
"Kenapa? kok kayak kaget gitu?"
"Emang kaget." memilih untuk duduk dikursi santai yang lain. Karena wanita yang mengagetkannya sudah duduk ditempatnya tadi.
"Ini kenapa berantakan?" kakinya menendang vas bunga yang sudah pecah menjadi beberapa bagian.
"Gak sengaja ketendang."
"Oh." Aryan menatap Berlian.
"Tumben, apa ada masalah?" heran saja, Berlian tiba-tiba berada dikamarnya. Biasanya wanita itu akan sering menghabiskan waktu dikamarnya sendiri atau dikamar Gena.
"Pengen cerita."
Aryan mengerutkan dahinya. Berlian ingin cerita? ini lebih mengherankan.
"Tadi, aku ngelihat Farrel lagi." ucapnya sembari menunduk.
"Dimana?" Berlian mendongak menatap Aryan.
"Rumah Sakit."
Aryan diam memandangi Berlian, wanita itu sudah menunduk lagi. Aryan mendapat kesenangan tersendiri, Berlian sudah mau membuka diri dan bercerita kepadanya. Walaupun yang diceritkan wanita itu perihal pria lain. Tidak masalah.
"Dia orang ke dua yang bilang, kalau aku harus percaya sama kamu."
"Berlian. Sebenarnya. . . ."
"Haii..." Aryan dan Berlian menoleh keujung pintu, seorang pria menyebalkan berdiri disana. "Apa kabar kalian berdua?"
Pria itu masuk kedalam kamar dengan wajah tanpa dosa, masuk sampai kepintu balkon dan berdiri dengan gaya berlebihannya.
"Nih." menyodorkan sebuah kertas semacam undangan kepada Berlian.
"Lo gak tahu adab masuk rumah orang kah? main nyelonong masuk kamar aja." mengambil kertas secara paksa.
"Suka-suka gue."
Berlian membolak-balik kertas tersebut. "Apaan nih?"
"Undangan, dibaca dong." menatap Aryan sekilas. "Kalian lagi ngapain, berdua-duaan dikamar, belum muhrim Astagfirulloh." sembari mengelus dadanya.
"Emangnya lo, udah pake tidur sekamar lagi?" berjalan masuk dan duduk diruang kerjanya. Tidak ada gunanya menanggapi pria itu, sekali menyebalkan seluruh ucapannya akan tetap terdengar menyebalkan.
"Kayak lo gak aja? Hehe." pria itu cengengesan mendapat plototan dari Berlian.
Mendekat kearah meja kerja Aryan. "Yaelah, berhenti bentar sih, mumpung gue disini. Tinggalin dulu kerjaannya." menutup laptop yang baru Aryan nyalakan.
Entah dengan keterpaksaan atau memang mereka berdua yang mau, kini mereka bertiga sudah duduk diatas rooftop. Devan terus mengoceh padahal Aryan dan Berlian hanya diam mematung saja. Malas menanggapi Devan.
Gena datang membawa nampan berisi jajanan ringan dan dibantu pelayan wanita membawa nampan berisi minuman hangat.
"Hai Gena, kamu makin cantik aja."
"Gak usah nyapa-nyapa kalau belum putus sama Zivana." menarik pelayan yang membantunya untuk langsung pergi.
__ADS_1
"Dih, serem amat." lalu ia kembali duduk dihadapan Aryan dan Berlian.
"Lo masih manjain dia?"
Devan menatap Aryan dan menunjuk dirinya sendiri. Memastikan kalau Aryan memang sedang bertanya padanya. "Bokap. Gue udah bilang, gak perlu pake acara-acaraan kayak anak kecil, besoknya bokap nyuruh nyebar undangan."
Mengambil gelas didepannya. "Dia ngadu kali, kalau gue gak ngizinin. Makin lama makin ngelunjak dia."
"Kan lo juga yang buat dia gitu." sindir Aryan sembari memberikan piring berisi buah-buahan kepada Berlian, tadi wanita itu menepuk bahunya dan menunjuk piring tersebut.
"Gue udah suruh Freza buat gak deket dia lagi, kesel gue. Gue suruh Freza buat jagain dia bukan buat dia suruh-suruh buat ngikutin lo sama Berlian." menyerobot buah ditangan Berlian.
"Apa untungnya dia ngikutin kita?"
Devan mengangkat bahunya. "Mana gue tau. Padahal udah gue peringatin, kalau dia gak bakal bisa dapetin Aryan lagi. Eh dia malah menggila."
"Gue gak bakal dateng." Berlian melempar undangan kehadapan Devan.
"Yaelah, sekalian liburan. Ke Bali nih." Berlian kekeh menggeleng. "Ar, rayu gih?" Aryan ikut menggeleng.
"Adek gue aja yang usia belum genap tujuh belas tahun gak mau dia pake pesta-pestaan. Dia udah tua kali."
"Terserah, yang penting kalian harus dateng. Kia sama Reza udah gue undang, ya walaupun Reza juga kekeh gak mau dateng." mengingat Reza yang begitu setia kepada Aryan.
"Gue banyak kerjaan." ucap Aryan.
"Bodo amat, dateng aja. Gue diancam gak enak sama dia kalo lo gak dateng Ar."
"Itu semakin buat gue gak mau pergi kesana." Aryan tersenyum mendengar Berlian mengatakan itu.
"Menjijikkan kalian berdua. Gue balik." menyesap kopi yang dibuatkan oleh pelayan. "Gue punya saran kalo lo mau pergi besok."
Berlian membalas tatapan Devan. "Apa?"
"Seperti kata nyokap gue. Cukup percaya sama Aryan." mengambil jaketnya dan ia gunakan sembari melangkah menuju tangga. "Bye guys. Gue balik."
Berlian menatap Aryan. "Dia orang ketiga yang bilang gitu."
********
"Jadi, kamu beneran sudah ceraikan pria itu?" sembari memotong meat steak dan memasukkan kedalam mulutnya. Lalu mengunyah perlahan.
"Iya dong. Aku gak mau bertahan sama pria seperti itu. Aishh." menaruh pisau dengan keras. "Bodohnya aku, sampai mau mempertahankan dia."
"Lalu, sekarang? apa rencanamu?"
"Apa lagi? menjanda dengan bahagia dong." tertawa lepas, dan kembali memotong steaknya. "Oh iya, gimana? sudah kamu ceritakan semua sama Nona Berlian?"
Aryan menggeleng. "Belum ada kesempatan."
"Ck. Aryan, jangan sampai dia tahu dari orang lain, itu lebih menyakitkan." meyakinkan Aryan untuk menceritakan semuanya lebih dulu.
"Nanti, aku cari waktu yang tepat."
"Hm.."
__ADS_1
********
"Bagaimana, apa Nona mau?" Berlian menggeleng kuat. "Ayolah Nona."
"Jess, jangan aku. Cari saja yang lain, aku kurang nyaman dikenal orang." padahal ia kini sudah dikenal oleh semua orangkan, sebagai tunangan Aryan Tara Mahesvara.
"Nona..."
"Jess." Udayana menyela. "Hentikan, kalau menantuku bilang tidak, yasudah seterusnya akan tidak."
Jessica cemberut menatap Berlian dalam pantulan cermin. Berlian sedang mengganti warna rambutnya, ia rubah menjadi cokelat abu-abu.
"Sebaiknya rayu Berlian, agar tidak mengadu pada Aryan. Anak itu lebih sensitif kalau soal Berlian." Jessica menelan ludahnya.
"Maaf Nona." kembali mewarnai rambut Berlian dengan perlahan.
"Tante.."
"Iya sayang?" menatap Berlian.
"Zivana mengadakan acara ulang tahunnya di Bali, bagaimana menurut Tante?"
"Datang saja, dia akan semakin merepotkan kalau Aryan tidak datang." merapikan handuk yang hampir jatuh dari bahunya.
Berlian menatap cermin.
"Sekalian kamu tunjukin kalau Aryan bukan lagi milik dia, wanita itu kadang tidak tahu diri. Masih merasa punya hak atas Aryan, egois."
Setelah mendengar saran dari Udayana, Berlian jadi berpikir ada benarnya. Terkadang wanita manja itu masih bersikap seakan-akan Aryan adalah milik dia.
Bagaimana kalau ia tunjukkan saja, siapa yang memiliki Aryan. Entah kenapa rencana itu membuat hati Berlian bahagia.
Berlian membawa langkah kakinya menuju ruang perpustakan dirumah Mahesvara. Menurut Bu Nuri, setelah pulang dari makan siang bersama temannya, Aryan langsung masuk kedalam ruang perpustakaan. Terlihat Aryan sedang membolak balikan buku diatas meja.
"Aryan." panggil Berlian, wanita itu masih berdiri diambang pintu.
"Sini masuk." Berlian berjalan masuk dan meraih uluran tangan Aryan, mereka duduk berhadapan sekarang. "Cantik. Rambut kamu?"
"Thank you." membalas senyuman Aryan.
"Ada apa?"
"Aku mau dateng keacara itu."
"Ke acara. . . ?"
"Zivana." membantu Aryan untuk mengingat.
"Kenapa?"
"Ya, setidaknya kita harus menghargai undangan itu kan?" Aryan menimang ucapan Berlian. "Disitu kita harus tunjukin sama dia, kalau kamu udah gak ada rasa lagi sama dia."
Aryan tertawa. Yang benar saja, ia kan memang tidak lagi memiliki rasa pada Zivana. Sudah sejak lama.
"Tenang aja. Kamu gak akan goyah, ada aku." menepuk dadanya. Aryan tersenyum tipis.
__ADS_1
"Okay. Kita pergi kesana."