Unforgettable Mistake

Unforgettable Mistake
UM (53)


__ADS_3

Dito bersandar pada daun pintu menatap Berlian serius, sejak kembalinya perempuan itu kerutinitas seperti biasanya, Berlian belum juga turun dan melihat sekeliling Cafe. "Coba aja di lihat dulu, kali aja emang tamu penting lo,"


"Gue sama sekali belum bilang sama siapapun kalau gue sudah pulang Dit, kalian gak lagi ngerjain gue kan?"


"Kenapa kita harus ngerjain lo?"


Berlian menggidikkan bahu, "siapa yang tahu, kayak anak kecil nyiapin kue segala macem."


"Ehh, lo tau soal ide Jenar itu? tapi gak jadi kok, bos Angga ngelarang itu."


"Terus yang di bawah siapa?"


Dito menghela napas, "gak tahu Bee. Gue tanya siapa, gak di jawab. Katanya cuma mau bertemu Berlian sebentar gitu." Ucapnya sembari memperagakan seseorang yang inginn bertemu Berlian.


Kembali menatap Dito datar. "Gue gak nanyak sama lo Ditooo!!!"


"Lah, lo ngomong ada gue,"


"Hiss,,," melirik tajam. "Gue gak kasih tahu siapapun, kalau gue udah balik kesini," ucapnya lagi.


"Emm, Apa perlu gue usir nih."


"Eeh, jangan... Ya sudah gue turun,"


"Oke siap,"


"Dit... " Dito menghentikan langkahnya. "Kasih minuman apakek, gue beresin kerjaan ini bentar,"


"Udah di kasih kopi sama Jenar tadi."


Dito keluar ruangan meninggalkan Berlian yang sibuk membereskan kertas-kertas berserakan. Berlian sudah yakin, ini pasti akan terjadi. Angga tidak akan bisa mengontrol usaha mereka dengan benar. Membuatnya harus bekerja keras lagi setelah ia kembali dari libur panjangnya.


Dirasa siap beres kertas yang berserakan. Berlian keluar ruangannya, menuruni tangga perlahan sembari memikirkan, siapa tamu yang menunggunya. Padahal Berlian sendiri juga baru mengabari Mamanya dua hari lalu.


Berlian menghentikan langkahnya, di lihat sosok pria yang duduk dengan memperhatikan area sekitar.


"Om?" Pria itu kembali menaruh cangkir kopi di meja. Ia mengurunkan niatnya untuk menyeruput secangkir kopi di tangannya saat mendengar suara Berlian.


"Sayang....." Abraham berdiri dan langsung memeluk calon menantunya. Berlian pun membalas pelukan Abraham.


"Om di sini?"


"Hhaa, iya dong sayang. Terus siapa kalo bukan om di sini?"


"Hehe,"

__ADS_1


"Kamu apa kabar?" mengekus puncak kepala Berlian.


"Baik om,"


"Nakal ya, pergi tidak bilang-bilang. Bikin khawatir semua orang saja sih,"


Berlian tertawa kecil. "Maaf om, Berlian kemarin gak pamit sama om sama tante juga," Abraham menggeleng menatap Berlian yang mempersilahkan Abraham duduk. "Kok om tahu cafe Berlian disini"


"Siapa lagi kalau bukan Daddy mu," Berlian tertawa. Yah, memang sudah lama Berlian curiga pada Samuel, karena papa angkatnya itu selalu tahu dimana saja keberadaannya, apa saja yang di lakukannya, sekalipun itu Samuel sedang berada di luar Negri.


"Gimana kabar tante, om?"


"Biasa, mengomel setiap hari. Marah-marah terus. Dia yang mulai bahas kamu, dia sendiri yang marah-marah tidak jelas," Berlian tersenyum canggung, merasa bersalah karena sama sekali tidak memberikan kabar kepada calon mertuanya sendiri, sudah pasti Udayana merasa tidak di hargai oleh Berlian.


"Maaf? Oh iya, kalau Aryan?" Abraham menatap Berlian.


"Makan, Nonton tv, merundingkan bisnis, Dia terus menatap ponselnya. Sekertarisnya bilang beberapa hari ini dia tidak datang ke Hotel tapi dia tidak pernah ada di rumah,"


Berlian mengerutkan keningnya. "Kenapa?"


Abraham menggeleng tidak tahu tentang perubahan sikap putranya, yah walaupun Aryan memang anak yang pelit bicara. Tapi perubahan itu benar-benar terlihat.


"Beeee,,," Berlian melihat Angga yang berada di lantai dua berteriak memanggilnya. "Sini,"


Berlian menggeleng. "Lagi ada tamu,"


"Siapa?" Abraham bertanya pada Berlian, ketika melihat Angga turun.


Berlian langsung menarik Angga mendekat. "Kenalin om, ini Angga sahabat Berlian dari SMA sampai sekarang, rekan bisnis juga," Angga menatap Berlian.


"Siapa Bee?"


"Om Abraham" Angga dan Abraham bersalaman.


"Hallo om," Angga terdiam sejenak, lalu laki-laki dengan kaos tanpa lengan itu tiba-tiba menutup mulut dengan kedua tangannya. "Siapa??? Abraham?" Pria itu menatap Angga heran. "Papa mertua"


"Papa mertua?" Berlian dan Abraham bertanya bersamaan dan kini mereka saling pandang.


"Om Abraham, papa tunangan Berlian kan?" Abraham mengangguk. "Nah berarti, papa mertua Berlian dong---Gaisss sini deh." Angga berteriak kepada tiga sekawan yang sedang sibuk bertugas.


"Ada apa?" Dito berjalan lebih dulu.


"Papa mertua nih, cepet bikinin minuman special disini, gue mau beli sesuatu," Angga langsung pergi dengan semangat.


Sedangkan Jenar dan kedua anteknya menyalami Abraham yang tampak kebingungan. Sedangkan Dito kembali kedapur untuk membuatkan minuman special yang di maksud Angga.

__ADS_1


"Duuh, kenapa gak bilang kalau om ini Papa mertua. Tadi saya gak jutek kan ya??" Abraham menggeleng kepada wanita yang memperkenalkan dirinya bernama Jenar.


"Hallo papa mertua selamat datang," Salsa mencium punggung tangan Abraham lembut.


Berlian menggeleng, mereka berempat memang sangat kompak.


"Eehh, iya Hallo siapa?"


"Salsa Pamer"


"Pamer???" Mereka sama-sama bertanya heran.


"Papa Mertua," Jawab Salsa. "Kepanjangan kalau panggil Papa Mertua, ya Salsa singkat aja jadi pamer,"


"Duh, adik kecil. Terserah kamu aja," Jenar menepuk bahu Salsa, mendukung.


Abraham sendiri malah tertawa mendengar percakapan mereka. "Duduk om, gak usah dengerin mereka," Berlian mengusir Salsa dan Jenar untuk kembali bekerja, karena Cafe mulai terlihat rame di jam siang ini. Abraham menurut untuk duduk.


Dito datang dengan membawa nampan berisi hidangan yang di minta oleh Angga.




"Red Velvet Hot Chocolate with Cream and Cake Strawberry , silahkan di santap om."


"Ehh, iya. Terima kasih nak Dito," Dito mengangguk dan pamit untuk kembali bekerja.


Untuk sedikit menghargai kebaikan teman-teman Berlian, Abraham menyeruput menu minuman special dan kue yang terlihat sangat lezat itu. Lalu, ia mengambil sebuah papper bag di bawah meja dan diberikannya kepada Berlian.


"Apa ini om??" meraih paper bag.


"Cuma hadiah kecil," Berlian tertawa sembari berterima kasih kepada Abraham, membuka papper bag tersebut karena sangat penasaran. "Sepertinya akan berguna untukmu."


Sebuah kotak kayu dengan sebuah ukiran asap pada bagian tutupnya. "Waw. Vape," sebuah senyuman tipis dari Berlian adalah bayaran atas hadiah kecilnya. Abraham tersenyum menatap senyuman manis calon menantunya.


"Perempuan merokok itu tidak baik, selain merusak kesehatan bisa juga menjadi penyebab bau badan." Berlian mengendusi tubuhnya. "Ketahuankan kalau kamu masih merokok??" Berlian berhenti mengendus dan menatap Abraham cengengesan. "Om juga tahu waktu di rumah kemarin kamu merokok kan, Aryan yang kasih?" Berlian mengangguk, menampilkan wajah menyesal.


"Jangan di ulangin, yang tepenting tante tidak tahu, hanya itu." Berlian mengangguk. "Promise?"


"Hihi... Berlian coba,"


"Promise" Mengacungkan jari kelingkingnya.


Menggigit bibir bawah, menimang tindakan yang akan ia lakukan. "Promise," mereka saling menautkan jari kelingking.

__ADS_1


Abraham tersenyum bangga, semoga saja Berlian bisa menepati janjinya kepada dirinya. Ia akan membuat Berlian menjadi perempuan yang lebih baik, untuk dirinya sendiri dan untuk putranya.


...☘️☘️...


__ADS_2