
"Gimana Non?" Berlian menoleh, menatap supir dibelakang kemudi. "Mau sampai kapan Non duduk disitu?"
"Sebentar Pak."
"Sudah dua jam Non kita anteng disini, apa saya saja yang keluar dan tanya. Nona mau cari siapa? rumah yang mana?"
Berlian menggeleng. "Ini saya mau keluar kok. Bapak tunggu sebentar ya. Jangan pergi."
Berlian keluar dari dalam taxi Online, mendengus pelan. Baru ia tinggalkan Indonesia selama dua tahun, Bapak taxi Online sudah pelit waktu saja, padahal Berlian bayar beda.
Menatap gerbangnya saja sudah membuat Berlian berulang kali menghembuskan nafas panjang. Gerbangnya semakin terlihat megah, atau karena selama ini Berlian yang tidak perhatian ya? Berlian maju mendekati pos satpam.
"Permisi."
"Iya Nona?" penjaganya saja sudah ganti, bukan lagi Pak Seno. "Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya mau bertemu dengan Nyonya Mahesvara, Udayana Mahesvara."
Mereka berbicara terhalang oleh pagar. Penjaga itu maju, "Ada perlu apa? sudah ada buat janji?"
"Eee,, Saya kerabat, jaa-uhh."
Penjaga dengan pakaian serba hitam itu mengulurkan tangannya. "Boleh saya lihat KTP anda Nona?"
"Apa saya tidak bisa masuk?"
"Maaf Nona, Nyonya Mahesvara tidak memberitahu saya kalau beliau hari ini ada tamu."
Berlian mengeratkan tangannya pada besi pagar. "Jadi saya tidak bisa masuk?"
Penjaga itu tersenyum. "Kalau ada urusan penting, anda bisa menelpon dan buat janji terlebih dahulu."
"Dimana Nyonya Mahesvara sekarang? apa dia ada didalam? anda bisa memanggilnya sebentar."
"Maaf Nona, Nyonya sedang pergi."
"Kapan beliau pulang?"
"Belum tahu Nona, itu bukan kewajiban saya untuk tahu. Permisi." penjaga itu kembali kedalam posnya.
Susah sekali hanya untuk bertemu saja, Berlian berjalan masuk kedalam mobil lagi. "Bagaimana Nona?"
"Kita cari hotel saja Pak, besok saya kesini lagi." Berlian mengeluarkan ponselnya dan mencari Hotel yang bisa ia pesan terlebih dahulu.
__ADS_1
"Orang kaya memang kebanyakan seperti itu. Sebaiknya Nona membesarkan anak sendiri saja," Berlian mengerutkan dahinya. "Gak jadi masalah kok kalau wanita membesarkan anak dengan usaha sendiri. Begitulah laki-laki, saat mereka susah penyebab utama dia stres itu wanita, biasanya karena tekanan ekonomi. Tapi saat dia sukses wanita juga menjadi penyebab utamanya, tergoda. Yang sabar Nona, sudah banyak memang laki-laki meninggalkan istri karena wanita lain."
Berlian tertawa mendengar nasehat sederhana dari supir taxi Online ini. "Iya Pak, saya coba untuk berusaha dulu."
********
Ini sudah hari ke lima Berlian kembali mendatangi kediaman keluarga Mahesvara, dan selama beberapa hari lalu. Penjaga selalu mengatakan bahwa Nyonya Mahesvara tidak ada dirumah.
"Eem Pak."
"Hah, saya jadi penasaran? Nona ini ada keperluan apa ya? sudah beberapa hari ini saya selalu melihat Nona datang kemari, setiap saya tanya Nona perlu apa, Nona selalu menjawab hanya ingin bertemu Nyonya." penjaga menghela nafas lagi, melihat kegigihan Berlian ia menjadi sedikit iba. "Lebih baik katakan sejujurnya ada apa Nona. Mana tahu saya bisa meringankan beban anda."
Terlihat jelas bahwa penjaga ini sangat lelah menghadapi Berlian yang mondar mandir datang.
"Begini saja Pak. Saya tidak akan memaksa masuk, dan tidak akan memaksa untuk memanggilkan Nyonya Mahesvara. Tapi tolong beritahu orang didalam kalau saya disini, ini KTP saya," Berlian menyerahkan kartu identidas yang tersimpan didalam dompetnya. "Beri tahu, kalau saya Berlian Wijaya Valfredo sedang menunggu."
Petugas itu mengangguk dan meraih kartu identitas Berlian dan kembali masuk kedalam pos, ia menkan telepon yang ada didalam ruangan tersebut.
"Selamat siang Bu. Maaf, ini ada tamu yang memaksa ingin bertemu, dia seorang wanita bernama Berlian Wijaya Valfedo." petugas itu kembali kehadapan Berlian dan menyerahkan kartu identitasnya.
"Bagaimana?"
Petugas itu menggeleng. "Nyonya langsung mematikan sambungan teleponnya."
"Berliaaaaaannnnn...... " Berlian baru saja hendak mengangkat kakinya dari hadapan gerbang megah Mahesvara, tapi suara Udayana menyambar gendang telinganya.
"Tantee,"
"Jeff buka gerbangnya." penjaga yang Udayana teriaki dengan panggilan Jeff mengangguk.
Berlian masuk ketika gerbang sudah dibuka sedikit untuknya. Udayana berlari mengabruk memeluk Berlian, lalu menciumi Berlian dengan penuh rasa bahagia.
Udayana terlihat semakin cantik, Berlian melihat kebawah wanita yang sangat dicintai oleh Tuan Besar Mahesvara berlari keluar rumah tanpa alas kaki hanya untuk memastikan kehadiran seorang Berlian.
"Sayang kamu apa kabar? kamu kenapa bisa sampai disini? kamu sama siapa? udah lama nunggu diluar," Udayana berjalan memukul bahu Jeff. "Berani-beraninya kamu membiarkan Berlian berdiri diluar gerbang?"
"Maaf Bu. Nona ini tidak memberitahu siapa, dan Ibu kan juga gak bilang sama saya kalau ada yang datang." Udayana memukul lagi.
"Sudah Tantee.. Gak apa-apa kok, Berlian cuma berdiri bentar, lagian bukan salah dia juga, Berlian yang salah karena gak bilang." Udayana bergerak memeluk lagi.
"Kamu gak pernah salah, ini Jeff. Kamu inget Pak Seno, dia ini anaknya. Pak Seno kemarin sempat jatuh sakit dan anaknya yang menggantikan, makanya gak tahu kamu."
Berlian tersenyum menatap Jeff. "Pantes kalau ngomong mirip sekali sama Pak Seno, halo saya Berlian."
__ADS_1
"Halo Nona, maaf saya tidak mengenali anda." Berlian mengangguk, Jeff maju dihadapan Udayana dan memberikan sendal jepit. "Bu, pakai sendal saya dulu."
Udayana langsung memakainya walaupun kebesaran, ia menarik Berlian dan mengajaknya untuk masuk.
Baru sampai dipintu, Gena sudah memeluk Berlian terlebih dahulu. "Ini beneran Kak Berlian, astaga Gena kangen banget."
Berlian membalas memeluk. "Iya Kakak juga."
Matanya melihat kearah sofa diruang tamu Mahesvara, wanita yang tidak asing untuk Berlian melambaikan tangan kearahnya.
"Hai Berlian, apa kabar kamu?"
Berlian meraih uluran tangan itu. "Hai Jen, aku baik. Kamu?"
"Aku juga baik," Berlian melihat kearah wanita yang berdiri disamping Jen.
"Halo Berlian, aku Raisa." Berlian tersenyum, jadi ini Raisa yang menyaksikan kecelakaan itu.
"Halo, senang bertemu denganmu." Udayana mengajak Berlian dan yang lainnya untuk duduk.
Saat Bu Nuri datang membawa minuman untuk Berlian, mereka bertemu pandang dan saling melempar senyum. Seperti biasa, Bu Nuri tidak bisa mengekspresikan rasa.
Pintu utama terbuka lebar, bahkan terdengar gebrakan keras. "Maanaaaa, Maa katanya Berlian datang, Papa ditelpon Jeff tadi." menggoncang tubuh istrinya, hingga membuat Udayana mendesis kesakitan.
"Paa, ituuuu...." menunjuk Berlian yang sudah Berdiri menatap keduanya.
Berlian tersenyum. "Om.."
"Berliaaan, menantu Om," Abraham berlari mendekati Berlian dan langsung memeluk. "Astaga Berliaan, kamu kemana aja, maafin Om Berlian."
Berlian tertawa dalam pelukan Abraham. "Iya Om, Berlian juga minta maaf."
"Ayo duduk, duduk. Haduh, Om sampai gak bisa berkata-kata lagi." Udayana menggeser suaminya.
"Mama juga mau deket sama Berlian." Abraham tidak mau kalah.
"Mama kan sudah ngobrol sama Berlian dari tadi." Udayana melotot menatap suaminya.
"Berlian ini baru dateng." sontak Jen dan Raisa tertawa melihat tingkah sepasang suami istri didepan mereka. Keduanya menggeleng karena merasa baru pertama kalinya orang sekaku Tuan Abraham bertingkah kocak.
Berlian juga ikut tertawa, tiba-tiba Berlian memudarkan senyumannya ketika melihat pria yang membuatnya mengerti arti sebuah rindu.
Pria yang Berlian harap akan mencarinya saat ia pergi, pria yang Berlian takuti akan melupakan dirinya dan memilih wanita lain saat ia memutuskan untuk menjauh. Tapi ada yang berbeda.
__ADS_1
Aryan hanya menatapnya sekilas dan langsung menaiki tangga, pria tinggi itu tidak membalas senyum sapanya. Semua orang mendadak hening ketika tahu Aryan tidak menatap Berlian.