
Bi Riem terus menangis tidak ada hentinya. "Walaupun kita baru berkomunikasi beberapa hari yang lalu, tapi Bibi seneng bisa deket sama Non. Maaf Non kalau Bibi ada salah selama dua tahun ngerawat Non."
Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Berlian bergerak memeluk Bi Riem. "Saya gak kemana-mana Bi, lagian Bi Riem kan kerja sama Oma. Suatu saat kita bisa bertemu di rumah Oma." tanpa ragu Berlian mengucapkan nama Bi Riem, setelah ia bertanya pada Juna. Siapa Bibi yang merawatnya itu.
"Kita sering berkabar ya Non?" Berlian mengangguk lalu masuk kedalam ruang check-in.
Dalam jarak tempuh 12.885 km, dan kecepatan pemerbangan 900 km/jam. Pada waktu 14 jam 9 menit, pesawat yang Berlian tumpangi mendarat di Indonesia dengan selamat.
Berlian pergi tanpa membawa apapun, ia hanya menenteng tas kecilnya saja. Sempat terkejut ketika seseorang memeluknya dari belakang.
Berlian berbalik ketika seseorang yang memeluknya menangis keras. "Bangkee, lo kemana aja sih Bee. Gue kangen sama lo. Gak ada yang marahin gue lagi." Chacha semakin menangis tersedu-sedu ketika Berlian membalas memeluknya.
"Iya, gue udah balik sekarang." Berlian mengelus puncak kepala adiknya ini, walaupun mereka sering bertengkar bukan berarti mereka saling membenci.
"Bee, ******** alas lo." Angga langsung menarik Berlian kedalam pelukannya setelah Berlian melepas pelukannya pada Chacha.
Berlian memukul bibir Angga, ketika pria itu sibuk menciuminya untuk melepas rindu. "Napsu amat lo sama gue," lalu memeluk Angga lagi. "Iya, gue juga kangen sama lo."
"Bee jangan ngilang gak jelas lagi. Gue kayak orang gila nyariin lo tau gak." mereka saling melepaskan pelukan.
"Iya, sorry."
Angga celingak-celinguk kearah belakang Berlian. "Mana Daddy, gak nganterin lo?"
"Yaelah, emang gue anak kecil? jangankan nganter ke Indonesia, ke bandara juga gue gak dianter," menarik keduanya sampai kedepan parkir. "Mobil yang mana?"
"Ituu," Angga menunjuk mobil berwarna putih mengkilat.
"Wih, Porsche Macan. Mobil baru?" Angga menggeleng.
__ADS_1
"Bekas Daddy, lo gak inget?" Berlian menggeleng. "Gara-gara gak dipake, kata Daddy buat gue aja. Yuk masuk."
Mendesis kecil, Angga berlaga sok keren ketika menghidupkan kunci mobil. Dan masuk seperti model promosi mobil mewah. "Daddy sekarang apa-apa ngasihnya sama Angga, tu orang semakin sombong. Apalagi abis lamar si Salsa, semakin gaya dia dihadapan orang tua Salsa."
Chacha menggerutu sembari masuk keduduk penumpang depan. "Dia udah lamar Salsa, Waw."
Lajuan mobil semakin kencang, Berlian membuka kaca mobil dan menghirup udara Jakarta. "Masih sama kok Bee, bau polusi."
"Gue cuma rindu aja. Oh iya, ke apartemen aja ya?" Chacha melempar roti kepangkuan Berlian.
"Gak, enak aja. Mami kangen sama lo be-goo, lagian apart lo itu udah ada yang nempatin. Dari pada kosong, jadi Mami sewain aja deh." Berlian menghela nafas panjang, menutup kaca mobil lagi lalu ia membuka bungkus roti dan memakannya.
"Ada cerita apa?"
"Lo udah tahu kan? Daddy semalem telpon waktu ngabarin lo balik ke Indonesia, dan Daddy ngasih tahu kalau Devan dateng ceritain semuanya. Terus Daddy juga ceritain ke gue. Ya gitu, keluarga mereka terus-terusan dateng kerumah sama Cafe kita. Nanyain kabar lo dan keberadaan lo. Mereka berharap lo kembali dan maafin mereka, dan parahnya tu orang sama sekali gak nongol buat minta maaf sedikitpun. Gue sempet tanya sih gimana kabar tu orang, tapi mereka menggeleng dan terus maksa pengen ketemu sama lo," Angga mengerem mobil ketika rambu lalu lintas berwarna merah. "Gue jadi risih, makanya waktu itu gue lapor sama Daddy. Setelah itu, gak ada yang dateng gangguin lagi."
"Lo masih berhubungan sama Reza?"
"Terus sekarang?"
Angga mulai menjalankan mobilnya lagi ketika rambu lalu lintas berwarna hijau. "Gue dulu sempet dateng keacara syukuran anak dia. Tapi gue sama sekali gak lihat dia karena katanya Zaskia sempet ngusir dia. Zaskia juga kecewa sama Reza yang nyembunyiin masalah sebesar itu."
"Jadi, lo mau gimana Bee sama keluarga mereka?"
"Gue mau nemuin mereka?"
Chacha merubah posisinya menghadap Berlian. "Serius lo, terus apa yang bakal lo lakuin."
Berlian mengangkat bahunya. "Yah, apapun yang bisa buat gue lepas dari masalah ini. Mungkin maafin mereka jalan satu-satunya kan. Gue balik ke Indonesia juga karena katanya mereka butuh gue buat kembaliin semuanya."
__ADS_1
********
Setelah bermalam dan menghabiskan waktu bersama Basagita, Berlian meminta izin untuk pergi kerumah Mahesvara.
"Ngapai sayang? kalau kesana malah buat kamu jadi makin sakit hati, keinget sama semuanya." sembari mengiris kentang sebagai bahan campuran untuk membuat sup ayam.
"Mii, dengan mereka selalu datang kerumah kita aja. Itu udah menandakan kalau mereka merasa bersalah."
"Mami masih kesel dan gak ikhlas kalau Aryan udah nyakitin kamu," menunjuk kentang yang menggelinding dihadapan Berlian. "Yah walaupun Mami lega banget Aryan gak ngelakuin itu, tapi Mami masih kecewa sama mereka yang gak mau jujur sama kita."
Berlian membantu mengupas Kentang lalu memasukkan kedalam baskom berisi air. "Tapi Berlian ingin maafin mereka secara langsung, setelah itu Berlian akan nyerahin semuanya sama Aryan. Soal hubungan kami."
"Gak ada hubungan diantara kalian lagi. Kamu sudah melepaskannya sejak dua tahun lalu, jadi gak ada yang perlu diselesaikan lagi," Berlian tersenyum, ia tahu bahwa Mamanya sedang khawatir kepadanya. "Jangan hidup seperti Daddy mu Berlian. Mementingkan kebahagiaan orang sedangkan dia tidak pernah memikirkan kebahagiaannya sendiri."
"Jadi itu alasan Mami memutuskan untuk menikah sah sama Daddy? karena Mami sudah menyadari kalau Daddy itu sayang sama Mami. Bukan sebagai ibu dari anak-anaknya, tapi sebagai seorang wanita."
"Hm.."
"Mami, kalau boleh jujur," Basagita menoleh, meninggalkan pekerjaannya dan menatap Berlian. "Berlian suka Aryan. Berlian gak tahu sejak kapan, pokoknya Berlian bener-bener nyaman deket sama Aryan. Selama dua tahun Berlian sembunyi, Berlian selalu berharap diluar sana Aryan lagi berusaha cari Berlian dan setiap waktu Berlian selalu merasa ketakutan, takut kalau Aryan udah ngelupain Berlian, takut kalau Aryan kembali sama Zivana."
"Sayaaang.........."
"Kenapa Berlian gak lepas cincin ini?" Berlian mengusap cincin pertunangannya. "Karena kalau suatu saat Aryan lihat, dia harus tahu kalau Berlian masih menginginkan dia," menatap Mamanya dengan tatapan lembut. "Mi, sekecewa apapun Berlian pasti Aryan lebih kecewa. Karena dulu Aryan selalu bilang 'Berlian, jangan percaya siapapun, cukup percaya aku' Tapi Berlian terlalu bodoh, Berlian malah dengerin omongan Zivana dan pergi ninggalin Aryan."
Basagita menggebrak meja. "Okay. Kamu boleh pergi menemui keluarga itu, tapi kalau sampai kamu merasa kecewa nantinya. Pulang dan kita semua akan pergi ke Kanada, kamu harus terima dijodohkan sama putra Mr.Smith," Basagita mengetuk cincin Berlian dengan pisau. "Dan Cincin ini harus kamu buang secepatnya."
"Iya Mami, Berlian janji. Kalau Berlian merasa kecewa nantinya, Berlian akan kembali dan menuruti semua ucapan Mami."
"Baguuss...."
__ADS_1
Baru saja Berlian berdiri, Basagita sudah menyodorkan wortel yang perlu dikupas. "Pergi setelah makan siang. "