
Angga terdiam melihat perlakuan Aryan terhadap sahabatnya, Pria itu benar-benar melindungi Berlian dengan baik, Aryan juga membawa kantong kertas seperti dirinya jika bersama Berlian, Melihat Aryan terus mengelus puncak kepala Berlian, dan menggenggam tangan Berlian.
Hati Angga tersentuh.
Mungkin ini saatnya, Angga harus merelakan Berlian bersama pria yang tulus. Angga mendongak keatas sebentar.
Rel, dimanapun lo berada sekarang. Gue harap lo tahu kalau ada cowok yang tulus sama Berlian. ucap Angga didalam hati sembari menatap Aryan dan Berlian lagi.
"Aryan." panggil Angga lirih. "Aryaan." sedikit meninggikan panggilannya.
Pria itu menoleh kebelakang. Tampak terkejut melihat Angga berdiri dibelakangnya, perlahan Aryan melepaskan pelukannya dari Berlian. Perlahan nafas Berlian mulai membaik.
"Lo, kok bisa disini?" menyandarkan Berlian pada bahunya, mengelus lembut.
"Gue lihat Artikel tadi." Aryan mengangguk paham. Itulah kenapa ia benci berada diluar, selalu saja ada yang membuat Artikel bermacam-macam jika mengenalinya.
"Lo udah makan malam? Biar gue pesenin?"
Dengan cepat Angga menggerakkan kedua tangannya. "Gue udah kok, Berlian udah baikan? Gimana kalo kalian nginep aja diapartement Berlian atau gue aja?" membujuk Aryan untuk mengikuti perintahnya, malam semakin larut. Tidak mungkin mereka nekat untuk pulang,
Yah walaupun itu tidak jadi masalah. Toh mereka juga memakai pesawat pribadi kan?
"Kayaknya kami bakal keapartement Berlian aja, gimana kalo lo ikut?" Aryan harus membawa temankan? iya takut akan melewati batasnya.
"Oke, gue bawa mobil kok." Aryan menuntun Berlian untuk berjalan, sebetulnya Berlian bisa saja berjalan dengan baik. Namun entah kenapa, wanita itu tiba-tiba merasa ingin pura-pura lemah.
********
"Hooaaamm." meregangkan seluruh ototnya, urat-uratnya terasa seperti mengencang seketika. Saat tubuhnya menggeliat kekanan ia mendapati Aryan tengah tertidur disampingnya, sama seperti dirinya, Aryan juga masih mengenakan pakaian yang sama seperti semalam. Hanya saja, dia sudah membuka Jasnya. Meninggalkan kemeja dengan dua kancing terbuka. Astaga sexy, Berlian memukul kepalanya pelan, mikir apasih.
Berlian menatap pria yang masih tertidur dengan tenang dalam wajah tampannya. Berlian juga ingat, semalam ia tertidur dibahu Aryan saat didalam mobil, ia juga sama sekali tidak ingat kapan sampai diapartemennya sendiri, apalagi sampai ia tidur seranjang bersama Aryan.
"Sudah bangun?" suara parau Aryan menyadarkan lamunan Berlian.
"Sudah." jawabnya singkat.
Aryan bangkit dari tidurnya, mengucek mata untuk menetralkan pandangannya. Pria itu duduk sejenak mungkin sedang mengumpulkan nyawanya. Huah, dalam pose seperti itu saja, Aryan semakin terlihat sexy. "Aku buatkan sarapan dulu ya?" Berlian memperhatikan saja, ketika pria itu keluar dari kamarnya.
Berlian bergerak membuka horden, cuaca sudah terlihat sangat terang. Melihat jam kecil dimeja riasnya, sudah pukul 07:45 am. Memutuskan untuk menyusul Aryan, setidaknya ia harus membantu.
Berlian sedikit melebarkan matanya ketika mendapati Angga tidur disofa depan TV, yang semakin membuatnya terkejut adalah, Salsa. Gadis pekerja diCafenya tidur dalam pelukan Angga, mereka juga tampak tidur dengan nyaman, dalam balutan selimut tebal.
"Sedang buat apa?" tanya Berlian ketika sudah sampai dapur, ia tidak perduli dengan kisah Angga. Karena kisahnya ini lebih rumit.
"Telur dadar, yang ada hanya itu. Mau aku buatkan nasi goreng?" tanyanya, sembari nenatap magicom yang sedang menanak.
"Sejak kapan lo masak nasinya? Kayaknya udah mateng tuh?" Aryan menghentikan potongan.
"Tadi pagi jam setengh tujuh bangun, terus tidur lagi" Berlian hanya membulatnya mulutnya.
"Si Angga tidur sini juga? Ngapain pake tidur disofa? Biasanya juga dia pake kamar satu lagi?" sudah mengintip kearah ruang TV dengan berdiri diambang pintu.
__ADS_1
"Semalem mereka sambil nonton TV, itupun aku yang matiin tadi pagi, karena TV yang liatin mereka tidur" mengambil sosis didalam lemari kulkas.
"Hemm" menanggapi jawaban Aryan,
Akhirnya ia memilih memikirkan kisah Angga, otaknya memikirkan kenapa mereka berdua tidur seromantis itu? Mereka tidak memiliki hubungan seriuskan?
"Ayo, udah mateng, telur dadarnya?"
"Asiikkk." menghampiri meja. "Loh, katanya mau buat nasi goreng?"
"Mau?"
"Mau lah."
"Yaudah, kamu mandi dulu aja, biar aku siapin nasi gorengnya."
"Okee." Aryan tersenyum kecil, melihat Berlian sudah berlari kecil keluar dapur.
Disela Berlian menuju kamarnya, ia berhenti tepat diruang TV, langkah kakinya membawanya menghampiri dua temannya itu. "Yaaaa." Kakinya sudah menendang pinggiran sofa. "What the hell Man??" sekali lagi ia menendang.
Bukannya bangun, Salsa malah menggeliat dan berbalik memeluk Angga. "What the f*ck??" memukul tangan Angga yang sudah memeluk tubuh Salsa erat. "Woy" mereka sama sekali tidak merasa terganggu dengan teriakan Berlian.
"Kenapa Berlian?" Aryan datang menghampiri karena mendengar Berlian berteriak.
"Gak papa, cuma mau bangunin mereka aja."
"Biarin aja." menarik tangan Berlian untuk sedikit menjauh."Mereka bilang semalem Cafe rame, Pasti mereka lelah." ucapnya menenangkan.
"Yalah, yalah." ia sedikit mendekat lagi lalu menendang sofa untuk terakhir kalinya. Lalu ia berlari melewati Aryan menuju kamarnya. Aryan yang menyaksikan itu hanya tertawa kecil. Dirinya sama sekali belum pernah melihat tingkah Berlian yang seperti itu.
********
"Ehh, yang numpang udah bangun nih?" menyindir Angga dan Salsa.
"Yadong" jawab Angga, sembari tersenyum mengejek melihat Berlian datang menghampiri. "Apa lo? Liatin Salsa gitu?" membalas tatapan besar Berlian, wanita itu sedang menatap sengit kepada Salsa.
"Serah gue lah, woo." menatap jijik kepada Angga.
"Ehh, udah dong. Nih sarapan." menarik Berlian untuk duduk, mata Berlian masih melotot melihat Angga dan Salsa didepannya.
"Tuan, bilangin tuh sama Nona, biasa aja dong matanya." Berlian menggebrak meja, membuat Salsa tersentak terkejut.
"Apalo" Berlian melotot melihat Angga. Aryan mengelus puncak kepala Berlian.
"Udah, makan. Nanti keburu dingin."
Ting... Ckilt...
Semua mendadak terdiam, seseorang telah masuk kedalam Apartement Berlian.
"Siapa yang masuk Apart gue?" tidak ada yang tahu kata sandi Apartement Berlian.
__ADS_1
"Good Morning" teriaknya. "Abang Angga" berlari memeluk tubuh Angga.
"Eh, Chacha?" membalas pelukan gadis itu.
"Chacha kangen Abang" menggelayut manja.
"Ngapain lo kesini? Kok bisa tahu pasword apart gue?"
"Yeee, lo lupa? pasword lo kan tanggal lahir gue" jawabnya ketus. "Gue kesini, karena mau ada study tur sekolah, katanya kumpul jam sepuluh, dari pada gue nunggu lama, mending gue pergi kesini" matanya menatap Aryan yang masih berdiri dengan mengukir sebuah senyuman. "Mas Aryaaan, Aakhhh" berlari memeluk Aryan kencang.
Gebrakan meja terdengar lagi. Membuat Angga buru-buru memberikan air putih dingin kepada Salsa karena gadis itu sedang tersedak akibat terkejut.
"Apasih lo Bee? Bikin kaget aja" Berlian tidak menanggapi Angga.
"Berani-beraninya lo sentuh Aryan!!" Aryan tersenyum.
"Kenapa memangnya? Week" semakin mengencangkan pelukkannya. Karena mereka hampir terjatuh, Aryan memeluk pinggang Chacha.
"Lepas b*goo" Berlian menarik paksa tangan Aryan untuk melepaskan pelukannya. Karena tidak mau mengalah, Chacha semakin mengencangkan tangannya.
"Ehh, sudah-sudah. Kamu sudah sarapan Cha? Ayok makan bareng." tidak memperdulikan lirikan tajam dari Berlian.
"Gak ah, Ah ini temen gue udah ada yang telepon. Gue pergi ya, Byeee." menghampiri Angga, dan memeluk sekejap lalu pergi keluar Apartement. tidak lupa ia menjulurkan lidah melihat kearah Berlian.
Saat Aryan duduk, Berlian malah berdiri dan berjalan keluar. "Loh? Kamu belum sarapan Berlian??" teriaknya.
"Maleeesss" lebih teriak menjawab.
"Udah Mas, biarin aja" cegah Salsa. "Dia emang gitu?" Angga menyetujui dengan mengangguk kencang.
"Berlian itu, kalau ada sesuatu yang dirasa miliknya disentuh orang bakal marah emang?" Aryan mengerutkan dahinya.
"Milik?"
"Iya, lo kan milik dia, apapun yang nyentuh lo. Pasti dia bakal marah?"
"Tapikan yang nyetuh Chacha, adiknya" Salsa menggeleng.
"Jangankan adiknya, adik Mas Aryan sendiri aja. Pasti dia tetep cemburu" tutur Salsa.
"Gue juga dulu gitu, setiap ada cewek yang pacaran sama gue, selalu dia cemberutin. Bahkan sampek dia musuhin"
"Bahkan sampek sekarang" timpal Aryan. Sembari melihat kearah Salsa, Angga mengikuti arah mata Aryan. Lalu tersenyum simpul.
"Begitulah." Aryan mengangguk. "Kata dokter, itu gangguan psikisnya dia aja, karena trauma itu. Dia kayak takut kehilangan orang terdekatnya"
"Untung Chacha itu adik yang pengertian, Berlian juga sering ngambek sewaktu Daddynya ditempelin sama Chacha, semakin Berlian terbuka dan menerima dunia luar, itu udah mulai dia kurangin sih. Tapi ya, gak seratus persen" ucap Salsa lagi.
"Yaudah sana, sarapan dikamar aja. Dia pasti udah lupa kalo lagi marah" Aryan menyetujui perintah itu, ia membawa dua piring berisi nasi goreng kekamar Berlian.
Dilihatnya Berlian sedang duduk menatap keluar dinding kaca."Sarapan dulu, nih aku udah bawa" menyerahkan sepiring nasi goreng. "Atau mau aku suapin?" Berlian tertawa.
__ADS_1
"Emang gue anak kecil?" lalu meraih piring itu, dan menyantap satu per satu.
Aryan memperhatikan Berlian makan dengan lahap, benar saja. Berlian sudah tidak marah. Aryan mulai memasukkan daftar soal suasana hati Berlian yang suka berubah-ubah, untuk ia pahami.