
Langkah Berlian terhenti ketika memasuki ruangan megah, Dekorasi pesta yang sangat indah.
Udayana mengatakan yang memimpin dekorasi adalah Reza. Nanti ia akan berterima kasih kepada Reza, jika bertemu.
Sepanjang perjalanan membuntuti Udayana, Berlian terus mengembangkan senyumannya.
Terlihat seluruh tamu sedang menyicipi makanan yang tersedia, di iringi sentuhan piano membuat suasana pesta semakin romantis.
Udayana sudah membawa Berlian berkeliling bertemu dengan rekan bisnis Abraham dan Aryan, giliran ia mengajak Berlian menemui teman-teman yang selalu pamer kepada dirinya.
"Hallo jeng. . ." Gerombolan wanita kelas atas melihat kearah sumber suara. Keberadaan Udayana dan Berlian dibelakangnya.
"Waahhh. . . Ini calon mantumu jeng." Mereka tampak terkejut dengan kehadiran Udayana membawa seseorang yang menarik perhatian mereka selama beberapa hari ini.
Berlian meregangkan otot rahangnya, ini karena ia sudah terlalu lama tidak tersenyum. Sekali tersenyum, ia merasa kelelahan.
"Iya. Cantikkan?" Puji Udayana, sembari merangkul Berlian bangga. "Ayo sayang, perkenalkan dirimu. Ini temen-temen tante."
"Halo, tante. Saya Berlian Wijaya." Satu tangan wanita teman Udayana mencubit pipi gemas Berlian.
"Aduh jeng, kenapa disuruh memperkenalkan diri sih. Kan kami semua sudah tahu siapa dia."
"Ahh bukan begitu jeng. Kan biar lebih afdol saja. Hehe,,"
"Halo Berlian, kita ketemu lagi." Berlian tersenyum lebar, melihat wanita yang ia kenal disini. "Wah, betulkan pas Sari nya"
"Iya tante. Terima kasih," tersenyum lebar menatap Vitania.
"Iya jeng.?" Sembari mengucapkan terima kasih Udayana memeluk Vitania, perancang baju yang dikenakan Berlian.
"Kamu pinter ya jeng milih calon mantu." Ucap seorang wanita yang sibuk memutar-mutar rambut gelombangnya.
"Ah. . Bisa aja, kebetulan aja Aryan cocok sama Berlian."
"Duh, padahal saya kira Aryan bakal sama Zee loh." Timpal seorang wanita dengan rambut bersanggul.
Zee?? Siapa???
"Ahahha. . . Jangan gitu dong, Zee kan sudah mau menjadi calon menantu keluarga Mahaprana, betul kan jeng?" Udayana melirik wanita disampingnya, Nyonya Mahaprana. Wanita itu hanya tersenyum, sedari tadi Berlian hadir juga wanita itu tidak banyak bicara. Bahkan belum mengeluarkan suara.
"Jeng Disa senyum aja, bukannya dijawab," celoteh wanita rambut bersanggul itu.
"Duh, maaf ya jeng. Saya lagi sakit gigi nih, gak tahu masalah Zee kita lihat perkembangan kedepannya aja ya"
"Wah ada apa nih jeng?" Udayana sepertinya penasaran dengan sikap respon dari Disa, tidak perduli dengan arah obrolan mereka.
"Tidak ada kok." Menatap Berlian sebentar. lalu kembali dengan ponsel ditangannya.
"Saya dengar Zee melamar pekerjaan di Rumah sakit terbesar di Indonesia ya jeng??" Wanita berambut pirang bertanya.
"Betul."
"Wah, pasti diterima ya. Soalnya kan Zee itu cantik, pintar dan berpendidikan tinggi."
"Doakan saja," Disa tersenyum menanggapi.
Wanita rambut bersanggul bertanya. "Apa pekerjaan Berlian?"
"Dia membuka sebuah usaha di Jakarta, cukup maju loh jeng." Udayana menjawab.
"Apa itu???" Tanya wanita berambut bergelombang.
"Cafe book jeng. Yakan sayang?" Berlian mengangguk.
"Betul tante."
"Lulusan dari Universitas mana?" Disa mulai mengeluarkan suaranya.
__ADS_1
Berlian menatap Udayana, membutuhkan sebuah jawaban disana. Nyatanya Udayana malah diam saja. "Berlian kursus penerbangan, Berlian engga minat kuliah."
"Wah sayang sekali, padahal pendidikan itu penting," tatapan remeh dari wanita berambut pirang. Ternyata benar kata Aryan. Disini seluruh orang bermuka dua.
Bisa dilihat dari gaya berpakaian mereka.
Memperlihatkan seluruh perhiasan yang dikenakan, berbicara tentang pendidikan anak masing-masing, tentang bisnis yang semakin meroket.
Berlian jadi ingat ketika pertama berkenalan dengan keluarga Mahesvara. Yang mereka tanyakan adalah setinggi apa pendidikan Berlian.
Walaupun Berlian menempuh jalur khursus Udayana tetap menerimanya. Berlian jadi mempertanyakan hal itu.
"Tidak menempuh pendidikan manapun juga tidak buruk kan Berlian? Buktinya ia mampu membuka sebuah usaha, dibandingkan lulusan univ ternama tapi masih menjadi budak orang." Skak. Ucapan yang dilontarkan Disa membuat semua wanita membosankan disini terdiam. "Aku lebih suka seperti Berlian, tidak memiliki gelar. Tapi mampu memperbudak orang." Berlian diam saja tidak berani menjawab. Sepertinya Wanita disamping Udayana sedikit sensitif.
"Aku setuju." Seru Vitania. "Buktinya, Anakku memilih menikah padahal baru lulus. Tapi untungnya, anak dan mantuku tahu diri untuk menjadi mandiri. Tidak manja dan hanya minta uang orang tua." Lagi-lagi mereka terdiam. Apa kedua wanita ini sudah briefing sebelum memulai ya?
********
Zaskia berkeliling mencari sosok Berlian kebingungan. "Kain Sari merah. . Kain Sari merah." Ucapnya Berulang, karena Aryan yang memberitahu clue tentang Berlian yang sudah dibawa kabur oleh Mamanya. "Ahhh itu dia,,"
Melihat Berlian berada dikrumunan ibu-ibu sosialita. "Gue bantu Berlian Ahh,," Zaskia langsung mendekati Berlian yang dilihat sedetail apapun, memang wajah Berlian sudah tidak nyaman lagi disana.
"Tanteeeeee... Selamat malam." Menyapa teman-teman Udayana.
"Loh sayang??" Vitania terkejut melihat Zaskia. "Kamu kok disini??"
"Mama," Zaskia juga sama kagetnya. "Ini kan pesta Aryan, Masa gak boleh kesini? Kia juga sama Reza kesini." Melirik beberapa wanita disana. "Eee Kia, boleh pinjem Berlian engga??" Udayana melihat Zaskia yang sudah menggandeng lengan Berlian bersiap membawa lari Berlian.
"Duh, Zaskia ganggu obrolan kami aja." Celetuk wanita rambut bersanggul.
"Hehehe. . . Tadi si Aryan nyuruh Kia buat nyariin Berlian,"
"Silahkan, tapi jangan bawa kabur menantu Tante ya, soalnya cuma satu." Berlian tertawa mendapat sindiran itu sedangkan Udayana kembali bergosip dengan para tamu.
********
"Hem. . . Mama mertua gue." Berlian mengrenyit.
"Ooo Mama Reza???"
"Iya Berlian, Mama Rezakan Mama gue juga," Berlian tertawa mendengar jawaban Zaskia.
Zaskia membawa Berlian menjauh dari tempat ramai yang membuat Berlian tidak nyaman. Tidak terlalu jauh dari tempat acara tapi cukup sepi, hanya beberapa tamu dan pelayan Hotel yang ditugaskan menjaga ditempat acara.
Beberapa menyapa Berlian, sekedar ingin berkenalan saja. Tentu Berlian tanggapi dengan ramah.
Setelah dirasa cukup jauh. Mereka berhenti. "Loh mana Aryan, katanya dia cari?" Karena tidak melihat Aryan disini.
"Gue bohong, gue tau kok lo bosen kan disitu. Makanya gue tarik kesini." Zaskia cengengesan menjawab pertanyaan Berlian.
Menghela nafas kesal. Kirain emang Aryan nyari, Cih. Katanya dia cuma mau gue ada didekatnya. Ini jauh aja gak dicari.
"Kecewa ya, ternyata Aryan gak cariin lo." Melihat Berlian memasang wajah masam.
"Haha, kenapa juga gue kecewa. Lo kan tau sendiri, gue sama Aryan gimana," Zaskia mengangguk,
"Iya gue ngerti kok, lagian emang Aryan yang nyuruh gue buat narik lo pergi. Gue tahu soal lo gak bisa ditempat ramai." Mereka sama-sama terdiam. Sampai ketika. "Eh coba liat tu cewek," Berlian mengikuti arahan telunjuk Zaskia, seorang wanita yang tengah memainkan piano. Wanita yang membuat suasa semakin romantis.
"Yang cantik lagi main piano itu?" Zaskia mengangguk. Memang cantik. Wanita itu memakai kain sari ketat yang hampir mengikuti setiap lekuk tubuhnya.
"Jangan salah, cantik gitu tapi dia ular." Berlian tidak mengerti yang dimaksud oleh Zaskia. "Selain dia ular, dia juga superM"
"SuperM, idol Kpop?" Zaskia menggeleng. Polos banget sin ini anak, Ya ampun, Lebih mendekatkan diri kepada Berlian.
"M itu MAN-JAAA." Berlian hampir tertawa namun ia tahan, Zaskia sepertinya tidak menyukai wanita cantik itu.
"Kenapa dengan dia?" Tanya Berlian lagi.
__ADS_1
"Lo mau tau?" Berlian mengangguk, sekalipun Berlian menggeleng pasti zaskia tetap akan memberitahu. "Dia cewek yang pernah disukai Aryan?" Sedikit terkejut, Berlian langsung melihat kearah wanita itu lagi.
"Terus?" Berlian bertanya penasaran.
"Awalnya ular itu bilang kesemua orang kalau dia suka sama Aryan, buat banyak cewek gak pada deketin Aryan lagi. Tapi, waktu Aryan bilang suka sama dia. Dia nolak dan memilih Devan." Berlian sedikit berpikir.
"Devan?" Tanya Berlian.
"Iya. Itu orangnya?" Zaskia menunjuk kearah tepat dimana Devan dan Aryan berdiri saling memunggungi. "Anak sematawayang keluarga Mahaprana rekan bisnis papa Abraham," Sepertinya Berlian tidak asing dengan nama itu. "Banyak temen-temen yang mulai gak suka sama itu cewek. Selain dia ular, dia juga M ke semua cowok, termasuk Aryan cowok yang pernah dia tolak." Deheman seseorang membuat mereka berdua berhenti menggibah, termasuk Zaskia yang sedari awal menjadi bagian informasi Berlian.
"Seru banget. Cerita apa sih?"
"Ahh suami ku?" Berlian tertawa mendengar panggilan Zaskia.
"Suamiku!!! Kalian nikah aja gih. Udah pantes kok." Zaskia melepaskan pelukannya dari Reza.
"Kasih tahu Baby?" Memukul bahu Reza.
"Kami memang sudah menikah Berlian." Ucapan Reza membuat Berlian menganga kaget.
"Hah?"
"Ini minum, mungkin Aryan juga belom cerita." Berlian hanya tersenyum.
"Oh iya, soal dekor ini thanks ya, Reza" Reza mengangguk.
"Aman kalo soal ini, yaudah gue bawa Kia pergi dulu ya. Soalnya dipanggil Papa," Berlian mengangguk mengizinkan dan melambaikan tangan kerah Zaskia dan Reza yang mulai berjalan menjauh.
"Bentar kok, Bee?!" Berlian balas teriakan Zaskia dengan melambaikan tangan.
"Pantes, dia bilang tante Vita mama dia juga. Begonya gue." Tersenyum merutuki kebodohannya.
"Hei," Berlian menoleh seseorang yang memanggilnya. "Kok sendirian? Tadi aku liat kamu sama Kia, mana dia? Itu? Kamu minum apa?" Berlian tersenyum melihat Aryan memberikan banyak pertanyaan untuknya.
"Satu-Satu dong."
Aryan tersenyum. "Iya, Maaf."
"Tadi Kia diajak Reza katanya mau nemuin Papa mereka, ini dikasih minuman sama Reza." Aryan hanya mengangguk menatap Berlian. "Mau? Belom gue minum kok." Menyodorkan gelas berisi jus berwarna orange ditangannya.
"Engga, kamu minum aja."
"Zaskia sama Reza beneran udah nikah?" Tanya Berlian memastikan. Aryan mengangguk.
"Udah hampir setahun kali, tapi emang mereka berencana untuk gak punya anak dulu." Berlian mengangguk mengerti.
"Mereka kelihatan gak kayak orang udah berumah tangga ya. Enjoy gitu." Melihat kearah Zaskia yang sudah berkerumun dengan banyak orang.
"Hemm, kamu mau gitu?" Sontak Berlian tertawa, itu terdengar seperti Aryan mengajaknya menikah dengan gaya enjoy.
Dari sudut mata Aryan melihat seseorang yang menjengkelkan berjalan mendekat kearahnya.
Aryan bergerak mengambil gelas ditangan Berlian. "Katanya gak mau tadi, untung belom gue minum," Berlian memasang wajah cemberut.
"Berlian, maaf." Berlian melihat Aryan yang tiba-tiba meminta maaf kepadanya.
"Maaf kena---" Berlian terkejut Aryan yang mendadak memeluknya, Sebenarnya Berlian mampu mendorong tubuh Aryan yang memang tidak memeluk tubuhnya erat. "Aryannn." Meninggikan nada suaranya. Terkejut ketika Aryan tiba-tiba mencium lehernya dan mengelus punggungnya yang terbuka. Para tamu tidak akan melihat itu karena sibuk mengobrol dan melihat pertunjukan alat musik piano. Beberapa pelayan yang ditugaskan menunggu hidangan melihat kejadian itu langsung menggeser pergi karena mereka merasa acara itu memang diperuntukan untuk pasangan yang terlihat sedang bermesraan dan juga takut mengganggu. Apalagi Aryan adalah anak pemilik dari Hotel tempat mereka kerja.
"Ehem.. Jangan mesra-mesraan depan umum gitu dong"
...☘️☘️...
Gaissss. . . .
tombol like disini. . .
👇
__ADS_1
👇