Unforgettable Mistake

Unforgettable Mistake
UM (47)


__ADS_3

"Kakaaaak!!!!!' Teriak Gena menggedor pintu kamar Berlian, sejak kepulangan mereka dari berpergian siang tadi Berlian langsung mengurung diri di kamar. siapapun belum di ajaknua bicara, perempuan itu juga melewatkan makan malam.


Abraham berjalan mendekati Gena yang berdiri di pintu, gadis itu menyandarkan telinga di daun pintu, "masih belum mau keluar???"


"Iya pa," mengangguk menanggapi pertanyaan Abraham, bu Nuri datang membawa nampan berisi makanan untuk Berlian.


"Pak, bagaimana? Apa kita pakai kunci cadangan saja?"


Abraham Menggeleng. "Jangan, biarkan saja dia. Nanti dia sendiri bakal keluar kalau moodnya sudah kembali." Menurut cerita dari Samuel, perempuan itu akan sering diam mengurung diri sampai suasana hatinya kembali sendiri.


Mereka berhambur menjauh dari pintu kamar, Gena serta Abraham kembali ke ruang keluarga dan bu Nuri kembali membawa makanan ke dapur. "Pa, kasian kak Berlian," ucap Gena merasa iba mengingat kejadian sewaktu diMall siang tadi.


"Sebenarnya, kak Berlian tidak terlalu suka berada di luar sayang," mengelus puncak kepala Gena. "Tapi kadang pikiran jenuh dan bosan datang menghampiri,"


Gena menghela nafas berat. "Huahh, Gena jadi menyesal sering meminta kak Berlian pergi menemani Gena."


"Sekarang kamu paham kan?"


"Iya pa," menghembuskan napas pelan, "Gena akan minta maaf nanti."


"Pintar anak papa,"


Gena mengangguk bangga lalu menatap Abraham sendu, "kenapa ya pa, hati sama pikiran suka gak sejalan?"


Abraham tersenyum dan memeluk gadis kecilnya. "Pinter ngomong ya sekarang!!"


Gena membalas dengan cengiran. "Tapi Gena benarkan?"


"Iya memang begitu kenyataannya sih, pikiran kita suka berbeda sama keinginan kita."


"Sama kayak mas Aryan dong pa?" Aryan mendongak menatap Gena.


"Kenapa sama mas mu?" Tanya Abraham.


"Pikirannya pengen dobrak pintu kamar kak Berlian, tapi hatinya nyuruh diem aja." Abraham tertawa besar. Ada benarnya juga ucapan Gena, karena sedari tadi yang terlihat Aryan sedang membaca buku, tapi pandangan matanya menatap ke arah pintu kamar Berlian.


Aryan berdiri dan pergi dari sana, sudah pasti Gena dan Abraham akan meledeknya sampai Aryan membuka suara untuk membalas, sedangkan saat ini ia sedang malas menanggapi apapun.

__ADS_1


Sebaiknya ia lanjutkan tugas kantor yang sempat ditundanya hari ini di dalam kamar saja.


********


Klek....


Pintu kamar Berlian terbuka, Gena dan Abraham menoleh, bahkan Abraham sampai berdiri dan menghampirnya. "Sayang, kamu belum makan. Ini sudah menjelang malam loh, nanti perut kamu bisa sakit,"


Berlian mengangguk, ia melangkah menuju dapur.


Genapun ikut berdiri dan menghampiri Berlian menuju dapur. "Kak, Gena tadi buat jus mangga, mau gak?"


"Boleh." Jawabnya,


Gena tersenyum, suara Berlian terdengar seperti tidak terjadi apa-apa, bergegas gadis itu bergerak mengambil jus di dalam kulkas, menaruh ke dalam gelas tinggi.


Mereka bergerak meninggalkan dapur menuju ruang keluarga, menghampiri Abraham yang sedang menatap layar laptop dengan serius, melihat Gena dan Berlian datang dia menghentikan aktifitasnya,


"Om mau roti?" menunjuk nampan berisi roti panggang berselai cokelat dan jus mangga buatan Gena di tangannya.


"Enggak, om sudah kenyang." Mengelus perutnya, dan kembali menatap layar laptop.


Abraham mengangkat gelas di sampingnya. "Ada nih," menaruh gelasnya dan menepuk kursi di sampingnya yang kosong, "sini duduk." Berlian mengangguk dan duduk di samping Abraham, dia mulai menyantap hidangannya.


Benar kata Tuan Samuel, Berlian akan terlihat biasa saja setelah di biarkan untuk tidak di ganggu. Hah, ini akan masuk kedalam catatan pentingku. Ucap Abraham menatap Berlian.


********


Saat semua fokus menatap layar TV, Aryan turun dari lantai atas dan berjalan mendekati Abraham yang telah lama meninggalkan laptop beralih menatap layar TV. "Pa, minjem catatan keuangan bulan lalu dong, kata Dinda ada sama papa,"


Abraham berpikir sejenak. "Kayaknya Papa taruh di ruang kerja deh, sebentar biar papa ambilkan."


Aryan menggeleng. "Biar Aryan sendiri yang ambil,"


Abraham mengacungkan jempol menyetujui, dia kembali menatap layar TV sembari memakan popcorn yang telah di siapkan oleh bu Nuri.


Drrrtt.. Drttt....

__ADS_1


Tidak ada yang menyadari sebuah getaran dari ponsel, hanya Abraham. Dia mencari sumber getar tersebut, bukan ponselnya dan ponsel Gen yang dia pegang, lalu menatap Berlian, "sayang, ponselmu bergetar sejak tadi barangkali penting."


Berlian mengangkat tangannya yang masih menggenggam roti. "Berlian gak pegang ponsel om, ponsel Berlian ada di dalam kamar masih di cas, mungkin ponsel Gena."


Abraham menggeleng, "ini ponselnya masih om pegang," matanya berkeliat sampai Berlian menepuk bahunya.


"Itu ponsel siapa yang menyala di atas meja."


"Aryaaaann, ponselmu ada telepon!!??" teriaknya, namun dia langsung mengecilkan suaranya ketika melihat Gena menggeliat, Abraham menggeleng kecil melihat putrinya sudah tertidur di sofa sembari memeluk boneka pink kesayangannya. "Cepat sekali dia tidur?"


Aryan bergegas turun. "Siapa pa?"


"Papa gak lihat, coba saja cek sendiri," Aryan bergerak mengambil ponselnya yang berada di dekat Abraham.


Dia menatap layar ponselnya dengan heran, sebuah panggilan tidak terjawab sebanyak tiga kali. Hingga ponselnya bergetar kembali, Aryan melirik Berlian sekilaa lalu menekan tombol terima. "Hmm,,,"


Berlian menangkap Aryan tengah melirik kepadanya lalu ia berjalan menaiki tangga, dan masuk ke dalam kamarnya.


Berlian hanya melirik sinis ke arah pintu kamar Aryan, menurutnya laki-laki itu memang berlebihan, siapa juga yang penasaran dengan pembicaraannya sampai-sampai masuk ke dalam kamar, dia berdiri untuk menaruh piring dan gelas yang sudah kosong menuju sapur. Namun, selama perjalanan menuju dapur matanya terus saja menatap ke lantai atas.


Di taruhnya gelas dan piring di wastafel, matanya menangkap Aryan sedang berjalan cepat keluar, laki-laki itu sudah menenteng jaket dan dia sudah memakai sepatu.


Berlian berjalan mendekati Abraham. "Aryan mau kemana om?"


Abraham mengangkat bahu. "Om kurang tahu, sayang. Kenapa? Mau om panggil dia?"


Berlian menggeleng cepat. "Enggak usah om," lalu duduk di sebelah Abraham. "Itu Gena perlu Berlian bangunin gak?"


Abraham melihat kearah putri kecilnya. "Biarkan saja, nanti dia bisa mengamuk kalau di bangunkan," Abraham berdiri mengambil bantal kecil dan menaruh di kepala Gena sebagai sandaran. Lalu Abraham berjalan mendekati lemari kecil berisi selimut, dan di balutnya ke tubuh Gena. "Dulu pernah om gendong terus om pindahin ke kamar. Dia sadar, abis itu ngamuk besar, dia pindah lagi ke depan TV, tidur lagi. Di pindahkan lagi tapi sama pak Hendra eeh dia gak ngamuk. Gak adilkan?" Berlian tersenyum. "Tapi semenjak dia udah besar gini, om sama pak Hendra udah gak kuat lagi. Biasanya sih Aryan, tapi dia kan baru pergi."


Ting.. Tong..


Berlian menatap pintu dan bergerak mencegah bu Nuri membukakan pintu. Padahal baru sekitar dua puluh menit Aryan keluar, tidak mungkin laki-laki itu sudah kembali, pikir Berlian.


Di bukanya pintu dengan cepat. "Selamat malam.. Kamu belum tidur sayang?" Nyelonong masuk.


Berlian menghela nafas kesal, ternyata Udayana, kepalanya melongok keluar berharap Aryan pergi terburu-buru tadi karena menjemput Udayana. "Belum, kata om besok tante pulang."

__ADS_1


"Sudah kangen sama menantu sih," Berlian tersenyum kecil. Padahal bukan itu alasan ia kembali, sebelumnya suaminya sudah menelpon untuk ia kembali cepat, mendengar berita bahwa serangan panik Berlian hadir kembali membuatnya bergegas meluncur pulang. Udayana sangat khawatir dengan calon menantunya itu.


...☘️☘️...


__ADS_2