
Lihat. Berlian yang menciumnya, tapi kenapa hatinya yang terus berdetak tidak karuan. Pikirannya kacau, kenapa Berlian tampak biasa saja, seharusnya wanita itu merasa tidak enak karena sudah menyelonong mengecup bibirnya.
Seharusnya ia marah, kenapa tiba-tiba Berlian mengecupnya tanpa aba-aba. Ya walaupun diberi aba-aba tetap saja ia akan kesal. Arghh, tidak bisa kesal, Aryan bahkan masih terdiam tanpa mengucapkan apa-apa.
Ayo marah Aryan.
Tidak bisa.
Aryan melirik kearah Berlian, wanita itu masih fokus menyetir. Sepertinya hal yang tadi itu bukan apa-apa baginya, jelas saja. Aryan yang terlalu berpikiran jauh, kenapa lidahnya kelu hanya untuk sekedar bertanya untuk apa kecupan tadi. Walaupun wanita itu sudah memberikan penjelasan, namun tetap saja tidak bisa diterima dengan baik. Secara, wanita itu sudah memiliki tunangan, apakah pantas bersikap seperti itu pada pria lain?
Setelah memarkirkan mobil dengan sempurna, ia melepaskan sabuk pengaman dan menghembuskan nafasnya pelan, kebodohannya yang membuat dirinya tidak terkontrol. Apa itu? ia mencium Aryan dengan suka rela.
Berlian menoleh, Aryan masih terpaku dalam diamnya. "Mau aku bantu turun?"
"Eng-enggak usah." jawabnya gagap.
Berlian lebih dulu keluar, lalu disusul Aryan. Dodit yang berada diluar langsung menghampiri Berlian dan mengambil alih buku-buku yang dibawa oleh Berlian, sebelum itu ia mengangguk kepala sebentar pada Aryan lalu berjalan cepat kedalam rumah.
Aryan hanya berjalan pelan dibelakang Berlian, tidak ingin berjalan mengiringi langkah Berlian ataupun berjalan lebih dulu melewati Berlian.
Diruang tamu terlihat Udayana sedang asik membaca majalah dengan tenang ditemani Gena yang tertidur dalam pangkuannya. "Eeeh, kalian sudah pulang?"
"Tante? bisa panggilkan Jen atau Dokter Raisa kemari?" Berlian duduk dihadapan Udayana.
Udayana berhenti membaca. "Ada apa? apa kamu sakit?"
Berlian menatap sekilas ke arah Aryan yang berjalan melewati belakangnya. "Kepala Aryan tadi sakit lagi, mungkin harus diperiksa."
"Oh ya?"
"Aryan baik-baik aja mah. Bisa kita bicara sebentar dikamar."
Udayana mengerutkan dahinya, ada yang aneh dari sikap putranya. "O-okey." mengangkat kepala Gena dengan pelan-pelan lalu meraih bantal untuk alas kepala Gena, Udayana mendekati Berlian. "Kamu buatkan minuman dingin untuk Aryan ya sayang?"
"Jangaaan.." Aryan berhenti dan berbalik menatap keduanya. "Jangan masuk kekamarku lagi."
Udayana menatap Berlian. "Apa kalian ada masalah?"
Berlian menggeleng. "Yaudah, sana Tante. Nanti Aryan nunggu lama lagi, Berlian gak apa-apa kok."
Setelah memastikan ada apa, dan ia tidak mendapatkan penjelasan dari Berlian, Udayana berjalan menyusul Aryan.
********
"Ada apa Aryan?" Aryan berbalik, Mamanya berjalan mendekatinya. "Apa masih sakit? Mama akan panggil Jen untuk memeriksamu."
"Maa, sampai kapan dia tinggal disini?"
Udayana memasang wajah kebingungan. "Dia? dia siapa? Berlian maksud kamu?" Aryan mengangguk. "Kenapa dia harus pergi? Mama merasa dia sedikit membantu kesembuhan kamu sayang."
Aryan menggeleng. "Mama salah, sikap dia bener-bener buat Aryan risih, Maa dia sudah punya tunangan. Tapi dengan beraninya dia terus menggoda Aryan."
"Menggoda?" Udayana mengelus lengan Aryan. "Sayang, Berlian tidak mungkin seperti itu."
"Maa, tapi dia emang bener-bener godain Aryan."
Udayana menggeleng. "Apa buktinya kalau dia seperti yang kamu bilang?"
__ADS_1
Aryan menelan salivanya. Dia udah cium Aryan tadi Ma, bahkan dengan lembut dan itu buat Aryan ketagihan. Astaga.
"Hey, kamu gak punya bukti?" Aryan menggeleng. "Sayang, hanya dengan dia memelukmu, menyentuh tubuhmu, memberikan perhatian padamu. Bukan berarti dia sedang menggodamu, itu alami dari sebuah sifat seseorang. Berlian anak yang perhatian bukan penggoda, Mama suka dia."
"Maa, Aryan bukan sedang membicarakan pasal suka atau tidak sama wanita itu...."
"Berlian namanya." potong Udayana.
"Iya Berlian... Wanita itu...."
"Berlian Wijaya Valfredo..."
Aryan menghela nafas. "Iya Mama Berlian Wijay... Awww.."
"Kok aw?" Aryan tidak lagi Berdiri. "Eeh, Aryan kamu kenapa?" Udayana ikut berjongkok.
Aryan menutup kedua telinganya. "Sakit Ma, ada yang terus mendenging ditelinga Aryan."
Kembali menutup kedua telinganya, bahkan sesekali ia menepuk untuk menghilangkan rasa sakitnya, tapi itu gagal.
"Mama mendapatkan wanita yang kita cari, Aryan. Dia berasal dari keluarga Wijaya, teman bisnis Papa." Udayana berlari menghampiri Aryan. "Mama akan buat cara untuk menjodohkan kalian Berdua. Kamu gak usah lagi merasa bersalah, karena dia akan berada pada pengawasan kita."
"Mama serius? Mama dapet dari mana?"
Sebuah senyuman lebar terukir dari bibir Mamanya. "Tante Disa, dia ngebantu Mama buat cari wanita itu. Dan dia mendapatkannya." Udayana memeluk Aryan erat. "Semua rasa bersalah kamu akan hilang sayang. Berkat hubungan kerjasama kita juga, semua keluarga Wijaya akan berpihak pada kita, selama kita akan baik-baik saja sama mereka."
"Aryan akan berusaha yang terbaik Ma, Aryan akan buat wanita itu mempercayai Aryan. Dan Aryan janji akan membahagiakan dia apapun caranya."
Udayana sangat setuju dengan ucapan putranya. "Pelajari apapun yang dia sukai dan tidak dia sukai Aryan. Dari buku itu," Udayana menunjuk buku diatas meja. "Berjuanglah untuk mendapatkan dia."
"Bu Nur panggilkan Jen, Sekarang?!!!!!" Aryan menatap sekelilingnya, Bu Nur, Pak Hendra, Gena, Dodit dan beberapa pelayan lainnya berada dikamarnya.
"Sudah Bu... Mereka sedang dalam perjalanan kemari."
Aryan meraih tangan Mamanya. "Iya sayang, tahan sebentar ya?"
"Berlian Wijaya Valfredo, tunangan yang dia maksud. Apa itu Aryan?" Udayana langsung menutup mulut dengan kedua tangannya.
"Ka-kamu ingat sesuatu??" semua saling pandang, ada kesenangan tersendiri dari dalam diri mereka. Aryan, Tuan Muda mereka sudah mengingat, mereka akan kembali menemukan seorang Aryan yang dingin tapi selalu ramah.
Semenjak kehilangan ingatannya, Aryan berubah. Menjadi lebih pendiam, dan terkadang tidak perduli pada sekitar. "Mamaaaa!!!!!?? jawab Aryaaaann." Udayana terdiam dengan tubuh yang terus diguncang oleh Aryan. "Maaaa, jawab kalau itu tidak benar?!!!!?"
"Aryaaann, tunggu Jen datang kemari. Jangan gunakan pikiranmu untuk mengingat sesuatu." Aryan munduk, meremas rambutnya frustasi.
"Arrghhh, apapun yang terjadi. Aryan gak akan pernah mau menerima wanita itu menjadi bagian dari hidup Aryaan."
"Ar... "
"Semua boleh pergi, Mama juga. Terserah Mama mau suka atau engga sama dia, yang jelas Aryan gak suka sama dia."
"Tunangan dia," Aryan menoleh, Udayana menghela nafas dengan susah payah. "Bukan kamu, mama juga tahu, Berlian tidak akan mau berhubungan dengan pria sepertimu."
"Itu bagus." Aryan berjalan masuk kekamar mandi, meninggalkan semuanya yang seketika terdiam membeku.
Apa yang mereka dengar, menjadi sebuah boom yang meledak seketika. Semua akan mengira kehadiran Berlian akan membawa dampak baik bagi ingatan Aryan. Tapi, apa itu? Aryan tidak mau menerima Berlian.
"Nona... "
__ADS_1
Udayana menoleh, Berlian berdiri diambang pintu dengan membawa sebuah nampan dengan air dingin diatasnya.
"Ber-lian... Aryan," Udayana gugup, Berlian sudah pasti mendengar semuanya. Suara berat dengan intonasi yang tinggi sudah pasti didengar. "Sejak kapan kamu disitu?"
"Apa Aryan masih sakit? kemana dia? Ini Berlian bawain minuman dingin," Bu Nuri meraih nampan dan menaruh diatas nakas. Semua pelayan termasuk Pak Hendra, Gena, dan Bu Nuri keluar ruangan. Tidak ingin ikut campur lebih jauh pada masalah keluarga ini.
Sebelum berlalu pergi, Gena sempat mengelus bahu Berlian. "Yang barusan kamu dengar.."
"Memang apa yang barusan diucapkan? Berlian gak denger apa-apa." Udayana bergerak membawa Berlian keluar kamar, dan menuntunnya kekamar.
"Berlian, kamu pasti capek. Istirahat ya? nanti malam kita ngobrol lagi saat makan malam." Berlian mengangguk.
"Dimana Om??"
"Om sedang ada rapat diluar, kemungkinan malam baru pulang."
"Yaudah Tante, Berlian istirahat dulu ya. Selamat sore."
Udayana membawa tubuh Berlian dalam dekapannya. "Iya sayang, selamat sore."
Berlian melirik sekejap kelantai dua, tepat pada pintu kayu jati berwarna hitam. Lalu masuk kedalam kamarnya dan bersandar pada daun pintu. Bulir air matanya jatuh perlahan.
Berlian mendengar semuanya, saat semua orang dirumah ini Berlari, ia juga ikut berlari sembari membawa nampan. Tapi ia tidak masuk, Berlian hanya berdiri dibalik dinding, tidak ada yang mengentahui keberadaan dirinya.
"Arrghhh, apapun yang terjadi. Aryan gak akan pernah mau menerima wanita itu menjadi bagian dari hidup Aryaan."
Berlian menangis lagi, apa harus sesakit ini lagi untuk mencintai pria itu. Kenapa Aryan tidak mengharapkan dirinya.
"Udah dong Berlian," mengipas wajahnya agar air matanya tidak lagi turun. "Jangan diinget-inget, dia masih gak inget apa-apa."
Ponsel diatas nakas bergetar, berjalan menghampiri dan meraihnya. Tertera dengan nama 'Mami' buru-buru ia menghapus air matanya dan berdehem menetralkan suaranya.
"Ehem.. Halo Mami, how are you?"
"Fine. Gimana? sudah ada perkembangan sama ingatan dia?" Berlian menggeleng, walaupun ia tahu. Mamanya tidak akan melihatnya sedang menggeleng. "Pulang sayang, gak seharusnya kamu berada disitu."
"Mii, Berlian kan udah bilang. Berlian sayang sama Aryan, Berlian ingin membantu memulihkan ingatan Aryan."
"Kalau dia masih gak nerima kamu?" Berlian terdiam. "Kenapa sama suara kamu? kamu nangis? Pulang Berlian. Se-ka-rang!!!!" ucapnya setengah memekik. Berlian tahu, Mamanya pasti sangat kesal.
"Mami knows, Berlian will remain here until she really remembers everything. Mi, I love him." Terdengar Basagita menghela nafas kasar disebrang sana.
"Mami gak tahu lagi, gimana caranya buat otak kamu itu gak mentingin Aryan. Pulang. Mami sama Daddy akan pergi ke Italia."
"Berlian akan tetap berada disini. Until whenever."
"Up to you."
Sambungan telepon mati, Berlian melemparkan ponselnya kesembarangan arah, lalu merebahkan diri diatas kasur.
Aryan pernah jatuh cinta kepada Berlian, sebelum mereka saling bertemu. Aryan pernah mencari Berlian hanya untuk sekedar amanah dalam memegang janji. Aryan pernah berusaha menyukai dan mempelajari apasaja tentang Berlian.
Aryan pernah ini.....
Aryan pernah itu.....
Dan kini, Berlian yang akan melakukan ini dan itu untuk mempertahankan Aryan. Jika ia pernah menyakiti Aryan tanpa rasa bersalah, kini ia rela sakit hati untuk mempertahankan Aryan tanpa rasa lelah.
__ADS_1