Unforgettable Mistake

Unforgettable Mistake
UM (30)


__ADS_3

Setelah melihat Berlian siap menghabiskan roti panggang dan susu cokelat panas buatan Gena.


Aryan mengajak Berlian untuk menemui kedua orang tuanya.


Mereka berdua berjalan beriringan menuju ruang keluarga, disana sudah terlihat Udayana dan Abraham sedang mengobrol. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi itu terlihat sangat serius.


"Sini sayang," Udayana memanggil Berlian dan Aryan untuk mempercepat langkahnya, mereka duduk di hadapan sepasang suami istri itu yang sedang menatapnya tersenyum.


"Ada apa tante-om?" tanyanya dengan sedikit kebingungan.


"Tidak ada, cuma mau mengobrol denganmu saja, " Berlian mengangguk. "Pah, Mama aja ya yang ngomong?" Abraham mengangguk, menyetujui.


"Silahkan," Abraham mempersilahkan sang istri memulai.


"Biar Aryan aja yang ngomong,"


Udayana meletakkan jari telunjuk di bibirnya. "Sstttt. . . Biar mama saja," Aryan menghela nafasnya.


"Ini ada apa sih?" Berlian menghentikan mereka berdua yang membuatnya bingung.


"Mama saja," melihat Udayana sudah melototinya, membuat Aryan akhirnya bungkam mulut. "Jadi gini Berlian, Kami berencana membuat sebuah pesta,"


"Pesta?" kepalanya berdenyut.


"Iya, pesta perkenalan besok malam, banyak rekan bisnis dan teman-teman om sama tante yang ingin berkenalan dengan kamu sayang."


"APAAA???" nada suara Berlian meninggi, wajahnya berubah khawatir.


"Begini Berlian. . ." Udayana mencoba mengulang, untuk menjelaskan kepada Berlian yang tampak menahan emosi.


"Untuk apa??" Berlian sama sekali tidak mengerti jalan pikiran Udayana. Tidak!! Jalan pikiran orang-orang di sekelilingnya, Bukankah pada saat pertunangan para awak media sudah diundang. Berarti, berita pengusaha muda yang melangsungkan pertunangan juga sudah tersebar bukan? Bahkan Berlian sendiri juga membaca Artikel itu.


"Iya, untuk memperkenalkan kamu dengan nyata. Bukan hanya lewat media sayang," Udayana membaca isi pikirannya.


"Enggak tante," Berlian menolak dengan mentah-mentah.

__ADS_1


"Kenapa?" Tanya Udayana yang terkejut dengan jawaban cepat Berlian.


"Tante kan tau, Berlian gak bisa ketemu banyak orang. Berlian takut," Aryan melihat Berlian memasang wajah gelisah.


"Tapi kamu tidak bisa menolak, Berlian. Tante sama om sudah mempersiapkan semuanya. Bahkan hotel tempat pesta sudah mulai dihias," Berlian berdiri dan berpegang teguh, menggeleng tidak mau.


"Kenapa semua orang suka ngambil keputusan tanpa bertanya" Mengingat tentang perjodohan ini juga tanpa persetujuan Berlian, mereka langsung memutuskan.


"Berlian," Aryan menarik tangan Berlian meminta untuk duduk dan tetap tenang, namun tangan itu ditepis oleh Berlian.


"Kali ini tante mohon, Berlian mau ya?" Udayana memohon dan akan beranjak dari duduknya.


"Berlian berhak menolak kan? Tante sendiri yang bilang sama Berlian. Berlian boleh menolak apapun yang tante minta kalau itu tidak sesuai sama hati Berlian," Udayana teringat akan ucapan yang keluar dari mulutnya, tapi dirinya tidak ingin mengiyakan ucapan itu.


"Kamu jangan egois dong Berlian."


"Tante gak salah? Tante sadar gak, sekarang yang egois itu Berlian atau tante, Permisi,," Berlian pergi menuju kamarnya, tidak menghiraukan panggilan dari Udayana yang mengeram menahan kesal.


Abraham benar-benar bingung harus membela siapa, sebenarnya dirinya bisa saja membela Berlian karena dirinya sudah berjanji akan memenuhi permintaan Berlian. Tapi, untuk tidak membela istrinya Abraham tidak punya keberanian. Karena jika istrinya marah akan membuat dirinya harus mengeluarkan banyak uang untuk membujuk istrinya.


"Apa maksudmu. ." Teriak Udayana memecah keheningan, mungkin Berlian juga mendengar itu. "Apa kamu bilang??"


Suara dering ponsel Aryan membuat Udayana menghentikan ucapannya dan beralih menatap ponsel Aryan diatas meja.


Matanya menilik siapa yang menelpon Aryan disituasi genting seperti ini, belum sempat terlihat, Aryan sudah lebih dulu mengambil dan menerima panggilan itu.


"Hallo--iya ini Aryan."


".........."


"Oke," Aryan menaruh ponselnya dimeja dan menekan tombol speaker pada ponselnya.


Abraham dan Udayana saling pandang.


"Good morning Mr.Abraham?" Abraham langsung duduk tegap mendengar seseorang memanggil namanya. Suara itu sangat familiar ditelinganya.

__ADS_1


"Ya, Mor-ning," jawab Abraham gagap.


"Kan aku sudah bilang, jangan paksa putriku," Samuel langsung mengatakan intinya tanpa berbasa-basi terlebih dahulu dan menghela napas pelan. "Dan kenapa anda memutuskan sesuatu tanpa berunding dengannya," Udayana langsung paham siapa yang berbicara di balik ponsel Aryan.


"Good morning Mr.Samuel, How are you??" Sapa udayana.


"Jangan berbasa-basi denganku.... Anda ingin mengatakan apa?" Udayana berdehem untuk menstabilkan suaranya.


"Ini hanya pesta perkenalan, Berlian hanya perlu tersenyum di depan umum seperti pertunangan kemarin, tidak ada yang salah bukan?" Ungkap Udayana sedikit mencari pembelaan diri.


"Berlian adalah bagian inti dari pesta yang anda buat, seharusnya Berlian diajak untuk berunding. Apa itu sulit?" Udayana masih diam mendengarkan. "Saat pertunangan itu ada perundingan dari Berlian dan Aryan bukan?" Aryan langsung melihat kearah kedua orang tuanya yang menatap dirinya, saling menelusuri ingatan dimana Aryan yang berusaha meyakinkan Berlian.


"Berlian adalah anak yang berbeda, apa anda tidak mengerti itu Nyonya Mahesvara?" Sindir Samuel. "Bahkan, untuk menerima Aryan saja, mereka berdua telah membuat sebuah kesepakatan," Aryan paham ini. "Benarkan ucapanku Aryan?" Samuel mencari sosok Aryan dibalik panggilannya.


"Ii. . Iya Daddy"


"Tapi Tuan?" Udayana mencoba mencari celah.


"Tapi apa? Ahh iya. Tapi.... Tapi sepertinya aku punya ide Nyonya." Terdengar seperti ucapan tidak meyakinkan dari mulut Samuel, karena ucapan itu diiringi dengan tawa yang cukup nyaring terdengar.


"Ide?" Abraham bertanya mengulangi pendengarannya.


...☘️☘️...


BERLIAN WIJAYA VALFREDO


perempuan dengan sejuta lirikan tajam, tidak peka dengan laki-laki yang menaruh simpati padanya.



...*****...


Hai.


maap beberapa hari gak update, soale banyak kerjaan ki.

__ADS_1


__ADS_2