
"Pak, beneran Kak Berlian sama Mas Aryan sudah pulang?"
"Sudah nduk."
"Yey, kesalon bareng Kak Berlian." mengeluarkan ponselnya.
Mengetik pesan kepada Bimo untuk datang terlambat diacara pertemuan mereka, ia tidak akan mengatakan terlambat karena akan pergi kesalon dulu tentunya. Bimo akan terkejut, dari mana Gena memiliki uang untuk kesalon.
Pak Hendra memarkirkan mobilnya sesuai arahan tukang parkir.
"Gena keluar dulu ya Pak." Pak Hendra mengangguk.
"Jangan nakal."
Gena tertawa. "Memangnya Gena anak kecil." sekejap ia memeluk Pak Hendra, sebelum benar-benar keluar.
Gena berjalan dengan senang, ini kali pertamanya ia dan Berlian disalon bersama, sudah lama ia membayangkan bersantai diruang spa bersama Berlian. Mereka akan menceritakan sesuatu yang lucu, pasti menyenangkan pikirnya. Padahal ia sendiri tahu, Berlian akan menanggapinya dengan mengangguk dan hanya menjadi pendengar, tapi untuk Gena itu sesuatu yang sangat menyenangkan.
Gena sangat berharap, Berlian akan merubah sifatnya. Dingin. Bahkan dinginnya melebihi Aryan. Ck, kenapa Gena selalu dikelilingi orang-orang yang dingin, ia juga sampai memiliki pacar yang sama dinginnya.
Baru ia akan membuka pintu, Udayana dan Berlian sudah keluar dari dalam salon.
"Mama." panggilnya, Udayana langsung menarik tangan Gena dengan tangan kanannya, karena tangan kiri ia gunakan untuk menarik tangan Berlian.
"Loh, kok udah pulang. Gena belum lagi masuk."
"Masuk kedalam mobil sekarang." raut wajah Gena menegang ketika melihat Mamanya menampilkan wajah seram.
Gena duduk dibelakang bersama Udayana, sedangkan Berlian memilih untuk duduk disamping Pak Hendra.
Suasana menjadi terasa aneh bagi Gena, ia melirik Mamanya sekilas. Wanita itu sedang menatap keluar jedela, jari-jarinya meremas seperti sedang khawatir. Gena melepaskan sabuk pengaman dan mendekat kedepan.
"Kak." Berlian melihat kebelakang, kepala gadis imut itu sedang menyembul ditengah-tengah.
"Gena, duduk yang benar nduk. Nanti jatuh." ucap Pak Hendra masih dengan fokus pada setirannya.
"Sebentar Pak." Pak Hendra diam dan tidak menegur lagi.
"Ada apa Gena?" tanya Berlian.
"Kenapa sama Mama?"
Berlian tersenyum. "Gak apa-apa kok, tadi salon ramai, mungkin Tante sedikit kesal."
Jawaban Berlian malah membuat Gena menggeleng heran. "Mana mungkin Mama dibiarin nunggu. Mama itu selalu diutamain disalon itu."
__ADS_1
"Genaaa duduk yang benar sayang, pakai sabuk pengamannya." tegur Udayana.
"Iya Ma." Gena kembali duduk, dan memasang seatbelt.
"Berlian."
"Iya Tante." Berlian melihat penuh kearah belakang.
"Jangan dekat dengan wanita itu." masih dengan nada dingin.
"Iya Tante."
"Apapun yang dia bilang, gak usah kamu percaya."
"Iya Tante." Berlian juga tidak berani membantah. Udayana sedang terlihat tidak baik-baik saja. Mengerikan.
********
"Loh, Mama kok sudah pulang. Baru juga keluar?" Udayana duduk disamping suaminya, lalu ia merebahkan kepalanya pada bahu Abraham. "Kenapa?"
Udayana menghela nafas kasar.
Berlian dan Gena duduk dihadapan Abraham dan Udayana, mereka berdua sama-sama menggeleng ketika Abraham menatap mereka dengan wajah bertanya.
"Loh, kok udah pulang?" melihat Aryan mendekat, sepertinya pria itu baru dari perpustakaan. Terlihat dari ia memegang buku ditangannya.
"Eh, iya. Tante Om, Berlian kekamar ya mau istirahat. Aku kekamar." menatap Aryan.
"Gena temenin Kak Berlian ya?" Gena mengangguk mendengar perintah Aryan dan menyusul Berlian kekamar.
Aryan duduk didepan kedua Orang tuanya. Dan menatap Udayana, Mamanya itu masih memasang wajah kesal.
"Ada apa Ma?" tanya Abraham sekali lagi, ia yakin ada sesuatu pada istrinya.
"Mama ketemu Disa disalon tadi. Mama kesel, lihat dia pegang tangan Berlian." menghentakkan kakinya dilantai.
"Salon itukan milik umum Mama." potong Aryan. "Apalagi salon itu sudah jadi langganan Mama sama Tante Disa." Udayana masih cemberut.
"Mungkin mereka cuma ngobrol aja Ma, kenapa sensi sih?" Udayana mendelik mendengar suaminya menimpali lagi.
"Ini pegang lo Pa, pegang. Dia pegang Berlian." Udayana beralih menatap putranya. "Wanita itu pegang Berlian, Aryan. Pegang, yang artinya menyentuh." ucapnya dengan kesal.
Aryan paham maksud Mamanya. "Mama peluk aja, Berlian kelihatan gak nyaman. Tapi ini, dia diem aja, bahkan Berlian tersenyum." mata Udayana memanas. "Kenapa Berlian tersenyum?"
"Ma?" panggil Aryan, Udayana menatap. "Berlian gak mungkin menampilkan sikap gak nyamannya sama temen Mama. Dia pasti sebisa mungkin harus terlihat baikkan dimata orang."
__ADS_1
"Tapi ini Disa, dia bukan teman Mama." membuang arah pandangannya, masih terlihat kesal.
"Mama mengenalkan Tante Disa kepada Berlian sebagai teman Mama bukan?" Udayana terdiam. "Mama kan tahu? Berlian tidak akan pergi."
"Tapi Aryan."
"Maa." Abraham mengelus kepala istrinya. "Dengarkan Aryan, anak kita gak pernah ingkar janjinya. Berlian bukan seperti wanita itu." Udayana terdiam.
"Maaaaasssssssss, Papaaaaa, Mamaaaaa." Gena berteriak, ia keluar kamar Berlian sembari menangis keras.
Sontak membuat mereka berdiri dan menghampiri Gena, Abraham dengan sigap memeluk Gena. "Ada apa sayang?"
"Kak Berlian."
"Kenapa dengan Berlian?" Belum Gena menjawab Aryan sudah berlari lebih dulu.
Aryan melebarkan matanya, mendapati Berlian bersujud dilantai, berteriak dengan keras, Abraham, Udayana dan Gena langsung berlari menyusul Aryan. Juga ikut terkejut mendengar teriakan Berlian.
"Berliaaann." teriak Aryan.
Berlian terus berteriak dengan bersujud sembari meremas rambutnya. Tidak mendengar teriakan Aryan memangilnya. Aryan berusaha membantu Berlian untuk menegakkan tubuhnya, tapi Berlian kekeh untuk terus menunduk dan terus berteriak.
"Pulaaangg..." kata pertama setelah dia terus berteriak. "Aku mau pulaaaaangggg!!!!" Aryan menarik tangan Berlian agar tidak menarik rambutnya lagi.
Berlian mendongak menatap Aryan, wajah Berlian penuh dengan air mata yang tidak ada hentinya. "Farrel Aryan, pulaangg, aku mau pulaaang." Aryan menggeleng.
"Akuuuu mauuuuu pulaaaannngggg... Akkkrrgggg...." Berlian menangis lagi, dadanya sesak.
"Ada aku." Berlian membalas pelukan Aryan sembari terus menangis keras. Berlian tidak bisa berhenti.
Kini Udayana sudah berlari memeluk Bu Nuri, ia tidak tega melihat Berlian. Sedangkan Abraham masih mematung, otaknya tidak berfungsi. Memahami penyakit Berlian saja, ia masih bingung. Apalagi melihat ini.
Lebih lagi Gena, ia merasa hanya dirinya yang tidak tahu apa-apa soal Berlian. Apalagi para pekerja yang sudah berkumpul, mereka terkejut mendengar teriakan Berlian. Membuat mereka berakhir dengan saling pandang tidak mengerti.
"Aryan." panggil Abraham.
"Pa, biarin Aryan temenin Berlian dulu. Aryan bakal tenangin Berlian." Abraham mengangguk, ia mengajak seluruh orang dirumah yang melihat untuk keluar dan tidak mengganggu Berlian.
Abraham menutup pintu kamar.
Sedangkan Aryan masih diam, mengelus puncak kepal Berlian. Lalu ia menggendong Berlian dan ditaruhnya diatas ranjang.
Berlian berbaring sembari memeluk lengannya, masih dengan isak yang belum juga mereda. Masih terdengar rintihan suara Berlian kesakitan dan memanggil nama Farrel.
"Besok kita periksa kamu ya?" Berlian menggeleng.
__ADS_1
"Aku gak gila."
"Gak ada yang bilang kamu gila Berlian. Aku cuma mau tahu apa penyebabnya dan gimana cara mencegahnya. Aku gak kuat lihat kamu gitu." ia sudah beralih memeluk Berlian erat.