
Menatap cermin besar didepannya, memantulkan bayang dirinya. Gadis disampingnya menggeleng kagum, memuji betapa cantiknya perempuan dalam pantulan cermin. Mengenakan pakaian Sari khas India dan aksesoris yang menempel di tubuhnya membuat Berlian seperti perempuan asli dari India.
Berlian meneliti sejenak, ini tidak terlalu terbuka kan? Pikiran Berlian menerka-nerka.
Yah, walau memang Berlian sering menggunakan pakaian yang menunjukan lekuk tubuhnya tapi ini sedikit berbeda. Ia akan memakai pakaian ini di depan banyak orang, bahkan di depan semua tamu penting Abraham dan Aryan.
"Kak Berlian cantik banget sumpah. Ngalahin kareena kapoor, mana pas lagi ditubuh kak Berlian, So Sexy." Gena mengucapkan kalimat terakhir dengan wajah menggoda.
"Tuh kan. Tante, Berlian gak mau pake ah." Udayana langsung memukul Gena, dan melototinya gadis kecilnya.
"Jangan buat kakakmu jadi tidak mau pakai, jelas-jelas ini cantik kok." Gena hanya cengengesan mendengar omelan Udayana.
"Mama, Gena bilang Sexy bukan jelek." Udayana membalas mendelik.
Udayana memohon kepada Berlian agar mau memakai kain Sari, karena hanya warna ini yang pas dengan kemeja yang akan di kenakan Aryan malam ini. Apalagi, ini rancangan khusus dari Vitania. Sahabatnya.
Dengan bujuk rayu ala Udayana akhirnya Berlian mau memakainya dan memulai memakai riasan wajah. "Gena tidak ikut?" Melihat Gena masih memakai piama tidurnya, bahkan kini ia sedang berbaring dikasur.
"Enggak. Males."
"Kenapa?"
"Semua orang di sana itu Fake." Sembari membantu Berlian memakai kalung yang Udayana bawakan, sebelum wanita cerewet itu pamit pergi melihat Abraham.
"Fake??"
"He'em" Merapikan kain Sari yang sudah rapi. Entahlah padahal Berlian hanya bergerak sedikit.
"Mereka semua nyebelin, Gena gak mau kepesta-pesta kayak gitu lagi."
"Ada masalah?" Gena mengangguk. Berlian menghentikan diri untuk bertanya ketika melihat Udayana diambang pintu.
"Ya ampun cantiknya menantu tante, ayok keluar, pasti om sudah menunggu." Berlian membalas tersenyum dan ikut melangkah keluar kamar. Gena mengekor dibelakang mereka.
"Gena sayang, jadi temen kamu main malam ini?" Gena menggeleng.
"Enggak. Katanya besok, Gena mau nonton drakor aja." Udayana mengerti.
********
Aryan menuruni tangga sembari membawa dua dasi yang akan ia pilih untuk di kenakan, meminta solusi dari Mamanya.
Aryan terpana melihat Berlian, sangat cocok memakai kain Sari. Tapi itu terlalu terbuka.
"Apa-apaan ini?" Aryan berjalan cepat kearah Papa dan Mamanya. "Kenapa Berlian pakai pakaian ini, Berlian kamu cepetan ganti." Berlian menepis tangan Aryan yang memerintahkan dirinya untuk mengganti pakaiannya.
"Gak mau, kata om cantik kok." Melihat Abraham yang mengangguk menyetujui.
"Memang cantik kok. Aryan kamu ini apa-apa'an sih?" Menatap sang putra sebal.
"Pa, Aryan gak bilang Berlian jelek kok." Tiba-tiba Berlian merasa kedua pipinya bersemu merah.
"Mas Aryan norak sih." Gena langsung lari menaiki tangga, melewati Aryan karena melihat Aryan mendelik dan mencoba mengejarnya.
"Kamu itu ya, cerewet aja. Anak siapa sih? Protes mulu?" Omel Udayana sembari memilih dan memakaikan dasi kepada Aryan.
Masih tidak terima protesannya tidak didengar. Akhirnya, Aryan mengalah dan mengajak untuk bergegas pergi.
********
__ADS_1
"Ehh Aryan kenapa bawa mobil sendiri, kamu harus sama supir, ini supir langsung dari Hotel loh."
"Gak mah, biar Aryan sama Berlian pakai mobil sendiri saja, lagian lebih cepet kan?" Udayana mengiyakan karena tidak meragukan kecepatan mobil sport Aryan.
"Ya sudah terserah." Udayana langsung masuk kedalam mobil, Aryan lebih dulu mengatakan kepada supir yang ditugaskan menjemput dirinya, untuk pergi lebih dulu ke Hotel.
Didalam mobil tidak hentinya mata Aryan melihat kearah Berlian. Perempuan itu sangat cantik malam ini, itu yang ada dipikiran Aryan.
"Ada apa Berlian???" Tanya Aryan penasaran, karena sempat melihat raut wajah pucat Berlian.
"Ah. . . Enggak ada kok." Kaget ketika suara Aryan memecah keheningan.
"Kamu terpaksakan pergi ke acara ini?" Berlian mengangguk ragu. "Kan aku sudah katakan, aku bisa atasi ini."
"Aryan, kalau boleh jujur sebenernya gue takut banget." Memutar duduknya untuk bisa melihat Aryan penuh.
"Kamu ada niat berubah pikiran sekarang?" Mulai mengurangi kecepatan.
"Memang bisa????"
Berlian terkejut ketika Aryan membelokkan kemudinya dan menjauh dari lajuan mobil Abraham didepannya.
"Aryan. Kita kemana? om sama tante itu lurus kok kita belok???" Aryan tidak menjawab, malah membuat mobil sport yang dikendarai semakin kencang.
Aryan membawa mobil yang di kendarai memasuki bukit ditengah kota, beberapa motor dan mobil juga berada disana. Tempat itu biasa digunakan para muda-mudi bermalam minggu dengan pasangan.
"Aryan!!!!" Teriaknya saat ikut keluar dari dalam mobil dan mengejar laki-laki itu.
"Kamu gak mau kan pergi kepesta itu? Ya sudah kita disini saja, mereka gak bakal tahu kok." Ucap Aryan meyakinkan Berlian.
"Kalau mereka nyariin kita gimana?" Aryan mengulurkan tangannya ke depan Berlian.
"Mana ponsel kamu?" Berlian diam sejenak, dan akhirnya Berlian mengeluarkan ponsel dari dalam dompetnya.
"Loh, ponsel gue. Lo ngapain?"
"Biar gak ada yang ganggu." Ucap Aryan enteng. Berlian diam saja, dan mulai berjalan mendekati pagar pembatas, terserah apa yang mau Aryan lakukan.
Dari atas terlihat seluruh kota, Pemandangan yang sangat indah.
Aryan melihat sesekali Berlian membenarkan posisi baju yang terbuka dibagian perutnya, bagian punggung juga terbuka dengan hiasan kecil menggantung disana.
Aryan menghela nafas, Ngapain sih Mama nyariin baju kayak gitu. Aryan kesal dengan tingkah Mamanya yang aneh.
"Kenapa mau pakai baju yang tidak nyaman seperti itu??" Berlian membalikkan tubuhnya menghadap Aryan.
"Biasa aja, biasanya gue lebih parah malah dari ini." Aryan mengangkat satu alisnya mencoba mencari arti dari pembenaran Berlian. "Serius.." Mencoba meyakinkan Aryan lagi.
"Sini deh," Aryan meminta Berlian untuk mendekat. Membuka jasnya dan menyampirkan kebahu Berlian. Wanita didepannya masih diam. "Dingin disini, aku gak lagi sok romantis kok. Emang dingin"
Berlian menyunggingkan senyumannya dan matanya memperhatian dasi Aryan yang terpakai tidak rapi disana.
"Dasi lo gak bener." Tanganya bergerak membenarkan posisi dasi Aryan. "Gue perhatian sama dasinya kok. Bukan perhatian ke lo nya?" Aryan ikut menyunggingkan senyumannya. "Kita balik yuk. Kita gak boleh gini, mereka pasti khawatir nyari kita. Gue udah berdoa kok gak bakal terjadi apa-apa sama gue, harus percaya sama lo. Selagi lo tetep disamping gue disana." Aryan melihat Berlian lekat. "Itu kan yang selalu lo bilang sama gue? Gue udah percaya itu malah."
"Apa yang buat kamu berubah pikiran. Mau dateng keacara ini?" Berlian melihat kearah Aryan dan berpikir mengenai pertanyaan Aryan.
Menarik nafas panjang. Lalu bercerita mulai tentang Abraham yang mendukungnya untuk menolak pesta ini sampai Udayana yang memohon maaf dan berjanji untuk membatalkan pesta sambil berlutut dihadapan Berlian.
__ADS_1
Aryan tampak terkejut disana. Ia sudah yakin, itulah rencana yang Samuel buat.
"Pokoknya mulai sekarang, cuma aku yang harus kamu percaya."
"Kenapa??" Tanya Berlian penasaran.
"Pokoknya percaya aja sama aku. Mama dan Papa sama aja. Gak usah percaya sama mereka?" Berlian mengangguk.
Setelah selesai membenarkan dasi Aryan, Berlian menatap Aryan sejenak. "Apa yang bakal om sama tante bilang ketamu, tentang keberadaan kita?"
"Sejak kapan kamu perduli dengan keluargaku, mereka malu bukan urusan kamu Berlian. Kamu gak perlu ketemu sama orang-orang disana"
"Aryan, kalo lo gak ngebiarin gue bersosialisai sama orang-orang, sampai kapan gue terus keperangkap sama trauma gue?" Aryan tidak menjawab. "Seharusnya lo bantu gue buat lawan trauma itu, bukannya malah bantu gue buat lari dari trauma gue." Aryan mulai mencerna itu, ucapan Berlian ada benarnya.
Kenapa ia malah takut kalau Berlian bersosialisasi dengan banyak orang, bukannya membantu Berlian melawan ketakutannya. Bukankah Aryan harus bisa mencoba menjadi seperti Farrel, membantu membawa lari Berlian dari kegelapan?
Akhirnya, Aryan menyetujui ucapan Berlian untuk kembali ke hotel. Mereka masuk kembali kedalam mobil dan menuruni bukit.
Kemudi mulai memasuki jalan utama terlihat Polisi memberhentikan beberapa pengendara mobil lainnya.
"Ada apa?"
"Sepertinya ada razia dadakan disini." Aryan menyimpulkan.
Saat tiba giliran mereka, Aryan lebih dulu membuka kaca mobil dan mengucapkan salam kepada Polisi yang bertugas. "Selamat malam pak,"
"Selamat malam, mobil sport dengan plat F-XXXX-BW." Aryan mengangguk.
"Betul"
"Dengan Tuan Aryan Tara." Aryan mengangguk, bagaimana polisi tahu dirinya. Bahkan Aryan saja belum menyerahkan surat mobil dan kartu identitas miliknya. "Apa benar wanita disamping anda Nona Berlian wijaya?" Aryan melihat kearah Berlian.
"Iya, Betul. Ada apa ya pak?"
Polisi itu menyentuh telinganya yang terpasang earphone bluetooth. "Kami sudah menemukannya." Terlihat beberapa polisi membebaskan mobil yang berjejer panjang, lalu berlari mendekat mobil sport Aryan.
"Anda diduga telah menculik seorang gadis bernama Berlian Wijaya, anda harus ikut kami Tuan." Aryan langsung keluar dari dalam mobil, meminta penjelasan. Diikuti Berlian yang sedikit takut dan terkejut disini.
"Tunggu, siapa yang melaporkan? Kenapa saya dituduh menculik tunangan saya sendiri." Berlian meraih tangan Aryan karena mulai tidak nyaman dengan situasi yang terjadi.
"Ibu dari Nona Berlian, Nyonya Mahesvara." Berlian membulatkan matanya.
"Apa?" Aryan terkejut mendengar itu. Bahkan ia tertawa kecil. "Bagaimana bisa?"
"Anda bisa menjelaskan dikantor polisi, Nanti Tuan." Ucap Polisi tegas.
"Bisa tolong anda hubungin beliau, katakan bahwa anda sudah menemukan kami," Polisi itu sempat menatap Aryan intens. Lalu menurut dan menghubungi Udayana. Sang pelapor.
"Selamat malam Nyonya, kami sudah menemukan target" setelah sambungan terangkat.
"................"
"Baik. Selamat malam." Polisi itu memasukkan ponsel kedalam sakunya dan melihat kearah Aryan dan Berlian.
"Mari kami antar ketempat tujuan," Berlian dan Aryan kembali masuk kedalam mobil dan berjalan dihimpit dua mobil polisi yang mengawal.
...☘️☘️...
Makasih yang masih ngikutin cerita ini.
Guys, tombol likenya dibawah sini.
__ADS_1
👇