
Entah sudah berapa lama, seorang laki-laki berjas Abu-abu berdiri dihadapan dua orang insan sedang memadu kasih itu. Beberapa kali dia harus menyapa Aryan yang masih terhanyut suasana yang dibuatnya sendiri. Bukannya berhenti, Aryan malah semakin mengeratkan pelukannya kepada wanitanya.
"Ya ampun, Bagaimana kalau orang lain lihat?" Ucapnya, berharap mereka berhenti.
Berlian sendiri malah terdiam, tangan yang semula ia gunakan untuk mendorong tubuh Aryan, berubah menjadi sebuah pelukan. Berlian yakin orang yang melihat ini akan berpikir dirinya dan Aryan sedang berbuat yang macam-macam. Padahal bibir Aryan sama sekali tidak menyentuh kulitnya, Aryan hanya menyandar pada bahu Berlian.
"Tuan Aryan?" Panggilnya lagi.
Berlian merasakan hembusan nafas Aryan menyentuh kulit lehernya perlahan menjauh. Bukannya merasa berdosa kepadanya, Aryan malah mencium kening Berlian dan tersenyum manis kearahnya. Berlian sendiri tidak marah, dia malah ikut menarik ujung bibirnya dengan kikuk.
"Ganggu!!!!" Masih menempelkan bibirnya pada kening Berlian sembari memeluk pinggangnya posesif, semakin membuat jantung Berlian berdegub kencang.
"Nanti saja lagi, bisa lanjut dirumah." laki-laki itu malah menyagil mereka, padahal terlihat jelas Aryan sedang menunjukan wajah tidak sukanya. "Lo gak mau ngenalin tunangan lo sama gue?"
"Gak penting!!"
"Galak amat, mas." Laki-laki itu mengulurkan tangannya. "Halo, saya Devan."
Berlian yang masih dalam pelukan Aryan meraih jabatan tangan Devan. "Berlian,,,,,"
Aryan yang sama sekali tidak melihat kearah Devan hanya melirik dan langsung menarik tangan Berlian lalu menaruh dipinggangnya. "Pergi sana," Berlian merasa aneh dengan sikap Aryan.
"Lo ngusir gue?"
"Gue gak pernah ngerasa ngundang lo disini???"
"Kasar banget sih sama gue?"
Menatap Devan jengah. "Devan Evano Mahaprana, kita gak pernah sedeket itu."
Berlian melihat Devan yang tersenyum kearahnya.
"Senang berkenalan denganmu, Berlian. Silahkan lanjut." Lalu berjalan menjauh tanpa berbalik menatap Aryan yang setia memeluk Berlian.
Setelah dirasa laki-laki menyebalkan itu menjauh, Aryan langsung melepas pelukannya, mengambil sapu tangan yang selalu tersimpan disaku jasnya.
"Maaf ya...." Aryan mengusap kening dan leher Berlian berulang-ulang menggunakan sapu tangan. "Tadi aku sentuh dimana aja, Lupa!!" Berlian menjauhkan tangan Aryan.
"Lo giniin gue gara-gara dia?"
Aryan menatap datar.
Berlian teringat, Devan adalah sosok pria yang merebut perempuan yang disukai Aryan, itu yang Zaskia katakan tadi, dia merasa sedikit kecewa mengetahui Aryan melakukan hal semacam tadi bukan dari keinginannya sendiri.
"Maaf banget, tadi---" Berlian meninggalkan Aryan, tanpa mau mendengar kelanjutan kalimat pria itu.
********
"Berlian sini," melihat Zaskia melambaikan tangan kearahnya, dia itu tahu bahwa Berlian sedang mencari dirinya.
Berlian berjalan mendekati, mencoba bergabung dengan Zaskia dan teman-temannya. "Ya ampun Berlian ternyata cantik sekali," Berlian hanya tersenyum kepada perempuan yang memakai gaun merah.
"Terima kasih, kamu juga cantik." Puji Berlian balik.
"Aku tahu," Berlian terkejut ketika mereka semua tertawa mendengar jawaban itu. "Aku cuma bercanda Berlian, aku tidak secantik itu," perempuan itu tersenyum menatap Berlian. "Kamu terlalu mengada-ngada?"
"Kenapa?"
"You see. Kulit hitam, rambut ikal. Bukan tipe wanita cantik kan?"
"Kecantikan seorang wanita tidak diukur dengan hanya melihat penampilan bukan?" Mereka diam. "Kulit? Memangnya masih jaman kulit menjadi devinisi sebagai wanita cantik? Menurutku senyumanmu itu cukup manis."
"Duh, kamu membuatku tersipu malu, Berlian."
Obrolan mereka terhenti ketika seorang perempuan yang berjalan mendekat kearah mereka. "Hai." Sapanya.
Berlian membalas. "Hai," tapi tidak dengan mereka semua.
"Kamu Berliankan? Perkenalkan, Aku Zivana Ezzah."
"Berlian Wijaya." Membalas uluran tangan mungil didepannya.
Zivana bergerak memeluk Berlian.
__ADS_1
"Senang berkenalan dengan mu, aku pamit," Zivana berpamitan dengan wanita yang menggerombol disamping Berlian.
Mereka Menatap kepergian Zivana sinis. "Dasar ular."
"Centil."
"Dia nanti denger Mbak!!" Zaskia mencegah sindirian keluar dari mulut teman-temannya.
"Berlian, jangan mau berteman dengan dia." Perempuan dengan rambut setengah bergelung masih menatap sinis.
"Kenapa??" Tanya Berlian polos.
"Dia ular."
"Itu, yang tadi gue kasih tahu sama lo," Zaskia berbisik. "Dia nih," menunjuk wanita rambut setengah bergelung itu. "Gara-gara tu cewek ular, dia gak jadi deketin Aryan. Padahal papa Abraham udah oke sama dia,"
"Heh, sekarang aku sudah tidak suka lagi ya sama Aryan. Walaupun Zero tidak setampan Aryan." Dengan wajah menyesalnya.
"Hei, hentikan. Ada tunangannya disini."
Berlian ikut tertawa, walaupun ia sedikit kaget. "Santai saja denganku," melirik Zivana.
Dia Zivana? Seseorang yang melekat dalam kenangan Aryan, kenangan konser Bring Me The Horizon. Masih memandang Zivana yang terus melempar senyuman kepada beberapa tamu.
"Kalau Aryan saja ditolak, bagaimana tipe pria yang disukainya?" perempuan yang duduk didekat Berlian bertanya.
"Yang kaya dan raya, raya." Jawab Zaskia.
"Aryan kan kaya?" Jawaban Berlian membuat mereka semua tertawa.
"Sekarang.. Dulu kan belum, makanya wanita itu tidak mau." Berlian paham sekarang.
"Jadi benar ya, gosip soal Zee bersama Devan?" Tanya wanita disebelah Berlian lagi, sepertinya perempuan ini kurang update seperti dirinya.
"Benar lah." Jawab Zaskia.
"Siapa Zee?" Membuat mereka menahan tawa.
"Haduh Berlian, Zee itu ya Zivana," jawab perempuan didepannya.
"Berlian," perempuan berbaju pink memanggilnya, membuat Berlian mengalihkan pandangannya dari Zivana berganti melihat Mutia, perempuan berbaju pink. "Hitung deh sampek tiga, Dia pasti nyamperin Aryan." Berlian langsung melihat kearah Zivana yang melangkah anggun menjauh, Berlian mencoba menghitung menggunakan jari.
"1......2.......3....." Berlian membulatkan matanya, ternyata benar. Wanita itu mendekat dan memeluk Aryan. Bahkan Berlian melihat Aryan mencium pipi kiri dan kanan kepada Zivana. Tanpa sadar Berlian meremas tangannya.
"Bentar lagi ngerangkul lengan Aryan,"
Tepat sekali, Zivana sudah merangkul lengan Aryan. sangat lengket, Aryanpun terlihat tidak menepis itu.
"Jangan panasi Berlian dong, entar meleleh nih!!" Ucap Zaskia.
Berlian menanggapi tersenyum. "Biasa aja, itu hal yang wajar, bukan?"
"Menurut kami itu bukan hal yang wajar Berlian" Wanita yang sibuk memakan buah mulai ikut berbicara. "Lihat saja," Berlian ikut melihat ke arah Aryan, "Keduanya tampak bahagia, Zivana dengan manisnya mengobrol sambil merangkul lengan dan Aryan tersenyum menanggapi dan menikmati rangkulan itu. Padahal mereka sedang mengobrol dengan banyak orang disana. Tidak tahu malu,"
Mereka sama-sama melihat Aryan berjalan mendekat kearah piano berada. "Lihat, pasti Zivana membuntuti," tepat sekali.
Aryan duduk didepan piano, sedangkan Zivana senantiasa berdiri dibelakangnya. Saat Aryan mulai mengalunkan musik dansa dengan piano, beberapa pasangan sudah masuk ke tengah untuk berdansa, Abraham dan Udayana juga sudah bergabung, sangat mesra.
"Udah Berlian, lo gak perlu nanggepin omongan mereka yang julid ini." Zaskia menenangkan.
"Kami bukan julid, kami mengatakan fakta. Bukankah kita sering menyaksikan ini setiap ada acara pertemuan?"
"Labrak saja Berlian, karena itu sudah melewati batas. Membuatmu marah," perempuan berbaju pink mulai mengompori Berlian.
Berlian tersenyum. "Bagaimana kalau kita buat Aryan yang menjadi marah,"
"Maksudmu??"
Mereka semua terdiam saat melihat seorang laki-laki berjalan mendekat dan mengulurkan tangannya ke hadapan Berlian. "Will you dance with me?"
Lebih terkjut lagi saag Berlian tersenyum simpul dan menerima ajakan Devan tanpa memikirkan Aryan yang terus menggeleng meminta dirinya untuk menolak.
Apakah Aryan sedang cemburu kepadanya?
__ADS_1
Apakah Aryan akan marah nanti?
Berlian tidak perduli. Karena, Udayana sudah mengatakan bahwa saat pesta dansa dimulai siapapun yang mengajaknya berdansa Berlian harus mau sebagai bentuk menghormati.
Dan, seseorang yang mengajaknya berdansa adalah orang yang tepat.
"Aryan bakal tetep disitu kok," membuat Berlian tersadar dari lamunannya melihat kearah Aryan.
"Sorry," mereka sama-sama terdiam, menggerakkan tubuh dan terhanyut mengikuti alunan suara permainan piano.
"Berlian Wijaya Valfredo."
"Hah? "
"Keturunan Jerman?"
"Um, ya." Sembari bingung menatap Devan didepannya. "Tahu dari mana?"
"Apasih yang saya tidak tahu tentang kamu?" Berlian berdecih sebal. "Perasaanmu saja saya tahu," Berlian memutar bola mata. "Bagaimana cara Aryan meyakinkan kamu untuk menerimanya?"
"Beberapa hal."
"Akhirnya. Setelah sekian lama, dia menemukanmu juga." Menatap Aryan yang masih setia menatapnya.
"Gimana maksudnya?"
"I feel you," Berlian mendongak lagi menatap Devan.
"Sorry??"
"Aku merasakan apa yang kamu rasakan, melihat Aryan tersenyum manis kepada wanita lain."
"Cih, perlu anda tahu Tuan Devan, saya tidak merasakan apa-apa."
"Oh ya?"
Berlian mengangguk. "Tentu, bagaimana dengan mu?" Tanya Berlian.
"Denganku?" Berlian mengangguk. "Biasa saja. Memenangkan wanita dengan sebuah pertandingan tidak terlalu berharga bagiku." Berlian diam saja. "Wanita berharga itu sepertimu, Aryan yang berusaha mencarimu, meyakinkanmu, hingga akhirnya kamu mau. Bukankah itu berharga?"
"Whatever," Berlian tidak ingin menggubris hal itu.
"Bagaimana dengan Aryan?" Berlian mengerutkan keningnya. "Apa dia merasakan apa-apa denganmu?"
"Saya tidak perduli!" Devan tertawa meremeh.
"Ku kira kalian baik-baik saja," Berlian menggeleng. "Mau aku beri tahu, caranya melihat Aryan itu merasakan apa-apa denganmu atau tidak??" Berlian tertarik dengan hal ini.
"How to??"
"Dimana tadi Aryan menciummu, disini?" Berlian tersentak ketika Devan menyentuh lehernya.
"Minggirin tangan lo," Belian menepis tangan Devan yang sudah lancang menyentuh lehernya.
"Suaramu Sexy."
"Gue tahu," Berlian tekejut saat Devan mengecup leher Berlian, Devan melakukan itu dengan nafsu yang memburu.
"Lepasssss!!!!?! Gila lo.." Bukannya melepas pelukan, Devan malah semakin mengeratkan pelukannya pada pinggang Berlian.
Aryan yang sedari tadi melihat kejadian itu langsung berdiri dan bergerak menghampiri, musik berhenti membuat semua orang beralih menatap Aryan. Mengikuti kemana perginya.
Semua mengalihkan pandangan dan menatap Berlian dan Devan yang sedang beradu argument. Mereka melihat Berlian sedang melepaskan pelukan dari Devan yang memaksa.
Tidak kuasa menahan emosi, Aryan langsung mendorong tubuh Devan hingga jatuh, membuat Berlian dalam pelukan Devan hampir terjatuh. Untung Aryan cepat menangkap Berlian.
Aryan mencekam kerah Devan dan melayangkan pukulan tinju diwajah Devan beberapa kali, membuat pria itu meringis kesakitan.
Bukannya melawan, Devan malah menyunggingkan senyuman mengejek.
"Manis juga dia," semakin membuat emosi seorang Aryan Tara Mahesvara memuncak. Sekali lagi, Aryan memberikan bogem mentah kepada pria yang tidak merasa bersalah itu.
"Aryaaann!!!!!!!!!!!!" Berlian berteriak sembari menutup kedua telinganya..
__ADS_1
...☘️☘️...