Unforgettable Mistake

Unforgettable Mistake
UM (72)


__ADS_3

"Udaaah, gue senep nihh" sembari berteriak ia mencoba melepaskan pelukan tangan Berlian, tapi tangan itu terlalu kencang melingkar dipinggangnya. "Aryaan. Bantuin gue" meraih tangan Aryan untuk membantu melepaskan pelukan Berlian.


Bukannya membantu, pria itu malah tertawa kecil melihat tingkah Berlian,


"Haah, Astagfirulloh." mengelus dadanya kasar. "Mau bunuh gue lo?" baru saja akan menarik Berlian, namun wanita itu sudah bersembunyi dibalik punggung Aryan.


"Makanya, kalo pacaran itu ngasih tau."


"Lah, ini kan gue udah kasih laporan sama lo." mendelik sinis kepada Berlian. "Yaudah hati-hati, kabarin kalo udah sampek" mendorong Aryan untuk pergi masuk kedalam ruang Check-in.


"Awas lo nyakitin Salsa. Aryan bakal hajar lo habis-habisan." memeluk Salsa untuk berpamitan, gadis itu hanya cekikikan menanggapi omelan Berlian.


"Kok aku?" Aryan memandang polos Berlian.


"Masa gue?" protes Berlian.


"Iya, iya, Aku." Aryan pasrah sajalah. Toh, ini hanya pura-pura.


Setelah berpamitan dengan kebanyakan drama. Akhirnya Angga dan Salsa melihat Aryan dan Berlian masuk,


"Dasar, bikin gue kesel aja??"


"Untung Berlian, kalo sampek cewek lain. Aku hajar kamu." dengan cepat Angga memeluk Salsa erat.


"Enggak kok sayang" disela itu, Berlian melotot menatap Angga yang memeluk Salsa dengan seenaknya.


"Dasar, gak tahu malu." Aryan menyentuh bahu Berlian.


"Ada apasih? kamu itu kayak ibu yang takut kalo anak kesayangannya tumbuh dewasa tahu gak?" Berlian melirik sedikit ketika Aryan menyandarkan kepalanya pada bahunya.


"Anak? gaklah, gue itu cuma khawatir aja. Kalo sampek Angga nyakitin Salsa itu bakal berdampak sama Cafekan? buat mereka gak nyaman satu sama lain, buat yang lain makin bimbang sana sini." jelas Berlian.


"Yaa doain aja hal itu enggak terjadi."


"Nonaaa Berliaaaannn" sontak Aryan berdiri dari sandarannya dan melihat Sandra berjalan cepat menghampiri. "Ehh Bapak, maaf saya gak lihat." Sandra membungkuk sebentar.


"Kenapa Sandra?" tanya Aryan.


"Pesawatnya sudah disiapkan."


"Tidak mau." teriakan Berlian membuat mereka menjadi sorotan. "Aryan, kan aku udah bilang gak mau pake pesawat pribadi, kita pake biasa aja. Lebih enak, pesawat pribadi itu sepi. Aryan." menggoncangkan lengan Aryan. "Kamu kan tadi pagi udah janji."


Aryan buru-buru menyadarkan diri, ia hanya terpaku ketika mendengar Berlian mengubah panggilan ucapannya. "Eh, iya. Sandra, saya sudah pesan tiket biasa, kamu saja yang pakai pesawatnya."


"Ehh, iya Pak."


********


"Sayaaaaaaanggggggg!!!!!" Udayana berlari kencang menghampiri Berlian yang berdiri dipelataran rumah.


Aryan menahan punggung Berlian, akibat pelukan Mamanya itu hampir membuat Berlian jatuh kebelakang.


"Tante kangen banget sama kamu, sayang." ucapnya. "Kamu apa kabar?" belum sempat Berlian menjawab, Udayana sudah menyerang dengan banyak pertanyaan.


"Tante, satu-satu dong. Berlian bingung mau jawabnya. Hehe." masih memeluk tubuh Udayana.


"Maaf. Abis Tante kangen banget sama kamu." membawa Berlian masuk, masih dengan merangkul bahu Berlian. "Rambut kamu bagus, Tante suka."


"Eh, makasih Tante. Tapi Berlian mau ganti lagi, terlalu pucet buat Berlian."

__ADS_1


"Nanti kita kesalon bareng ya?"


"Siap Tante."


Abraham berdiri diambang pintu, merentangkan tangannya ketika melihat mereka sudah berjalan mendekat. Berlian langsung menghamburkan diri kedalam pelukan Aryan.


"Apa kabar Om?"


"Baik sayang." melihat kearah Aryan. "Kalian menginap dimana? Gena bilang, kemarin sore kalian berangkat." Aryan mendekat mencium punggung tangan Abraham.


"Diapartment Berlian, Pa." sembari menyerahkan barang bawaannya kepada Dodit.


"Hah? Berdua aja?"


"Engga kok Ma, ada Angga sama Salsa"


"Siapa mereka?" tanya Udayana.


"Oh, mereka. Wah, seharusnya Papa titip salam buat mereka."


"Papa kenal mereka?"


"Kenal Ma, sewaktu Papa datang keCafe untuk melihat Berlian."


"Kok, Papa gak ajak Mama?" cemberut menatap suaminya, Abraham masih memeluk Berlian.


"Waktu itu pas Papa lagi meeting diJakarta Ma. Ayo masuk."


"Mana Gena?" tanya Berlian ketika mereka memilih untuk duduk diruang keluarga. "Tadi Berlian chat engga dibales."


"Dia masih dikampus, katanya ada acara gitu." Berlian mengangguk.


"Iya, Bu." datang menghampiri.


"Antar saya sama Berlian kesalon langganan kami ya. Kita berangkat kapan sayang?"


"Sekarang gak apa-apa Tante." Aryan menggenggam lengan Berlian.


"Kami kan baru dateng Ma, pasti Berlian lelah."


Berlian melepaskan tangan Aryan. "Engga kok, sekarang aja Tante." Berlian sudah berdiri.


"Yuk.."


Sepanjang jalan, tidak hentinya Udayana berbicara soal kekesalannya karena Berlian pergi tanpa mengabari. Apalagi saat seluruh keluarga Wijaya mengatakan tidah tahu dimana keberadaan Berlian. Kekesalan Udayana semakin bertambah.


Berlian mengatakan beribu minta maaf kepada Udayana. Semua terjadi tanpa kendalinya.


"Sudah gak apa-apa, kedepannya perbaiki ya sayang. Kendalikan dirimu, kamu yang punya tubuh ini, jangan mau dikendalikan oleh ego kamu dan pikiran kamu. Mereka memang menyatu dalan diri kamu, tapi sesuatu yang akan mendorong mereka menjadi tidak sejalan, Hmm."


Berlian tersenyum. "Iya, Tante."


"Tante, tahu kamu kesakitan. Tapi kamu yang punya hak untuk melarang mereka semua menguasai diri kamu."


"Iya."


"Tante juga sakit lihat kamu gitu, lebih sakit lagi kalau melihat Aryan menyalahkan dirinya sendiri kalau tahu kamu begitu." menatap Udayana lekat.


"Memangnya Aryan pernah gitu Tante?"

__ADS_1


Udayana terdiam. Sial, aku kelepasan.


"Kenapa Aryan harus merasa begitu?" tanyanya lagi.


"Ya pas-pasti dong sayang. Semua orang pasti bakal ngerasa bersalah kalau lihat kamu begitu." mulut Berlian terbuka.


"Iya sih, Mami pernah bilang gitu soalnya"


"Oh iya, By the way gimana kabar Mami kamu? Tante belum ada kabar-kabaran lagi nih." merogoh ponsel didalam tasnya. Debaran jantungnya berpacu cepat ketika mengingat Berlian bertanya soal Aryan barusan, kebodohan mulutnya bisa membawa petaka besar. Sebisa mungkin ia harus mengalihkan pembicaraan ini.


"Mami lagi ke Kanada, mau nemuin Daddy ada urusan pribadi mereka."


"Oh, jadi beneran ya Mami sama Daddy kamu itu nikah buat ambil hak asuh kamu dari Zoya?" tanyanya lagi.


"Iya Tante."


"Gak ada perasaan lebih?" disilangi dengan tawa kecil.


Berlian menanggapi dengan tawa juga. "Maunya Berlian sama Chacha sih gitu Tante."


"Semoga ada kelanjutannya yah?" mereka sama-sama tertawa. "Pak Hendra, tolong jemput Gena dikampus ya? Sudah waktunya perawatan rambut dia." disela mereka turun dari mobil.


Memastikan Nyonya dan Nona mudanya turun dengan benar, terlebih dahulu, lalu ia menunduk pelan. "Baik Bu, saya permisi jemput dulu." Udayana mengangguk.


Saat mereka masuk kedalam salon, dua pegawai sudah menyambut mereka dengan hangat.


"Duh, Madam Udayana kelihatan semakin bersinar ya? eike kaya lihat lampu monas tahu gak?" Udayana tertawa lebar.


"Kamu bisa aja. Saya gak semegah itu" mencubit lembut lengan pegawai pria dengan tubuh gemulai.


"Jeng Yana, ulalalaaa." teriak pria lebih gemulai datang menghampiri, Berlian hampir tertawa melihat penampilan pria itu, dengan baju ketat bermotif macam dan ada scarf melingkar dilehernya.


"Iya Jess." mereka saling berpelukan. "Kenalin, calon menantu aku, pasti sudah tahu kan?" menunjuk Berlian, ia tersenyum kaku ketika pria itu mendekat dan mengajak Berlian bersalaman.


"Ternyata emang cantik Jeng." menggerakkan tubuh Berlian agar berputar. "Ternyata asli."


"Haha. Pasti dong." Ucapan Udayana tampak seperti sedang menyombongkan diri.


"Angela please, Baby. Bantu Berlian okey? eike ada urusan sama Nyonya Mahesvara." pria gemulai yang menyambut mereka tadi datang menghampiri, lagi-lagi Berlian menahan tawanya ketika tahu pria gemulai itu bernama Angela.


"Okey Jessica" Berlian menggigit bibir bawahnya, ia tidak kuat. Angela, Jessica, what the hell.


"Disini salon terbaik yang pernah Tante pake sayang. Makanya jadi langganan Tante, ikut aja ya?" Berlian mengangguk.


Berlian dipersilahkan duduk dibangku kosong, banyak para pengunjung. Pantas saja ini menjadi langganan Udayana, beberapa pengunjung menyapa Berlian ramah dan ada juga yang mengajaknya bersalaman.


Mengajaknya bercengkrama sekedar basa-basi, menanyakan kapan pernikahan akan digelar. Berlian menanggapi dengan tersenyum lalu ia menjawab. "Santai saja, jangan terlalu buru-buru."


Ada juga yang memamerkan siapa pasangan mereka, ada yang sama pengusaha seperti Aryan, ada yang anak dari anggota besar negara. Berlian menanggapi dengan pura-pura terkejut lalu tersenyum.


"Nona, mohon duduknya lurus sebentar, mau Angel pijet terlebih dahulu."


Berlian menatap wanita disampingnya. "Maaf, saya ini dulu."


"Oh iya Nona, silahkan, maaf mengganggu."


"Tidak masalah." mulai merasakan pijatan halus pada bahunya.


Saat baru ia memejamkan matanya, panggilan lembut membangunkannya.

__ADS_1


"Hallo, Berlian. Sudah lama ya? kamu apa kabar?" tanya wanita itu. Berlian mengerutkan dahinya, mencoba mengingat siapa wanita ini.


__ADS_2