
Siapa yang bisa menahan rasa cemburu, ketika melihat seorang laki-laki yang sangat menjengkelkan menyentuh miliknya. Aryan selalu menahan diri untuk tidak menyentuh Berlian, bahkan dari pertama kalinya mereka pergi bersama.
Tidak sengaja bersenggolan dengan Berlianpun, Aryan juga meminta maaf.
Pada saat Aryan mencium Berlian dimalam konser Bring Me The Horizon Aryan terus meminta maaf walaupun Berlian tidak sadarkan diri saat itu.
Dan pada saat Aryan mencumbu Berlian tadi, yang ia gunakan sebagai peringatan untuk Devan. Aryan sudah meminta maaf sebelum dan sesudahnya.
Tapi, kenapa Devan yang notabene-nya laki-laki yang tidak disukainya, laki-laki yang sudah merebut wanita pujaannya dahulu. Dengan beraninya menyentuh Berlian, bahkan sudah melewati batas.
Apa ia akan mengulang kejadian seperti dulu, merebut Zivana darinya?
Malam ini, Aryan tidak perduli dengan tatapan orang yang heran melihat dirinya menumpahkan emosinya kepada laki-laki yang membuat dirinya muak hanya dengan melihat wajahnya saja. Padahal Aryan terkenal dengan kewibawaan dan kedermawanannya, Aryan juga dikenal dengan pria yang ramah kepada siapapun.
Tapi kali ini, bukan seperti Aryan yang biasanya.
"Aryaann,,,," panggilan Berlian tidak diperdulikan olehnya, dia tengah sibuk mengomel tidak jelas kepada Devan, sembari memukul dengan mimik wajah marah. Aryan terlalu larut dalam emosinya.
Berlian melihat seluruh tamu kini menatapnya, dan membuat nafasnya sesak, Berlian mencoba menenangkan diri tapi tidak bisa. Berlian sangat takut sekarang. Pikirannya tidak lagi fokus, nafas yang tenang berubah memburu, Berlian berusaha meraih sesuatu untuk menjaga keseimbangan tubuhnya.
"Berliaaannnn....." Abraham berlari mendekati Berlian yang hampir terhuyung jatuh. "Aryaan berhenti," Abraham berteriak kencang berharap Aryan mendengar. Tapi itu hanya sia-sia, Aryan sama sekali tidak menggubris teriakannya. Beberapa petugas pria berusaha melerai, bukannya berhenti malah beberapa dari mereka terkena pukulan dari tangan Aryan. Bahkan Reza yang pendapatnya selalu didengar oleh Aryan, kali ini sama sekali tidak digubris.
Reza, juga hampir terkena pukulan dari Aryan. Untungnya pria itu sempat mengelak.
"Berlian," Abraham menepuk pipi Berlian, sedangkan Udayana mematung dengan kejadian didepan matanya. Kenapa putraku sebuas itu pikirnya. "Sayang, halo Berlian, sadar sayang," Aryan mendengar papanya yang memanggil Berlian, pukulannya melayang.
Devan meringis kesakitan dan membersihkan darah yang menempel dibibir dengan punggung tangannya.
Aryan bangkit dan berlari memeluk Berlian. "Biar Aryan bawa Berlian pulang,"
Abraham mengangguk setuju. "Kamu kenapa?"
Aryan menggeleng. "Gak apa-apa Pa,"
"Ya sudah, biar papa urus Devan dan acaranya," Aryan mengangguk.
Udayana langsung lari menuju Berlian dan Aryan. "Sayang. "
"Biar Aryan tenangin Berlian. Mama lanjutin aja acaranya " Udayana mengiyakan, karena memang hanya Aryan yang membuat Berlian sadarkan? Seperti malam pertunangan. Yang Udayana tidak habis pikir adalah kelakuan Aryan barusan.
__ADS_1
Dirinya tidak pernah tahu, Aryan bisa gila seperti itu.
Aryan melewati dan mengabaikan beberapa orang yang terus bertanya 'Ada apa' apa mereka tidak melihat bahwa Berlian sedang dilecehkan?
Aryan membawa Berlian masuk kedalam mobil dan duduk dibangku belakang. Aryan ikut duduk, mencoba menenangkan Berlian.
"Berlian," Berlian masih sulit mengatur nafasnya, Aryan tidak sanggup melihat Berlian terus memukul dadanya. Aryan menarik tangan Berlian dan menciumnya.
Aryan mengeluarkan kantok kertas yang selalu ia bawa untuk berjaga-jaga, karena Basagita menyarankan itu. "Maaf, Berlian. Aku mintak maaf," Berlian meraih itu, ia sempat menangis dan setelah itu, memejamkan matanya sepertinya ia mulai sadar.
"Berlian maaf ya?" Nafas Berlian berangsur teratur.
Berlian menatap Aryan, dipegangnya pelipis Aryan yang terluka karena tadi Devan sempat melawan pukulan Aryan.
Berlian meringis ketika Aryan menyentuh lehernya yang terasa perih. "Sakit?" Tanya Aryan.
"Iyalah bego pake tanyak lagi?" Berlian memijat keningnya yang terasa pusing, sembari menyandarkan tubuhnya.
Aryan mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.
"........"
"Anterin kotak P3K sama roti kemobil gue diparkir depan"
"........"
Beberapa menit, Aryan keluar mobil ketika melihat Zaskia datang membawa pesanan yang dimintanya.
"Berlian, lo gak papa?" Zaskia menyerobot masuk mobil, terus bertanya kepada Berlian yang baru mengontrol pikirannya.
"Iya gak papa kok Kia," Zaskia bernafas lega, karena tadi Zaskia juga berusaha memanggil Berlian tapi tidak digubris.
"Gue temenin lo disini ya?" Aryan menendang ban belakang mobil. Zaskia langsung melihat kearah Aryan, laki-laki itu menggerakkan kepalanya menyuruh Zaskia pergi.
"Berlian, gue gak jadi nemenin deh." Zaskia melototi Aryan yang sesukanya mengusir dirinya. Zaskia pamit lagi kepada Berlian, lalu pergi.
Aryan masuk dan menutup pintu mobil, memberikan jasnya agar dikenakan oleh Berlian. Aryan memberikan Roti dan susu kotak kepada Berlian, karena dari siang Berlian sibuk pergi mempersiapkan baju dan langsung bersiap untuk pergi sampai tidak sempat mengisi perutnya.
"Maaf, biar aku obati lukanya," Berlian mengangguk, sedikit menggeser duduknya dan mulai melahap beberapa roti dipangkuannya.
__ADS_1
"Lo kenapa sih jadi gila kayak tadi?" Aryan diam. "Lo masih suka sama Zivana?" Aryan mengrenyitkan dahinya mendengar pertanyaan dari Berlian, dia melanjutkan menepelkan perban dileher Berlian tanpa Bernian menjawab.
Berlian menyenggol kaki Aryan, meminta jawaban. Laki-laki itu hanya menggeleng, membuat Berlian berdecih. "Lo gila kayak tadi karena lo masih gak terimakan sama Devan yang ngambil Zivana dari lo?"
"Itu, tidak benar Berlian." Dia kembali berdecih sebal. "Kenapa kamu mau dansa sama dia?" Bukannya menjawab pertanyaannya, malah kembali ikut bertanya.
"Jawab, Berlian."
"Terserah gue dong!!"
"Kalau kamu nolak gak bakal gini kan jadinya?"
"Terus.. Lo ngapain pake cipika cipiki sama Zivana tadi?" Aryan memicingkan matanya, mengingat yang dikatakan Berlian.
"Itu hal biasa Berlian, aku gak pernah memilih kepada siapa aku melakukan itu," Aryan merasa itu hal yang wajar apalagi Zivana adalah temannya.
"Oh, ya sama dong. Gue juga gak pernah memilih kepada siapa gue harus berdansa." Jawaban nada Berlian sedikit meninggi.
"Tapi gak harus dia juga kan, aku sudah bilang sama kamu waktu perjalanan kesini, semua orang disini itu fake?"
"Bodo amat sama orang fake, lo juga. Gak harus sama dia juga kan? Apa bedanya lo sama mereka. Kalo lo juga fake." Aryan bingung dengan jawaban Berlian.
"Maksudnya--- Hah pokonya aku gak suka kamu nerima ajakan dansa Devan tadi!!!" Merapikan perban yang sudah terpasang kecil dileher Berlian.
"Gue juga gak suka liat kelakuan lo tadi sama Zivana," Berlian melotot kearah Aryan.
"Kamu kenapa sih????" Aryan terus bertanya karena dirinya tidak mengerti dengan ucapan Berlian.
Berlian mengambil kotak P3K ditangan Aryan, ia mulai membersihkan luka dipelipis Aryan.
"Mulai sekarang, jaga sikap lo sama Zivana. Terserah sama perempuan lain gue gak perduli Aryan," Aryan diam mendengarkan. "Lo harus ngejaga sikap lo didepan semua orang, apalagi didepan tunangan lo"
Aryan menatap Berlian. "Kamu cemburu?"
Berlian terdiam.
Dia merasa tidak cemburu, tapi dia tidak bisa menepis ucapan itu. "Gue gak pernah ada rasa sama lo. Inget?"
"Terus kenapa aku harus jaga sikap aku didepan tunangan yang gak pernah punya rasa sama aku?"
__ADS_1
"Aahh bodo amat, Gue mau pulang." Berlian langsung keluar dan pindah duduk didepan. Sedangkan Aryan tersenyum melihat tingkah Berlian.
...☘️☘️...