
"Kenapa tidak bilang kalau kamu tidak suka menonton, kita bisa cari hiburan lain."
Berlian tersenyum. "Gue gak apa-apa kok, beberapa hari ini jam tidur gue gak terlalu bagus, berkat nonton otak gue jadi lebih relaks karena tidur. Bisa di jadiin tempat favorit nih kalau insomnia."
Iya kamu gak apa-apa. Aku? Gimana sama aku? Bahkan jantungku gak berhenti normal dari tadi. Gumam Aryan sembari memijat lengannya yang pegal. Chacha meraih lengan Aryan lagi dan melingkarkan tangannya disana. "Pegel ya, biar gue pijet. Berlian emang gak sadar diri."
Berlian tidak mendengar itu karena sudah asik mengobrol bersama Denada. "Cha udah deh.. Sebenernya yang calon istri mas Aryan itu lo apa Berlian sih?" Denada terus mencibir kelakuan Chacha. Mentang-mentang calon Kakak iparnya ganteng, Chacha jadi nempel-nempel terus.
"Mas juga, mbok ngelak gitu loh"
"Sini kalo kamu mau." Aryan megulurkan tangannya di iringi tawa kecil. "Kamu mau juga?"
Berlian menggeleng.
Denada langsung berlari dan merangkul manja dilengan Aryan yang kosong.
"Bilang aja lo iri kan." Chacha mengerutkan bibirnya sebal, ia sudah tahu sejak awal Denada juga memiliki niatan licik seperti dirinya.
"Itu tau, dasar ulet bulu." Dena menjulurkan lidahnya kearah Chacha.
"Lo tuh, aligator?!!!" Aryan menghentikan langkahnya membuat Chacha dan Denada ikut berhenti.
"Kok berhenti?" Mata Chacha berkedip-kedip centil. Denada meraup wajah Chacha geram.
"Iihhh tangan lo banyak kuman woy." Karena sama-sama tidak terima, akhirnya mereka berdua saling memukul dengan satu tangan dan tangan yang satu masih setia memeluk lengan Aryan,
Aryan menghela napas dalam. "Yaudah, lanjut berantem. Biar Mas pulang aja," Aryan berusaha melerai kedua gadis ini.
"Haahh... jangan ih jangan." Chacha dan Denada serempak memohon kepada Aryan untuk tidak pulang.
Aryan memutar badannya membuat dua gadis yang sedang manja ini ikut berputar tempat dan melihat kearah Berlian. "Mau makan apa??"
Berlian menghentikan langkahnya, mendongak menatap Aryan dan ke dua dayangnya. "Gue ngikut aja."
Tiba-tiba matanya menangkap seorang pria yang sedang menuju eskalator, Berlian terpaku menatap pria itu.
__ADS_1
"Kenapa Berlian?" Bahkan membuat Chacha dan Denada berhenti bertengkar dan melihat ke arah Aryan yang berjalan mendekati Berlian.
Mereka berdua tersentak kaget ketika Berlian lari menjauh sembari berteriak kencang. "FARREEELLLLLLLLLLL......" Sangat kencang, membuat para pengunjung mall menatap keeranan.
Wanita itu benar-benar tidak perduli.
"Kita gak kejer Cha??" Chacha menatap kepergian Berlian tanpa memikirkan jawaban atas pertanyaan Denada,
Chacha berbalik menatap Aryan. "Lo gak ngejer Berlian?" Pertanyaan Denada dia lontarkan kepada Aryan, mata pria itu kosong menatap lurus. "Udah pernah ngalamin kejadian ini juga waktu sama Berlian atau udah dikasih tau sama Mami?"
Aryan mengangguk. "Keduanya. Sewaktu ditaman, tante Gita bilang jika kejadian ini terulang lagi, sebaiknya aku diam dan cukup memperhatikan."
"Ck, semua gara-gara Ezra Farrel gak jelas itu, dia udah buat Berlian kehilangan akal. Sampai kapan coba dia bakal terus-terusan dibayangin sama hantunya Farrel." Sembari menghentakan kakinya kesal.
"Farrel? Siapa Farrel? Maksudnya Hantuuu!!!" Denada merasa merinding mendengar kata hantu.
"Ya apalagi kalau bukan hantu, kalau dia masih hidup pasti dia udah nemui kakak gue dari lama. Ini malah gak jelas di mana keberadaannya." Chacha masih mengerutu kesal.
"Cha siapa Farrel?"
Aryan melihat kesedihan bercampur kekesalan di mata Chacha karena masalah yang di alami Berlian. Dia mengelus kepala Chacha. "Everything will be Fine, lagian kamu belum paham gimana rasanya mencintai seseorang begitu besar." Aryan menatap chacha sembari tersenyum.
"Tapi dia itu...."
"Lebih baik kita cari Berlian." Ajak Aryan kepada Chacha dan Denada.
"Ayookk?" Rengek Denada kepada Aryan, karena Denada sangat takut terjadi apa-apa dengan Berlian.
Saat sampai menginjak lantai dasar Denada melihat Berlian sedang duduk berleseh di depan toko tutup, Berlian tampak menunduk murung.
"WOY BERLIAN." Berlian mendongak mendengar namanya dipanggil lalu melambaikan tangan.
"Lama banget gilak, garing gue nunggunya." Ucap Berlian sembari berdiri beranjak dari lesehannya.
"Kita mah santuy, emangnya lo lomba lari." Aryan melihat Denada menyikut Chacha.
__ADS_1
"Sorry, tadi ni si Chacha ngajak lihat-lihat tas dulu, malah gak jadi beli." Setelah tidak sengaja mendengar pembicaraan Aryan dan Chacha, Denada mwmutuskan untuk mwmbantu Berlian, bersikap seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Dia memang gadis yang baik.
"Kalian cari-cari aja dulu, Gue mau didalem mobil aja." Berlian melangkah lebih dulu.
Mata Aryan bergerak mengikuti Berlian. Benar, kalau saja Aryan mengejar seperti saat di taman mungkin sekarang Berlian akan menangis karena merasa kecewa dan malu. Kalau Aryan atau siapapun diam seperti sekarang ini dan bertingkah tidak tahu, Berlian akan melupakannya dengan cepat.
Berlian merutuk kesal ketika Aryan ikut menunggu di dalam mobil. "Gue gak apa-apa kok sendirian di mobil, ngapain juga lo malah ikutan di sini, memang lo gak laper??"
"Lebih baik kalau berdua di sini, dari pada sendirian pasti terasa membosankan. Aku cari makanan dulu di situ buat ganjel perut, kamu kan belum makan." Aryan menunjuk kedai yang berada di teras mall.
Aryan sudah keluar. "Malah tambah bosen begoo!! bikin suasana jadi awkward, karena gak tau harus ngomong apa." Berlian mengusap wajahnya.
Saat Aryan datang membawa bebarapa kantong berisi makanan dan minuman. Tiba-tiba Berlian merasa gugup melihat pria itu, baru ia sadari ternyata Aryan terlihat tampan hari ini karena tampilannya yang berbeda.
Sejak kapan dia bisa pakai pakaian berantakan gini, jadi keren. Eeehh enggak.. Enggakk , sadar Berlian sadaaarr. Berlian menggeleng kuat.
"Kenapa?" Dia tersentak kaget menatap Aryan memberikan burger kepadanya.
"Ahh... Engga apa-apa, gue cuma pusing aja!!" Berlian memberi alasan asal, tidak mungkin dia beritahu tentang dirinya yang terkesima dengan tampilan Aryan. Malah bisa membuat Aryan menjadi salah paham.
"Serius.. Sakit banget engga, perlu kerumah sakit?" berkedip dua kali ketika Aryan tiba-tiba menyentuh dahinya. "Eeeeh, sorry." Aryan menarik tangannya dengan kikuk. Kecerobohan dirinya membuat suasana semakin bertambah canggung.
Untung Berlian sedang menghadap jendela disampingnya, coba saja kalau itu cermin, sudah pasti dia semakin canggunh karena dirinya tengah tersenyum.
"Boleh aku tanya?" membuatnya menoleh pada Aryan. "Apa yang membuat kamu bertahan menunggu Farrel??" Berlian memudarkan senyuman tipismya.
...☘️☘️...
ARYAN TARA MAHESVARA
BERLIAN WIJAYA VALFREDO
__ADS_1