Unforgettable Mistake

Unforgettable Mistake
UM (95)


__ADS_3

"What happen Berlian?"


Berlian menoleh menatap Cleno yang sedang fokus menyetir. "Nothing, I am Okay Cleno. Thanks."


Mobil sport milik Cleno melintasi jalan utama dengan cepat, membelokkan setir kearah kanan lalu ia menepikan mobilnya disebuah pinggiran danau yang cukup luas. Cleno membuka pintu mobil untuk Berlian, lalu melampirkan jasnya pada bahu Berlian.


"Where are we?"


Cleno pengatupkan jarinya dibibir tipisnya. "A secret place, mine. When I'm sad, uncertain, confused, happy. I always come to this place. Alone," Cleno menepuk bangku kosong. "Please sit."


Berlian menjinjing gaunnya dan duduk disamping Cleno. "Look at that," menunjuk pohon disamping bangku. "I wrote my name there. Cleno Smith, no one will ever dare to sit here," Cleno tertawa kecil lalu menatap Berlian. "Saya boleh kasih saran sama kamu Berlian?"


"What??" Berlian kaget, Cleno mampu berbicara bahasa Indonesia.


"Maaf, kalau bahasa Indonesia saya buruk. Saya sudah mendengar soal Daddy dan Uncle Sam soal menjodohkan kita. Mulai saat itu saya langsung mempelajari bahasa Indonesia dan Jerman, tidak ada yang tahu," Cleno menyematkan helaian rambut Berlian kebelakang telinga. "Saya tidak tahu kalau bertemu secara langsung denganmu membuat jantung saya berdegub sepuluh kali lipat lebih cepat."


"Clenoo...."


"Tapi disini saya tidak sedang membicarakan soal perasaan senang saya," Cleno menarik tangan Berlian. "Kalau kamu memiliki sebuah masalah, lari bukan jalan yang terbaik."


"Hah?"


Cleno mengelus punggung tangan Berlian. "Masalah itu dihadapi. Bukan dihindari, kalau kamu adalah orang yang berpikiran matang, kamu tidak akan lari dari masalah tapi kamu akan mencoba berupaya untuk menyelesaikannya."


"Cleno kamu..... " Berlian terdiam ketika Cleno menghembus tangannya, lalu mengusap.


"Cuaca disini sangat dingin." mata Berlian mengikuti arah mata Cleno, ternyata Juna ada tidak jauh dari mereka, pria itu bersandar pada mobil. "Pulanglah."


Berlian berdiri, melepaskan jas milik Cleno dan memberikan pada pria itu. "Saya sudah terlanjur mengagumi kamu, tapi saya sadar. Love does not have to have and love also cannot be forced." Cleno memeluk Berlian sebentar. "Semangat Berlian."


Berlian kembali memeluk Cleno. "Makasih Cleno. Your advice I will remember." melambaikan tangan kearah Cleno lalu berjalan menuju Juna.


Juna mengulurkan tangannya untuk membantu Berlian naik, dan melampirkan jasnya kebahu Berlian.


"Nona gak apa-apa?" Berlian menggeleng. lalu Juna membunyikan klakson pada Cleno, pria itu tersenyum. Mobil yang dikendarai Juna sudah masuk jalur utama dan mempercepat lajuannya.


Berlian bersandar pada kaca mobil. Rumah penduduk disebrang membuat jalan utama dihiasi pemandangan danau yang semakin indah. Berlian tersenyum. Bagaimana bisa mereka semua lancar dalam mengucapkan bahasa Indonesia.


********

__ADS_1


"Nona... Pizza pesanan Nona sudah saya siapkan." Juna mengetuk lagi, tidak ada jawaban. "Nona saya masuk."


"Aku udah bangun." jawaban Berlian dari dalam membuatnya mengurunkan niat untuk membuka pintu. Juna turun kelantai dasar lalu berjalan menuju dapur untuk menyiapkan sarapan pagi Nona nya seperti biasa.


Mengenakan kemeja hitam over size dan celana biru sepaha. Berlian turun sembari menyeret selimut dengan mata tertutup sampai di dapur.


"Ini air putihnya." menegak air putih dingin sampai tandas, Berlian menarik kotak Pizza dan melahapnya sembari duduk dikursi. Hal itu membuat Juna melotot kaget, sudah dua tahun ini pertama kalinya Berlian menyentuh Pizza pesanannya.


Ujung matanya menangkap sesuatu, Berlian menoleh. Dua orang sudah duduk disofa sedang menatapnya. "Haiisss.." melemparkan Pizzanya dan meneguk air putih yang baru dituangkan Juna. "Kenapa gak bilang?"


Juna melihat kearah sofa. "Sudah, sebelum saya bilang soal Pizza. Nona tidak dengar?" seketika mood memburuk. Berlian berjalan keluar dapur dan melewati dua orang itu begitu saja.


"Berlian... "


Kaki kanannya sudah berada dianak tangga, tanpa menoleh Berlian menjawab. "Lagi gak terima tamu, lain kali aja kesini."


"Berlian please, gue mohon. Tolong dengerin menjelasan gue." Berlian menatap lurus, setelah menimang-nimang akhirnya ia memilih duduk berhadapan dengan Devan dan Clara.


"Cepetan. Gue gak ada waktu buat dengerin omong kosong."


"Sebelumnya gue minta maaf, tapi dengan penuh kejujuran, Aryan sama sekali gak salah. Gue yang udah maksa dia buat balapan," terdengar Berlian menghela nafas lelah. "Waktu itu kami... "


Devan menatap Berlian. "Tolong kembali."


"Hahahha," Berlian berbaring dan menyelimuti tubuhnya. "Jangan konyol, gue gak ada gunanya disana. So, mending kalian pergi dari sini."


"Eeeiiihh,, Daddy gak pernah ajarin kamu begitu sama tamu." Samuel turun dari lantai dua, dan duduk didekat kaki Berlian yang menekuk. "Kamu harus menghormati Devan yang sudah datang kesini jauh-jauh dari kota Berlian."


"Berlian gak ada suruh mereka buat dateng kesini." memejamkan matanya.


"Kembalilah ke Indonesia."


"Iya Berlian, keluarga Mahesvara butuh lo." Berlian membuka mata ketika Juna datang menaruh Susu putih dimeja dan Bi Riem menaruh minuman untuk Devan dan Clara.


"Berlian, aku gak tahu masalah kalian apa. Tapi yang jelas, kamu harus kembali untuk memperbaiki segalanya. Jangan lari." Berlian lagi-lagi menghela nafas, Cleno juga mengatakan hal yang sama pada malam itu.


Memandang Devan tajam. "Kasih gue alasan kenapa keluarga Mahesvara butuh gue?"


"Entah gimana, gak ada yang tahu kabar keluarga Mahesvara. Aryan gak pernah kekantor. Mama bilang kalau Tante Yana udah keluar dari geng arisannya. Dan Om Abraham, beliau selalu pulang cepat." padahal Abraham adalah tipe orang yang selalu suka menghabiskan waktu dikantor.

__ADS_1


"Gak ada satupun diantara kami yang tahu dimana Aryan dan bagaimana kondisinya setelah kepergian lo," Devan mengusap wajahnya. "Gue sempet nanya sama tetangga, mereka bilang keluarga Mahesvara menjadi tertutup. Dua tahun lalu memang terjadi keributan kemungkinan waktu masalah sama lo, tapi setelah itu. Gak ada yang terlihat lagi."


"Reza dan Zaskia udah bolak balik kesana, tapi mereka dilarang masuk. Penjagaan mereka diperketat, Papa sengaja bikin sebuah pesta besar buat ngundang Om Abraham, tapi ternyata beliau menolak datang dan hanya memberikan hadiah kiriman. Zaskia udah melahirkan, dan membuat acara syukuran. Mereka sama sekali gak ada yang dateng, Tante yana dan Om Abraham cuma mengirim banyak hadiah untuk anak mereka."


Berlian meneguk susu, lalu menatap Devan. "Ada yang aneh sama mereka, selama ini mereka gak pernah tertutup sama siapapun apalagi sama Gue, Reza dan Zaskia. Mungkin dengan kembalinya lo bisa bikin semuanya jelas."


"Gena?"


"Dia lebih parah. Dia udah bener-bener di jauhin karena akhirnya dia ketahuan kalau dia berasal dari keluarga Mahesvara," Berlian jadi ingat, bagaimana nasib hubungan Gena dan Bimo. "Gak ada yang bisa deketin terus tanya soal Aryan, karena sekarang dia punya pengawal yang selalu ada disamping dia."


"Mungkin mereka malu."


"Malu untuk apa? mereka gak melakukan sesuatu yang membuat mereka malu Berlian, yang aku dengar, Om dan Tante keluar berdua saat pergi kerumah keluarga Timo Wijaya atau kerumah lo. Selebihnya mereka menghabiskan waktu dirumah."


"Zivana?"


"Cewek sialan itu," Devan bertopang dagu. "Dia lari sama penjaga yang gue bayar. Dan sialnya, penjaga itu bawa uang perusahaan keamanan gue." akhirnya Devan tahu, bahwa Zivana memang wanita licik dan lebih licik dari dugaannya.


"Waktu itu setelah saya menelpon Reza, saya mencoba menelpon Raisa tapi tidak direspon."


"Ah iya, Raisa" Devan mengangguk. "Dari yang terlihat, sepertinya Raisa tahu sesuatu. Tapi dia sama susahnya untuk ditemui, Raisa udah gak lagi datang ke Rumah Sakit Om. Saya gak tahu kenapa? tapi sekarang Raisa punya Bodyguard."


"Oh, waw," Samuel menggeleng takjub. "Kamu sudah tahu kan sayang, kamu juga sudah menerima itu semua." ucap Samuel.


"Menerima apa?"


"Pada akhirnya kamu lega, Aryan tidak melakukan hal itu. Bukan?" Samuel mengelus puncak kepala Berlian. "Kembalilah, ada sesuatu yang mencurigakan dari keluarga Mahesvara, mereka semua termasuk teman-teman Aryan membutuhkan bantuanmu untuk menemukan sahabat mereka kembali."


Berlian menguap lebar, lalu ia bangkit dari duduknya dan menaiki tangga.


Clara berdiri. "Berlian mau kemana? tolong percaya sama Vano."


Berlian berhenti tanpa berbalik dianak tangga. "Mas Juna, pesankan tiket pesawat ke Indonesia sekarang."


"Baik Nona."


Clara tersenyum kaget, ia menatap Devan dan Samuel bergantian, lalu memeluk Devan. "Akhirnya," Clara berlari menaiki tangga. "Berliaan, biar aku bantu berkemas."


Devan menatap Samuel. "Makasih Om. Devan gak tahu harus berkata apalagi sama Om selain terima kasih."

__ADS_1


__ADS_2