Unforgettable Mistake

Unforgettable Mistake
UM (82)


__ADS_3

"Gue gak lagi bercanda Ar." kesal mendengar tanggapan Aryan yang malah dianggap sebagai candaan.


Aryan menatap Zaskia dan menuntun wanita itu untuk duduk. "Apa yang terjadi?"


"Kemarin waktu acara ulang tahun Zivana, malemnya dia ngamuk waktu lo sama Berlian pergi jalan-jalan sekalian balik ke Hotel sama mobil sewaan Reza. Dia berusaha bunuh diri dengan cara nyayat dan sampai teriak-teriak seharusnya lo itu milik dia. Terus, paginya gue ngomong sama dia kalo dia gak bakal bisa rebut lo lagi. Dia bilang dia bakal buat lo sama Berlian pisah apapun caranya. Dan dia punya cara."


Devan maju. "Cara? cara apa?"


"Gue gak tahu. Waktu gue bilang Aryan gak bakal lepasin Berlian dengan alasan apapun. Dia malah bilang, kalau Berlian yang bakal lepasin Aryan dengan satu alasan."


Devan menendang meja sampai membuat Reya terpekik kaget.


"Gue bakal bunuh dia."


"Stop." Aryan berdiri dan mencegah Devan keluar ruangannya. "Berlian gak bakal tinggalin gue."


"Lo yakin?" tanya Devan.


"Yakin. Dia udah bilang sama gue. Apapun yang dikatakan orang dia bakal lebih dulu nanya sama gue."


"Aryan. Itu bukan jaminan." suara Zaskia bergetar.


"Doakan saja." ucapnya sembari berjalan menuju meja kerjanya. Ia menatap Devan. "Apa yang mau lo bilang sama gue, apa sama kayak yang Zaskia bilang?" Devan berjalan mendekat lalu duduk dihadapan Aryan, memiringkan posisi kursinya agar ia dapat melihat Aryan dan Zaskia bersamaan.


"Engga. Tapi dia bilang sama gue kalau dia bakal kasih tahu semuanya sama Berlian." Aryan melebarkan matanya.


"Kasih tahu apa?" tidak ada yang menanggapi Zaskia.


"Tapi gak mungkin dia berani, udah gue ancam soalnya. Tapi gue juga jadi makin was-was, terkadang dia bisa nekat juga." Devan menambahkan sembari menatap Aryan.


"Apa yang Zivana tahu??" Zaskia menatap keduanya lagi. Kenapa tidak ada yang meresponnya.


"Reya, antar Zaskia pulang." Aryan berdiri melihat Sandra sudah membuka pintu. "Gue mau meeting."


"Ayolah Aryan. Ini situasi yang penting dan lo malah. . . ."


"Hotel juga penting." Aryan memotong ucapan Zaskia. "Kalian pulang aja. Gue bakal tangani masalah gue sendiri."


Devan mengangguk. "Oke, gue setuju. Dan gue bakal terus pantau tu si perempuan."


********


"Aku dengar, calon menantumu bertingkah diacara pesta ulang tahunnya sendiri?"


"Hm. Sudah ditangani, dan tidak akan ada yang tahu, disana yang tersisa hanya teman-teman Vano yang bisa dipercaya." menyeruput teh hangat dengan pelan-pelan.


"Untung saja, aku tidak mempertahankan emas itu." Disa menatap Udayana disebrangnya.


"Suamiku yang mempertahankannya. Dia menginginkan menantu seorang Dokter seperti dirinya."


"Hah, sulitnya mencari menantu idaman."


"Hm. Yana, bagaimana keadaan Gena? aku sudah lama tidak bertemu dengan gadis kecil itu. Haha, dulu setiap bertemu dia selalu merengek ingin minta belikan es crem." ia harus mencari topik lain.


"Kabarnya baik, em dia sudah masuk Universitas yang bagus dan sudah memiliki pacar."


"Pacar? seperti apa wajahnya. Dia anak dari siapa?"

__ADS_1


Udayana tersenyum kecut. "Aku tidak pernah mengajarkan anak-anakku untuk mencintai orang dari kedudukannya. Dia orang biasa, ibu bapaknya seorang pedagang kecil."


"Kamu sudah mencari informasi tentang pria itu? bisa saja, dia berpura-pura dan bisa menggerogoti harta kalian." Udayana menggebrak meja.


"Dia tidak tahu siapa Gena."


"Syukurlah, coba cari tahu lebih dulu siapa dia."


Udayana maju dan bertopang dagu. "Disa."


"Iya." Disa tersenyum manis.


"Apa kamu sudah mencari tahu siapa calon menantumu itu? bisa jadi dia hanya mau menggerogoti harta kalian."


"Yana, tolong jangan bahas itu. Aku mengajakmu kesini, untuk menikmati makan siang dan membicarakan hal lain." Udayana kembali bersandar dan melirik makanan dimeja, makan siang? Cih, bahkan ia tidak sudi menyentuhnya.


"Yana." panggilnya lagi.


"Hm."


"Yang aku tahu, kalian belum memberitahunya. Tolong, beritahu Berlian secepatnya, aku tidak mau Aryan terluka."


"Jaga ucapanmu Nyonya Besar. Kamu tidak tahu apa-apa." menatap tajam sang Nyonya Mahaprana.


"Aku tahu, dan seharusnya aku juga ikut bertanggung jawab."


"Cukup!!" Menatap sini kepada Disa. "Jangan ikut campur urusan keluargaku, urus saja calon menantumu yang gila itu." Disa tidak membantah, baginya Zivana memang gila. Dan lagi, ia tidak menganggap Zivana adalah calon menantunya.


Disa berdiri ketika Udayana bangkit dari bangkunya dan mengambil tas yang ada disebelahnya.


"Yana. Aku mohon, berbaikanlah denganku, aku tidak punya teman sebaik dirimu. Aku ingin kita seperti dulu lagi." Disa menunduk, matanya memanas. "Aku janji, akan terus berusaha menjadi sahabat yang baik untukmu."


Tapi, ia tidak akan mau menerima Disa menjadi sahabatnya lagi. Sekali tersakiti, ia tidak akan mau lagi memperbaikinya.


Meskipun disaat semua orang memojokkannya, menjelekkannya, Disa tidak pernah ikut. Udayana sudah terlanjut sakit, karena Disa tidak mau membelanya, Wanita itu diam saja dan hanya memperhatikan.


Yang membuatnya semakin sakit. Dia diam saja ketika tahu bahwa Devan merebut Zivana dari keluarga Mahesvara.


Udayana berbalik. "Aku tidak akan mau berbaikan denganmu apapun alasannya." lalu keluar ruangan dan menutup pintu dengan kasar.


Nyonya besar Mahesvara tidak tahu kalau teman yang sangat menyesali perbuatannya kini sedang menangis. Menangis karena tidak bisa mengembalikan keadaan, menangis karena menyesali tindakan bodohnya, menangis karena lagi-lagi ia ditinggal oleh sahabat yang sudah ia anggap menjadi bagian dari hidupnya.


********


"Berliaaan. . . ." teriak udayana nyaring keseluru penjuru rumah.


Bu Nuri datang dari arah belakang. "Maaf Bu, Nona Berlian ada dibelakang, sedang membantu menanam dan ada Nyonya Wijaya juga."


"Gita datang?" Bu Nuri mengangguk. Udayana mendekat dan memberikan tasnya kepada Bu Nuri lalu berjalan cepat menuju halaman belakang.


Basagita sedang duduk di gazebo bersama Gena, mereka menyantap potongan buah yang disajikan oleh Bu Nuri, dan Berlian sedang membantu menyiram tanaman yang perlu disiram sore hari.


"Gitaaaa. . . ." teriaknya, membuat pemilik nama menoleh dan berlari mendekati.


"Mbaa, astaga kamu apa kabar mba?" saling memeluk, melepas rindu. Setelah pertunangan mereka tidak pernah bertemu lagi.


"Aku baik, kamu gimana?"

__ADS_1


"Aku juga baik." sembari berjalan menuju duduk santai ditepi kolam renang.


"Ku dengar kamu ke kanada kemarin?" Basagita mengangguk.


"Setelah dari Jerman aku ke Kanada menemui Samuel."


"Apa Daddy Berlian ikut kemari?"


"Ya, mereka sedang diruang kerja Mas Abraham." Udayana mengangguk. "Berlian tidak merepotkan bukan?"


Udayana tertawa. "Sangat merepotkan, semua pekerja jadi kebingungan karena Berlian ikut bergabung membantu."


"Haha, dia lebih suka menanam, katanya dia bisa diam sepanjang hari tanpa harus berbicara sama siapa-siapa. Maklum anak yang pendiam." berbisik pelan. "Coba saja beri dia pilihan. Pergi keacara pesta semalaman atau berkebun seharian penuh sampai malam. Dia akan memilih berkebun." Udayana tertawa lagi.


Bu Nuri membawa buah-buahan kearah Basagita dan Udayana.


"Silahkan Bu."


"Makasih Bu. Jadi Bu Nuri ini ibu kandung Gena?" Bu Nuri mengangguk, sedangkan Basagita manggut-manggut.


Dodit datang dan membukakan payung didekat mereka berdua, agar tidak langsung terkena sinar matahari sore.


"Kamu akan menginapkan Git?"


Basagita menggeleng. "Engga mba, aku kemari karena kata Sam dia kangen sama Berlian, sekalian katanya ada urusan sama Mas Abraham. Jadi aku diajak kesini."


"Kan bisa menginap."


"Langsung pulang mba, Chacha bisa ngambek kalau tahu kami kemari."


"Kenapa Chacha gak diajak Mi?" keduanya menoleh, Berlian berdiri didekat mereka masih mengenakan sarung tangan.


"Dia itu sibuk, katanya sore ini sampai malam ada acara ulang tahun pacarnya." tutur Basagita.


"Manzi?"


"Bukan, tapi Reno."


"Pacar baru?"


Basagita mengangguk. "Iya, katanya itu si Manzi gak asik, posesif banget, semua foto Sehun dihapus diponselnya. Jadi mereka putus dan ini pacar sesama EXO-L." Udayana menahan tawanya.


"Chacha lebih cepet cari pacar ya Git?"


Basagita menghela nafas. "Capek mba, ngasih tahu dia itu lebih sulit dari ngasih tahu Berlian. Anaknya ribet."


"Haha. . Namanya juga anak-anak. Kamu kenapa kemari sayang?" menatap Berlian. Wanita itu masih mematung mendengarkan pembicaraan Mamanya dan Udayana.


"Mau ngajak Aryan keluar malam ini boleh Tante?" Udayana dan Basagita saling pandang. Apalagi wajah Basagita menatap Udayana, tatapannya mengatakan.


Apa hanya ia yang tidak tahu?


Apa ada kemajuan dari hubungan Aryan dan Berlian?


Apa mereka berdua sudah saling membuka diri?


Apa mereka berdua bisa menikah sekarang?

__ADS_1


Tolong beritahu aku!!!


Begitulah kira-kira arti dari sorotan mata Basagita menatap Udayana.


__ADS_2