
Berlian memperhatikan Aryan yang sedang memotong steak daging miliknya. "Kenapa, liatinnya gitu banget?" Menaruh piring berisi steak daging di depan Berlian.
"Gak apa-apa, aneh aja liat lo sok perhatian gitu?" Melahap steak daging yang sudah di potong-potong oleh Aryan.
"Loh, kamu baru sadar. Kan selama ini aku selalu ngasih perhatian sama kamu Berlian." Ucap Aryan terang-terangan membuat Berlian menganga takjub.
"Astagfirullah, baru kali ini gue liat lo blak-blakan gitu," Aryan tertawa kecil.
"Lagi belajar....."
Berlian mengerutkan keningnya. "Belajar apaan?"
"Belajar mencoba buat membuka diri aja," melahap steak kentang miliknya.
"Awal yang bagus untuk pemula," Berlian menyodorkan steak daging di garpu ke mulut Aryan.
"Aaaaa," Aryan tersenyum. Baru ia akan meraih suapan Berlian.
Brak...
"Eh kaget,,,,," Berlian dan Aryan serentak terkejut bersamaan. "Gena bikin kaget aja!!!" Protesnya.
"Mas, minjem duit. Dompet Gena ketinggalan," Menarik-narik lengan Aryan, laki-laki itu langsung meraih dompetnya dan memberikan beberapa lembar uang ratusan ribu kepada Gena.
Setelah menerima uang dari Aryan, Gena langsung mengacir pergi.
Melihat Gena mulai menghilang dari pandangan, Gena menatap Aryan, "dia kenapa?"
"Dia kan lagi pergi sama pacarnya yang gak punya uang itu," ucapnya.
"Lo kasar banget."
Kembali menyodorkan steak daging kepada Aryan. "Kan jujur," mengunyah sodoran steak dari Berlian.
Perempuan itu mengacungkan jempolnya. "Gue suka kejujuran," Aryan mengurungkan niat menerima suapan Berlian.
"Kalau aku gak pernah jujur sama kamu gimana?" Berlian menggerakkan tangannya, membuat Aryan menerima suapan dari Berlian.
"Gue gak pernah perduli sama lo."
Aryan menggeleng pelan, "kamu kasar banget."
"Ups, Sorry," ucapnya diiringi tawa kecil.
Mereka menghentikan pembicaraan tidak penting itu saat melihat Gena sudah berjalan masuk dan menarik kursi yang tidak terlalu jauh darinya lalu ia duduki di dekat mereka.
"Mana Bimonya?"
"Udah pergi setelah aku bayar makannya, kita mau kemana lagi?"
Aryan melihat jam tangannya. "Pulang saja, perjalanan sampai rumah bisa malam," Gena mengangguk menyetujui. "Kamu sudah makan?"
"Udah dong, tadi pake duit mas," Aryan manggut-manggut.
__ADS_1
"Aaa....." Gena membuka mulutnya ketika Berlian menyodorkan steak daging ke mulutnya
"Katanya udah makan," ujar Aryan.
"Udah makan, bukan berarti gak boleh makan ini kan," menunjuk steak daging di depan Berlian. "Sama ini juga", menunjuk steak kentang di depan Aryan.
********
Setelah selesai menunggu Gena menghabiskan pesanannya mereka keluar dari Cafe dan berjalan beriringan. "Ahhh kenyangnya," mengusap perutnya yang membuncit karena terlalu banyak makan.
"Salah sendiri, sudah makan punya kami. Eeh pesen lagi," celetuk sindir Berlian. Gena cengengesan saja, entah kenapa setiap datang bulan bawaannya selalu ingin melahap banyak makanan.
"Hai gengss......." Membuat ketiganya menoleh ke sumber suara, mereka sama-sama berdecak kesal, melihat seorang laki-laki menghampiri. "Waw, ada angin apa kalian pergi bersama? dan kebetulan apa kita bertemu di sini."
Aryan meraih tangan Berlian dan Gena untuk segera menjauh pergi. "Bro, tega banget lo sama gue,"
Berlian melepaskan tangannya dari cengraman tangan Aryan. "Udah deh, kalian kenapa sih kayak kucing sama anjing tau gak kalau setiap ketemu,"
Devan berkacak pinggang. "Lo sadar gak, kalau lo ketemu gue juga kayak ketemu kotoran anjing tau?" Berlian tertawa.
"Lo sadar, kalau lo mirip kotoran anjing," Devan berdecak lagi, entah kenapa mulut Aryan dan Berlian ini sama saja, menyakitkan kalau harus berbicara kepada mereka berdua.
"Haha,,, mas Devan emang kayak kotoran anjing kok. Ganggu!!!!!" Devan menyentuh dadanya.
Astaga, mereka kasar banget sih.
"Aryan, ajarin adek lo yang sopan ngomong sama orang tua,"
"Iya kakek, maaf." Gena membungkuk membuat Berlian tertawa besar.
"Tuan Devan, sepertinya anda tidak memiliki teman ya. Sampai mengajak musuh anda sendiri untuk menemani anda." Ucap Berlian dengan formal.
"Kalian nyebelin banget sih. Kalau punya mulut gak pernah bisa di kontrol," Aryan membiarkan saja Devan mengoceh sendiri, dia kembali membawa Gena dan Berlian untuk pergi.
Sepertinya Devan memang tidak memiliki teman, Devan mengikuti kemana Aryan, Berlian dan Gena melangkah. Mereka membiarkan saja, Devan untuk mengikuti, setidaknya Devan tidak mengomel untuk mengajak mereka berbicara.
Sepanjang langkah mereka, Devan menatap tangan Aryan yang terus menggenggam tangan Berlian. Sedangkan tangan satunya merangkul bahu Gena.
Cih, merasa punya istri dua ya? Dalam hati Devan mencaci.
Berlian sudah mulai mencoba membuka hatinya. Yah untuk pertama-tama, ia membiarkan Aryan menggenggam tangannya terlebih dahulu. Toh, tangan Aryan selalu hangat saat menggenggamnya.
Langkahnya terhenti. "Ada apa Berlian?" Melepaskan genggaman dan menatap Berlian.
"Kenapa kak, kok berhenti." Ikut memperhatikan Berlian. "Kakak nangis??" Melihat mata Berlian mengeluarkan air mata.
Langkah Berlian perlahan maju. "Fareeellllll" Berlian berlari sangat kencang meninggalkan mereka bertiga. "Fffaaaaaarrrrreeeeellllll!!!!!!!" Beberapa orang sempat terkejut mendengar teriakan Berlian.
Aryan mematung melihat itu, ia kira Berlian sudah tidak lagi mengingat tentang Farrel.
Devan yang melihat itu langsung maju mendekat. "Farrel???" Menatap Aryan. "Ar, dia kenapa??" Aryan tidak menjawab.
Aryan meraih lengan Gena untuk tidak mengejar Berlian, "mas, lepasin. Kita harus kejar kak Berlian, Gena takut ada apa-apa sama kak Berlian?"
__ADS_1
"Jangan kejar, itu akan membuat dia semakin sedih,"
"Sejak kapan dia kayak gitu??" Tanya Devan.
"Itu bukan urusan lo."
"Tentu itu urusan gue, lo belom juga cerita sama dia"
"Pergi lo, jangan ikut campur!!!!"
"Lo harus cerita sama dia Aryan. Semuanya,,"
Aryan mentap Devan marah. "Gua peringatin sama lo, gak usah ikut campur!!!"
"Gue harus ikut campur Ar, sampai kapan lo harus pendam itu semua sendirian?"
"Pergii......."
Devan tidak beranjak. "Lo egois, lo cuma mentingin diri lo sendiri," Aryan mendorong bahu Devan, hingga membuat laki-laki itu tergelak kebelakang.
"Kalau gue egois kenapa memangnya? Lo gak tau seberapa sayang gue ke Berlian hah?" Nada Aryan mulai meninggi. Devan mendorong bahu Aryan, membuat Gena ikut mundur.
"Kalau lo emang sayang sama Berlian, lo gak perlu lakuin itu ke dia," nadanya tidak kalah tinggi. "Lo harus kasih tau dia yang sebenarnya Ar," Aryan menatap Devan marah. "Apa perlu gue yang kasih tau dia yang sebenernya....."
Aryan meraih kerah Devan geram. "Sekali aja lo ikut campur, lo bakal mati No."
"Sampai kapan lo mau buat dia menderita kayak gitu hah? Gue yang baru liat ini aja, gue udah ngerasa kasihan sama dia." Devan mengeram kesal menatap Aryan yang semakin kencang mencengkram kerah bajunya.
Betapa bodohnya laki-laki di cengkramannya ini.
"Stop!!!!!!!" Gena berteriak, beberapa orang melihat kearahnya. "Berhenti buat saling menyalahkan. Mas, Ayo kita kejar Kak Berlian. Gena takut terjadi apa-apa," teriakan Gena membuat Aryan melepaskan cengkraman di kerah Devan dan membawa Gena pergi dari sana.
Menurini escalator tanpa memperdulikan ocehan orang karena tersenggol mereka yang sangat terburu-buru, berlarian mencari keberadaan Berlian.
Gena menepuk pundah Aryan ketika dia melihat Berlian berdiri menyandar di sebuah dinding kosong, kepalanya menunduk. Aryan lihat itu. Mengingat perdebatannya dengan Devan tadi, membuat ia berpikir keras.
"Ayoo..." Gena menyadarkan Aryan untuk bergerak menghampiri Berlian.
Perempuan itu mendongak melihat Gena dan Aryan menghampirinya, "kalian sudah sampai?"
Gena mengangguk. Gadis itu tidak bisa berkata-kata setelah mendapat peringatan dari Aryan tadi.
Aryan bergerak memeluk Berlian lalu mengelus kepalanya dengan lembut, perempuan itu tidak menolak. pikiran Aryan masih berputar pada ucapan Devan. Dia masih bingung harus mengatakan apa.
Dia menatap Devan yang berjarak tidak jauh dari mereka, Aryan menatap dengan tatapan tajam, memperingatkan Devan untuk tidak melakukan apapun yang bukan urusannya.
Sedangkan laki-laki yang di tatap Aryan dengan sinis, hanya memandang iba melihat Berlian yang menyandarkan kepalanya pada bahu Aryan.
"Gue harus menyelamatkan mereka berdua,"
...☘️☘️...
Mari berkenalan dengan Devan Evano Mahaprana, laki-laki sombong yang menginginkan persahabatannya kembali.
__ADS_1