
Chacha baru saja meneguk minuman jus yang dibuat oleh mamanya tiba-tibqtersedak. Pemandangan macam apa ini. Seketika otaknya tidak dapat bekerja apalagi untuk menafsirkan jalan pikiran Kakaknya.
Layaknya Berlian adalah seorang magician. Kali ini, wanita itu mampu membuat semua orang yang sedang beraktivitas mendadak berhenti. Malam ini beberapa pasang mata hanya tertuju pada Aryan dan Berlian dengan tangan saling bertautan kaku.
Basagita sangat mengerti situasi mereka saat ini, dia berusaha mencairkan kecanggungan dengan mendekati Aryan. "Kamu mau salad buah ? biar tante ambilin, ayo sini." Aryan mengangguk dan melepaskan tangan Berlian.
Tidak ada ucapan yang terlontar dari banyak mulut diruangan ini, hanya menatap heran bercampur bahagia.
"Berlian, kekamar dulu." Basagita mengangguk. Dari sudut mata Berlian menangkap Udayana yang terus tersenyum kepadanya, Berlian sudah bisa membaca pikiran wanita itu. Dialah satu-satunya orang yang pasti sangat bahagia mengetahui ini.
Jangan liatin aku kayak gitu please... Berlian berjalan dengan perlahan.
Ketika sampai didepan pintu kamarnya Berlian langsung membuka dan menutup pintu dengan cepat. Bersandar memegang dadanya karena tiba-tiba berdegub sangat kencang. "Gue ngapain sih," Berlian mengerutu, mengutuk diri atas perbuatannya sendiri. "Apa perbuatan gue ini gak apa-apa?"
"Apasih ngomong sendiri?" Berlian terkejut mendengar suara seseorang dikamarnya.
"Mbak Cia? Ngapain disitu? Kapan pulang?" Melihat Alicia yang sedang asik menatap layar laptop diatas ranjangnya.
"Baru saja, pinjem laptop buat ngirim film Zombie? Udah izin sama Chacha, Kamu sendiri ngapain disitu? Kenapa ngomong sendiri?"
Berlian menggeleng. "Gakpapa kok?" Alicia kembali menatap layar laptop dan Berlian masih bertempur dengan pikirannya.
Berlian terlonjat kedepan saat pintu yang dia sandari terbuka lebar. "Bee gilak lo?"
"Cha.. Pelan-pelan kek, ketuk pintu dulu kek, ngagetin gue aja." Protes Berlian sambil mwngelus dada.
"Dih.. Biasanya juga gak papa? lo sehat Bee. Kemarin nolak mentah-mentah. Eh ini malah main gandengan tangan aja. Gercep juga," Berlian memutar bola mata.
"Jadi, Berlian nerima Aryan?" Chacha mengangguk. "Waww.. Bagus dong itu? Jadi itu yang kamu omongin sendiri dari tadi?" Berlian menggeleng.
"Sumpah ya lo Cha berisik banget kayak mba mba sales tau gak."
"Dih gue kan...." Belum sempat Chacha menyelesaikan kalimatnya, tubuhnya lebih dulu terdorong kuat oleh tangan Berlian.
"Keluar lo, gue ngantuk." Chacha masih ngomel di depan pintu, tapi Berlian tidak menggubrisnya dan langsung berjalan naik keatas ranjang. Tanpa mendengar pertanyaan dari Alicia, Berlian langsung tidur dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
********
"Cha, berita hot nih." Teriak Denada saat masuk kekamarnya dengan membawa jajanan ringan didekapannya.
__ADS_1
"Apa'an?" Sangat tidak perduli dengan berita apapun, kecuali EXO akan datang ke indonesia.
Pesan : Chacha adalah EXO-L garis keras.
"Tadi gue denger Aryan lagi mintak izin sama Papa mau ngajak Berlian jalan hari ini." Membuat Chacha yang tidak perduli tentang apapun langsung menatap terkejut.
"Serius lo? Gimana kalo kita ikut diem-diem?" Denada mengangguk senang dengan ide itu.
"Tapi mereka pake mobil Papa." Chacha mengangguk mengerti.
"Itu lebih mudah kan? Kita gak bakal pusing nyari mobil Aryan yang mana?" Denada mengangguk mengerti, pelayan yang bertugas mengurus kendaraan memang selalu menyiapkan mobil para penghuni di halaman, agar sang pemilik langsung dapat membawanya.
Kedua gadis itu langsung beranjak dari kamar dan mengendap-endap keluar. Keberuntungan sedang berada dipihak kedua gadis itu. Mobil Timo sedang dibersihkan, membuat mobil tidak dikunci. Itu artinya Chacha dan Denada bisa masuk tanpa susah payah.
Terdengar langkah Aryan dan Berlian mendekat. "Lo yakin ngajak gue pergi?? kejadian kayak waktu itu bisa terjadi lagi loh." Mengingat saat mereka berdua pergi ke acara pameran buku. Selain alasan takut kejadian tidak di inginkan terjadi, alasan lainnya adalah Berlian malas.
"Percaya aja sama aku." Aryan menarik tangan Berlian dan membukakan pintu penumpang. Berlian hanya memperhatikan tangannya yang digandeng Aryan. "Eeh Maaf."
Setelah melepaskan genggamannya, dia berjalan memutari mobil menuju bangku kemudi, dan melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Sepanjang perjalanan Aryan hanya diam karena tidak tahu harus membuka topik pembicaraan apa, sedangkan Berlian memang berniat diam. Membuat Aryan menghidupkan musik untuk menghilangkan kecanggungan ini.
Play Now (Im So Tired - Lauv & Troye Sivan)
"Chacha, Dena. Kalian ngapain?" Denada hanya nyegir kuda.
"Kepo." Jawab Chacha santai, mereka kembali duduk ditempat yang seharusnya. "Aaa pegel kaki gue Den, nekuk mulu." Eluhnya.
"Kan gue udah bilang, mereka gak bakal mesra-mesraan percuma kita diem-diem ikut." protes Denada dengan wajah cemberut khas orang kesal.
"Kalau kita ngomong ikut dari awal gak bakal dibolehin, terus kita gak bisa ngintai dong."
"Kita ketahuan juga akhirnya." Seru Denada tidak mau kalah.
"Seenggaknya kita....."
"Ya ya ya..." Denada langsung memotong, malas berdebat dengar ratu ngeles semacam Charlotte. Aryan kembali menjalankan mobil karena lampu lalu lintas sudah berganti dengan warna kuning.
"Kalian berdua ngapain sih?" Berlian semakin geram kepada kedua anak ini.
"Berisik banget lo kayak mba mba sales, gak masalahkan kalo kita ikut. Ya gak Den?" Seruan chacha sebal.
__ADS_1
"Yo'ai mamen." Mereka saling menatap bangga. "Kita gak bakal ganggu lo kok Bee." Berlian melengos tidak ingin menanggapi. Bukan karena takut diganggu, bisa saja malah mereka merecoki dan membuat mood nya semakin buruk.
Mereka memasuki kawasan pusat perbelanjaan dan berjalan mengelilingi mall. Chacha mendekati Aryan yang berjalan disebelah Berlian dan memeluk lengan Aryan manja. "Kita mau kemana nih?" Denada mencibir melihat kelakuan Chacha yang menggelikan.
"Kita nonton aja gimana? aku dengar Berlian gak terlalu nyaman ditempat ramai, solusi satu-satunya Bioskop. Gelap dan tenang." Aryan memang sosok yang dapat dipercaya.
"Ah calon Kakak ipar gue emang perhatian." Puji Chacha sembari menepuk bahu Aryan.
Denada berjalan menghampiri kearah mereka bertiga dengan menenteng beberapa cemilan dan minuman, "makasih Kak."
Pria dengan jaket kulit mengangguk tersenyum.
"Siapa Den?"
Denada menggidikkan bahu, "gak tau. Tiba-tiba nawarin mau bawain makanan gue."
Mereka langsung berdiri dan berjalan masuk ketika mendengar pengumuman pada ruang bioskop yang mereka pesan akan dibuka.
Aryan memilih duduk ditengah antara Chacha dan Berlian, Denada sudah lebih dulu duduk di ujung dekat Chacha sembari melahap pop corn dengan porsi besar. Sedangkan Chacha tetap masih sibuk merangkul lengan Aryan.
Pada saat film akan diputar, Chacha mendekat membisikkan sesuatu ditelinga Aryan. "Tau gak. Berlian itu kurang suka ke sini, dia pasti akan tertidur. Kecuali nonton konser, dia akan tahan sampai jam berapapun." Aryan hanya mendengarkan tanpa ingin percaya.
Setelah film berjalan dua puluh menit ucapan Chacha terbukti. "Benerkan??" Chacha menarik tangannya. "Di senderin aja kepalanya ke bahu Kakak ipar, soalnya bisa nyender ke bahu orang. Nanti kesenengan lagi." Aryan mengangguk mengerti dan segera menarik tubuh Berlian untuk bersandar padanya.
Kalo gak suka nonton, kenapa mau diajak nonton sih.
Chacha yang melihat itu tersenyum bahagia. Dia kembali merangkul lengan Aryan dan bersandar. "Berasa punya pacar dua ya hihi.." Aryan tersenyum.
Aryan mencuri pandang ke arah Berlian saat pertengahan film, sedangkan Chacha dan Denada sudah berpelukan karena takut dengan adegan film horror yang mereka pilih sendiri.
Tiba-tiba tubuh Aryan membeku ketika Berlian menggeliat memposisikan kepalanya agar lebih nyaman pada dadanya.
Ini terlalu dekat. Tangan kirinya menyentuh dada yang tiba-tiba berdetak tidak terkontrol.
...☘️☘️...
DENADA TIMO WIJAYA DAN CHARLOTTE WIJAYA VALFREDO
__ADS_1