Unforgettable Mistake

Unforgettable Mistake
UM (59)


__ADS_3

"Nih, kasih sama Aryan," burger dan cokelat panas tertata rapi diatas nampan, Berlian memandanginya cukup lama. "Kenapa cuma dilihatin saja sayang, keburu dingin dan gak enak lagi untuk dinikmati."


"Kenapa Berlian? Gak mau ah," menaruh kembali nampan ke atas meja didekat mereka.


Basagita menarik tangan putrinya kuat, "Eiitss, coba dong belajar untuk jadi istri yang pengertian,"


"I can't, memangnya siapa yang akan menikah? kata itu jauh dari pikiran Berlian karena Berlian tidak akan mau menikah,"


"Ohowow, kamu yakin tidak ingin menikah? calon suamimu Aryan loh." Berlian menggeleng, memangnya kenapa kalau calon suaminya itu Aryan, "mami saja nih ya, kalau di kasih kesempatan untuk menikah lagi, mami akan memilih laki-laki seperti Aryan."


Berlian sempat tercengang kemudian tertawa, "kalau Berlian jadi mami, dari pada menikahi Aryan lebih baik menikah sah dengan Daddy,"


Basagita tersebyum tipis. "That can't happen, oh iya, ngomongin soal Daddy kamu. Kemarin dia telepon mami dan mengatakan kalau ingin ikut kencan buta, mami mengizinkan karena ternyata wnaita itu adalah teman kuliah kami."


"Is he crazy? Daddy gak boleh ngejalin hubungan sama siapapun. Bagaimana nasib mami?"


"Sayaaanngggg....." Mengelus puncak kepala Berlian, "mami tidak semenderita itu sampai kamu mengatakan nasib mami, harus kamu ingat, mami sama Daddy menikah siri karena untuk mengambil hak asuh kamu dari Zoya, tidak lebih dari itu. So, berhenti berharap lebih soal kami." Basagita meraih ponsel Berlian, pasti dia ingin menghubungi Samuel. "Jangan kacukan perasaan Samuel."


"Tapi gak bisa gitu dong mami,"


"Bisa kok. Tidak usah sibuk mengurusin urusan pribadi Daddy dan mami. Urusin saja hati dan pikiran kamu sayang,"


Berlian diam. "Apa sekilas saja mami tidak pernah menyukai Daddy?"


"Siapa yang bilang mami tidak menyukai Daddy? mami sangat menyukainya, dia sosok pengganti ayah yang terbaik untuk kalian beruda."


"Menyukai Daddy sebagai seorang pria,"


Basagita mengetuk dadanya, "dihati mami hanya ada nama Andronico, Samuel adalah ayah pengganti dari anak-anakku dan sahabat terbaik dari suami dan diriku, stop, mami gak mau mendengar apapun, cepat antarkan ini."


"Mencintai seseorang butuh waktukan?"


"Benar, dan cepat antarkan ini, tadi mami Aryan ada dikamarmu."


"Dari sekian banyaknya kamar kosong kenapa harus kamar Berlian yang Aryan tempatin."


"Itu bukan masalah besar, sudah sana, dia pasti kehabisan energi setelah pergi sama Chacaha."


Berlian menoleh, "memang mereka dari mana?"


"Pergi berkeliling, katanya Aryan ingin melihat lingkungan disekitar sini dengan berjalan kaki, kalau minta temenin kamu dia gak enak karena lihat kamu tidur sampai sore." Mendorong nampan hingga menempek lengan Berlian, "ayo antarkan."


"Aryan itu tidak suka burger, mami." Mendorong jauh nampan dari dekatnya.


"Dari mana kamu tau?"


Berlian mencibir, "memangnya Berlian tidak pernah pergi sama dia?"


Basagita memicing karena tiba-tiba Berlian menjulurkan lidahnya, "baru juga pergi bareng, sudah bangga.."


"Yadong.."


"Dih, jadi dia sukanya apa?"


"Steak."


"Kentang atau daging?"


"Daging aja, biar keisi perutnya,"


"Ohh," Basagita bergerak mengambil daging di kulkas.


"Jangan kering, bolak balik dua kali aja,"


"Memangnya siapa yang mau masak?"


"Mami kan?"


"Kamu dong, masa mami?"

__ADS_1


"Lah, terus kenapa tadi nanya sama Berlian?"


"Nanya aja sayang, berarti kamu udah mulai perhatian sama dia," Berlian memutar bola matanya, dia merasa kesal dengan ucapan mamanya. "Nih, udah mami siapin bahan dan segala macem, kamu tinggal bolak balik sendiri." Menunjuk bahan dan peralatan yang sudah tersaji didepannya.


"Gak bisa mami, kaki Berlian udah nempel di lantai nih," menunjuk kakinya.


"Ya Tuhan, semoga kaki Berlian nempel beneran." Sontak Berlian bergerak mendekati Basagita.


"Iya iyaaa, Berlian aja yang buat," Basagita tersenyum menang.


********


Setelah siap membuat steak dengan bantuan Basagita, Berlian berjalan naik menuju kamarnya dengan membawa napan berisi steak dan cokelat panas yang baru dibuatnya. Cokelat panas yang dibuatkan oleh Basagita sudah dingin dan langsung dihabiskan olehnya.


Beberapa kali ketukan pintu tidak terjawab, membuat Berlian membuka pintu dengan pelan, kepalanya lebih dulu masuk.


"Aryaaan," panggilnya, tidak ada jawaban. Berlian berjalan masuk dan terlihat Aryan tengah berbaring di kasurnya dengan bertelungkup. "Aryaan, gue bawain steak nih," menggoncangkan tubuh Aryan setelah menaruh nampan diatas nakas, pria itu malah meracau tidak jelas dan kembali terlelap.



Dih,


Melihat Aryan tertidur lelap membuat Berlian berjongkok dan memperhatikan pahatan wajah laki-laki itu.


Drrtt,... Drtt..


Getaran ponsel Aryan di atas nakas menimbulkan suara membuat Berlian buru-buru mengangkatnya, dia tidak tega kalau sampai Aryan terbangun, saat hendak menaruhnya kembali, layar ponsel menyala dan memperlihatkan sebuah pesan mencurigakan.


"Zivana??" gumamnya, Berlian membuka pesannya dan membaca,


Zivana Ezzah


Oke, aku tunggu.


Itu aku udah kirim locationnya.


"Apanih maksudnya," pesan masuknya benar-benar mencurigakan.


Roomchatnya kosong, berarti Aryan sengaja menghapus hasil chatan mereka. Ponselnya bergetar kembali tanda pesan masuk.


Zivana Ezzah


Tengah malam nanti juga


tidak apa-apa kok,


Setelah Berlian dan lainnya tidur,


aku akan menunggumu.


"Apa-apaan nih," Berlian menatap Aryan, pikirannya langsung berkeliaran kemana-mana. Kenapa ia jadi curiga, ponsel bergetar lagi tanda pesan masuk.


Zivana Ezzah


I Need you :'(


Berlian melotot dan tanpa sengaja meremas ponsel Aryan lalu membuangnya ke tong sampah di dekat nakas karena terlalu kesal.


"Enak aja lo," Aryan terbangun akibat tendangan refleks Berlian. "Ehhh, sorry sorry, udah buat lo bangun, gue gak sengaja kok."


"Gak apa-apa, kamu disini?"


"Um,"


"Ada apa?" mengucek matanya, dan menyipit menatap Berlian sembari menyangkah tubuhnya untuk duduk.


"Lo belum makan kan? itu gue buatin steak daging,"


Aryan mengangguk menatap nampan, "terima kasih, maaf gak dengar kamu masuk,"

__ADS_1


"It's Okay. Gue keluar sekarang,"


Berlian berhenti karena Aryan meraih tangannya, "mau makan bersama?"


"Gue udah makan," menarik tangannya dan berjalan keluar kamar.


********


"Tumben lo mau tidur di kamar gue?" Chacha melihat gelagat aneh dari Berlian, kakaknya itu sudah menyelimuti tubuhnya dengan selimut tebal miliknya.


"Diem, jangan ganggu!!"


"Lo yang ganggu kampret," Berlian tidak membalas, ia pura-pura sudah tidur dengan nyenyak. "Bee, lo udah tidur?" Karena tidak lagi mendengar jawaban dari Berlian, akhirnya Chacha bergerak mematikan lampu kecil dikamarnya lalu ikut tertidur.


Selang beberapa jam, Berlian membuka matanya melihat kearah Chacha. "Cha banguuunn!!!!" menggoncang tubuh Chacha, gadis itu sama sekali tidak bergerak.


Berlian tersenyum, kalau Chacha sudah tertidur dan tidak bisa dibangunkan, berarti dia benar-benar sudah di alam mimpinya.


Berlian bangkit dari kasur dan berjalan menuju balkon, ia duduk leseh dan termenung sembari menatap pintu gerbang rumahnya.


Basagita melarang Berlian untuk menempati kamar yang memiliki balkon. Karena Berlian memiliki kebiasaan buruk saat tidur, membuat Basagita takut kalau tiba-tiba Berlian keluar balkon dan melompat dalam keadaan mata tertutup. Maka dari itu, Berlian sering mengendap masuk ke dalam kamar Chacha hanya untuk duduk dan termenung.


Kalau Chacha sampai tahu, ia akan marah-marah karena Berlian sering lalai tidak kembali menutup pintu. Terkadang di pagi hari Chacha akan menemukan dirinya terlelap dibalkon kamarnya tanpa mengenakan selimut. Biasanya ia lakukan itu karena merindukan seorang Farrrel.


Dari kamar Chacha dapat langsung melihat halaman depan dengan jelas. Berlian melirik jam dinding, menunjukkan pukul sebelas malam.


Saat hampir terlelap, tiba-tiba matanya menangkap sosok yang ia tunggu sedari tadi. Laki-laki itu berjalan mendekati mobil dan sempat menyapa satpam yang berjaga di rumah Berlian, lalu mobil melintas keluar.


Berlian berlari keluar kamar dan mengambil sweater miliknya dan berlari keluar rumah.


Dengan pandangan samar pak Jerden melihat Berlian berlari tergesa-gesa menuju ke arahnya, "ehhh nona, nona Berlian mau jeman jam segini?"


"Aduh Pak, nanti saja saya jelasinnya. Saya harus ikutin Aryan sekarang." Lagi-lagi langkahnya di halang sang satpam.


"Tidak bisa nona, biar saya antar saja kalau begitu,"


"Aduh pak, ahhh Bapak panggilkan ojek di depan sana aja. Cepetaan!!!!"


"Tapi non,,,,"


"Cepetan pak, sebelum Aryan jauh..."


"Bener juga," desakan Chacha membuat pak Jerden bergegas keluar memanggil ojek yang sedang mangkal. Pak Jerden sedikit berteriak memanggil salah satu ojek yang di kenalnya.


Seorang laki-laki muda berjalan kearah pak Jerden, "ada apa pak Den? Kan besok malam kita main kartunya,"


"Mas, bisa anterin saya kan?" dia melotot kaget melihat sesosok perempuan yang tiba-tiba keluar dari dalam gerbang,


"Aduuuh, nona kenapa keluar?" Dengan sopan Pak Jerden menarik tubuh Berlian untuk masuk lagi kedalam gerbang. "Nona jangan sembarangan keluar gerbang,"


"Pak, keburu Aryaan jauhhhh,,," mengeram kesal melihat satpamnya bertele-tele.


Laki-laki muda itu melongok kedalam gerbang tanpa menginjak halamannya, dia kebingungan melihat satpan dan majikan sedang beradu argument. "Ada apa pak?"


"Mas, anterin saya ikutin mobil yang tadi baru aja keluar,"


Pak Jerden menarik Berlian, saat perempuan itu mendekati gerbang, "nona,, tidak bisa seperri ini." Dia tidak bisa membiarkan Berlian pergi begitu saja.


"Tidak apa-apa pak, biar saya yang anterkan aja nona Berliannya. Aman kalau sama saya," kapan lagi ia bisa berboncengan dengan perempuan yang jarang sekali ia temui, karena Berlian susah untuk bersosialisai. Rumah yang megah, gerbang yang tinggi sulit untuk mereka dekati. Juna berlari mengambil motornya.


Pak Jerden mencegah ketika melihat Berlian naik keatas motor. "Saya itu panggil mas Juna buat jadi sopir ngendarain mobil, bukan naik motor,"


"Halah, kelamaan pak. Sudah saya naik motor aja biar cepat,"


"Eeh, kalau ibu tau saya bisa kena marah dan potong gaji nih.."


"Paak, kalau masalah itu saya bisa tangani, yang terpenting bapak jangan bilang sama mami yaa?" Pak Jerden mengangguk ragu, pada akhirnya ia membiarkan nona mudanya pergi, namun ia belum beranjak dari tempat berdirinya, tetap memandangi motor yang sudah melesat jauh dengan perasaan sedikit waswas. Untungnya, Juna adalah laki-laki yang bisa di percaya.


...☘️☘️...

__ADS_1


__ADS_2