
Berlian terdiam dilorong Rumah Sakit. Terkadang matanya melirik sekilas kearah Aryan, pria itu tengah berbicara dengan wanita mengenakan jas putih.
Tidak, Berlian tidak sedang cemburu. Tapi hawa disekitarnya tiba-tiba berubah menjadi panas, apalagi saat wanita itu menyentuh Aryan semaunya.
"Aryan.."
"Sebentar ya?" ucap Aryan setelah beberapa kali Berlian memanggilnya.
Jadwal konsul Berlian sudah selesai, dan seperti biasa Dokter psikologi hanya memberikan saran ini itu, dan saat mereka berjalan melewati lorong Rumah Sakit, mereka bertemu dengan Dokter wanita yang Aryan kenal.
Sebetulnya Berlian juga kenal, dia Jen, wanita yang disakiti oleh suaminya dimalam kedua pernikahan mereka. Kenapa Aryan menolongnya malam itu? karena mereka saling mengenal. Ternyata dia seorang Dokter.
Berlian dan wanita itu sempat bertegur sapa sebentar.
Karena merasa kurang nyaman, Berlian memilih untuk duduk dan memberikan jarak agar mereka leluasa berbicara. Bukannya mengerti nasib Berlian, Aryan malah mengiyakan dan terus mengobrol tidak ada hentinya.
Saat tiba-tiba sebuah hembusan menyapu wajahnya yang terpejam, Berlian membuka mata dan terbelalak.
Terdiam sebentar.
"Aku habis konsul." seorang pria berjongkok dihadapan Berlian. "Dokter bilang. Dua kemungkinan yang buat aku gak bisa lupain kamu. Karena rasa cinta yang terlalu besar dan karena aku gak tahu harus melupakan kamu atau engga."
Berlian memberikan jeda. "Menurut kamu mana yang ada didiri aku?"
"Karena kamu gak tahu harus melupakan atau engga."
"Aku harus gimana?"
"Lupain aja."
"Kira-kira kalau aku lupain kamu, apa yang bakal terjadi sama kamu?" tanyanya ragu.
"Kamu gak akan melihatku lagi, kamu gak akan nangis lagi, kamu gak akan sakit lagi." senyumnya masih tetap sama, manis.
"Kamu marah?"
"Engga dong. Aku malah dukung kamu, karena aku bukan pria yang pantes dapetin cinta dari kamu." mengelus pipi Berlian dengan lembut.
"Kenapa kamu selalu bilang gak pantes nerima cinta dariku?"
"Karena cuma dia yang pantes." menunjuk Aryan yang tengah asik berbincang.
"Farrel, berhenti hadir cuma sebagai bayangan. Tolong kembali." pintanya.
"Percayakan semua sama pria itu."
"Farrel, kamu dimana?"
Farrel mengetuk dahi Berlian dengan telunjuknya. "Di pikiran kamu."
__ADS_1
Berlian meneteskan air matanya, ia ingin menangis keras setiap kali bertemu Farrel. Namun ia tahan, Berlian sadar, selama ini yang selalu ia lihat hanyalah bayangan Farrel. Bukan bentuk nyata.
Begitu menurut Dokter psikologi yang Berlian temui tadi.
Karena terlalu lama kehilangan Farrel, dan sangat merindukan sosok pria itu. Berlian jadi suka berhalusinasi, apalagi saat diam-diam Berlian mengkonsumsi obat-obatan agar ia tertidur dan lupa akan Farrel. Obat itu semakin membuat Berlian suka berhalusinasi.
"Maaf." ucap Farrel, Berlian terpejam merasakan pipinya dikecup oleh Farrel dan saat Berlian hendak menyentuh Farrel, pria itu mengilang tersapu oleh angin.
Berlian berdiri, lalu ia berjalan cepat mendekati Aryan dan wanita itu. Mereka berdua masih tidak menyadari Berlian berdiri didekat mereka.
Obrolan mereka terhenti ketika tangan Berlian melingkar diperut Aryan. Mereka saling pandang. "Sakit." ucap Berlian lirih hampir tidak terdengar.
Aryan berbalik. "Kamu kenapa Berlian?"
"Perut."
"Jen Sorry, kayaknya Berlian sakit perut."
"Keruangan ku aja, biar aku periksa."
"Pulang." ucap Berlian lagi.
"Berlian, Jen Dokter kesehatan disini gimana kalo kita..."
"Pulang, please pulang." Aryan benar-benar panik melihat Berlian merintih kesakitan.
"Ar. Bawa aja pulang." Jen menyarankan.
Kemudian wanita itu tersenyum simpul. "Aryan, Aryan, dia itu lagi cemburu lihat kamu sama aku ngobrol dari tadi."
********
"Aryan, ada apa dengan Berlian?" melihat sang putra memapah Berlian saat berjalan.
"Udah, lepas." melepaskan tangan Aryan pada bahunya. "Tante nanti ya ngobrolnya, Berlian mau ketoilet dulu." lalu berlari masuk kedalam rumah.
Udayana tampak kebingungan dan terkejut ketika melihat Aryan tiba-tiba tertawa. Pak Hendra yang sedang mengontrol tukang kebun ikut menatap kearah Nyonya dan Tuan Mudanya.
Tidak pernah Aryan tertawa sampai sekeras itu, walaupun pria itu pernah tertawa bersama teman-temannya saat dimanapun, tapi tidak ada yang tahu dan tidak ada yang pernah lihat kalau Aryan bisa tertawa lepas.
Pak Hendra menghampiri, takut terjadi sesuatu. "Bu." panggilnya, Udayana tampak terkejut.
"Sebentar Pak." menyentuh bahu Aryan dengan hati-hati, ia takut pria didepannya yang sedang tertawa itu bukan putranya. "Sayang, kamu gak apa-apa?"
Aryan berhenti tertawa. "Maaf Ma, silahkan Pak, dilanjut lagi."
Pak Hendra mengangguk dan pamit pergi.
"Ada apa?"
__ADS_1
"Mama tahu? tadi Aryan ketemu sama Dokter yang kebetulan pernah Aryan tolong. Waktu kami lagi asik ngobrol tiba-tiba Berlian peluk Aryan." Udayana tersenyum lebar. "Dia bilang sakit perut, gak mau diperiksa cuma mau pulang. Ternyata dia cuma mau ketoilet, kenapa gak di Rumah Sakit aja tadi. Ada-ada aja Berlian itu."
"Kak Berlian itu lagi cemburu." Gena bergabung. Gadis itu baru pulang dari kampus.
"Betul begitu Sayang?" menarik Gena semakin mendekat.
"Iya Ma, Gena soalnya gitu."
"Kamu peluk Bimo?" Gena tertawa mendengar pertanyaan dari Aryan.
"Haha, engga Mas. Maksudnya itu, waktu Bimo lagi ngobrol sama senior, Gena sebel. Terus Gena samperin, baru deh Gena bilang kalo Gena sakit mau pulang dan harus Bimo yang anter. Padahal itu alesan Gena doang, biar Bimo jauh dari senior itu." penuturan Gena, membuat Aryan berpikir.
Sudah beberapa kali Berlian melakukan hal yang mengejutkan ketika Aryan berinteraksi dengan wanita lain.
Dan akibat ucapan Gena siang itu, hingga menjelang malam kalimat itu terus tengiang dipikirannya.
Berlian cemburu,
Berlian cemburu,
Berlian cemburu,
"Aiss." menendang vas bunga yang terpanjang indah dibalkon hingga pecah buyar dilantai.
Memijit pelipisnya, untuk menetralkan pikiran yang entah kemana.
"Sadar Aryan sadar." walaupun malam itu Aryan mengatakan sudah jatuh cinta pada wanita itu. Bukan berarti Berlian langsung ikut jatuh cinta padanya kan?
Gena hanya ngawur, tidak semua wanita sama seperti Gena. Berlian berbeda, benar-benar berbeda titik.
Ponselnya bergetar, Aryan langsung meraihnya. Ternyata itu pesan dari Jen.
Jenifer : Hai, Aryan. Bagaimana kalau makan malam bersama besok?
Belum berniat untuk membalas pesan itu, ia biarkan tergeletak saja. Perasaannya tidak enak, karena terus memikirkan soal Berlian.
"Kenapa gak dibales?"
Suara itu, membuat Aryan terlonjat kaget bahkan pria itu sampai berdiri saking terkejutnya.
Orang yang sejak siang ia pikirkan hadir disisihnya, menatapnya tajam, dan membuat jatungnya semakin berdetak seribu kali lebih cepat.
Bukan karena ia merasa tidak enak karena wanita itu sudah menangkap basah ia bertukar pesan dengan wanita lain, tapi karena ia sedang berhadapan langsung dengan Berlian.
Wanita yang Gena katakan sedang cemburu padanya, wanita yang malam ini hanya memakai piama tidur bermotif Mickey Mouse, dengan rambut putih abu-abu yang tergulung keatas semakin membuat wanita itu seribu kali lebih cantik. Tidak, bahkan beribu-biru kali lipat lebih cantik.
Makasih ya,
Masih ada yang setiap baca cerita ini dan itu bener-bener buat aku terharu. Huaa (nangis online)
__ADS_1
Jangan lupa likenya ya guys,