
"Zee. Bangun Baby."
"Umm. . ." menggeliat manja. Memeluk Devan yang duduk disebelahnya. "Sudah pagi?"
"Hmm.."
Zivana membuka matanya lebar-lebar. Sedikit tetkejut dan Heran melihat teman-temannya berkumpul dikamarnya kecuali Aryan dan Berlian, semua menatapnya dengan memasang wajah cemas dan khawatir.
"Ada apa?" Zivana menatap Devan meminta sebuah jawaban, kenapa teman-temannya bisa berkumpul didalam kamar tidurnya.
Zaskia angkat pantat dan maju sedikit. "Kamu kenapa?" tanya Zaskia mewakili semuanya.
"Aku? kenapa denganku?" menatap kearah Devan lagi. Lalu matanya menangkap sebuah selang infus didekat ranjang tidurnya. Selang yang sudah tersemat dipunggung tangannya.
"Kalau kamu merasa sakit, jangan kamu tambah dengan melukai diri kamu sendiri." ucap Zaskia.
Zivana masih bingung dengan memandangi tangannya, kenapa ia pakai selang infus, dan pergelangan tangannya sudah diperban.
"Ah. . ." meraup wajahnya. "Maaf, mungkin semalam aku mabuk."
"Mabuk? Cih." Zaskia menatap jengah. "Keluarlah, kami sudah membuatkan sarapan tadi." menatap teman-temannya. Tentu saja mereka menurut, dan berjalan keluar secara bergiliran.
Tersisa Zaskia, Devan dan Zivana.
"Aku benar-benar mabuk."
"Zivana, berhenti berharap kepada Aryan. Kamu kan tahu, dia sudah melupakanmu sejak lama. Kamu bukan lagi anak kecil, jangan sakiti dirimu karena sesuatu yang kamu inginkan tidak terkabul." Zaskia menatap kelantai, Guci, meja rias, dan vas bunga sudah jatuh berserakan. Biarkan petugas pembersih Villa yang mengurus.
"Tapi aku benar-benar mabuk." ucapnya ulang.
"Mabuk. Mengatakan kalau kamu ingin membunuh Berlian dan akan memiliki Aryan seutuhnya."
"Tolong maklumi." menatap sendu.
"Berteriak seperti orang gila, dan menghancurkan segalanya. Tolong, hentikan. Aryan tidak akan kembali padamu."
"Aaakhhhhhh......" menjerit dan meremas rambutnya. "Berhenti mengatakan Aryan tidak akan kembali padakuuu!!!!!"
"Itu memang faktanya."
"Vaan. . . Usir dia." matanya sudah berkaca-kaca. Devan hanya melirik dan kembali memainkan game diponselnya.
"Berhenti memperbudak Vano. Seharusnya kamu sadar, gak ada yang menyayangi kamu secara berlebihan seperti keluarga Mahaprana. Mereka menyayangimu dengan tulus, bukannya sadar diri. Kamu malah memanfaatkan Vano demi egomu." Zivana melotot.
"Aku gak pernah manfaatin kamu Van." Devan masih sibuk memainkan ponselnya. "Kamu kan bilang sendiri, kalau apapun yang aku minta akan kamu turutin."
__ADS_1
"Tapi bukan untuk mengganggu keluarga Mahesvara. Zee, aku gak pernah iri sama Aryan, dia mulai gak perduli sama pertemanan kami semenjak kamu menjadi wanita yang disayanginya. Disitu aku iri. Iri sama kamuu."
Zivana diam, ia tahu maksud Devan sedari awal. "Aku gak pernah benar-benar mencintai kamu Zivana. Aku hanya ingin membuat Aryan tahu, bahwa wanita yang dicintainya itu tidak pernah benar-benar tulus padanya. Tapi karena Papa sudah terlanjur sayang sama kamu, aku bisa apaa?"
"Vaan. . Aku tahu itu, tapi kamu gak bisa giniin aku."
"Bisa, Vano bisa giniin kamu. Berhenti ngerengek sama dia, kalau aku jadi kamu. Aku akan sadar diri, masa kecil dipanti asuhan dan hidup dengan diangkat orang tua yang sederhana lalu disayangi oleh keluarga Mahesvara, bukankah itu sudah cukup." penuturan itu membungkam mulut Zivana. "Setelah keluarga Mahesvara bangkrut, kamu mulai disayangi oleh keluarga Mahaprana. Bukankah itu lebih dari cukup."
Zivana menunduk. "Setelah kamu dapatkan semuanya dari keluarga Mahaprana, sekarang kamu juga mau memiliki keluarga Mahesvara? Ayolah Zivana, kamu tidak seberharga itu untuk mendapatkan keduanya."
Isakan tangis mulai terdengar dari Zivana, entah memang ia benar-benar menyesal atau ia sedang merasa kesal karena apa yang diucapkan Zaskia ada benarnya. Ia tidak pernah bersyukur.
"Kalau memang kamu menginginkan Aryan, berhenti bergantung pada Vano."
"Aku tidak pernah bergantung padanya." tersenyum sinis.
"Apa kamu bilang?" Devan bangkit dari ranjang dan berdiri disamping Zaskia. "Kamu masih bergantung padaku Zee, kamu masih menggunakanku untuk bertemu dengan Aryan, aku heran saat kamu memaksa mengikutiku sampai ke Jakarta, setelah kuselidiki ternyata kamu ingin bertemu dengan Aryan. Saat pesta sekarangpun, aku yang berusaha membuat Aryan datang. Bukan kah itu namanya kamu terus bergantung padaku Zivana?"
Zivana semakin mempererat mulutnya. Ia tidak sedang dipojokkan disini kan?
"Selesaikan urusan kalian, aku lapar." Devan membawa langkah kakinya keluar kamar dan bergabung bersama teman-temannya yang tersisa di villa. Membiarkan Zaskia yang menyelesaikan, biasanya wanita bisa saling mengerti.
Zaskia melangkah maju hingga lututnya menyentuh pinggiran ranjang. "Lihat. Bahkan dia tidak perduli."
"Hahaha. . . Devan urusan belakang. Aku akan mencari cara agar Aryan mau bersamaku." Zaskia membenci sorot mata itu, Mata yang dulu selalu mengatakan bahwa Aryan tidak lagi perduli padanya, dan hanya perduli pada wanita didepannya ini.
"Bukan. Bukan begitu Zaskia."
"Cara apapun tidak akan membuat mereka berpisah. Kamu tahu? Aryan tidak akan meninggalkan Berlian dalam alasan apapun. Maka berhentilah." sembari menyunggingkan senyuman mengerikannya.
"Berlian yang akan meninggalkan Aryan, Zaskia." membalas senyuman miring Zaskia.
"Benarkah?"
"Ya."
"Maka lakukanlah. Dan aku pastikan kamu tidak akan berhasil."
"Kalau aku berhasil, bagaimana?"
"Um. . . Kamu tidak akan dapat keduanya. Aryan Tara Mahesvara ataupun Devan Evano Mahaprana. Begitu kira-kira." melangkahkan kakinya menuju pintu. Langkah kakinya berhenti, tangannya masih memegang handle pintu.
Hampir saja sebuah benda yang tergeletak dilantai mengenai kepalanya, lemparan itu berasal dari belakang. Zaskia berbalik, menatap Zivana datar.
"Zivana, kamu tahu? mereka lebih perduli padaku dibandingkan padamu. Aryan, Devan, Reza, coba saja tanya, mana yang lebih mereka percaya. Kamu atau Aku? Aku berkata bohong saja mereka percaya, bagaimana kalau aku berkata jujur? jadi, jangan coba macam-macam padaku. Mereka tidak akan tinggal diam." mengedipkan satu matanya. Lalu keluar kamar.
__ADS_1
********
Tok. . . Tok. . .
"Permisi Pak, maaf mengganggu. Apa Bapak ada janji sama Pak Devan. Soalnya beliau sudah ada diruang tunggu." ucap Cika, Sekertaris kedua Aryan.
"Siapa? Devan? Tidak. Suruh masuk saja." Cika menunduk dan keluar.
Selang beberapa menit pintu terbuka lagi, masuk Devan.
"Astaga, gue mau masuk aja susah banget pake segala. . ." ucapannya menggantung, ia berhenti bicara karena ternyata Aryan tidak sedang sendirian.
Dua wanita yang ia kenal sedang duduk disofa bersama Aryan.
"Kia. Reya." menatap bergantian. "Kalian ngapain disini?"
"Gue ikut Kia." jawab Reya sembari mengangkat tangannya.
"Serah gue lah. Lah lo sendiri? ngapain disini?" ucap Zaskia sinis.
"Ya terserah gue juga lah."
"Apasih??" Zaskia mendelik sinis.
"Sudah, sudah, jadi ada urusan apa kalian pagi-pagi ada dikantorku?"Aryan menatap keduanya.
Zaskia menatap Devan sekejap, jangan sampai apa yang akan dikatakannya didengar oleh Devan, pria itu masih membela Zivana. Pasti Devan akan mengadukan apa yang akan dikatakannya, itu bisa membuat Aryan semakin sulit.
Devan menatap Zaskia sekejap, kalau ia katakan kepada Aryan tentang semuanya, Zaskia pasti mendengar. Dan itu bisa membuat semuanya semakin kacau, sudah susah payah merahasiakan, dengan sekali ucap semuanya bisa kacau.
"Hey, kenapa malah saling tatap gitu. Kalian mau ngomong apa?" mulai jengah melihat keduanya.
Aryan, Devan, Reza dan Zaskia mulai bersahabat sejak kecil. Mereka bertiga memutuskan untuk menjauhi Devan semenjak kejadian waktu itu. Sebenarnya Zaskia tidak mau, tapi Aryan memohon dengan bantuan Reza.
Dan semenjak itu, mereka berdua memutuskan untuk tidak saling bertegur sapa.
Mereka memang saling menunjukkan tidak suka setiap bertemu, tapi disaat keduanya memiliki pikiran yang campur aduk. Mereka akan menghubungi satu sama lain dan mengajak bertemu untuk melepas pikiran yang mengganggu, masalah hidup atau masalah kantor. Biasanya mereka akan pergi ke Mall atau minum-minum ditempat favorit mereka.
Reza sampai paham. Kalau sang istri marah dan tidak bisa dihubungi ia akan mencoba mencari dikamar Aryan, sudah menjadi kebiasaan kalau wanita itu marah, dia akan bersembunyi dilemari besar Aryan. Kalau tidak ada, coba hubungi Devan. Pria itu akan memberi tahu dimana lokasi istrinya.
Yaah, begitulah persahabatan.
Aryan bangkit dari duduknya. "Kalau tidak ada yang mau diomongin silahkan pulang, Sandra lagi nyiapin ruang meeting. Aku sibuk."
"ZIVANA PUNYA RENCANA BUAT MISAHIN KALIAN BERDUAAA!!!!!!!!!!!!" Aryan berhenti, lalu berbalik menatap Devan dan Zaskia bergantian.
__ADS_1
Mereka bedua memang satu hati, berteriak kepada Aryan bersamaan dan kalimat yang sama.
"Kalian briefing didepan?" pertanyaannya diselingi dengan tawa kecil.