Unforgettable Mistake

Unforgettable Mistake
UM (76)


__ADS_3


"Kenapa gak mau nyala sih?" wanita itu sibuk menyalakan mancis yang tidak kunjung hidup.


Bibirnya sudah terselip sebuah rokok. Padahal ia sudah duduk disudut pojok menghadap kedinding, Selain untuk terhindar dari angin, ia juga menghindari orang, agar tidak ketahuan. Sekian lama ia berusaha menghidupkan mancis, akhirnya hidup juga.


Aryan duduk didinding pembatas yang terhubung sebagai pegangan tangga menuju rooftop. Aryan mendongak, banyak bintang bertaburan dilangit, ia tidak tahu bahwa langit pada jam segini terlihat begitu indah.


Matanya beralih lagi pada wanita yang sibuk menghisap rokok ditangannya, ini seperti pertama kalinya mereka bertemu dan pada saat itu juga, ia sedang mendapati wanita itu merokok.


Aryan tersenyum, yaa..


Wanita yang sedang asik menghisap rokok adalah Berlian, tunangannya. Wanita itu akan sulit lepas dari kertas berukuran panjang berisi daun-daun tembakau kering itu.


Sedangkan Aryan, dia adalah pria yang tidak berdaya. Bukan tipe pria yang mudah melarang dengan gampang, apalagi untuk wanita seperti Berlian. Untuk mengambil hatinya saja sudah susah, bagaimana penilaian Berlian terhadap Aryan nanti kalau ia sempat melarang-larang Berlian.


"Ck, apa gue salah bawa korek sih? perasaan ini baru gue beli, kenapa kayak udah habis gini." omelnya sendiri pada mancis yang menyebalkan.


"Sudah." menarik mancis dari tangan Berlian. Wanita itu terkejut bukan main, dengan cepat ia membuang rokok yang baru ia nyalakan, bahkan belum sempat ia hisap.


"Aryan. Gu, guee, eh a, aku." ucapnya terbata-bata.


"Iya. Ngerti, sudah ya berhenti sebentar. Ini udah batang rokok yang ke empat, gak baik buat kesehatan kamu." Berlian mengangguk.


"Sorry."


"Gak masalah. Duduk." perintahnya, agar Berlian tidak duduk dilantai lagi, Aryan kembali duduk ketempatnya tadi.


Berlian menunduk dalam, merutuki kebodohannya. Padahal ia sudah yakin, tidak akan ada yang tahu jika ia keluar malam begini untuk merokok. Dan ia melupakan Aryan, pria itu selalu terjaga dimalam hari dan bangun dipagi hari dengan keadaan bugar. Dia minum vitamin apa sih?


Ais, bukan vitamin yang menjadi masalah sekarang.


"Berlian..."


"Maaf."


"Bukan itu, seharusnya..."


"Gue, , bukan. Aku gak bakal sembarangan ngerokok lagi."


"Ngerokok itu bahaya buat kesehatan Berlian. Aku yang laki-laki aja gak merokok, kamu. Perempuan, dalam setengah jam kamu sudah menghabiskan tiga batang. Astaga." meraup wajahnya.


"Gue itu, Ck aku itu cuma.."

__ADS_1


"Ganti pakai bahasamu sendiri kalu kurang nyaman." melihat betapa susahnya Berlian mengganti cara bicara dan panggilannya.


"Kalau merokok bisa buat hilangin stres kamu, kamu kan bisa ngobrol sama aku. Mungkin aku bisa bantu." tambahnya lagi.


Berlian menghela nafas pelan.


"Aku gak tahu cara memulainya."


Aryan diam menatap Berlian, wanita itu masih menatap rokok yang terbaring lemah dengan api masih menyala. Pelan-pelan wanita itu menginjak rokok yang menyala untuk mematikannya.


"Aku gak mau periksa." ucapnya.


Ah, Aryan mengerti, ajakannya untuk menemui psikolog termasuk yang mengganggu pikirannya. "Kamu cuma konsul."


"Apapun itu, aku gak mau."


"Kamu gak akan dianggap gila." Aryan menggeleng pelan. "Konsul bukan berarti kamu dicap gila Berlian. Kamu harus nurut."


Aryan berjalan mendekat sembari melepaskan jaket tipis yang sering ia gunakan dan ia taruh di kedua bahu Berlian. "Besok kita berangkat pagi. Masuk, dan istirahat." Aryan melangkah menuju tangga hendak turun.


"Ar.."


Pria itu berbalik.


"Ada yang kamu sembunyiin dari aku?" Aryan menggeleng skeptis.


Sewaktu disalon Jess Manjalita.


"Hallo, Berlian. Sudah lama ya? kamu apa kabar?" tanya wanita itu. Berlian mengerutkan dahinya, mencoba mengingat siapa wanita ini.


Angel berbisik pelan ketelinga Berlian. "Nyonya besar Mahaprana."


Berlian mencoba mengingat, dimana ia bertemu dengan Nyonya besar Mahaprana.


Membulatkan bibirnya. "Oh, Tante Disa. Maaf Berlian gak ngenalin." membalas uluran tangan Disa.


"Gak masalah." tersenyum ramah.


"Tante kelihatan lebih cantik sewaktu pakai makeup tipis." Nyonya Mahaprana tersenyum lembut menatap Berlian. Lalu membelai rambut Berlian pelan.


"Rambut kamu cantik."


"Terima kasih Tante, Ini Berlian mau ganti warna."

__ADS_1


"Berlian."


"Iya Tante."


"Devan sudah minta maaf dengan benarkan sama kamu?"


"Sudah Tante." padahal Berlian merasa kemarin Devan tidak meminta maaf dengan benar. Tapi ia anggap begitu sajalah.


"Baguslah. Tante gak mau, keluarga kami semakin terlihat jelek dimata keluarga Mahesvara, padahal sebelumnya kami ini sangat dekat. Tante kesal sewaktu tahu Devan berlaku seperti itu kepada calon menantu Mahesvara."


Berlian mengangguk dan berulang-ulang mengucapkan tidak ada masalah.


"Apa hubungan kamu dengan Aryan baik-baik saja? Apa ada masalah?"


Dengan cepat Berlian menyilangkan tangannya. "Kenapa Tante? Kami baik-baik saja."


Berlian tersentak ketika Disa menggenggam tangannya. Demi apapun tangan wanita anggun itu basah, dia terlihat gugup saat menyentuh Berlian.


"Ada apa Tante?" Berlian bertanya lembut. Ketika melihat mata Disa Mahaprana melembut dan menatapnya sayu.


"Kamu bisa janji sama Tante?"


"Soal apa ya Tante?"


"Tante sudah menganggap Aryan seperti anak Tante sendiri. Apapun yang Aryan lakukan dia selalu meminta pendapat kami. Sesuatu terjadi melibatkan kami semua, dan dengan berat hati. Keluarga kami menjadi berantakan, tidak seharmonis dahulu. Yana terlihat cuek sama Tante. Walaupun Aryan tetap sering mengunjungi kami secara diam-diam dan dia sering menceritakan tentang kamu." Berlian mencoba menjadi pendengar yang bijak.


"Tante minta satu hal sama kamu Berlian."


"Iya Tante."


"Kamu hanya boleh percaya sama Aryan. selebihnya kamu bisa cari tahu dulu, apapun yang terjadi, kamu harus bisa ambil kebijakan dengan bertanya pada Aryan."


"Ini soal apa Tante, Berlian harus tahu." ucapnya khawatir.


"Apapun sayang. Tanyakan padanya soal apapun yang mengganjal dihati kamu, jangan percaya pada siapapun. Tolong cukup percaya pada Aryan saja."


Aryan menutup matanya lama, mencerna cerita Berlian ketika bertemu dengan Disa disalon. Jadi itu yang membuat Mamanya marah dan sedih.


"Tante Disa benar, aku juga sudah bilang sama kamu Berlian. Kamu hanya boleh percaya sama aku."


"Soal apa?"


"Apapun. Banya orang yang ingin mengahancurkan kita, kamu harus bertanya sama aku dulu kalau ada sesuatu."

__ADS_1


"Sesuatu apaa??? Apa yang kamu sembunyiin Aryan."


Aryan berjalan mendekat dan berjongkok dihadapan Berlian. "Demi apapun Berlian, aku gak mau kehilangan kamu, aku udah jatuh cinta sama kamu. Aku mohon, percaya sama aku, maaf kalau aku belum bisa kasih tahu semuanya." mengelus pipi Berlian lembut, lalu ia menarik Berlian dan membawa wanita itu masuk kedalam rumah.


__ADS_2