Unforgettable Mistake

Unforgettable Mistake
UM (29)


__ADS_3

Kalau cantik, mau seperti apapun akan tetap terlihat cantik, bukan?


Udayana memperhatikan wajah Berlian yang tidur sangat nyenyak menghadap kearahnya, mencoba memberanikan diri Mengelus wajah calon menantunya dengan pelan, takut kalau sampai dirinya membuat Berlian terbangun.


"Berlian, maaf." Tentu saja itu tidak di jawab oleh Berlian. "Maaf, membuat kamu harus menjalanin ini dengan terpaksa," ucap Udayana tanpa ingin mendapatkan jawaban.


"Tante janji Berlian, akan terus membuatmu merasa di perhatikan. Ini demi kebaikanmu dan Aryan," Udayana paham betul, Berlian tidak akan menjawab ucapannya. Tapi, ia anggap saja kalau Berlian membalas ucapan itu dengan sangat setuju.


"Tante mohon, bertahanlah." Mengecup kening Berlian yang masih terlelap.


Beranjak dari kasur dan berjalan keluar kamar, membiarkan Berlian merajut mimpi panjang.


********


Jendela terbuka, tirai bergoyang saat angin masuk dan membuat hembusan dingin menusuk kulit, Berlian terbangun, melihat Udayana tidak lagi terbaring di sampingnya.


Beranjak dari kasur dan berjalan pelan menuju kamar mandi, menghidupkan keran membiarkan air memenuhi bathup. Beberapa hari tinggal disini membuatnya terus mandi menggunakan air hangat.


Saat terpejam merasakan hangatnya air, matanya terbuka pelan. Dia mendengar suara piano di telinganya, Alunan tuts piano lembuat membuatnya terdiam mengamati. Dia bangkit dari berendam dan buru-buru keluar kamar mandi, memakai baju asal dan berlari keluar kamar. Lagi-lagi ia membiarkan ujung rambutnya basah mengenai baju yang dikenakan, rasa penasarannya lebih besar dari apapun itu.


Permainan piano membuatnya teringat akan sosok mendiang papanya, karena Andronico sangat suka memainkan alat musik piano, Berlian belum pernah diajarkan memainkan alat musik itu. Andronico sempat Berjanji. Namun, sampai saat ini Berlian belum pernah diajarkan oleh papanya.


Alat musik gitar ia pelajari dari Samuel.


Berlian terpukau, melihat Aryan sedang memainkan piano di samping tangga menuju lantai dua. Terlihat sangat pandai dan ahli memainkannya.


Berlian melirik Abraham yang sedang duduk berhadapan dengan seorang laki-laki, asik mengobrol. Mungkin tentang bisnis, Berlian tidak terlalu mengubris hal itu.


Berlian terkejut ketika bahunya ditepuk.


"Baru bangun?" Melihat Zaskia berdiri disampingnya. Berlian mengangguk.


"Eh sudah bangun sayang, selamat pagi," melihat kearah Udayana yang datang menyapanya bersama Gena yang melambaikan tangan. Ditangannya membawa sepiring buah-buahan yang sudah di potong.


"Iya tante, selamat pagi---pagi om," melihat kearah Abraham yang asik berbincang.


"Pagi sayang." Dan laki-lak di depan Abraham tersenyum kearahnya sambil melambaikan tangan. Berlian membalas tersenyum saja, karena ia merasa tidak mengenali laki-laki itu.


"Kok tante gak bangunin Berlian?" Sembari memasukkan buah kemulutnya, Udayana menatap Berlian.


"Kenapa harus di bangunin? Memangnya apa yang mau kamu kerjakan di pagi hari?" Berlian tidak menjawab, memang benar. Apa yang harus Berlian kerjakan dirumah ini? butiran debu saja sudah ada yang menangani. "Gena, Siapin sarapan buat Berlian, Kia juga sarapan ya sayang? Mama masak sup," Zaskia menggeleng.

__ADS_1


"Udah kok mam," Udayana mengangguk mengerti dan beralih memerintah Gena untuk menyiapkan sarapan untuk Berlian saja.


Melihat Gena menyerahkan piring berisi buah kepada Udayana . "Tante," Gena dan Udayana sama-sama melihat kearah Berlian.


"Ada apa sayang?"


"Berlian, belom laper," mengerti dengan maksud Berlian, Udayana dan Gena sama-sama diam.


"Biar Gena buatin roti panggang aja ya? Kak Kia mau?" Berlian mengangguk sedangkan Kia menggeleng.


"Udah buatin Berlian aja, Kakak udah kenyang banget?" Berlian melirik Zaskia.


Kenyang apanya? Dari tadi itu mulut gak ada berhentinya. Melihat Zaskia yang terus memasukkan buah di piring yang sedang di bawa Udayana kedalam mulutnya.


********


Zaskia mengajak Berlian berjalan kearah Aryan yang masih fokus memainkan piano, sembari menunggu Gena membuatkannya roti panggang. Sedangkan Udayana sudah melenggang untuk bergabung dengan suaminya.


"Aryan kalau minggu selalu konser dirumah," Berlian mengangguk mendengar ucapan Zaskia.


Aryan berhenti memainkan alat musiknya ketika bahunya di tepuk oleh Zaskia, melihat Berlian berdiri disisi samping Zaskia.


"Belum laper katanya?" Zaskia lebih dulu menjelaskan. "Besok, lo jadi mau main piano di pesta?" Aryan hanya mengangguk.


"Pesta?" Berlian bertanya tidak tahu.


"Iya pesta,"


"Nanti aku jelasin," ucap Aryan memotong ucapan Zaskia. Wanita itu tidak pernah tahu. Dia selalu berbuat semaunya, maka dari itu Aryan harus mencegahnya,


Zaskia diam saja ketika Aryan memotong ucapannya, dan tangannya beralih memainkan tuts piano asal.


"Kiaaaa," laki-laki yang bersama Abraham tadi berjalan kearah mereka. Membuat Berlian dan Aryan juga ikut menoleh. "Yuk pulang," Zaskia menggeleng tidak mau.


"Entar aja Baby, gue mau main sama Berlian dulu," ucap Zaskia manja.


Zaskia merengek seperti anak kecil yang tidak mau di pisahkan dari temannya. "Sayang, gue banyak urusan jadi mendingan kita pulang. Yuk?" dengan bujuk rayu yang panjang laki-laki itu mampu membuat Zaskia menyetujui ajakan dirinya.


"Oh iya, selamat ya atas pertunangan kalian, Sorry kemaren gak dateng karena ada urusan," Berlian meraih uluran tangan tersebut.


"Makasih."

__ADS_1


"Gue Reza, kamaren waktu konser Bring Me The Horizon mau kenalan sama lo, eeh udah terlanjur gak sadar," Berlian membulat matanya dan melihat ke arah Abraham dan Udayana, takut mereka akan mendengar.


Untungnya mereka tidak mendengar. Karena, sepertinya mereka sedang membicarakan hal yang serius. Berlian menatap Reza lalu tersenyum canggung tidak tahu harus merespon apa, Reza sendiri malah cengengesan tanpa rasa bersalah.


Setelah urusan berkenalan selesai, Reza dan Zaskia pamit kepada Udayana dan Abraham untuk pulang.


"Kak, rotinya udah siap," Berlian mengangguk dan berjalan mengikuti Gena di depannya, Aryan juga ikut.


"Makan bareng yuk?" Gena menggeleng.


"Aku udah makan kak," Gena melirik Aryan yang duduk di sebelah Berlian, pria itu mengangguk menyetujui permintaan Berlian kepada Gena.


"Ayok kak. Tapi Gena temenin aja ya," Berlian tersenyum, membuat Gena terpana, pasalnya ini pertama kali bagi Gena melihat Berlian tersenyum tulus kepadanya.


********


Gena pamit karena ia harus berangkat kekampus pagi ini. Aryan berjalan mengantarkan Gena keluar, lalu kembali membawa handuk ditangannya.


Berdiri dibelakang Berlian, mengeringkan ujung rambutnya yang basah. "Aryan?"


"Hmm,"


"Pesta apa?"


"Habiskan dulu," Berlian menuruti untuk menghabiskan rotinya.


Udayana tersenyum malu-malu melihat perhatian yang putranya curahkan untuk Berlian. Aryan tidak salah, memutuskan untuk mengambil langkah menerima Berlian untuk menjadi pendamping hidupnya dari pada harus Bertanggung jawab dengan hal lain.


"Tante disini?" Membuyarkan lamunan Udayana.


"Eeh, iya sayang. Ganggu ya?" Berlian dan Aryan menggeleng cepat.


"kenapa ma?" Menatap Udayana.


"Kalau sudah selesai, kalian temui kami ya? Ada yang mau kami bicarakan?" Berlian mengangguk.


"Aryan aja yang kasih tahu Berlian"


"Gak usah, mama sama papa yang bakal kasih tahu" Berlian hanya menatap Ibu dan anak ini bergantian. Menebak kalau sepertinya mereka memiliki masalah.


...☘️☘️...

__ADS_1


__ADS_2