
Angga kembali dengan membawa kotak berisi kue tart berlapis cokelat, membuat Salsa sang anggota termuda menelan ludahnya karena tidak kuat menahan krim yang terus meleleh. Pasalnya, gadis itu sangat menyukai sesuatu yang berbau cokelat.
"Waduh, Besar sekali?" Menatap kue dengan lapar. Abraham sangat menyukai kue tart berlapis krim cokelat itu, sayangnya Udayana selalu melarang suami tercintanya untuk memakan apapun yang memiliki rasa manis yang berlebihan. "Tapi saya baru menghabiskan kue buatan Dito tadi."
"Itu baru menu pembuka om," ucap Dito dari belakang.
Menancapkan beberapa lilin di atas kue, "saya punya cerita di balik ini om," ucap Angga, memulai mencari topik pembicaraan.
"Apa itu?" bertanya penasaran.
"Saya pernah mencoba mengenalkan Berlian dengan beberapa laki-laki om, mulai dari kebarat-baratan, model ala-ala korea, bahkan kembali ke produk sendiri laki-laki indonesia, semua dia tolak. Yang paling mengejutkan dia menerima laki-laki keturunan india." Angga menjelaskan dengan wajah setengah kesal, "bagaimana bisa? saya curiga dia lebih suka laki-laki yang mengejarnya di taman bunga dibandingkan mengajaknya berpetualang dalam dunia Action."
Abraham tertawa mendengarnya. "Jadi maksudmu keturunanku tidak bisa bermain action?"
"Aihhh, bukan yang seperti itu om."
Tanggapan Angga membuatnya menambah kadar tawa, "iya iya saya paham. Dengar nak Angga, entah saya harus bangga atau kesal mendengar penjelasan kamu barusan. Setelah menolak beberapa laki-laki, Berlian menjatuhkan pilihan kepada Aryan. Tapi kamu harus tau bahwa perempuan lebih suka hal yang romantis dari pada berbaur dengan kekerasan."
"Ohhooo, om tidak tahu, bahwa perempuan akan menyukai laki-laki yang berbaur kekerasan contohnya Frank grillo, Dwayne Johnson, vin diesel, dan Sylvester Stallone. Atau bisa saya beri contoh Ji-Chang wook, Song joong ki, Won Bin..."
Abraham tertawa dan mengangkat tangannya, meminta Angga untuk berhenti, "kamu lupa Angga, bahwa laki-laki dengan berlari ditaman bunga juga bisa jadi action contohnya John Abraham, Hritik Roshan, Tiger Shroff..."
"Om,, Angga, stop deh, semua aktor film laga itu keren, gak ada perbedaannya kok, cuma tinggal bagaimana sama kita yang menikmatinya." Jenar memotong.
Angga menghela napas, masih membara dengan obrolan mereka. "Waktu itu dia laporan sama saya kalau di sedang di jodohkan, dan saat itu juga saya bernazar om," Tidak menghiraukan tendangan kaki Berlian.
"Bernazar apa?"
"Saya akan mengadakan pesta, kalau saja Berlian menerima laki-laki itu,"
Abraham tertawa terbahak. "Oke saya mengerti maksud kamu. Lalu, saya harus apa nih?" Jenar menunjuk lilin yang menyala di atas kue.
Abraham mulai meniup lilin, setidaknya do'a yang ia panjatkan sebelum meniup lilin untuk kebahagiaan anak dan calon menantunya. Berharap mereka akan bersatu di hari-hari berikutnya.
Hampir dua jam mereka saling melempar canda, Dito dan Angga yang sama-sama lucunya juga sempat melawak di hadapan Abraham. Membuat perut yang lain tertawa bahkan beberapa pengunjung juga ikut tertawa mendengar lawakan dari mulut Dito, Salsa juga menimpali sembari berteriak, ketika ia sedang melayani pelanggan. Jenar, yang berada di balik kasir hanya menggeleng-geleng keheranan.
********
"Bokapnya ganteng gitu, jadi penasaran sama laki lu Bee," Berlian mendelik menatap Angga, yang tiba-tiba berdiri di sampingnya. Setelah kepergian Abraham. "Bee, suruh Aryan kesini gih," mengikuti Berlian sampai depan pintu ruangannya.
"Gak!!" Berlian langsung menutup pintu kasar, membiarkan Angga yang terus mengetuk pintu keras.
Lalu ia duduk menatap ponselnya yang jarang dirinya gunakan dan menatap kartu nama di tangannya.
"Apa ini om?"
"Kertas" Berlian tersenyum. Bukan itu maksud Berlian. "Kartu nama sayang, hubungi dia" Lalu melihat Abraham masuk kedalam mobilnya, menurunkan kaca mobil dan Berlian melambaikan tangannya sampai mobil Abraham mulai menjauh.
Setelah lima menit hanya memandangi, akhirnya Berlian menyentuh ponselnya dan mengetik sebuah nomor yang tertera di kartu nama. Tidak butuh waktu lama panggilan terjawab.
"Hallo...."
Berlian tidak bergeming dari diamnya.
"Bee.. Berlian"
Dengan kecepatan tinggi Berlian menekan tombol merah untuk mematikan sambungan telepon.
Berlian harus apa??
Untuk apa Berlian menelpon nomor ini?
Kenapa sih? Hati dan pikirannya selalu bertolak belakang?
********
Aryan meremas ponsel di tangannya, sebuah nomer telepon yang tersimpan indah di kontaknya, dia jarang sekali menyimpan nomer telepon karena jika ada kepentingan mendesak dia hanya akan menyuruh Adi atau Sandra saja. Aryan meletakkan ponselnya disamping laptop dan kembali fokus pada pembicaraannya dengan Sandra.
Tidak!!!
__ADS_1
Sandra sendiri lelah, sejak panggilan tanpa suara itu. Aryan tidak fokus pada pembicaraan mereka, yang Sandra tangkap mata Aryan terus tertuju pada ponsel yang tergeletak rapi disana.
"Bapak? Apa sebaiknya saya keluar? Sepertinya Bapak butuh sendiri, saya akan mengulang pembicaraan kita nanti," Aryan mengangguk, sekretarisnya ini memang sangat pengertian.
"Silahkan, saya akan panggil kamu nanti," Sandra mengangguk dan permisi keluar ruangan.
Aryan meraih ponselnya dan mencoba membaca nomer yang baru saja masuk. Aryan menarik nafas panjang dan mencoba mendeal nomor yang sejak tadi di pandangnya tanpa berkedip.
Sambungan terjawab pada panggilan ke tiga.
"Apa? Siapa?"
Aryan mengembangkan senyumnya. "Aku Aryan. Kamu apa kabar Berlian?"
"Lo nyimpen nomer gue dan lo sama sekali gak hubungin gue duluan??"
"Maaf, Aku sibuk," terdengar Berlian berdecak disana.
"Lo terus pegang ponsel sibuk ngapain? Lo juga jarang ke kantor terus gak pernah di rumah kan? Lo kemana?"
Aryan tertawa kecil. "Kamu tahu?"
"Hmm, sibuk sama Zivana?" Terdengar lagi decakan dari seberang sana.
"Enggak Berlian,"
"Terus lo ngapain aja?"
"Maaf, aku takut ganggu kamu,"
"Iya. Ganggu banget...."
"Bee, maem yok..." Aryan melebarkan lagi pendengarannya.
"Ketuk pintu dulu dong.." mendengar suara laki-laki di sebrang sana tertawa kepada Berlian lalu terdengar ketukan pintu.
"Yukk,, gue laper...." Aryan tidak mampu mengeluarkan suaranya, padahal ia sangat penasaran dengan suara siapa itu. Apalagi di tambah rengekan dari suara laki-laki itu. "Tunggu bentar. Lo duluan, gue mau beresin ini dulu," Aryan tidak mendengar percakapan mereka, karena mungkin Berlian menjauhkan ponselnya. "Aryan, udah dulu gue mau makan. .Bye..."
********
"Bee Hp lo geter terus tu, ganggu pandangan gue," protes Jenar yang tepat duduk di sampingnya.
Berlian permisi keluar dan mengangkat panggilan dari Sang Mamanya.
"Kenapa Mi?" Seperti biasa. Chacha akan berebut untuk bicara kepadanya, padahal Mamanya baru saja menelpon dirinya. Membuat Berlian memutar bola mata jengah. "Berlian matiin nih...."
"Jangaaaannnn" Basagita berteriak, sepertinya Chacha mengalah. "Kamu pulang hari ini ya, langsung balik kesini jangan ke Apartemen, Mami kangeeennn banget..." Berlian hanya berdehem. Memang setelah kepulangannya ke Jakarta, Berlian sama sekali belum menemui mamanya.
"Siapa Bee?" Berbalik menatap Angga yang menyusulnya keluar.
"Mami,,"
"Kenapa sama mami?"
"Gue belum pulang ke rumah setelah beberapa hari balik Jakarta,"
"Astaga Bee, gila apa? Pasti mami khawatir banget lah..."
"Makanya itu. Kayaknya, gue harus balik deh,"
"Makan dulu gih, anak-anak udah nungguin lo tuh. Makannnya udah dateng juga,"
Berlian masuk bersama Angga dan menghampiri para anggotanya. Menatap apple juice kesukaannya dengan tatapan nanar. "Guys, gue harus balik.."
"Lah, kita kan belom makan Bee," protes Dito. Satu makan, makan semua, karena Berlian tadi pergi untuk menerima panggilan, membuat mereka harus menunggu Berlian kembali. Belum sempat mereka menyentuh makanannya sama sekali, Berlian sudah akan beranjak pergi.
"Kalian lanjut makan, gue balik ke rumah. Nyokap nyuruh balik. Kalau gue gak pergi sekarang, yang ada kemaleman gue sampek rumah,"
"Ada apa Bee? Sesuatu yang penting kah? Lo kan selalu pulang setiap weekend?"
__ADS_1
"Setelah balik ke Jakarta, gue sama sekali belum ke rumah gue,"
"Gue yang anterin lo ya Bee??" Berlian melambaikan tangannya ke arah Dito yang langsung berdiri, laki-laki itu berniat untuk mengantarnya.
"Gue bisa sendiri kok, gue pergi ya. Byee...."
"Hati-hati Bee," teriak Jenar ketika melihat Berlian berjalan dengan tergesa-gesa di ikuti oleh Angga.
"Serius Bee, gak mau gue aja yang nyupirin lo. Sore gini bakal macet, pasti lo bakal bosen kalau sendirian," Berlian menghembuskan nafasnya lelah, membayangkannya saja sudah sangat membuat ya lelah.
"Gak apa-apa, gue bisa sendiri kok."
"Kenapa sih, tumben banget mami sewot, kalau urgent harusnya telepon gue. Biar gue yang nganterin lo,"
"Gak tahu deh, entar gue kabarin lo lagi kalau udah sampai rumah. Oke!!!" Angga mengangguk, sebetulnya ia tidak tega membiarkan Berlian pergi sendiri. Yah, walaupun jarak tidak terlalu jauh. You know, Jakarta itu kota yang tidak pernah mati. Macet itu pasti selalu ada dan ia sangat mengkhawatirkan Berlian.
"Gue ke apart dulu, biasa ngambil barang-barang yang sekiranya penting, paling enggak. Gue nginep kan?"
"Gue anter,"
"Angga, gue bukan anak kecil lagi. Udah sana lo masuk, mereka udah nunggu lo kelaparan pasti.."
"Yaudah deh, Byee, ti ati yakk," Memeluk Berlian, lalu berjalan masuk gedung restaurant.
Yang benar saja, kembali ke apartemen nya saja sudah membutuhkan waktu yang lama.
Benar kata Angga, kemacetan ini akan membuatnya bosan. Sudah tadi lama macet, sekarang untuk menuju rumahnya saja ia harus di halangi dengan kemacetan.
"Huaah, kalo aja bukan mami yang memohon males gue pulang macet gini, mana laper. Sayang banget cuminya," Berlian mengerutu kesal memikirkan cumi panggang di kemacetan sore panas ini. Apa lagi Berlian belum mengisi perutnya karena siang tadi kedatangan tamu tidak di undangnya membuat Berlian harus mengundur jam makan siangnya dan ini, Berlian harus cepat pulang sebelum matahari tenggelam.
********
Tidak bisa di elak lagi, Berlian sampai dirumah dengan keadaan hari sudah gelap.
"Berlian pulang....." Basagita tersenyum sumringah melihat putrinya datang. Berlian memeluk Mamanya yang datang menghampiri.
"Kangeeeennn..." Basagita mencium Berlian.
"Mami lagi masak cumi panggang tuh," mata Berlian berbinar mendengar Mamanya mengucapkan kata 'CUMI' Berlian langsung berlari kekamar.
"Berlian ganti baju dulu, istirahat bentar. Pokoknya Berlian turun harus udah siap..." Berlian berbicara sambil berlari menaiki tangga takut cumi lezat itu akan dihabisi oleh Chacha.
"Ehh Berlian tunggu,,,," Teriakan Basagita tidak di gubris Berlian yang sudah masuk ke kamar.
"Ahhh gak sia-sia gue ngorbanin cumi goreng, macet panjang, sampek sini mami masak cumi." Berlian mengomel dan membayangkan sambil mengelus perutnya yang terasa lapar sembari membuka kancing kemejanya satu persatu sembari berjalan menuju lemari.
Urusan mandi, nanti saja. Perutnya harus diisi terlebih dahulu sebelum ritual mandi di laksanakan.
"Jangan sembarangan buka baju dong Berlian.." Berlian berbalik dan berteriak karena kaget seorang laki-laki yang duduk di single big sofa di kamarnya.
"Aryaannn, kok lo ada disini.." Berlian sepontan menyilang tangannya menutupi tubuhnya, walaupun Berlian sedang menggunakan tanktop tapi itu sangat malu jika dilihat saat dirinya sedang membuka pakaian luar. Aryan langsung menutup mata dengan tangan.
"Aku baru aja sampai Jakarta. Sebentar, aku akan keluar.."
"Ahh, malah kesempatan liat lo. Udah balik badan sana, gue ganti dulu," Aryan mengangguk, lalu memutar sofa dengan menutup mata. Berlian cepat-cepat mengganti pakaiannya yang kepalang tanggung.
Aryan menahan nafasnya, dadanya berdegub gemuruh. Kenapa Berlian tidak menyuruhnya keluar saja, Berlian pasti lupa bahwa Aryan dapat melihat bayangan dirinya dalam pantulan lemari kaca di hadapannya. Aryan mencoba menyadarkan diri dan langsung menutup matanya.
Setelah siap mengganti pakaian, Berlian berteriak. "Udaaaah..." Aryan tidak menjawab. Berlian berjalan mendekati Aryan dan melihat bahwa laki-laki itu tengah tertidur.
Pasti dia sangatlah lelah, bagaimana tidak? Mereka baru berhubungan lewat telepon di siang hari dan sekarang Aryan sudah sampai di Jakarta. Berlian melihat ponsel Aryan yang tergeletak di kasurnya bergetar.
"Aryan, ponsel lo geter.." Masih tidak menjawab, mungkin saking nyenyaknya, Berlian mengambil ponsel Aryan dan melihat siapa yang menelpon, takut kalau itu telepon penting.
Berlian mengerutkan bibir melihat nama yang tertera dalam panggilan telepon. 'Zee' Berlian langsung menolak panggilan dan menaruh kembali dikasur.
Saat hendak berjalan keluar kamar, ponsel Aryan kembali bergetar dengan panggilan dari orang yang sama. Berlian kembali menolak panggilan, dengan cepat ia langsung menonaktifkan ponsel di tangannya. Agar Aryan tidak mengangkat panggilan dari zivana, cewek super M itu. Membayangkannya saja sudah membuat perut Berlian mual.
Ahhh, cumi panggang.....
__ADS_1
...☘️☘️...