saya ngebut?"


"Aman,"


"Oke, kalau begitu pegangan kuat-kuat nona, saya akan memperlihatkan bakat saya yang terpendam dalam mengendrai motor." Mendengar hal itu, membuat Berlian gelagapan dan mencari pegangan agar ia tidak terjatuh, pegangan belakang adalah yang terbaik.


Mereka kembali melanjutkan perjalanan dengan kecepatan tinggi. Sungguh, Berlian tidak tahu kemana sang ojek membawanya pergi, yang ia tahu selama ini hanya perjalanan dari apartemen, rumah dan Cafe.


Iya, hanya itu circle perjalanan Berlian.


Darrr......


Bruuukkkkkk......


Motor yang di tumpangi Berlian mendadak oleng, Berlian sempat berteriak karena kaget dan takut. Untungnya sang supir ojek mampu mengendalikan motor dengan cekatan. Membuat motor ambruk tidak terlalu parah, namun tetap saja motor itu merosot jauh jarak beberapa meter dari Berlian dan Juna, sang pemilik motor.


Suara cukup keras, namun tidak seorangpun akan mendengar. Jalanan cukup sepi, mereka juga tidak berada pada area perumahan.


Juna, cepat-cepat berdiri, ia tidak lagi memperdulikan luka goresan pada siku dan punggung tangannya.


Juna bergerak cepat mendekati Berlian, terlihat wanita itu terduduk sembari merintih kesakitan. "Nona tidak apa-apa?"


"Saya tidak apa-apa kok mas? Duh, ini gimana?" Juna mengulurkan tangan untuk membantu Berlian berdiri.


"Saya bantu berdiri nona" Berlian meraih uluran tangan itu. "Maaf, saya gak tau kalau bakal begini. Ban motornya tiba-tiba meletus,"


"Yaah, teruss gimana? masnya gak apa-apa kan?" Melihat sedikit ke arah Juna. Duh itu, tangannya."


"Saya tidak apa-apa. Apa nona Berlian ada yang terluka? Kita cari puskesmas saja, takut ada yang luka. Kayaknya kalau kita jalan dikit ada puskesmas sih,"


"Saya gak apa-apa kok. Terus kita harus gimana nih? Cari bengkel aja kali ya," Berlian melongok kekanan dan kekiri, nyatanya jalan ini sangat sepi. Berlian jadi merasa takut dan ragu kepada laki-laki yang membawanya ini.


Iya juga ya, kenapa ia tidak kepikiran. Bisa saja laki-laki yang membawanya pergi malah orang jahat. Musuh terbesar adalah orang terdekat, "sepi lagi,"


"Nona, taman yang bakal kita tuju masih lurus lagi. Ada pertigaan kita belok kekiri, lalu berjalan lurus sedikit setelah itu sampai di pintu utama gerbang," Berlian mendengarkan, lalu apa maksudnya? "Kalau Nona tidak keberatan, bagaimana kalau kita jalan kaki saja?"


"Mas, gimana kalau saya saja yang pergi sendiri. Mas telepon teman atau siapa yang bisa bantuin masnya, saya bisa sendiri kok,"


"Betul nih?" Berlian mengangguk, sejujurnya ia sedikit takut. Walaupun wajah supir yang membawanya termasuk kriteria laki-laki tampan, tapi bukan berarti dia laki-laki yang baik bukan?


"Apa ada jalan tikus?" Berlian memutar badan, matanya juga menyusuri, mana tahu ia melihat jalan atau gang kecil.


"Lebih berbahaya nona, jalan tikus serinh di jadikan markas preman-preman. Lebih baik jalan utama saja. Jadi kalau ada apa-apa lebih mudah kan?" Benar juga, pikir Berlian. "Paling tidak, beberapa kendaraan pasti masih melintas,"

__ADS_1


"Ya sudah kalau gitu, saya lanjut aja ya mas?" Pria itu mengangguk. "Maaf saya tinggal,"


"Tidak masalah nona, hati-hati." Juna tetap memantau Berlian berjalan sendiri di tengah malam yang sepi.


Setelah sampai di pertigaan, Berlian mengikuti arahan supir ojek tadi. Belok kiri. Sedikit mempercepat langkahnya bahkan ia sempat berlari.


Apa sih yang sebenarnya membuat ia harus melakukan hal bodoh semacam ini?


Langkahnya terhenti ketika ia melihat segerombolan pemuda di pinggir jalan, tempat yang akan ia lewati. "Apanya yang aman?" Berlian menarik nafas panjang dan mencoba berjalan pelan. Jantungnya mulai berdegub kencang, matanya menangkap botol minuman yang berserakan disana.


Itu semakin membuat bulu kuduk Berlian berdiri. Tapi ia harus tetap melewati ini. Mungkin mereka tidak melihat, karena sampai Berlian melewati mereka, tampak mereka masih diam saja.


"Nona...." Langkahnya terhenti ketika suara seorang laki-laki dari gerombolan itu menghentikannya, Berlian tidak berani menoleh. "Nona Berlian kan?" Panggilan itu membuat Berlian berbalik untuk melihat, matanya sedikit melebar. "Saya Randika bukan Ezra Farrel ya,"


Berlian tersenyum, "Iya,, tahu kok." Berlian bernafas lega, setidaknya ia mengenali laki-laki ini.


"Waah, saya hampir tidak mengenali nona," Randika berusaha menggunakan bahasa yang baik, setelah mengetahui ia sedang berhadapan dengan siapa. "Nona di Jakarta?"


"Uum ya, sudah seminggu lebih mungkin, aku tinggal di Jakarta."


"Nona, mau kemana?" Menatap Berlian heran, karena sekarang ia melihat Berlian dengan tampilan yang berbeda dari waktu mereka pertama kali bertemu, saat Berlian dan Aryan mengira dirinya adalah Farrel.


Sekali lagi, Randika memperhatikan penampilan Berlian. Celana tidur berwarna hitam putih, bermotif tengkorak dan sweater abu-abu. Randika melihat celana bagian lutut Berlian kotor.


"Apa terjadi sesuatu nona?"


"Woy, Dika, siapa dia?" Randika berbalik menatap beberapa temannya yang sedang memperhatikan dirinya dan Berlian.


Membuat Berlian meraih jaket yang di kenakan Randika. Berlian menggeleng, melarang Randika mengatakan apapun.


"Teman, hus hus,,,," menggerakkan tangannya pertanda mengusir. Membuat pria yang hampir mendekati mereka pergi.


"Randika..." Meraih tangan laki-laki itu. "Tolong, antarkan aku ketaman di dekat sini, Aryan ada disana,"


"Tuan Aryan disini? Kebeteluan saya mau berterima kasih padanya," Berlian mengangguk. "Sebentar, saya ambil motor dulu." Berlian menunggu, sepertinya Randika juga tengah menjelaskan kepada teman-temannya.


Lalu, Berlian melihat Randika sudah menyalakan motor dan mendekat kearah Berlian.


Bergegas Berlian naik, Randika melajukan motornya dengan pelan. Tidak butuh waktu lama ia sampai. Berlian buru-buru turun sampai lupa kalau ia harus berterima kasih. "Nona tunggu," meraih tangan Berlian yang hendak pergi dengan tergesa-gesa.


"Astaga lupa. Makasih ya, ini buat ongkos bensin,," Randika menolak sodoran uang dari Berlian.


"Bukan itu,"


"Lalu? Oh iya, kamu mau bertemu dengan Aryan kan?"


"Bukan,"


"Terus?"


"Apa yang terjadi?"


"Tidak ada apa-apa, cuma ingin memastikan sesuatu. Sudah dulu ya, nanti aku sampaikan kalau kamu mau bertemu dengannya." Berlari melambaikan tangan kearah Randika.


Randika yang melihat itu hanya diam memandangi kepergian Berlian yang tergesa-gesa.


Taman tampak sepi karena memang sudah hampir tengah malam, terlihat hanya beberapa orang masih duduk di taman dengan gerombolan berbeda, menongkrong sembari melemparkan canda dan tawa atau bernyanyi bersama adalah masa-masa indah untuk para muda-mudi. Beberapa lampu taman sudah di matikan, perasaan Berlian sedikit waswas, membuat langkahnya berubah pelan.

__ADS_1


Hingga sesuatu yang terlintas dalam benaknya membuat langkahnya berhenti, tidak tahu apa yang sedang diperbuatnya saat ini, mencari keberadaan Aryan, untuk apa? memastikan apa Aryan benar-benar menemui Zivana atau tidak? kalau benar itu terjadi, dia mau berbuat apa?


Kakinya bergerak untuk melangkah berbalik, untuk apa juga ia lakukan hal yang tidak berguna seperti ini.


"Apa nona sakit?" Berlian tersentak, sebuah tangan menyentuh punggungnya


"Kamu ngapain masih disini?"


"Maaf nona kalau saya mengikuti, pikiran saya kurang enak,"


Berlian mendorong Randika untuk sedikit menjauh. "Sebaiknya kamu tidak usah ikut campur urusan kami, pergilah...."


"Saya akan menjaga nona, sampai bertemu dengan tuan Aryan," ucapnya.


"Randika, kami hanya meminta pertolongan denganmu tentang Farrel, bukan berarti kamu mudah untuk ikut campur urusan kami berdua,"


"Tidak seperti itu nona, saya....." Kalimat Randika terhenti ketika mereka sama-sama mendengar suara teriakan seorang perempuan. "Ada yang berteriak,"


"Aku dengar,,,," mereka berdua sama-sama mencari sumber suara.


Tapi di tempat mereka berdiri terlihat sepi, Randika ikut melangkahkan kakinya mengikuti Berlian maju sedikit, namun perempuan itu terdiam, membuat Randika juga ikut melihat kearah berlawanan mereka, pemandangan yang cukup membuat hati kecil Berlian teriris pastinya.


Itu sangat jelas terlihat, seorang laki-laki yang sagat dikenalinya sedang berpelukan dengan seorang perempuan. Jaket yang dikenakan laki-laki itu sangat dikenalnya, jaket berwarna cokelat yang ia bantu masukkan kedalam lemari pakaian.


Berlian mencengkeram lengan Randika yang hendak melangkah maju, "apa yang kamu lakukan?"


"Nona, itu...."


"Pergi, aku bisa urus ini sendiri...."


"Tapi nona,"


"Aku mohon, pergilah...." Mendengar permohonan lemah Berlian, membuat Randika terpaksa pergi. Dan Beelian masih menatap mereka berdua.


Rasa percayanya perlahan pecah, Berlian sudah mulai membuka hati dan dengan mudanya laki-laki yang dia anggap baik ternyata mampu menyakiti hatinya juga. Dan bodohnya, Berlian mempertaruhkan hidupnya untuk mengikuti laki-laki tidak tahu diri itu.


"Lihat, bahkan kaki gue gak mau membawa gue pergi dari kesakitan ini.." Berlian berdecak ketika air matanya turun membasahi pipi, matanya memburan akibat air mata yang menggumpal, tiga kali ia hembuskan napas lemah dan memilih melangkah pergi.


Membiarkan mereka untuk saling meluapkan rindu bukan masalah bagi Berlian,


Lagian, untuk apa ia menemui mereka, kalau pada akhirnya mereka tetap akan bersama. Berlian terus mengingat, mereka memutuskan untuk menerima perjodohan ini dan melangsungkan pertunangan tanpa jangka pikir yang panjang karena sebuah kesepakatan bersama.


Tentu ia akan di tinggalkan oleh Aryan. Untuk alasan apapun, yang membuatnya tidak terima, kenapa harus ia dulu yang merasakan di tinggalkan. Berlian benci rasa ini.


Air mayanya terus menetes mengiringi langkah kaki Berlian menuju gerbang, Berlian menghela nafasnya. Di hapusnya air mata yang jatuh, Ia duduk di depan pintu masuk taman, sudah tidak sanggup lagi untuk melangkah pergi.


"Nona,,," Berlian mendongak. "Ini minum..." Randika menaruh air mineral disamping ia duduk.


"Kenapa belum pergi?"


"Nona, saya dan teman-teman akan disana sampai pagi. Nona bisa kesana dan saya akan mengantarkan nona sampai rumah dengan selamat," Berlian mengangguk.


"Randika tunggu," membuat laki-laki itu berbalik. "maaf untuk ucapanku tadi??"


"Tidak apa-apa nona, saya pahami. Tentang Farrel, kami belum menemukan apapun, saya akan pergi sekarang. Nona mungkin butuh waktu untuk sendiri,"


"Um, terima kasih banyak." Randika mengangguk dan melangkah pergi membawa motor yang sempat Berlian tumpangi tadi.

__ADS_1


...☘️☘️...


__ADS_2