
Nyonya Valfredo sesekali mengecek arloji di tangannya, menatap tajam cucu pertamanya dengan datar, ujung bibirnya menekuk sebuah senyuman kecut dan mengejek. "Lihat. Buka matamu lebar-lebar Berlian." Zoya berdecak, "maksudku pikiranmu bukan melototi oma seperti itu, aku membicarakan soal serius pasal pacarmu. Aku baru mengatakan dengan nada tinggi saja dia sudah menghilang tanpa kabar, dia laki-laki tidak baik untukmu sayang....."
"Maa, Gita sangat yakin kalau Farrel adalah laki-laki yang baik."
Zoya tersenyum tipis, "tau apa kamu? kerjaanmu setiap hari hanya mengurus soal Sam saja..."
"Astaga mama...." Basagita tidak berani melawan, karena yang ada dalam benak mertuanya hanya ketidaksukaannya pada dirinya.
Kembali Zoya menatap Berlian, "pokoknya putuskan dia, oma akan carikan laki-laki yang pantas untukmu dan untuk keluarga kita, karena......." Kalimatnya menggantung saat cucunya malah berdiri saat ponsel diatas meja bergetar.
"Hallo Farrel.... Kamu dimana??" Berlian menghela napas lega, "aku kira kamu marah karena sikap oma kemarin..."
Berlian tersenyum mendengar suara Farrel yang menenangkan. "Untuk apa aku marah, aku sedang di jalan, nanti malam kalau kamu ada waktu kita ketemu ya? ada yang ingin aku bicarakan denganmu."
"Membicarakan soal apa?"
"Rahasia."
Zoya hanya diam mendengarkan pembicaraan cucu yang tidak terdengar, melihat Berlian kembali menghampirinya dengan wajah sumringah dan menunjukkan bekas panggilannya dengan Farrel kepada Zoya. "Look at this," Zoya hanya melirik. "Farrel tak pernah lari dariku...."
"Aku harus merespon apa?"
"Nothing. Oma hanya perlu menarik ucapan Oma, bahwa laki-laki ini tidak baik untukku, ini hidupku, aku tau mana yang baik dan mana yang buruk untukku. Dan dia bukannya menjauh,,,,"
"Lalu?"
"Ucapan Berlian tidak akan masuk di otak Oma. So, Berlian tidak akan bicara panjang lebar."
"Berlian, jaga bicara kamu sama Oma, kamu harus tau batasan hormat dengan orang yang lebih tua." Walaupun Basagita juga tidak menyukai sikap mama mertuanya terhadapnya, tapi ia tidak pernah bersikap kurang ajar pada wanita itu.
"Berlian cuma mau ngasih tau sama Oma, berhenti buat jauhin Berlian sama Farrel," lalu berjalan menjauh.
Untuk pertama kalinya Berlian mempunyai keberanian cukup besar untuk melawan omanya, mungkin sudah cukup soal mengalah, dia tidak bisa lagi menahan rasa sakit saat Farrel di rendahkan pada saat acara makan malam kemarin. Memangnya kenapa dengan Farrel yang hanya memiliki pekerjaan kecil, toh dia bahagia bersamanya. Batinnya sudah lelah dengan setiap kata yang di keluarkan oleh mama dari papanya itu.
Malam ini tekadnya sudah bulat, ia akan meminta Farrel untuk menikahinya tanpa memikirkan tentangan dari Zoya. Mereka hanya membutuhkan restu dari Basagita dan Samuel sebagai walinya, begitukan? mamanya akan terus mendukung walau Berlian sendiri tahu bahwa mamanya pasti sangat berat menentang Zoya.
********
Berlian terus menerus melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, sudah lewat berapa lama Berlian menunggu Farrel disini. Di taman yang mereka janjikan untuk bertemu.
"Berliaannn..." Berlian menoleh kesumber suara, ia melihat Farrel berlari mendekatinya. "Kamu sudah lama?"
"Tidak juga, beberapa menit yang lalu aku sampai." Berlian berdiri dan memeluk tubuh Farrel. "Apa yang mau kamu omongin sama aku??" Berlian merasakan kehangatan tangan Farrel saat menangkup kedua sisi wajahnya.
"Aku siap Berlian."
"Hah?" Farrel tersenyum lebar membuat Berlian semakin bertanya dengan maksudnya. "Siap untuk apa?"
"Aku siap untuk menikah sama kamu," Berlian tertawa. "Heii,, apa yang kamu tertawakan? aku serius sayang. Besok malam Angga akan jemput kamu dan membawa kamu ke panti, kita akan bertemu di sana."
Kedua alisnya bersatu. "Kenapa kita harus kepanti?"
"Bukankah kamu sendiri yang ingin sekali bertemu dengan keluargaku? Ayolah sayang, jangan sampai kamu berubah pikiran ya? tekadku sudah bulat nih." Berlian tersenyum lalu di iringi tawa kecil, dia mengangguk sembari bergerak memeluk Farrel. Dalam pelukan itu Berlian tersenyum bahagia, di hapus setiap kata yang sudah di rangkainya, memaksa Farrel untuk menikahinya? apa itu? tanpa di paksa kekasihnya itu sudah lebih dulu mengutarakan keinginannya.
__ADS_1
********
Apa hidup dan mati seseorang sebercanda itu? Mati? oh tidak!! Selama Berlian belum melihat jasad Farrel dengan kedua matanya, sampai kapanpun ia tidak akan pernah percaya pada cerita dari mulut kemulut tentang Farrel. Dengan ia selalu merasakan bayang-bayang Farrel yang terus berada di sisinya, dirinya akan selalu merasa Farrel masih ada.
Hal membuatnya putus asa adalah keluarga Farrel. Dia hanya seorang anak kecil berusia delapan tahun yang di temukan tertidur di halaman panti asuhan, tidak memiliki keluarga kandung ataupun kerabat dekat.
Angga adalah sahabatnya sejak kecil yang juga tidak bisa memberikan informasi apapun tentang keberadaan Farrel. Saat menginjak pendidikan SMP Angga di adopsi dan sempat dibawa pergi dari kota asalnya, kemungkinan hal itu yang membuatnya tidak mengetahui apapun. Bermain saat senggang dan memutuskan bersekolah di SMA yang sama lalu bekerja di tempat yang berbeda dan hanya berkabar lewat telepon tidak menjamin Angga mengatahui semuanya.
Berlian juga sempat pergi ke panti bersama Angga, tapi panti itu sudah lama tutup.
Angga dan Berlian mencari ke beradaan bu Jeny, pengurus panti. Beliau mengatakan tidak pernah mendapatkan kabar dari Farrel, setelah laki-laki itu memutuskan keluar dari panti saat mendapatkan pekerjaan.
Mencari Bu Dijah, pemilik panti. Beliau juga mengatakan sudah lepas contact kepada seluruh orang yang sempat tinggal di panti.
Telepon rumah di atas meja rias berdering, membuat Berlian bangkit dari kasurnya, sangat mengganggu. Sejak kepergiannya dari rumah besar Mahesvara, Berlian hanya mengurung diri di dalam Apartemennya, sama sekali tidak mengabari siapapun.
"Hmm...." Berlian masih malas untuk berinteraksi, membawa telepon rumah dan kembali naik ke atar kasur dan menarik selimutnya. Sore ini jakarta sedang di guyur hujan lebat, membuatnya semakin ingin berlama-lama di balik selimut.
"Heehhhhh!!!!!!!" Tersentak, di jauhkan gangang telepon dari telinganya saat suara memekik Chacha keluar, "lo udah tiga hari di jakarta sama sekali gak hubungin Mami? Gila lo? Dimana lo? Balik gak lo kerumah-----Sini mami mau ngomong sama Berlian."
Sama sekali tidak membuka suaranya saat Basagita mengambil alih telepon. "Hallo sayang? bagaimana kabar kamu? Kalau kamu tidak mau pulang kerumah ya tidak apa-apa, tapi aktifin dong ponsel kamu atau kabari beberapa orang yang membutuh kabarmu, sayang."
Berlian mengehela napas. "Unfortunately i'm fine."
Giliran Basagita berdecak. "Baik apanya. Daddy kamu terus nelponin mami menanyakan keberadaan kamu. Apalagi nyonya Udayana, menurut Daddymu dia benar-benar mengganggu, menanyakan keberadaanmu terus menerus. Memangnya hidup Daddymu hanya untuk kamu bebani sayang? sekali saja tidak membuat Daddymu pusing."
"I am really, really sorry."
"Ya setidaknya kamu kabari keluarga Mahesvara yang khawatir sama keadaanmu sayang. And don't act like everything's fine," beberapa menit saling diam membuat Basagita bingung harus mengatakan apa. "Em....."
Setelah mendapatkan ponselnya, ia hidupkan dan menatap lama layar ponselnya. Mengecek beberapa panggilan masuk dari Samuel. Berlian mengaktifkan data ponsel, dan masuk beberapa pesan di sana.
Daddy 😍
Sayang, you OK? Daddy rindu.
Daddy 😍
Baby
Daddy 😍
Holla!!!!!
Daddy 😍
My lovely
Daddy 😍
Berlian, kalau tidak
sibuk hubungi daddy.
__ADS_1
Daddy 😍
Baby, kamu dimana?
Tunanganmu sangat
mengganggu. Hubungi dia!!
Berlian bangkit dari tidurnya dan duduk bersandar. Mengetik pesan untuk samuel.
^^^Berlian^^^
^^^I'm Ok dad, miss you too.^^^
Berlian bangkit dari kasur dan berjalan menuju dapur membuat segelas coklat panas. Menatap keluar melihat tetesan air hujan membasahi dinding kaca apartemennya.
Di biarkan ponselnya berdering. Itu pasti dari Samuel.
********
"Aaaaaaa Berliaaaaaannnn..." Seorang laki-laki tinggi berlari memeluk Berlian yang baru saja membuka pintu cafenya.
"Angga apaan sih, pengap tauk," semakin mendorong kesal saat Angga mencubit kedua pipinya kuat hingga ia meringis kesakitan. "Sakit bego!!" Teriak Berlian sambil memukul lengan Angga yang masih mencuit pipinya.
"Gue kangen lo, sorry kemaren gak dateng pas lo tunangan soalnya gue lagi keluar." Berlian hanya berdehem, berjalan melewati Angga. Laki-laki itu menyusul Berlian yang sudah menginjak lantai dua menuju ruangannya. "Gue denger dari Chacha, tunangan lo ganteng ya kayak aktor india, Mami juga bilang gitu, jadi penasaran gue. Di foto cakep sih keliatannya," Berlian diam saja. "Kata Jenar waktu dia gak sengaja liat Aryan pas di gedung apa itu si Aryan emang ganteng banget," Berlian menghentikan langkahnya dan menatap Angga yang berdiri tidak jauh darinya.
"Angga, kerjaan gue banyak. Gue tau selama gue pergi lo gak pernah ngurus kerjaan gue dengan benar. Jadi, stop ganggu gue untuk hari ini." Angga hanya nyengir kuda menampakan gigi rapinya.
"Terus apa hubungannya?" Berlian tidak menjawab. "Holang kaya kan Bee? Beruntung juga lo," Berlian masih tidak menjawab. "Kapan-kapan bawa sini sih, pengen kenalan gue?" Berlian masih membungkam mulutnya sampai ia masuk keruangannya dan terkejut betapa berantakan ruangannya.
"Anggaaaaaa......... Kan gue udah bilang bego, jangan bawa cewek bule-bule lo itu masuk keruangan gue," Angga hanya berpose peace. Berlian langsung keluar, berteriak memanggil pegawainya yang berada di lantai satu. "Jenaaaaarrrr, bantuin gue beresin ruangan gue."
Jenar yang sedang melayani pelanggan langsung menepuk jidatnya dan melihat beberapa teman kerjanya. "Mati gue, kenapa gak ada yang bilang kalau Berlian udah balik. Gue lupa beresin ruanganya,," Jenar langsung berlari menaiki lantai dua menghadap Berlian yang berdiri di ambang pintu berkacak pinggang menatap kedatangannya, sedangkan Angga menatapnya lesu.
"Bee so---"
"Gak ada sorry-sorryan. Bantuin gue," Jenar mengangguk dan membantu Berlian membersihkan ruangannya.
"Ruangan lo kan luas Angga, bahkan gue siapin kasur disana, ngapa masih pake ruangan gue sih, heran," omelnya sembari ikut merapikan.
Angga mendekati Berlian. "Sorry Bee, Soalnya AC gue rusak," Berlian mengeram kesal. "Anggaaaaa....... Kenapa ada BH disini, jadi cewek lo balik gak pakai Behaaaaa, iiiihhhh Astagfirulloh Angga..." Berlian melototi Angga yang sibuk menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Jenar langsung merampas bra yang di pegang Berlian dan memasukkan keplastik sampah. "Biar gue buang Bee,"
Setelah beberapa jam akhirnya selesai sudah berdebatan antara dua sahabat itu, Berlian kembali mengerjakan tugas yang tertunda. Sedangkan Angga mulai mengerjakan tugas yang di berikan Berlian.
Selain membuka cafe mereka juga membuka bisnis online, dari alat kecantikan sampai baju pria dan wanita. Seharusnya Angga yang bertugas mengunggah seluruh brand yang mereka jual ke aplikasi jual-beli online, tapi jika Berlian tidak ada. Angga akan melalaikan tugas itu.
Tumbuh di antara keluarga yang berbeda membuat sifat Angga ikut berubah, Berlian mengenali laki-laki berumur 13 tahun dan sekarang sudah tumbuh besar menjadi laki-laki aneh menurutnya. Sifat anak-anak menghilang seketika mengikuti sikap manja dari orang tua angkatnya, hidup di luar Negara membuatnya juga berubah. Serakah akan wanita, tapi anehnya Angga sama sekali tidak menyukai produk dalam Negri.
Pintu yang di biarkan Berlian terbuka tiba-tiba terketuk, membuat Berlian yang fokus pada layar komputer berpaling. "Ada apa Dit?" bertanya pada Dito pelayan laki-laki di cafe.
"Ada tamu Bee, nunggu di bawah," Berlian mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Who is that?" Dito menggeleng, Pandangan Berlian menerawang memikirkan siapa? Karena Berlian belum memberitahukan kepada siapapun, bahwa dirinya sudah pulang ke Jakarta.
...☘️☘️...