
Para petugas kepolisian benar-benar patuh dengan perintah Udayana yang tidak bisa masuk kedalam pikiran Aryan. Benar-benar diluar nalar. Ia diam saja ketika Polisi meminta untuk tetap mengawal. Mereka masih mengikuti mobil sport Aryan, ketika hampir sampai Hotel Mahesvara.
Atau mungkin saja mereka masih mengawal karena mereka takut kalau Aryan akan membawa Berlian kabur lagi. Yang bisa Aryan lakukan adalah, ikuti saja. Dari pada membuat kekacauan yang Mamanya lakukan semakin rumit.
Setelah memasuki kawasan Hotel mewah milik keluarga Mahesvara, Aryan melihat kebelakang sejenak untuk melihat mobil Polisi yang mengawal mereka tadi. Sudah tidak terlihat lagi. Mereka langsung pergi tanpa pamit kepada Aryan. Padahal ia belum sempat berbasa-basi mengucapkan terima kasih.
"Udah gak ngikutin ya?" Tanya Berlian.
"Iya, mereka lewat aja gitu." Berlian menghela nafas lega.
"Bikin deg-degan aja." Aryan tersenyum tipis menatap Berlian.
"Sebentar," Berlian mengangguk.
Aryan keluar dan memutari mobil, lalu berdiri tepat didepan pintu Berlian. Membukakan pintu untuk Berlian, selang beberapa menit pintu terbuka Berlian tak kunjung keluar. Aryan sedikit menunduk untuk memastikan Berlian baik-baik saja, terlihat wajah Berlian sangat pucat.
"Kamu gak papa?" Tanya Aryan karena merasa khawatir dengan raut wajah Berlian.
"Gue gak papa kok." Sebenarnya Berlian sendiri tidak terlalu yakin dengan tindakannya, takut akan terjadi sesuatu yang membuat keluarga Mahesvara malu. Itu yang ada dibenak Berlian.
"Ayok keluar, kayaknya acaranya belum mulai. Kita masih belum terlambat." Berlian keluar mobil dengan ragu, terus memegang dadanya yang berdegub kencang karena takut.
"Aryan," Menghentikan niat langkah Aryan untuk berjalan menuju kedalam Hotel.
"Kenapa? Kamu gak mau masuk?" Berlian mengangguk. "Kamu mau kita kabur lagi, mumpung kita belum jauh dari mobil. Belum ada yang liat kita juga"
Berlian tertawa.
"Kasian Polisinya Aryan, mereka harus istirahat, bukan melaksanakan tugas gak penting buat cari kita," Aryan ikut tertawa disana mengingat kejadian barusan, membuat Berlian terpana.
"Mau aku peluk?"
"Haa," Apa katanya.
"Eee maksudnya peluk buat nenangin, aku gak ada niat lain kok." Yakinlah, Aryan tidak sedang mengambil kesempatan saat ini. Ia benar-benar ingin menenangkan Berlian saja.
Berlian diam sejenak, lalu mengangguk dan berjalan mendekat memeluk Aryan, bersandar pada dada bidang Aryan. Terasa Aryan mengelus lembut punggung Berlian yang masih mengenakan Jasnya.
"Udah dong mesra-mesraannya." Aryan melepas pelukan dan melihat Zaskia yang hadir ditengah-tengah mereka. Aryan menatap Zaskia ketus, wanita itu malah nyengir kuda merasa tidak bersalah. "Yuk masuk," ajak Zaskia, Berlian mengambil nafas panjang dan terus-terusan berdecak khawatir.
"Aryan mau peluk lagi?" Zaskia langsung melongo mendengar ucapan Berlian, padahal setahu Zaskia, Berlian tidak menyukai Aryan. Tapi mendengar ucapan yang dilontarkan Berlian membuatnya menepis gosip kalau mereka berdua terpaksa dijodohkan.
Aryan juga sama terkejutnya dengan Zaskia.
Tadi aku gak salah dengerkan? Melihat keterkejutan Zaskia, Berarti ia tidak salah mendengar.
Aryan maju mendekati Zaskia dan memutar badan wanita itu, mendorong menjauh. "Pergi lo, ganggu." Zaskia menjulurkan lidah dan berlalu pergi. Aryan beralih mendekati dan memeluk Berlian, pelukan Aryan yang tulus membuat Berlian nyaman dan tenang.
Setelah merasa tenang, Berlian melepaskan dan menatap Aryan sejenak. "Makasih," laki-laki itu mengangguk.
__ADS_1
"Yuk masuk," Berlian menyetujui.
"Tunggu. Jas lo masih gue pakai." Berlian melepaskan dan memberikan jas yang Berlian kenakan tadi kepada Aryan.
"Pakai saja."
"Jangan, lo pakai aja cepet" Sejujurnya, Aryan hanya ingin Berlian saja yang memakai Jasnya.
Karena Kain Sari yang Berlian kenakan, pasti membuat beberapa pria akan memerhatikan itu.
Apa boleh buat, Aryan tetap meraih Jasnya dan dipakainya, Berlian bergerak merapikan dasi Aryan lagi.
"Ayuk." Ajak Berlian lebih dulu.
Sebelum melangkah pergi, Aryan menggerakkan lengannya kehadapan Berlian. "Gandeng aku, balasan dari pelukan tadi." Berlian tertawa mendengar itu.
"Ada bayarannya ya?" Aryan mengangguk.
********
Beberapa pasang mata melihat kearah mereka berdua. Mengagumi pasang yang serasi malam ini, cantik dan tampan. Apalagi Berlian yang mengenakan Kain Sari sangat cocok ditubuhnya. Berlian benar-benar takut ketika diperhatiakan seperti itu, membuatnya semakin mengeratkan pegangan pada lengan Aryan.
"Cantik ya."
"Benar itu wanitanya, beruntung sekali."
Mereka tidak menghiraukan itu, Aryan membawa Berlian ketempat Mamanya berada. "Maa," panggil Aryan, ketika matanya melihat Udayana dengan wajah cemberut.
"Apa?" Aryan melotot mendapat jawaban jutek dari Udayana yang sedang menata rambut Berlian mungkin karena terlihat sedikit berantakan. Sepertinya Udayana bahagia karena dirinya mampu memamerkan Berlian kepada tamu dan beberapa teman dekatnya. "Tadi Pakde dan Budemu datang, tapi gak lama soalnya ada undangan dari tamu penting. Mereka menitip salam untukmu, dan mengatakan bahwa Mamimu sudah kembali ke Jakarta."
Berlian mengangguk. "Mami sudah bilang lewat telepon kemarin."
"Ma, Papa mana??"
"Berlian, mau makan sesuatu? Biar tante ambilin." Sembari merapikan Kain Sari yang dikenakan Berlian, padahal tidak berantakan. Tapi entah kenapa Udayana sibuk merapikan, mungkin Gena menuruni sifat Udayana.
"Enggak usah tante, nanti Berlian ambil sendiri aja." Udayana mengangguk saja.
"Mamaaaa, Papa mana?" Karena sedari tadi Abraham tidak terlihat. Tapi, panggilan Aryan malah tidak digubris oleh Udayana. "Mamaaaa"
"Tante, di panggil sama Aryan." Berlian menggoncangkan tubuh Udayana yang masih sibuk merapikan Kain Sari Berlian.
"Mama.. Mama..!! Kamu ini siapa sih?" Tatapan jengkel yang Udayana berikan kepada putra sematawayangnya.
Berlian terkejut. Sedangkan Aryan berdecak kesal melihat respon dari Mamanya. "Perkenalkan Aryan Tara Mahesvara, anak Mama. Nyonya Udayana dan Tuan Abraham."
"Ngaku-ngaku kamu ya. Anak saya itu dua perempuan. Berlian wijaya dan Gena Mahesvara." Sembari mendelik menatap Aryan.
"Mamaaa." Panggil Aryan jengah. "Kenapa Mama lapor polisi bilang Aryan nyulik Berlian?"
__ADS_1
"Kamu emang nyulik Berlian." Udayana menjawab ketus lagi.
"Mama ngaco."
"Kamu yang ngaco."
"Bagaimana mungkin Aryan menculik calon istri Aryan sendiri. Kami cuma jalan-jalan." Berlian merasa memanas dipipinya, malu mendengar ucapan dari mulut Aryan yang sepertinya tanpa sadar melontarkan kalimat itu. Sedangkan Udayana kembali memberikan tatapan jengkel kepada Aryan.
"Ada waktunya jalan-jalan dan ini bukan waktunya." Masih melototi Aryan.
"Berlian butuh udara,"
"Memangnya dirumah, saya gak kasih Berlian udara, sampai-sampai kamu harus culik Berlian dan kasih dia udara."
"Bukan gitu Mama."
"Berlian kekurangan nafas dirumah?" Tanyanya pada Berlian.
"Haa? Engga kok" Berlian menggeleng menanggapi.
"Bukan gitu Mama."
"Atau kamu mau kasih udara yang lain?" Berlian melirik Udayana yang menatap Aryan sebal.
Udayana menarik tangan Berlian, yang menautkan dilengan Aryan.
"Gak usah pegang-pegang anak saya, sana kalau kamu butuh udara. Pergi aja sendiri. Jangan racuni anak saya." Berlian tertawa melihat tingkah Udayana yang cemberut kesal kepada Aryan.
Bukan terlihat menyeramkan, Udayana malah lebih terlihat lucu. "Ayo sayang, kita pergi."
"Maaf tante." Berlian meraih tangan Udayana.
"Berlian yang salah, Berlian yang mintak Aryan buat gak jadi dateng keacara ini." Udayana mengelus kepala Berlian.
"Bukan salah kamu, tapi supir gak jelas ini. Disuruh anterin Tuan Putri malah nyulik." Aryan diam saja, tidak menanggapi. "Kalau dikasih tugas itu, ya dipatuhi."
"Peraturan dan perintah dibuat untuk dilanggar" Jawab Aryan enteng.
"Huh, begini ya. Seorang pengusah muda yang mereka kagumi dan mereka bangga-banggakan. Saya jadi tidak yakin kalau saya sampai bekerja dengan pemimpin yang seperti ini." Berlian tertawa kecil lagi melihat adu mulut antara Udayana dan Aryan yang terlihat sangat menggemaskan.
Udayana langsung membawa Berlian pergi, tanpa berpamitan dengan Aryan.
...☘️☘️...
Guys, Likeee, Like, Likeee.......
👇
👇
__ADS_1