Unforgettable Mistake

Unforgettable Mistake
UM (31)


__ADS_3

Berlian bersandar pada ranjangnya dan terduduk dilantai, menatap dinding kaca yang menembus keluar. Hari ini diluar sedang gerimis, Berlian merasa alam mengetahui isi hatinya. Ketukan pintu kamar membuat Berlian tersadar dari lamunan.


"Boleh om masuk?" Tanpa mendapat jawaban, Abraham langsung masuk dan duduk diranjang. Berlian merebahkan kepalanya dan menerawang langit-langit kamarnya. "Om minta maaf ya atas sikap tante? Dia emang seperti itu, Om membela kamu Berlian, masalah undangan, om akan cancel semuanya," Berlian menegakkan kepala dan melihat Abraham yang mengatakan dengan amat sangat yakin.


"Seluruh Catering akan om batalkan, Souvenir akan om kembalikan beserta uang ganti ruginya juga, yang penting Berlian kami tidak kenapa-kenapa?" Abraham tersenyum tulus kearah Berlian yang menatap dirinya sendu, Berlian benar-benar tidak tahu harus mengucapkan apa pada Abraham.


"Makasih om," hanya itu yang mampu Berlian lontarkan, Abraham mengelus puncak kepala Berlian.


"Boleh om peluk?" Berlian mengangguk, Abraham merosotkan tubuhnya duduk dilantai. Agar sejajar dengan Berlian dan langsung memeluk, Berlian juga membalas pelukannya.


Aryan berdiri di ambang pintu, dia tidak sempat mendengar obrolan dua orang yang saling berpelukan itu.


Ide apa? Kenapa Om Samuel membuat sebuah ide cuma sama Papa. Pikiran Aryan penuh curiga dengan sikap Papanya.


********


"Ide?" Samuel mengatakan iya sambil tertawa membuat Aryan bingung dengan yang di maksud oleh Samuel. "Seperti apa?" Abraham juga bertanya penasaran.


"Tuan Abraham sepertinya aku hanya ingin berbicara pribadi denganmu?" Abraham mengerti apa yang di maksud Samuel, menyambar ponsel Aryan yang terbaring di atas meja, lalu membawa keruang kerjanya.


********


Abraham tersenyum kepada Berlian lalu beranjak pergi. "Kamu istirahat saja ya? om mau mengurus semuanya," Berlian mengangguk.


"Terima kasih om,"


"Sama-sama sayang, om berada di pihakmu," kalimat terakhir di ucapkan dengan nada rendah.


Berlian mengangguk, "em, sekali lagi terima kasih sudah mengerti akan Berlian."


"Iya, om pergi ya?"


"Iya."


Melihat Berlian kembali menatap keluar jendela, membuat Abraham bergerak keluar kamar dan melihat putra sematawayangnya berdiri di ambang pintu, mata putranya memberikan tatapan intens kepadanya. "Ada apa?" Tanya Abraham yang hanya di balas gelengan dari Aryan, papanya tidak mungkin akan membocorkan rencananya kepada dirinya.


Aryan melirik papanya dan hanya menggerakkan dagunya sembari melirik pintu, "kurang ajar." Ucap Abraham pelan sembari keluar menutup pintu.


Setelah melihat pintu ditutup oleh Abraham, Aryan menatap Berlian sejenak, perempuan itu sudah merebahkan kepalanya dan menutup matanya.

__ADS_1


"Tidur?"


Berlian membuka matanya, "enggak."


Melihat Aryan menaruh sebuah nampan berisi cokelat panas dan buah-buahan di lantai tepat di sebelahnya. "Di buatin sama bu Nuri"


"Um, terima kasih." Aryan langsung pergi tanpa mengatakan apapun.


********


Makan malam bersamapun Berlian lewati, dirinya enggan menemui Udayana yang pastinya terus merengek meminta Berlian untuk menyetujui permintaannya. Berlian sendiri menerima perhatian dari Abraham yang menyuruh Gena membawakan makanan ke kamarnya, walaupun dirinya malas menyentuh itu. Tapi, setidaknya Berlian tahu cara menghargai seseorang.


"Kak, makan dulu gih," bujuk Gena kepada Berlian yang tidak keluar dari kamar.


"Nanti aku makan, taruh saja di nakas," Gena mengangguk. "Oh iya Gena, sampaikan sama bu Nuri. Terima kasih cokelat panas dan buahnya tadi siang," ucap Berlian sebelum Gena benar-benar meninggalkan kamarnya.


"Ibu sama Bapak lagi pergi kak dari pagi, itu pasti mas Aryan yang buat," Berlian hanya menatap Gena yang sudah keluar.


Aryan?


Berlian jadi teringat tentang laki-laki itu, beberapa kali dia masuk ke kamarnya untuk memastikan dirinya sedang berbuat apa. Tadi, Aryan juga sempat mampir ke kamarnya dan mengajaknya berbicara sebentar lalu pamit ke kamar karena ia mengatakan sudah waktunya tidur.


"Hoam, Gena ke kamar ya?" Berlian mengangguk, dia juga kasihan melihat gadis itu beberapa kali menguap saat menemaninya termenung, apalagi dia sempat mengatakan kegiatan di kampus sangat menumpuk besok. Tentu saja Berlian mengizinkan, toh saat ini dia hanya ingin sendiri.


Tiba-tiba wanita itu berlutut di dekat ranjang dan merapatkan kedua tangannya, Berlian membulatkan matanya melihat ke arah Udayana.


"Maafin tante, Berlian?" Udayana tiba-tiba menangis membuat Berlian mengerjap matanya berkali-kali karena terkejut. "Tante akan batalkan pesta itu, tante minta maaf karena membuat kamu marah, Maafin tante karena sudah egois ke kamu, tante cuma ingin menunjukkan. Kalau tante punya calon menantu yang cantik bahkan lebih cantik dari calon menantu Rena Mahaprana. Maafin tante?"


Rena Mahaprana? Siapa lagi itu? Dan tunggu, Tante yana nangis? Drama apa lagi ini Tuhan.


Berlian benar-benar tidak mengerti yang di maksud oleh wanita yang berlutut tidak jauh darinya. Berlian mendekat kearah Udayana dan ikut berlutut dihadapan wanita itu, Berlian memeluk Udayana.


"Maafin Berlian juga tante, sudah bentak tante tadi." Udayana hanya mengangguk di balik pelukan Berlian. "Maafin Berlian tidak bisa mengikuti permintaan tante kali ini, maaf?" Udayana hanya tersenyum melihat Berlian.


"Gak apa-apa Berlian, yang terpenting kamu maafin tante terus kita baikan. Tante gak mau makan sendirian kayak tadi karena om juga gak mau makan sama tante," Berlian tersenyum dan kembali memeluk Udayana erat, dia tersentuh dengan sikap Udayana yang mau mengalah kepadanya.


********


Pintu terketuk membuat Berlian mengintip dari pintu yang sedikit terbuka, ternyata Gena berada di depan pintu.

__ADS_1


"Kak, Sarapan. Sudah ditunggu."


"Hemm.. Nanti aku nyusul," Berlian mengambil nafas panjang untuk menemui orang-orang yang sudah menunggunya, berjalan mendekat dan mendapatkan senyuman manis dari Aryan. Udayana yang melihat putranya tersenyum manis langsung melihat kearah yang dituju putranya itu.


"Hei.. Selamat pagi Berlian," Abraham juga melemparkan senyuman kearah Berlian. Karena pagi ini adalah pertemuan pertama dari perang yang terjadi dirumah ini kemarin.


"Pagi tante-om," balas Berlian menyapa, Berlian langsung duduk di samping Aryan dan berhadapan dengan Udayana.


Gena menghampiri Berlian dan menuangkan nasi di atas piring Berlian. "Gena sudah makan?" Gena tersenyum.


"Sudah kak," Gena permisi untuk melanjutkan tugasnya.


"Berangkat ke kampus sama papa ya sayang." Gena mengangguk.


Udayana berdiri mengambil lauk dan menaruhkan di piring Berlian. "Makasih tante," Udayana tersenyum.


Hanya ada suara benturan antara sendok-garpu dan piring dimeja makan. Sama sekali tidak ada yang mengatakan apa-apa, Berlian menjadi merasa canggung sendiri, walaupun ini selalu terjadi pada saat makan pagi ataupun malam, tapi kali ini terasa sangat berbeda.


"Om?" Sendok mengambang di udara karena Abraham menghentikan aktifitasnya, mendengar Berlian memanggilnya.


"Kenapa sayang?" Tanya Abraham kepada Berlian di sampingnya dan sedikit melirik istrinya yang duduk bersebrangan dengan Berlian.


"Om udah batalin Catering sama ngembaliin Souvenirnya?" Abraham menggeleng.


"Sepertinya om punya rencana, Catering akan tetap om ambil tapi om akan kasi ke para pekerja hotel dan Souvenir akan om suruh mereka untuk memberikan kepada tamu hotel yang sudah menginap. Bagus kan ide om?" Berlian mengangguk menyetujui, melihat Udayana yang menatapnya tersenyum tipis, sepertinya Udayana kurang menerima keputusan Berlian yang tidak mau. Mereka kembali fokus melahap makanan yang tersedia.


"Om?" Abraham kembali menatap Berlian. "Kalau Berlian bilang jangan batalin pestanya gimana?"


"Maksud kamu?"


"Berlian mau dateng ke acara itu?" Udayana tersedak air putih yang baru ia minum, Abraham yang melihat itu langsung beranjak memberikan tissue. Sedangkan Aryan hanya nenatap Mamanya dan menatap Berlian yang tiba-tiba berubah pikiran.


"Kamu serius sayang?" Udayana perlu mendengar persetujuan itu ulang, bibirnya terus mengukir senyuman ketika mendengar ucapan ulang Berlian.


"Iya, tapi Berlian gak mau mereka menatap Berlian bersamaan. Berlian mau kalau tante sama om cukup ngenalin Berlian dengan cara face to face aja, jadi Berlian gak perlu maju atau apapun itu. Biar Berlian gak perlu gugup untuk jadi pusat perhatian," Abraham juga terus tersenyum menatap Berlian, sangat menyetujui permintaan Berlian.


Itu tidaklah berat untuk Abraham. Apalagi untuk Udayana sang provokator dan Aktris dengan bakat Akting terbaik.


...☘️☘️...

__ADS_1


Hallo semua. . .


Sehat selalu, Semoga selalu dalam lindungan Tuhan. . . . .


__ADS_2