
Saat terbangun dari tidur, matanya menjuru kesetiap sudut kamarnya. Tidak ada tanda-tanda Berlian telah masuk kedalam kamarnya. Biasanya wanita itu sudah sibuk untuk mengacaukan paginya, tanpa permisi dia akan nyelonong masuk dan membuka tirai agar Aryan membuka mata. Kelakuan wanita itu seperti sudah sangat terbiasa, ia menjadi terngiang akan ucapan Reza sewaktu itu.
"Kalau lo tanya sama gue, Ya intinya lo udah ngelewati banyak hal gitu aja sih."
"Berlian maksud lo?"
"Kenal. Kenal akrab malah,"
Apa wanita itu termasuk bagian dari kehidupannya beberapa tahun silam? sebelum dirinya mengalami kecelakaan dan hilang ingatan. Aryan termenung menatap sinar matahari yang mengintip dari sela tirai yang masih tertutup.
Kalaupun wanita itu benar bagian dalam hidupnya, lantas apa peran dia?
Pintu terbuka membuat Aryan menoleh, Berlian. Wanita itu masuk mendorong pintu dengan punggungnya, dan saat berbalik dia sedit terkejut. Berlian membawa nampan dengan menu sarapan pagi kebiasaan Aryan.
"Duh kaget, kirain masih tidur?" berjalan masuk membawa nampan dan menaruhnya di atas nakas, lalu berjalan membuka tirai, dan berbalik melihat kearah Aryan lagi. Pria itu sedari tadi masih setia menatapnya tanpa bergeming. "Why? kamu gak lagi kesurupan kan? pagi-pagi udah bengong gitu, atau lagi mikirin aku yaa?"
Aryan menyingkirkan telunjuk Berlian tepat didepan wajahnya. "Gak usah kepedean? apa yang mau dipikirin dari perempuan yang sudah punya tunangan."
"Boleh kok, jangankan mikirin, rebut aja boleh?"
Bergeser karena tiba-tiba Berlian duduk dipinggiran kasurnya. "Dih, kelihatan banget kamu gak cinta sama tunangan kamu."
"Cinta? cinta kok, sekarang."
Dahinya berkerut. "Sekarang? kenapa baru sekarang? dulu kenapa?"
Berlian tersenyum. "Uuh, gemes, kamu keppo ya sama kehidupan pribadi aku?"
"Engga sih," menggeser bahu Berlian dengan telunjuknya. "Sudah sana keluar, jangan main masuk aja kekamar laki-laki?"
"Kenapa?" masih tidak memilih beranjak. "Memangnya kenapa?" kembali bertanya karena Aryan tidak menjawab.
"Ya, Gak apa-apa. Cuma gak baik aja." jawabnya asal, karena setelah memikirkan apa posisi Berlian diwaktu lampaunya ia jadi deg-degan sendiri melihat Berlian berada didekatnya.
"Mau aku tidur disini juga, kamu gak mungkin macem-macem lah."
"Jangan anggep enteng seorang laki-laki."
Mengangkat satu alisnya. "Terserah, lagian aku cuma mau nganter sarapan aja."
"Kamu kesini kan mau cari tunangan kamu, bukan mau jadi pembantu. Fokus kesitu aja kenapa sih?" menyendarkan punggungnya.
Berlian menggeleng. "Ya itung-itung bayar utang budi karena udah numpang makan sama tidur. Kayaknya jadi Nyonya Mahesvara lebih cocok deh buat aku dari pada pembantu." diiringi kekehan kecil.
Aryan menoleh kearah Berlian. "Ngaco."
Mendapat respon datar Aryan, Berlian memilih bangkit dari obrolan paginya yang tampak biasa saja, tanpa ocehan Aryan yang menyebalkan, membiarkan Aryan kembali pada rutinitasnya dipagi hari. Setidaknya Aryan tidak lagi ketus saat berbicara padanya. Menandakan sudah ada kemajuan.
********
Berlian dan Udayana masih asik bercengkrama didepan Televisi, menceritakan drama korea yang baru tayang. Karena Berlian tidak terlalu suka membuatnya hanya menjadi pendengar. Wanita 52 tahun itu masih sibuk melayangkan pujian-pujian terhadap sosok Lee min-ho dalam memainkan peran menjadi seorang Raja.
"Duh, minho itu ya Berlian, sumpah deh, Tante heran. Mamanya dulu ngidam apasih ya? kok bisa ganteng gitu loh." Berlian hanya tersenyum, Udayana mengajaknya ngobrol tanpa mengalihkan matanya dari layar Tv.
Padahal putranya juga tampan, seharusnya ia bertanya pada diri sendiri, dulu saat hamil ngidam apa. "Berlian lihat itu loh, jangan bengong."
"Eh iya Tante.. " ikut menatap layar TV, saat Lee min-ho sedang menaiki kuda sembari melayangkan Pedang empat harimau, itu yang tertulis.
Udayana menjerit ketika Lee min-ho berteriak dalam amarah. "Lindungi dia, dia calon ratu kerajaan Corea."
Bahkan terus memukul bahu Berlian hingga bergoyang. "Aduh, lihat sayang," menunjukkan tangan dengan bulu roma yang berdiri. "Tante sampai merinding dengar lee min ho ngomong gitu. Berasa Tante yang pemeran perempuannya."
Berlian mengangguk lalu menggeser sedikit tubuhnya karena takut terkena serangan tangan Udayana lagi. "Iya Tante, Berlian ikut merinding juga." ucap Berlian berpura-pura sembari menunjukkan tangannya yang dibalut manset panjang berwarna hitam tanpa dibuka. Toh Udayana tidak akan melirik tangannya karena terlalu fokus menonton. Lihatlah, Mama dari pria yang dicintainya hanya merespon dengan mengangguk.
Matanya menangkap Aryan sedang menuruni tangga dengan berpakaian rapi. "Ehh, udah siap? berangkat sekarang?"
"Hah?"
__ADS_1
"Loh katanya Tante, kamu ngajak aku keluar hari ini? Yakan Tante." Udayana mengangguk tanpa melihat kearahnya. "Yuk, aku udah siap kok."
Meraih tasnya dan berjalan menuju pintu. "Tantee kami pergi dulu."
"Yaa, Hati-hati."
Aryan menatap Mamanya, masih serius menatap layar Televisi tanpa mengetahui apa yang terjadi disekitarnya. Aryan mendekat.
"Mama, padahal Aryan sama sekali gak ada rencana mau ngajak dia."
Udayana menatap sekilat putranya sebelum kembali menatap layar Tv. "Duh, apasih sayang. Ganggu aja. Mama gak inget kalau bilang itu sama dia, biarin ajalah kalau dia mau ikut."
Karena kesal menatap Mamanya yang bertingkah tidak perduli ketika sedang menonton drama, akhirnya ia memilih pergi saja dan berjalan menyusul Berlian yang sudah duduk manis disamping kemudi.
"Kok lama?" melihat kearah Aryan yang baru masuk kedalam mobil.
Tanpa berniat menjawab, Aryan langsung menjalankan mesin mobilnya dan membawa dalam keadaan sedang.
Berlian bergerak menghidupkan musik agar tidak bosan, karena Aryan diam saja padahal Berlian sudah banyak bertanya soal apapun. "Aku hidupin musik ya? kemarin Gena kasih aku lagu bagus banget."
((((((((((((Sweet Night - V Bts))))))))))))))
If You
(Jika kamu)
Are too good to be true
(Terlalu bagus untuk jadi kenyataan)
And would it be alright if I
(Dan apakah akan baik-baik saja jika saya)
Pulled you closer
How could I know
(Bagaimana saya bisa tahu)
One day I'd wake up feeling more
(Suatu hari aku akan bangun dengan perasaan lebih)
But I had already reached the shore
(Tapi saya sudah sampai di pantai)
Guess we were ships in the night
(Kira kami kapal di malam hari)
Night, night
(Malam malam)
Aryan melirik kesamping, Berlian ikut bernyanyi dalam mata tertutup, sangat menghayati. Matanya beralih pada bibir Berlian, lalu seperkian detik ia menggeleng, kenapa dengan otaknya.
Lalu melirik lagi dan menatap Berlian dalam-dalam. Kenapa ia merasa tidak asing pada pahatan wajah sempurna ini, bulu mata yang lentik tanpa maskara, bibir tipis tanpa lipstik tebal, dan wajah tanpa noda jerawat. Dimana ia pernah melihat wanita ini, sekarang Aryan yakin. Berlian pernah hadir dihidupnya. Mungkin mereka cukup dekat, tapi apa posisinya.
"Kita udah kenal berapa lama?" pertanyaan Aryan membuat Berlian membuka matanya dan melihat kearahnya.
"Kita? aku, kamu atau keluarga 'Kita'?" Aryan menginjak pedal gas lagi ketika lampu sudah berubah warna hijau.
"Keluarga?" Aryan membeo.
"Umm. Keluarga. Semuanya keluarga Wijaya kenal sama Keluarga Mahesvara. Dan aku gak tahu sejak kapan mereka semua saling mengenal?"
__ADS_1
"Kalau aku sama kamu?"
"Tigaaa atau empaat tahun, Maybe." sembari menggaruk pelipisnya.
"Hah? berarti sebelum aku kehilangan ingatanku dong?" Berlian mengangguk. "Kita cukup dekat? pantesan, aku ngerasa gak asing sama kamu?"
"Deket. bangeettt."
"Bisa kasih aku petunjuk, mungkin itu bisa membantu." ucapnya lagi.
Berlian tersenyum. "Aku harus kasih clue apa nih?"
"Apa yang membuat kamu mengingat tentangku?"
"Oh, jadi aku harus kasih clue itu, kali aja kamu juga inget gitu ya?" Aryan mengangguk, antusias.
"Emm," sebenarnya ia harus membiarkan Aryan mengumpulkan memori-memorinya yang tercecer sendirian tanpa harus ia mencampuri dengan ingatannya. Tapi, Berlian tidak sanggup. "When you kissed me."
Aryan mengerem mendadak, kalau Berlian tidak menggunakan sabuk pengaman mungkin ia akan tersungkur kedepan. Tentu, tidak lupa tanggannya menahan. "Are you crazy, Aryaan?"
"Kamu yang lebih gila? apa tadi? i kiss you?"
Berlian tertawa, hal yang membuat mereka hampir kehilangan nyawa adalah ucapannya. "Haha, just kidding. Sorry."
"Berhenti main-main."
"Okay," Berlian melihat kebelakang. "Lanjut, mobil dibelakang udah teriak-teriak tuh." membuat Aryan kembali menjalankan mobilnya.
"Serius.." ucapnya dalam penekanan.
"Iya, ini lagi mikir. Emm, Taman."
"Taman?"
"Emm, Buku."
"Buku?"
"Pantai."
"Pantai?" jari-jarinya mengetuk setir, apa yang harus ia ingat soal ketiga kata itu. Taman, Buku, Pantai. Bahkan Aryan sampai menggaruk kepalanya, untuk mencoba mengingat.
"Kalau gak inget juga gak apa-apa, gak maksa kok itu."
"Sorry. Kayaknya aku emang gak bisa inget."
Berlian menepuk bahu Aryan. "Aku gak sepenting itu juga kok, pelan-pelang inget ya? nanti malah bahaya buat otak kamu."
Mereka kembali terdiam, dan menikmati lagu selanjutnya. "Ngomong-ngomong, kita mau kemana sih? I am confused. Sedari tadi kita cuma muter-muter doang, Kayaknya."
"Um, aku juga bingung sih, soalnya ini first time aku keluar rumah, dan sejujurnya aku gak bilang kalau aku mau keluar rumah. Biasanya Mama selalu gak izinin tapi hari ini dia kelihatan aneh pake banget."
Berlian menepuk dadanya bangga. "Terima kasih dong sama aku, Berkat aku kamu bisa menghirup udara luar."
"Hah? gimana maksudnya?"
"Dari pertama dateng setiap jam segini kamu selalu berpakaian rapi tapi setelah menemui Tante Yana, kamu balik lagi kedalam kamar. Aku gak tahu alasannya. Dan itu terjadi berulang kali selama aku tinggal disana." jelasnya.
"Itu, selama kehilangan ingatan aku coba buat main keluar. Tapi Mama ngelarang, dan I don't know the reason," memutar kemudi menuju gedung mall terbesar. "Mau cari makan?"
"Karena kamu masih belum ingat apapun, bahkan selama dua tahun ini. Mereka semua khawatir dan pengen kamu baik-baik saja. So, jangan berpikiran mereka ada 'Something' yang buat kamu gak boleh ini dan itu."
Aryan mengangguk sebelum memarkirkan mobilnya dengan benar. "Okay, aku percaya sama kamu."
"Waw. aku berterima kasih." melepas sabuk pengaman dan merapikan rambut belakangnya.
"Hem, aku juga perlu berterima kasih, karena sudah mau membawaku keluar." Berlian membalas dengan mengedipkan matanya.
__ADS_1