
"Hei kenapa?"
"Ssttt..." merapatkan jari telunjuknya dibibir. Melihat itu Aryan langsung terdiam.
"Aryan? lihat menantu Mama gak?" Aryan melihat kearah kolong meja kerjanya, lalu menatap Mamanya diambang pintu kamar.
"Enggak. Kenapa Ma?"
"Berlian tuh gimana sih? Mama kan betul, tanya sama dia, mau hadiah pernikahan apa? eeh dia malah jawab gak tahu kesel kan. Ya udah tanya kamu aja, mau hadiah apa?"
Aryan menghela nafas. Jadi ini kenapa Berlian tiba-tiba lari masuk kamarnya terus nyelonong duduk dibawah meja kerjanya.
"Berlian gak butuh apa-apa?"
"Sok tahu kamu." berkacak pinggang melihat putranya yang sok tahu ini.
"Aryan memang tahu." memasang wajah mengejek kearah Mamanya.
"Hih, kenapa coba?"
"Berlian kan cuma butuh Aryan." Aryan melebarkan senyumnya dan memperlihatkan gigi rapinya.
"Dih, kepedan amat kamu."
Aryan mendorong tubuh Mamanya untuk keluar. "Udah ya Mama, Aryan banyak kerjaan. Gak ada waktu buat mikirin hadiah apa."
"Ya ya ya ya, terserah. Mama juga gak ada waktu buat nanyak soal hadiah apa sama kamu yang gak ada waktu."
"Iya." jawab Aryan cepat.
Setelah melihat Mamanya turun, Aryan menutup pintu lalu berjalan menuju kolong meja, tersenyum tipis, Berlian seperti kucing yang baru mencuri ikan.
"Keluar."
"Haha, kata siapa aku cuma butuh kamu?" tangan Aryan berada dipinggiran meja agar kepala Berlian tidak terbentur.
__ADS_1
"Itu cuma alesan aja kok. Jadi, udah berapa banyak Mama tanya sama kamu soal hadiah?"
"Dari semua orang udah gak ada dirumah. Gak kehitung, capek."
"Sini duduk." menepuk kursi kerjanya.
Berlian duduk. "Haha, hadiah apaan? Konyol, lagian kita kan gak akan nikah Sampe. . ."
"Sampai Farrel dateng numuin kamu." potong Aryan.
"Nah betul." meneguk sodoran air minum putih dari Aryan.
"Iya, aku sadar diri kok."
Berlian mendongak, terlihat mimik wajah Aryan cemberut, tapi Berlian tidak perduli dan memilih menanggapi. "Bagus."
********
Semilir angin malam berhembus kencang, beberapa kali Berlian harus menyelipkan helaian rambut yang tidak terikat kebelakang telinga.
"Masuk yuk. Kayaknya mau turun hujan."
"Bentar, katanya aku kelihatan cantik kalo rambutku ketiup angin gini." Aryan menahan tawanya membuat Berlian menoleh.
"Sorry. Gak ketiup angin juga cantik kok." membuat Berlian menatapnya dengan sinis.
"Aryan, gimana kalo kita nikah aja."
Aryan menoleh. "Hah? gimana? nikah? katanya gak mau nikah sampai Farrel..."
Jari telunjuk Berlian menempel pada bibir Aryan, menyuruh pria itu untuk tidak melanjutkan ucapannya. "Setelah ku pikir-pikir, kalau kita nikah otomatis kita bebas, aku udah search rumah yang dibeliin Daddy letaknya lumayan jauh, jadi kita bakal jauh dari siapa-siapa. Nah, disitu kita bisa cari Farrel juga dengan leluasa."
Aryan menghela nafas kasar dan membuang wajahnya, kenapa itu terdengar menyebalkan baginya. Mungkin saja kalau suara gemuruh angin tidak terdengar besar, Berlian pasti sudah mendengar suara geraman dari mulut Aryan.
"Ar.. Gimana? setuju gak?"
__ADS_1
Aryan memiringkan badannya menghadap Berlian, ditatapnya mata Berlian dalam-dalam.
"Berlian. Kamu ngerasain aku ada gak sih?"
"Hah? ya ngerasain lah." dengan iringan tawa mengejek, mendengar pertanyaan Aryan.
"Bukan. Maksud aku, ngerasain perasaan aku ke kamu?" Berlian diam. "Aku tahu kamu ngerasain perasaan aku."
"Ar, kamu gak lupain perjanjian kita kan?"
"Jangan menghindar dari pertanyaan aku Berlian. Aku boleh egois gak sih? aku tunangan kamu, seharusnya kamu lebih menghargai AKU." Berlian terbelalak, Aryan nyaris berteriak berbicara padanya, tangannya sudah mencekam bahunya dan sedikit menguncang.
"Aryan. Lepaaaassss." Berlian ikut berteriak. "Lo udah janji sama gue kalo lo bakal bantuin gue buat cari Farreeelll." nafasnya tersenggal-senggal, menahan agar air matanya tidak jatuh.
"Lo lupaa." Berlian semakin melebarkan matanya ketika Aryan mulai berbicara dengan berbeda padanya. "Perjanjian awal kita apa, gue bakal lepasin lo kalo aja Farrel lo itu balik nemuin lo. Gue gak pernah bilang kalo gue bakal bantuin lo buat cari dia."
"Jangan konyol Aryan."
Aryan tertawa. "Disini siapa yang lebih konyol?" Berlian terduduk, tiba-tiba air matanya jatuh beriringan dengan air gerimis. Pria didepannya bukan Aryan, Aryan yang ia kenal bukan seperti ini.
"Gue emang selalu diem, gak pernah ngebantah ataupun ngelarang lo buat berimajinasi soal Farrel, Gak ada yang kayak gue Berlian. Yang diem aja ngelihat tunangannya tetep mikirin cowok lain, gue emang terima lo apa adanya. Tapi pernah gak lo mikirin perasaan gue." Berlian menangis semakin menjadi-jadi, air yang turun dari langit semakin deras. Tidak akan ada yang mendengar mereka saling berbicara dengan berteriak.
Aryan berjongkok, menyentuh bahu Berlian. "Engga kan? lo pernah gak sedikiiiit aja mikirin perasaan gue, Hah? engga kan? yang lo pikirin itu cuma gimana caranya lo bisa lepas dari gue dan kembali sama Farrel." Berlian tetap menunduk, walaupun kini Aryan kembali mengguncangkan bahunya. Ia tetep kekeh untuk menunduk tidak ingin melihat wajah Aryan.
"Jawab Berlian? lo tadi bisa teriak kenapa sekarang diam hah?"
"ARYAAN." Berlian mendongak. "Gue anggep malam ini, kita gak ada ngomong apa-apa. Kita gak pernah berdiri dirooftop dan ngobrol."
"Kenapa? lo heran lihat gue gini?" Berlian menggeleng. "Lo gak bisa lihat kearah gue sedikit aja Berlian? gue tunangan lo yang punya rasa ikhlas yang besar buat nerima lo apa adanya, ada gak lo punya pikiran baik ke gue? gue nahan semuanya Berlian."
"Aryan stop."
Aryan Berdiri. "Gue gak akan pernah lupain malam ini, terserah lo mau gimana setelah ini. Yang pasti, jangan mikir konyol soal ide gak masuk akal lo itu tentang pernikahan." bergerak pergi meninggalkan Berlian, malam ini ia hilangkan rasa perduli dan rasa sayangnya pada Berlian.
Aryan terlalu kecewa untuk memberikan belas kasihannya pada Berlian. Wanita itu harus belajar cara menghargai seseorang yang tulus padanya.
__ADS_1
Bukan hanya Berlian yang butuh dikasihani, ia juga butuh.