
Mereka terengah-engah, setelah berlari memecah kerumunan para pecinta Bring Me The Horizon. Aryan dan Reza akhrinya sampai di dekat gazebo, tempat dimana laki-laki berwajah tegas itu meninggalkan calon tunangannya.
"Nah kan bener lewat," celetuk Reza.
Aryan berlari meninggalkan Reza mendekati Berlian yang sedang tertunduk dengan kepala diasandarkan di atas meja. "Berlian," pelan ia guncangkan tubuh Berlian. "Kamu mengantuk ya......" Menepuk pundak perempuan itu dengan lembut.
"Woy, jangan ganggu, dia bilang kalau ngantuk tadi..." Aryan menepis tangan Zaskia. Kalau saja Reza tidak menghalang, ada kemungkinan Aryan sudah menghajar Zaskia karena kesal.
Tapi itu tidak akan pernah terjadi, Aryan bukan laki-laki yang kasar terhadap perempuan, apalagi kepada Zaskia. perempuan yang ia sayangi seperti saudarinya sendiri. Jangankan kepada perempuan yang tidak bersalah, untuk perempuan yang sudah menyakiti hatinya saja dia biarkan.
"Sabar bro, dia mungkin emang ngantuk berat makanya dia tidur, bukan mabuk, coba pelan-pelan banguninnya." Aryan mengacuhkan Zaskia yabg meracau tidak jelas, dia menuruti Reza untuk membangunkan Berlian dengan pelan.
"Berlian bangun, Ayo pulang," perempuan itu menegakkan badannya membuat Aryan tersenyum lega, namun Berlian melepaskan tangan Aryan dari pundaknya.
"Apa'an sih, gue juga baru gabung udah diajak pulang aja." Ucap Berlian sembari menatap wajah Aryan kesal.
"Bagus Berlian, Sekarang lo jadi temen gue," Berlian menyambut uluran tangan Zaskia, lalu mereka tertawa bahagia, membuat Aryan menatap Reza.
"Berlian, kan aku udah bilang jangan mau di kasih minuman sama mereka"
Denisa menggebrak meja. "Bosss... Gue gak ada ngasih minuman sama Berlian sumpah!!!" Aryan memutar bola mata malas.
"Ehhh kaget gue," Reza sedikit terkejut karena Zaskia tiba-tiba berdiri.
"Gue juga." Zaskia ikut menggebrak meja.
"TERSERAH!!!!!!!" melotot ke arah Zaskia dan Denisa bergantian. Ia kembali menunduk menatap Berlian. "Berlian ayo bangun, kita pulang ya?" ucap Aryan lembut.
"Baru juga jam berapa??"
"Ini sudah setengah dua belas, Berlian."
"Aryan, gue gak mau pulang," Berlian merengek menatap Aryan.
Kenapa Berlian imut banget sih kalo mabuk gini.
"Udah duduk aja,"
Aryan duduk karena Reza memaksanya, duduk di atas sandaran semen tepat di atas Berlian duduk. Lututnya ia geser mengenai lengan Dimas yang sesekali menempel pada Berlian karena tidak sadar, "Geserrr...., awas lo jangan deket-deket." Aryan menggeser tubuh Dimas lagi menggunakan kakinya.
Reza hanya menggeleng melihat sahabatnya yang tertawa senang karena Berlian bersandar dan memeluk kaki Aryan.
"Za, ada apa itu??" Aryan bertanya penasaran dengan gerombolan yang tidak jauh dari gazebo mereka, bahkan suara ribut itu mengalahkan sound system panggung.
"Biasalah, ribut. Kalo engga joget nyenggol dikit, ya palingan gara-gara cewek," Aryan mengangguk mengerti.
Wanita memang mengerikan ya?
Lagu-lagi Reza menatap sikap lembut Aryan yang mengelus puncak kepala Berlian,
Tiba-tiba Zaskia berteriak keras membuat penduduk gazebo sedikit tertarik kepadanya, beberapa pengunjung lainnya juga sempat menoleh kearah teriakan perempuan itu. Reza sedikit menunduk kecil dan mengatupkan kedua tangannya, meminta maaf karena membuat keributan.
"Jinakin peliharaan lo kenapa?"
Reza mendengus. "Mentang-mentang peliharaan lo jinak ya? Lo jadi ngesok gitu ngomong sama gue," tidak memperdulikan Aryan yang tertawa mengejek, dia menarik tangan Zaskia agar duduk, "kamu ngapain sih? Bikin kaget semua orang aja."
__ADS_1
Zaskia tidak menjawab, ia melepaskan tangan Reza dari lengannya. Lalu kembali menatap teman-temannya yang beberapa sudah tidak sadarkan diri lagi, "Gue punya pertanyaan seru?" teman-temannya duduk lunglai menatap Zaskia, mereka benar-benar sudah mengambang, antara sadar dan tidak sadar lagi.
"Si-siapa disini yang be-beum pernah ciuman angkat tangan,"
Reza berdecak menatap perempuan di sampingnya itu, menurunkan tangan Zaskia. "Turunin tangan lo, gue udah capek nyiumin lo. Masih kurang puas?"
Zaskia ternganga menatap Reza bingung. "Lo siapa? Haaahhhh, kok ganteng?"
Reza menghela nafas,
"Dia Reza, belahan jiwa lo." ucap Aryan menanggapi kebiasaan Zaskia ketika mabuk.
"Laahh, lo juga siapa? Kok ganteng, haduh kenapa sih gue selalu di kelilingi sama cowok ganteng," mengelus dagu seperti tidak menyangka dengan kenyataan bahwa dia berada di tengah-tengah laki-laki tampan.
"Makasih Zaskia, gue emang ganteng," Aryan lagi-lagi menanggapi.
"Gak usah ikutan gila lo," Reza menatap Aryan kesal,
"Heh diam, lo siapa? Jawab!!!!" Bentak Zaskia mentap Aryan.
"Gue Aryan,"
Zaskia mengangguk, mata beralih pada Berlian. "Lo siapa? kok gue baru liat?"
Berlian melambaikan tangannya. "Gue Berlian, anggota baru lo."
Zaskia melanjutkan bertanya kepada teman-temannya satu persatu, lalu kembali duduk. "Oh, kalian ini teman-teman gue ternyata." Mengangguk senang karena melihat yang duduk bersamanya adalah temannya sendiri. "Tadi gue nanyak apa ya?"
Rendi mengangkat tangannya.
"Soal ciuman bos,"
Wanita yang memakai kaca mata bulat mengangkat tangan. "Guee... Udah pernahh..." Zaskia tertawa jahil. Beberapa temannya ada yang tidak menjawab.
Berlian mengangkat tangannya, itu hampir terkena wajah Aryan karena terlalu bersemangat menunjuk diri.
"Guee. . ." Aryan melihat kearah Berlian. "Gue belum pernah,,,," matanya meredup lalu melebar menjawab itu.
"Aahh masa? Berlian cupu," ejek Zaskia. Berlian mengangguk cemberut lalu mengambil sebotol minuman lagi.
Aryan sempat mencegah tapi Berlian tidak menggubrisnya.
"Gue mau kasih tau sesuatu. kalo Aryan juga belom pernah ciuman juga, hahhaa" Zaskia tertawa keras, bahkan Reza ikut tertawa mengejek. "Lo perlu jadi first kissnya Aryan Bee..."
Berlian menggeleng sembari menggerakkan kedua tangannya. "Gak mau"
Aryan melihat Berlian menatap dirinya lalu menutup wajah menggunakan kedua tangannya dengan malu-malu. "Masa gue duluan yang cium dia,"
Reza tersedak mendengar ucapan Berlian, lalu menatap Aryan, seperti biasa laki-laki itu tidak berekspresi. Walaupun ia yakin, Aryan juga pasti terkejut mendengar hal itu.
"Lo perlu yang mengawali bro," Reza memeringatkan.
Memutar bola mata malas, Aryan berdiri menarik lengan Berlian, lama-lama bergabung bersama mereka bisa membuat otak Berlian error. "Pakai jaket kamu, kita pulang.." Berlian menggeleng tidak mau. Aryan sedikit memaksa tubuh Berlian berdiri. Melihat kearah teman-temannya yang sudah tertidur. "Gue balik," Reza mengangkat gelas pertanda mengizinkan.
Aryan mencoba memakaikan jaket Berlian, karena baju yang terlalu pendek membuat perut Berlian terbuka. "Beli baju kok yang kekecilan sih," Berlian mengalungkan tangannya di leher Aryan yang kesusahan memakaikan jaketnya.
"Ahh jangan pegang perut gelii..." Aryan menghela nafas.
"Enggam, cuma mau makein jaket aja,"
__ADS_1
Berlian menggeleng. "Gak mau pakai jaket," Berlian melepaskan pelukannya dan pergi lebih dulu meninggalkan Aryan.
Merasa dirinya masih mampu berjalan, Berlian berulang kali melepaskan rangkulan Aryan.
Karena berjalan tidak lagi benar membuat Berlian jatuh tersungkur, Aryab buru-buru memapah tubuh itu lagi untuk berdiri. Mungkin kalau saat ini Berlian sedang dalam keadaan sadar, pasti dia akan merasa sangat malu jatuh di depan banyak orang. "Gue kangen Farrel loh,," ucapnya lirih. "Gue pengen ketemu sama dia..."
"Iya, nanti kita cari Farrel..."
"Lepas ih gue bisa sendiri" Aryan melepaskan lengan Berlian. Membiarkan perempuan itu berjalan sendiri.
Berlian ikut bernyanyi dan mengikuti gaya Bring Me The Horizon menguasai panggung, kadang mengomel dan berbicara sendiri yang Aryan dengar hanya Berlian mengucapkan nama Farrel berulang kali.
Aryan berlari menuju pintu keluar, melihat Berlian terjatuh lagi dan menghentikan beberapa pria yang mencoba membantu Berlian berdiri. "Gak apa-apa mas, dia sama saya kok."
Para laki-laki itu pun mengangguk sopan. "Maaf Mas gak tau,"
Aryan tersenyum, lalu memapah tubuh Berlian untuk berdiri dan membawa kearea parkir menuju mobil. "Gue bisa sendiri,"
Membuat Aryan kembali melepaskan dan berlari terlebih dahulu menuju mobil membukakan pintu untuk Berlian. Namun dia tersadar, Berlian tidak ada di belakangnya.
"Berliaannn..." teriaknha, berlari kesana kesini mencari Berlian, menelusuri tempat parkir yang luas.
Aryan mengehela napas lega, ketika mendapati Berlian duduk berleseh di lantai parkir. dia berjalan mendekati Berlian dan berdiri di depannya.
"Bangun, kotor," Aryan berlutut di hadapan Berlian ketika mendengar isakan tangis perempuan itu. "Ada apa?" Berlian menggeleng dengan posisi tetap menunduk. "Ayok bangun, kotor," Berlian tetap menggeleng tidak ingin beranjak.
Tangannya bergerak mengangkat dagu Berlian, memperlihatkan wajahnya yang basah akibat air mata, Aryan menghapus jejak itu.
"Gue kangen Farrel," Berlian kembali mengeluarkan airmata, Aryan menangkup wajah Berlian dengan kedua tangannya. Ini kali pertamanya ia bisa menyentuh dan melihat wajah Berlian dalam jarak dekat. Aryan mengusap lembut pipi Berlian yang hangat, melihat mata Berlian yang menatap dengan pandangan kosong.
Aryan itu seorang laki-laki normal, mengambil kesempatan yang mungkin akan ia sesali jika Berlian mengingat ini.
Memberanikan diri untuk mengecup bibir lembut Berlian secara perlahan, Aryan menarik bibirnya lagi dan menatap Berlian, menunggu respon dari perempuan itu.
Aryan menghapus airmata dipipi Berlian yang mengering dan kembali menyatukan bibirnya perlahan, tidak ada penolakan dari Berlian. Aryan malah merasakan Berlian membalas ciuman itu, membuatnya berani melewati batas. Menggerakkan tanggannya keperut Berlian yang terbuka bebas.
Aryan melepaskan ciumannya memberikan waktu Berlian untuk mengambil napas. Aryan terus melihat mata Berlian yang tetutup.
Aryan ini pria normal.
Siapa yang tidak menyukai wanita seperti Berlian?? Tapi kenapa hati Berlian terlalu tertutup membuat Aryan susah untuk membukanya.
Apa Aryan harus berjuang dan terluka lagi untuk bisa mendapatkan hati seorang perempuan??
Apa Aryan harus bertahan pada wanita yang bahkan sudah membuat keputusan dari awal untuk tidak akan menyukai dirinya??
Aryan tidak lagi memikirkan tentang itu, karena untuk saat ini Berlian sudah berlabel 'It's Mine' itu artinya Berlian adalah miliknya bukan?
"Berlian dengar ini," Berlian membuka mata dan menatap Aryan. "Aku menyukai mu," Berlian tersenyum dan mengangguk, entah mengerti atau tidak, Aryan tidak perduli. "Maaf Berlian,"
Aryan kembali mengecup bibir Berlian dengan lembut.
...☘️☘️...
...JENG JENG JENG!!!!!!!!!...
...OH NO,,, SUMPAH, DI CHAPTER INI BENER-BENER BUAT AKU KEBINGUNGAN MENDESKRIPSIKANNYA, TAPI SEMOGA MASUK YA DI OTAK KALIAN YANG SUCI ITU.....
...MAAF KAN SAYA, 💜...
__ADS_1