
"Your so beuatiful." memeluk Berlian,
"Makasih Tuan Sam." Samuel tertawa. "Berlian juga belikan untuk Mas Juna dan Bibi. Gak apa-apa kan Dad?"
Samuel menggeleng. "Yang penting kamu senang," menatap kearah Juna, pria itu sudah berpakaian rapi. "Jangan sok ganteng kamu Juna, mentang-mentang baju baru."
"Hehe, maaf Pak. Ini potong gaji ya Pak?"
Samuel melotot. "Ya gak dong Jun." Berlian dan Juna sama-sama tertawa karena melihat rautan wajah kesal Samuel.
"Kirain Pak."
"Enggaklah. Oh iya, pokoknya nanti kamu harus tetap berada disamping Berlian," menatap tajam Juna. "Jangan kecentilan, inget Calista yang kamu Phpin itu."
"Calista siapa Dad?"
"Kamu gak ketemu dia tadi siang? pemilik butik wanita."
Berlian tertawa. "Jadi namanya Calista, wanita itu sempet marah waktu Berlian bilang istrinya Mas Juna. "
Samuel memukul pundak Berlian. "Jangan bercanda disini, mereka semua butuh keseriusan," lalu detik kemudian tertawa. "Makanya jangan digantungin gitu Jun."
"Saya gak ada ngasih harapan kok Pak." tersenyum lebar. "Saya mau fokus menjaga Nona Berlian saja."
"Iya sudah terserah kamu, Ayo kita berangkat."
********
"Jun," rupanya halaman rumah megah Mr.Smith sudah dipenuhi orang. "Kamu diluar aja, biar Berlian belajar berbaur sama manusia, lagian sepertinya para bodyguard berada diluar semua."
Mata Juna berkeliaran menelusuri halaman kesana kemari, sepertinya benar. Para kenalannya yang sama-sama bekerja dikeamanan berdiri diluar sembari bercerita seru.
"Iya Pak. Saya akan memantau diluar saja," menatap Berlian. "Semangat Nona."
"Dad, kenapa Mas Juna gak ikut kedalem aja sih, Berlian gak berani."
"Ehhh, sejak kapan putri Daddy jadi penakut gini. Jangan bergantung pada Juna, Daddy gak mau ada cerita I Love My Bodyguard." Berlian mencubit lengan Samuel.
"Memangnya ada yang seperti itu Pak?"
Samuel menendang bangku depan. "Jangan berani macam-macam kamu Jun."
Juna tertawa kecil. "Saya bercanda kok Pak, sebentar." Juna keluar mobil dan membuka pintu untuk Samuel, lalu seorang penjaga berlari membuka pintu untuk Berlian.
Mereka berdua berjalan menuju pintu utama, dan Samuel memberikan kartu undangan kepada penjaga pintu. "Jangan anda bergaya membawa kartu undangan ini Tuan Sam, tanpa anda membawanya kami tetap meminta anda masuk." Samuel tertawa.
Sedangkan Berlian heran sendiri, kenapa penjaga rumah besar ini memiliki penjaga yang pandai berbahasa Indonesia. "Makasih Jhon. Kami masuk dulu." penjaga itu menggerakkan tangan hormat kepada Samuel.
Samuel mengajak Berlian masuk dan ternyata memang ramai, wajah yang berbeda-beda tapi mereka tampak saling akrab satu sama lain. Samuel menarik tangan Berlian untuk melingkarkan dilengannya.
Samuel membawa Berlian naik kelantai atas yang sama ramainya. Saat melewati satu pria sedang meminum jamuan sendirian, Samuel menepuk pundaknya. "Good Night Cleno, where is Mr.Smith located?"
"Ah Hello Mr.Samuel, Daddy is in his room." melirik kearah Berlian. "Who is she?"
"She is Berlian, my princess."
Cleno mengulurkan tangannya. "Hello Berlian, you are so beautiful. I am Cleno, Cleno smith."
__ADS_1
"Thank you Cleno, I am Berlian."
Cleno bergerak memeluk Berlian. "Nice to meet you, Berlian."
Tentu perlakuan itu membuat Berlian tersentak, namun ia memilih tersenyum. Samuel meraih tangan Berlian lagi, lalu ia ajak untuk menemui Mr.Smith. "Dia putra Mr.Smith ganteng kan?"
"Hmm."
Samuel membuka pintu lebar-lebar, rupanya Mr.Smith masih sibuk. "Come on sir, it's your birthday. Don't you get busy with work. It's time to have fun."
"Oh My, Mr.Samuel, i am very happy to meet you, she is Berlian?" melirik Berlian.
"Hello Mr.Smith, Happy birthday to you, this is for you. Just a small gift."
"Kenapa kamu repot-repot Berlian," ucapan itu membuat Berlian menganga, Mr.Smith bisa berbahasa Indonesia. "Haha, pasti dia kaget, ah kamu sudah bertemu dengan Clara, dia sangat ingin Bertemu denganmu."
"Tadi kami sudah bertemu dengan Cleno."
"Oh ya? my son is very handsome right?"
Berlian tersenyum. "Yes, just like you."
"Kamu bisa aja," mengelus kepala Berlian. "Dave, where's my little girl?"
Dave sekertaris Mr.Smith mengalihkan pandangannya dari layar laptop. "Maybe Miss Clara is dancing downstairs."
"Berlian, sebaiknya kamu turun Daddy mau ngomong sesuatu sama Mr.Smith, berani kan?"
Berlian mengangguk. "Iya Daddy,"
"Anggap seperti rumahmu sendiri sayang."
Berlian berjalan keluar dan ia sedikit mendengar ucapan Mr.Smith kepada Samuel sembari merangkul. "Membicarakan soal apa? Berlian dan Cleno?"
"Pelankan suaramu Tuan." lalu mereka tertawa bersama.
Berlian turun melewati tangga dan beberapa pria menyapanya, karena tidak mengenal ia hanya tersenyum menanggapi. Tampak Cleno menghampiri dan meminta Berlian untuk menerima uluran tangannya.
"Where do you want to go?" Berlian melepaskan genggaman Cleno dengan lembut takut kalau pria ini tersinggung.
"I am thirsty."
"I want to get you some water."
Berlian menggeleng. "No, I'll take it myself. thanks." melambaikan tangan kearah Cleno, lalu berjalan menjauh.
Berlian sangat tidak nyaman saat Cleno menyentuhnya, apalagi saat ia mendengar percakapan singkat antara Mr.Smith dan Daddy nya tadi.
Sepertinya ia sudah berjalan cukup jauh dari Cleno, untuk sementara ia harus menjauh dari pria manapun. Berlian belum siap membuka hati setelah kehilangan seorang pria yang dicintainya, tidak sepertinya dua pria.
"Yup,, Berliaann," teriaknya, saat Berlian berbalik menatapnya, wanita dihadapannya malah menutup kedua mulutnya kaget. "Kamu Berlian? Astaga."
Berlian tersenyum. "Clara yaa?"
"Hu'um, ya ampun kalau tahu yang waktu itu kamu, aku gak mungkin cuek aja."
"Iya, aku juga minta maaf Clara,"
Clara menepuk dahinya lalu tersenyum menggeleng tidak terima. "Bodohnya aku tidak mengenali Mas Juna waktu itu. Dimana dia sekarang?"
__ADS_1
"Ada didepan," Berlian menatap gaun Clara. "Betulkan kataku, gaunnya sangat cantik."
"Kamu juga, jadi ini gaun yang kamu pilih dibutik itu? Butik itu emang selalu
merancang gaun yang indah."
"Heem.. Aku gak tahu kalau bisa bahasa Indonesia selancar ini? kamu belajar dimana? apa semua bisa bahasa Indonesia?"
Clara tersenyum lebar. "Aku ini hampir tiga tahun sekolah di Indonesia, dan aku punya pacar orang Indonesia. Daddy bisa karena berteman sama Uncle Sam, cuma Cleno yang gak bisa."
"Mama kamu?"
"Mommy, dia udah pergi ninggalin kami sama pria lain sewaktu kami masih kecil."
"Sorry."
"It's Okay."
"Kemana saja, sampai kita tidak bertemu di Indonesia."
"Haha, seharusnya kita sudah jadi teman akrab. Oh iya, kamu mau aku ambilkan minum?"
Berlian mengiyakan, Clara kembali membawa dua gelas berwarna merah, dan memberikan kepada Berlian. "This for you."
Berlian mengambil. "Oh my god, cincin yang sangat cantik."
Clara wanita yang sangat banyak bicara. Mengingatkan Berlian pada Gena, mungkin. Clara menyentuh cincin Berlian yang berkilau, hal itu membuat Berlian melihat cincinnya sekilas.
Cincin yang tidak pernah ia lepas, entah karena ia tidak ingin melupakannya pemiliknya atau karena Berlian terlanjur menyukai orangnya, ah tidak. Maksudnya terlanjur menyukai cincinnya.
"Kamu sudah bertunangan Berlian?"
"Uumm.." karena tidak tahu harus mengatakan apa, Berlian hanya tersenyum.
"Aku juga sudah." menunjukkan cincin yang tersemat dijari manisnya. "Kami bertunangan di Indonesia, lihat cincinku Berlian." menyentuh dagu Berlian agar menatap cincinnya dengan sempurna.
"Cincinmu cantik Clara," menatap Clara yang saat inu terus tersenyum menatap cincinnya. "Siapa tunanganmu?"
"Dia pengusaha muda, termasuk pengusaha sukses di Indonesia loh." sepertinya Clara sangat menyukai tunangannya.
"Maksudku, orang Indonesia asli?"
Clara menggeleng. "Dia itu campuran. Mamanya Indonesia, Papanya India, Uuhhhh dia itu gemesin banget. Makanya aku suka banget sama dia."
"Kelihatan banget," Berlian menoleh menatap Clara. "India?"
"He'em, kalau kamu bertemu dengannya, kamu akan langsung jatuh cinta sama dia. Aah, mana sih dia?"
"Dia disini?"
"Iya dong, malam ini kan pesta ulang tahun Daddy ku, gak mungkin dia gak dateng." jantung Berlian langsung berdegub kencang saat ini, sudah hampir dua tahun pacuan jantungnya tidak berfungsi. "Itu dia, Baaabbyyyy.."
"Sayaaang....." Clara berteriak sembari melambaikan tangannya tinggi-tinggi. Membuat Berlian menoleh kebelakang,
Pria itu tersenyum menatap Clara, dengan tanpa sadar Berlian melepaskan gelas yang berada dalam genggamannya. Jatuh, berserakan dilantai, bahkan ada beberapa wanita yang mengangkat kakinya karena terkejut sekaligus takut serpihan gelas mengenai kaki mereka.
"Ber, , lian......" mendengar pria itu menyebut namanya, Berlian langsung lari tanpa mendengar teriakan Clara, ataupun tatapan orang sekita yang melihatnya dengan tatapan heran.
Sejauh apapun ia lari, pasti akan bertemu juga kan. Tapi untuk saat ini, pilihan terbaiknya adalah Berlian harus tetap pergi jauh.
__ADS_1