
Malam ini, rumah besar Wijaya tampak berbeda. Cahaya lampu berwarna putih menerangi gelapnya taman. Kemerlap lampu kecil berwarna-warni, membuat taman semakin terlihat indah. Dekorasi yang sangat cantik.
Beberapa tamu undangan turut datang memeriahkan, selain dari kerabat dan teman bisnis Timo. Beberapa juga datang dari rekan bisnis Abraham, ia sengaja hanya mengundang rekan bisnisnya. Karena seluruh kerabatnya berada di India.
"Dimana keluargamu Tuan Abraham?" Tanya Samuel kepada Abraham yang tengah sibuk membenarkan dasi Kupu-kupunya dengan bantuan sang istri.
"Keluarga berada di India Sam, aku tidak ingin merepotkan mereka. Saat pernikahan nanti, baru aku akan membawa mereka," Samuel mengangguk paham.
Aku jadi sedikit tidak tega dengan mereka, bagaimana jika nanti Farrel benar akan kembali. Aku sudah berjanji akan membantu Berlian untuk meninggalkan mereka, padahal aku sudah mulai menyukai Aryan. Samuel jadi takut dengan janjinya sendiri.
"Kenapa anda diam Tuan?" tanya Udayana kepada Samuel, tangannya menggeser-geser layar tabletnya tapi matanya memandang kearah lain.
"Ahh. . . Tidak, aku hanya memikirkan bagaimana jika pernikahan diadakan di Jerman? Ayah Berlian dimakamkan disana?" Abraham sedikit berpikir dengan usulan dari Samuel.
"Bagaimana jika kita lakukan di tiga negara. Indonesia, Jerman, dan India." Samuel terdiam dengan Udayana yang menimbrung.
"Ah. . . kita pikirkan itu nanti,"Samuel langsung memotong pembicaraan, itu tadi hanya basa-basi dirinya, kenapa Udayana malah menanggapinya dengan serius.
Dilain itu, Berlian sendiri mencoba mengatur nafasnya yang tersendat, karena jantungnya berdegub sangat kencang. Sesekali Berlian mengintip keluar jendela kamarnya. Malam ini taman belakang rumah Wijaya sangat ramai dengan beberapa orang yang berpakaian rapi, sesekali mereka saling melemparkan senyum dan tawa.
Berlian juga melihat Mamanya disana.
Entah apa yang mereka bicarakan, sehingga membuat mereka sangat bahagia malam ini. Perkataan Samuel diikuti oleh beberapa orang pekerja, untuk mendekor tempat dengan warna yang dipilihnya.
Deg....
Dadanya berdenyut menimbulkan nyeri yang tidak tertahankan namun masih bisa ia kontrol, mengelus dadanya pelan sembari menarik nafas. Berlian menoleh ketika mendengar suara pintu kamarnya terketuk. Terlihat Sarah masuk dengan anggunnya dan sangat cantik. "Ayo sayang bersiap ke bawah, acara akan dimulai sebentar lagi," sebelum benar-benar keluar mengikuti langkah budenya, Berlian menarik nafas panjang terlebih dahulu.
Berlian membalas sapaan Mirna dan Tio yang turut hadir malam ini, mereka ikut mengenakan pakaian rapi, menghampiri sebelum keluar ke halaman belakang. "Kalian disini?"
"Um, kami harus berada disini?"
"Dimana bayi kalian?"
Mirna tersenyum, "di dalam kamar ibu, sedang tidur."
"Semoga bisingnya tidak mengganggu." Lalu matanya menatap Samuel, mereka saling pandang untuk waktu sebentar sebelum memutuskan saling menghampiri.
"Kamu tidak apa-apa sayang, banyak kamera diluar. Dan juga ternyata tamu undangannya melebihi dugaan,"
Berlian menarik nafas panjang. "Berlian gak tahu Daddy, tiba-tiba Berlian merasa takut," Samuel langsung memeluk menenangkan. Ia tahu apa yang tengah di rasakan oleh putrinya.
Aryan yang mengenakan setelan tuxedo baru keluar dari dalam kamar bersama Udayana melihat Berlian yang begitu cantik malam ini. Berbeda dengan biasanya, kali ini Berlian memakai gaun selutut yang indah berwarna merah maroon. Berlian juga memakai make up tipis tapi tetap tampak cantik dan natural. Aryan baru sadar kenapa Basagita memaksa dirinya untuk memakai kemeja yang di kenakannya sekarang, ternyata karena warnanya yang senada dengan gaun Berlian.
Melihat Aryan keluar dari kamarnya, Samuel langsung memanggil. "Aryan"
"Iya Daddy," jawab Aryan cepat.
"Kenapa ada banyak kamera, membuat acara ini semakin ramai saja. aku sudah mengatakannya kan, Berlian tidak nyaman dengan banyak orang."
__ADS_1
Udayana langsung bergabung. "Aku yang mengundang mereka, Aryan ini termasuk pengusaha muda. Setidaknya semua harus tahu,"
Berlian meraih lengan Samuel, mencegah pria itu untuk berbicara lagi. "Gak apa-apa Daddy, its okay, Berlian pasti bisa." Samuel hanya menatap Berlian yang mencoba untuk tetap kuat sembari berjalan pelan menuju pintu.
Alis Samuel berkerut memperhatikan gerak gerik Berlian, memukul dadanya dan terus mengucek mantanya. Samuel berlari dan langsung memeluk tubuh putrinya, berulang kali Berlian meraik nafas yang semakin sulit di atur, membuat Samuel menarik tangan Berlian agar tidak menyakiti tubuhnya. "Sayang,,,,," panggilan lirih Samuel tidak terdengar.
Sarah yang terkejut melihat itu, buru-buru menutup pintu agar para tamu tidak melihat, berlari menghampiri Berlian, Samuel sudah membawanya duduk disofa.
"Ada apa Berlian, bilang sama Bude ada yang sakit??" respon Berlian membuat Sarah memeluknya ketakutan.
Dengan gesit Mirna berlari mencari keberadaam Basagita, memberitahu apa yang terjadi pada Berlian.
********
Basagita hanya terdiam, setelah lebih satu tahun dia hampir saja melupakan kesakitan Berlian. Langkahnya memelan dengan keadaan masih tidak percaya.
Di elusnya bahu Berlian dalam pelukan Sarah, "Berlian sadar sayang," putrinya tidak menjawab membuat Basagita merasakan sesak di dada. "Sam. Ada apa?" Samuel tidak menjawab Basagita yang berlari mendekatinya.
Udayana menarik Aryan untuk ikut mendekat, mencari tahu apa yang terjadi.
Seluruh keluarga yang sedang berada disana membisu, tidak ada yang mengerti situasi apa yang sedang mereka hadapi, Aryan mendekat dan berlutut dihadapan Berlian, "Berlian, ada apa?" Berlian sama sekali tidak mengubris panggilan lembut Aryan.
Timo dan Zoya juga langsung bergegas turun mendengar laporan dari Dita Sekertarisnya. "Dimana Berlian?" Tanya Zoya kepada Sekertaris Timo.
"Diruang keluarga Nyonya, sedang ditenangkan oleh Pak Samuel,"
Mereka langsung bergegas menuju tempat yang di arahkan. Timo mendekati Berlian dan mengelus puncak kepalanya. "Berlian sadar nak, tamu sudah menunggumu,"
"Dia hanya gugup, kau tidak perlu melebih-lebihkan Sam." Ucap Timo tidak kalah tinggi.
"Kau hanya mementingkan imagemu Timo." Nada Samuel semakin keras.
"Lalu apa??" Samuel tertawa mendengar jawaban receh Timo.
Ada apa dengan mereka, terlihat seperti mereka saling tidak menyukai. Udayana menatap heran.
"Anda tidak tahu kalau Berlian mengidam hiperventilasi kan?" Basagita berlari meraih lengan Samuel.
"Hiperventilasi?" Aryan kaget.
Dimana seseorang itu lebih banyak mengeluarkan karbon dioksida daripada yang dihirupnya. Berlian menderita itu. Aryan kaget dengan pernyataan itu.
"Sudah Sam, hentikan, jangan membuat keributan," Samuel melepaskan pegangan tangan Basagita.
"Apa maksudmu? Hiperventilasi?" Teriak Timo. Sarah menarik Timo untuk berhenti berteriak. "Pah sudahh,"
"Kau tau PTSD? post-traumatic stress disorder. Berlian mengidam itu juga,"
"Sam cukup," Basagita semakin menangis. "Kamu sudah berjanji untuk tidak membahas apa yang dialami oleh Berlian," Samuel tidak menjawab itu.
__ADS_1
"Berlian, kamu tidak perlu memaksa kalau kamu tidak mau," Samuel berusaha mengambil alih pikiran Berlian yang masih tidak fokus. "Kita akan batalkan ini,"
"SAMUELL...." Zoya berteriak.
"APPAAAAAAaaaaa???!!!!?" Teriakan samuel lebih kuat, semua orang langsung terdiam. "PTSD yang dia alami karena kau Zoya," Samuel menarik nafas dalam-dalam. "Perbuatan yang kau lakukan membuatnya trauma," ucapnya lagi.
Menatap Timo. "Kau tidak tahu ponakanmu mencintai orang lain, kau dan Zoya merencanakan perjodohan ini, Haaa??? Kalau saja Gita tidak memberitahuku kau tetap akan menyembunyikan ini bukan?" Samuel menatap Zoya. "Kau lupa Zoya, Andro menyerahkan hak atas Berlian kepadaku, Aku yang berhak, aku yang tahu tentang Berlian, aku yang menyayangi Berlian dari siapapun, aku yang mengetahui isi hati Berlian. Dan kau sama sekali tidak berterima kasih padaku, malah membuangku ke Kanada agar tidak bisa bertemu dengan Berlian," Basagita menangis dibahu Samuel. "Andro memberikan hak asuh Berlian kepadaku, tapi kau?" Samuel benar-benar menunjuk wajah Zoya. "Kau memisahkanku dengan Berlian," Samuel mengucapkan dengan mata berkaca-kaca.
"SAMUEL...!!!???? beraninya kau menunjuk ZOYA," Timo menghalangi Zoya dibelakangnya.
"Aku hanya menunjuk, bukan mendorongnya hingga tersungkur seperti yang Andro lakukan terhadapnya," Zoya menangis dalam pelukan Sarah.
"Zoya mengurung, memukul, memarahi dan melarang Berlian bersosialisai membuat Berlian memiliki PTSD," Zoya kembali menangis bahkan mengeluarkan suara dan membuat Timo diam yang tidak tahu tentang hal ini.
"Kau tau PTSD? Trauma?? Berlian trauma dengan banyak orang, yang Berlian alami sekarang adalah hiperventilasi kalau dia merasa setres." Tubuh Samuel bergetar setelah mengucapkan penderitaan yang dialami Berlian, sedangkan Timo sungguh menyesal tidak tahu tentang keponakannya sendiri.
Aryan terdiam menatap Berlian, separah inikah penderitaannya. Aryan meraih tangan Berlian yang terus memukul dadanya, menggenggam tangan Berlian erat.
Sekertaris Timo beberapa kali melongok menatap jendela dan beberapa kali mengecek ponselnya lalu berjalan mendekati kekacauan dirumah ini. Sarah yang melihat Dita sekertaris suaminya langsung menggerakkan tanggannya memberitahu untuk diam.
Dita mengangguk, mengerti.
"Apa hanya aku yang tidak tau ini?" Tanya Timo hampa.
"Kau tahu apa?" Senyum smirk milik Samuel terkikis dibibirnya. "Yang kau tahu hanya gengsi, gengsi dan gengsi," Samuel menyindir.
"Berlian tolong FOKUSS?!!?" Suara Aryan sedikit meninggi membuat seluruh anggota menatap dirinya. "Berlian.. Hei fokus, lihat aku," napas berlian masih memburu. Aryan terus mengelus tangan Berlian yang ia genggam. "Berlian tolong fokus. Kamu hanya perlu menatapku disana, tapi ingat aku tidak akan memaksamu melanjutkan ini, aku akan membatalkannya jika kamu terpaksa," Aryan berdiri dan menatap Timo dan Samuel bergantian.
"Tidak Aryan," Cegah Timo.
"Om, Aryan dan Berlian membuat kesepakatan sebelum menerima perjodohan ini, Aryan akan membatalkan jika Berlian tidak ingin melanjutkan," Timo menggeleng tidak ingin.
"Kesepakatan?" Udayana membuka suara.
"Akan Aryan jelaskan nanti ma,"
"Ada banyak Wartawan disana Aryan," Aryan menggeleng menjawab ucapan Timo
"Om, beberapa atasan manajemen dari wartawan itu adalah teman Aryan, Aryan bisa meminta untuk tidak mengunggah apapun, membuat Artikel apapun. Aryan bisa membayar mereka untuk tutup mulut," jelas Aryan. "Untuk para tamu, Aryan akan mengatakan bahwa Aryan sendiri yang menolak pertunangan ini," ucapnya lagi. "Keputusan apapun dari Berlian, Berat atau tidaknya Aryan akan coba menerima itu," sebuah kalimat yang tedengar seperti sebuah kekecewaan mendalam. "Om Sam, tolong sadarkan Berlian. Tapi jangan paksa dia untuk apapun. Aryan akan menunggu tiga puluh menit setelah Aryan berdiri didepan seluruh tamu,"
Samuel mengangguk kepada Aryan, tidak tega jika ia harus menggagalkan cinta Aryan. "Setelah tiga puluh menit kami menunggu, kalau semua yang ada disini tidak keluar, Aryan akan langsung membatalkan ini," Samuel menepuk bahu Aryan menguatkan. "Keluarga Wijaya tidak akan malu dengan permasalahan ini, Aryan bisa mengatasinya. Sadarkan saja Berlian," .
"Permisi,"
Aryan menatap Mamanya dan mengajaknya pergi. Semula ia ragu, benarkah dengan keputusannya. Tapi, secinta apapun Aryan dengan Berlian, Aryan akan tetap tidak memaksa untuk Berlian terus bersamanya.
Ingat Aryan, Cinta tidak harus memiliki.
Kalimat buruk itu yang terus Aryan simpan dalam memori ingatannya.
__ADS_1
...☘️☘️...