Unforgettable Mistake

Unforgettable Mistake
UM (6)


__ADS_3

Farrel pernah memohon kepada Berlian agar berhenti merokok, awalnya Berlian menyanggupi hal itu. Tapi ketika dia tidak sedang bersama Farrel, Berlian kembali merokok. Terkadang dengan posesifnya Farrel menciumi aroma tubuh Berlian untuk memastikan kebenaran tentang kekasihnya yang sudah berjanji untuk menjauhi rokok.


Namun Berlian sangatlah cerdik, dia mampu mengelabui Farrel soal itu.


"Kalo kamu gak sayang sama kesehatan kamu, setidaknya kamu perduli sama kesehatan orang lain. Lebih berbahaya buat perokok pasif Berlian, bayangin aja kalo bayi yang menghirup asap rokok kamu, gimana??" Berlian hanya manggut-manggut tanpa mau menjawab ocehan dari kekasihnya itu. "Sayang dengar?"


"Iyaaa, aku dengar." Jawabnya sambil melirik batang rokok yang di buang setelah ketahuan oleh Farrel sore itu.


Untuk waktu dua tahun kehilangan Farrel membuat Berlian berpikir untuk berhenti merokok saja. Tapi, jika ia teringat akan sosok Farrel. Membuatnya kembali mengambil sebatang rokok untuk menenangkan diri.


Hahaha, Pikiran macam apa itu. Bohong jika waktu itu dia mengatakan kepada Abraham bahwa dirinya sudah berhenti merokok.


Karena kini Berlian tengah duduk diatas ayunan kayu ditaman, sedang menghisap sebatang rokok. Sesekali ia hembuskan ke udara. Ya, setidaknya cukup teralihkan pikiran yang memenuhi otaknya. Tidak akan ada yang tahu!


Karena ini hampir tengah malam, semua orang pasti sudah terlelap. Jadi, tidak akan ada yang menangkap basah dirinya.


Berlian terkesiap saat sebuah tangan mengelus lembut kepalanya, refleks tangannya menyembunyikan rokok yang sempat ia hisap tadi, tangan kanannya juga mengibas diudara untuk menghilangkan asap rokok. Berlian mendongak melihat sesosok pria tinggi tengah tersenyum padanya.


"Kok belum tidur?" Aryan berjalan memutari ayunan dan duduk di samping Berlian.


"Belum ngantuk, nganggetin gue aja." Berlian menghela nafas lega. Ternyata bukan Timo atau Abraham yang memergokinya merokok.


Aryan melihat kearah tangan Berlian yang disembunyikan, mengeluarkan asap. Dia tersenyum tipis menatap Berlian yang masih duduk bersila dengan wajah pura-pura tidak tahu.


"Lanjut saja, aku cuma mau duduk disini, tidak akan mengganggu." Berlian diam, sudah bisa menebak kalau Aryan mengetahui ia sedang merokok. Dengan hentakan kecil dia langsung membuang puntung rokok yang disembunyikan. Namun sebelum itu sempat ia matikan terlebih dahulu.


Tidak ada percakapan sejak kedatangan Aryan, hampir satu jam mereka saling membisu disana. Aryan menggerakkan kakinya membuat ayunan yang mereka tumpangi bergerak. Dan Berlian menyandarkan kepalanya pada pinggiran tiang kayu ayunan, menatap kearah air mancur yang mengalir indah. Berpikir mengatur kata-kata yang bersarang di otaknya.


Kata-kata yang terus berputar-putar didalam otaknya.


Kata-kata yang seharusnya ia ucapkan dari awal.


Kata-kata yang rasanya memaksa ingin keluar dari rongga mulutnya.

__ADS_1


"Gue mau lo nolak perjodohan ini." Akhirnya Berlian ucapkan. Ayunan berhenti, pria itu menoleh menatap Berlian.


"Kenapa?" Tanyanya.


Berlian menunduk, "karena kalo gue yang mintak gak bakal ada yang setuju." Lalu membalas tatapan itu.


"Alasannya?"


Berlian menggeleng tidak ingin memberitahu. "Lo gak perlu tau."


"Tapi aku perlu tau alasannya." Aryan terus mendesak meminta alasan. "Kemarin waktu aku tanya kamu punya pacar, kamu cuma diam." Tentu saja Berlian ingat pertanyaan itu, dia menatap kedua mata Aryan. Berharap pria itu dapat mengerti, tapi dari sorotan kedua matanya malah mengandung makna meminta sebuah penjelasan darinya. "Kalo kamu bilang kemarin, aku akan coba menjauh. Om Timo juga gak bilang apa-apa Berlian. Kalo aja kamu......"


"Gue punya seseorang yang gue tunggu" Aryan terdiam. Berlian menarik nafas panjang, mencoba menghentikan hati dan pikirannya yang sedang beradu.


"Walaupun gue gak tau dia kemana, yang pasti gue tetep nunggu dia. Gue gak mau nerima perjodohan itu karena sampai kapanpun, gue cuma mau nunggu dia" Dia kembali menatap ke arah depan. "Gue tau sih, ini kedengeran konyol, tapi gue gak mau kalau sampek dia kembali malah gue gak ada buat dia. Gue..... Gue cinta sama dia." Aryan menyimak itu. "Yang dikatakan pakde Timo tentang baik buruknya gue itu benar semua, tentang gue perokok, dulu gue juga suka mabuk-mabukan gak jelas, suka pergi gak balik-balik. Tapi gak semua yang terjadi sama gue pakde tau." Berlian menghela nafas lagi.


"Berlian..." Aryan memanggilnya lirih.


"Aku terima kamu apa adanya," Berlian tidak menjawab. "Berlian, mungkin kamu bilang usahaku sia-sia. Tapi aku akan berusaha, berusaha membuat kamu bahagia, aku gak perlu cinta darimu, aku harus menepati janjiku untuk menjagamu. Karena aku juga sudah mencoba menerima kamu." Aryan mulai membuka suara.


"Aku akan menanggung semua resikonya kalo pacar kamu kembali lagi." Ucap Aryan menambahkan, terdengar suaranya yanh gemetar.


"Omong kosong." Berlian menatap Aryan. "Cih.. " Berlian menggunakan alas kaki dengan cepat rasanya ingin sekali beranjak pergi dari sini.


"Bisa kasih aku alasan khusus yang membuat aku bener-bener harus berhenti berusaha untukmu? Selain soal pria itu." Kaki Berlian terhenti saat pertanyaan itu keluar dari mulut Aryan, otaknya berputar untuk menjawab. Berlian memutar badannya berbalik mentap Aryan yang kini menatapnya lekat.


Ayo pikir Berlian pikir, Alasan apa ya.. Oh iya. Berlian mendapatkan sebuah ide.


"Lo bakal nyesel nerima cewek yang udah pernah tidur sama cowok lain. Maaf, Gue..." Berlian menggantungkan ucapannya ketika pria itu lebih dulu bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan Berlian.


Alasan yang pas Berlian. Gumam Berlian sembari menatap Aryan yang sudah berjalan menjauh. Kenapa tiba-tiba Berlian menjadi merasa tidak enak melihat Aryan yang tiba-tiba pergi tanpa mengucapkan apa-apa.


********

__ADS_1


Mata Udayana tidak berhenti mengikuti Aryan yang terus mondar mandir di depannya, pria itu tengah memasukkan pakaiannya ke koper. "Sayang, kenapa tiba-tiba kamu ingin pulang cepat? katanya ingin di sini lebih lama."


"Aryan banyak kerjaan ma," ucapnya sembari melipat pakaian. "Kita bisa berkunjung lain waktu, kan?" Udayana merasakan putranya sedang menyembunyikan sesuatu, itulah sebabnya dia tidak bisa menerima alasan itu.


"Kenapa tidak kamu cancel saja kerjaannya, katakan pada mereka kamu sedang sibuk."


Aryan menatap mamanya. "Kalau Aryan cancel semua jadwal, nanti Aryan tidak bisa membelikan mama tas terbaru. Seperti yang mama inginkan." Udayana membalak kaget.


Ini adalah pilihan berat, bulan depan akan ada keluaran model terbaru dari brand ternama. Dan dia tidak ingin tertinggal.


"Jangaaaannn.... Oke, kalau seperti itu," Aryan tersenyum. "Tapi mama yakin, kerjaan kantor bukanlah alasan sebenarnya, katakan pada mama apa yang terjadi? katanya kamu ingin mengenal Berlian lebih dalam, waktu yang ditentukan itu seminggu, kita bahkan belum ada lima hari di sini. Sayang, pikirkan masa depan kamu, biar mama marahin papa karena sudah buat kamu jadi sibuk kerja. Tapi itu gak akan buat Mama gak jadi beli tas itu, mengerti?" Udayana kembali duduk karena Aryan menahan bahunya.


"Mama....."


Udayana cemberut. "Bukan karena kamu ada masalah sama Berlian kan?" Udayana menceritakan pada Aryan saat dirinya tidak sengaja melihat Aryan dan Berlian di taman.


"Enggak Mama, important business. Tidak ada hubungannya sama Berlian kok." Aryan tersenyum mengelus pipi mamanya dengan lembut untuk meyakinkan.


********


Seluruh keluarga Wijaya sudah berdiri di pelataran rumah, berbincang kecil dengan keluarga Mahesvara sebelum beranjak pergi. Berlian melirik ke arah Aryan, pria itu hanya diam mendengarkan tanpa berniat menatapnya ataupun melirik.


Aryan lebih dulu berjalan menuju mobil, memberikan waktu berlebihan kepada orang tuanya untuk berpamitan kepada keluarga Wijaya.


...☘️☘️...


ARYAN TARA MAHESVARA



BERLIAN WIJAYA VALFREDO


__ADS_1


__ADS_2