Unforgettable Mistake

Unforgettable Mistake
UM (43)


__ADS_3

Aryan dan Sekretarisnya berjalan cepat keluar dari ruang meetingnya, sembari berjalan Sandra mengarahkan Aryan tentang jadwal selanjutnya.


"Aryan,,,," suara panggilan dari seorang laki-laki bertubuh tinggi berjalan mendekat menghentikan langkah mereka. Laki-laki itu tersenyum menatap keduanya, "senggang gak? makan siang bareng kuy? kamu juga Sandra, ayo makan siang bersama."


"Terim kasih pak Devan, tapi saya masih harus menyelesaikan tugas saya."


"Kan ada Cika, sekertaris dua harus di gunakan dong."


Sandra tersenyum tipis, "Cika masih belum mampu mengerjakan semuanya pak."


"Lalu kenapa di pekerjakan kalau belum mampu bekerja."


"Karena dia mau belajar, setiap orang harus belajar agar dia mampu mengusai segala hal...." Aryan mengangkat tangannya agar Sandra berhenti menjawab.


"Untuk apa kamu beritahu kepada orang yang tidak ada sangkut pautnya pada perusahaan kita, Sandra."


Devan tertawa kecil, "anda lupa tuan Aryan. Perusahaan kami juga ber...."


"Kami bekerja sama dengan pak Mahaprana, sang pemilik hotel, bukan anaknya." Aryan menoleh menatap Sandra, "ayo Sandra jangan hiraukan dia."


"Aryannn,,," Devan berdiri menghalangi, "jadi, kalian tidak mau makan siang bersama?"


"Maaf pak Devan, pak Aryan selalu pilah pilih kepada siapa beliu akan makan siang bersama." Ucap Sandra sembari menunduk kecil dan berjalan mengejar Aryan.


"Sakit hati gue," gumam Devan ketika matanya menatap kepergian Aryan.


********


"Sandar,"


"Iya pak?" Sandra melangkah lebar mendekati Aryan, "ada yang perlu saya bantu?"


"Tidak, kita keruangan pak Abraham dulu."


"Oh baik pak,"


Sandra menekan tombol lift dan masuk setelah Aryan masuk. Lalu dia bergerak menekan lantai menuju ruangan Abraham, Sandra berdehem saat berdiri sejajar dengan Aryan.


"Kenapa? tenggorokan mu sakit?"


"Tidak pak," menyengir malu, lalu dia berpikir sejenak dan menatap Aryan. "Bapak masih belum berbaikan?" Aryan menoleh, "dengan pak Devan."


"Kami tidak bermusuhan,"


"Memangnya saya tidak tau?"


"Tunggu sampai dia menyadari kesalahannya," jawaban Aryan membuat Sandra diam.


Lalu pintu terbuka saat mereka telah sampai di lantai ruang kerja Abraham dan beberapa pegawai menunduk ketika Aryan melewati mereka, Sandra hanya membututinya sampai di depan pintu menuju ruangan sang pemilik hotel.


Dia tahu bahwa yang akan di bicarakan Aryan dan Abraham bukanlah pasal pekerjaan lebih menyangkut soal pribadi, jadi untuk apa dia ikut sampai kedalam.


Setelah Sandra membukakan pintu, Aryan masuk ke dalam ruang kerja papanya, dia melihat Abaraham tengah duduk di sofa sembari menatap layar laptopnya dan di tangannya terdapat cup mie instan.


"Pah,"


Abraham mendongak. "Ehh, kamu, ada apa? tumben mmpir ke sini?"


"Kenapa papa tidak ikut meeting?"


"Haih, meeting biasa, untuk apa papa disana selagi ada kamu."


Aryan berjalan mendekati Abraham, "besok, Aryan ingin cuti," kembali Abraham mendongak menatap putranya dengan intens, Aryan belum pernah sekalipun meminta izin selain urusan mendesak, anaknya itu sangat giat bekerja. "Aryan akan pergi bersama Berlian,"


"Uuuu, ada apa ini? Tumben??"


"Cuma pergi nonton," jawabnya.


"Uuu," matanya menyipit menatap curiga kepada putra sematawayangnya. "Silahkan, besok papa yang akan menggantikanmu bertemu client,"


Aryan tersenyum lebar. "Terima kasih papa."


"Hmmmm, kamu sudah makan siang?" tanyanya sembari menyeruput mie cup, "ayo makan, biar Dinda yang membuatkanmu makan siang."


"Mie Instan??" Aryan menggeleng. "Aryan langsung ke ruangan Aryan saja, ada berkas yang mau Aryan kerjain untuk pertemuan papa besok."


Abraham mengangguk. "Benar juga, papa suka gaya kamu."


"Kalau gitu Aryan permisi."


"Jadi kamu beneran tidak mau mie instan?" Aryan berbalik dan menggeleng kecil. "Sombong kamu, di rumah kita tidak akan bisa makan ini Aryan. Mamamu kan cerewet," Aryan hanya tersenyum.


"Lanjutkan saja makan papa, Aryan keluar,"

__ADS_1


Saat keluar dari ruangan Abraham, Sandra masih duduk di dekat pintu, "sudah pak."


"Hmmm,,,"


Mereka kembali berjalan menuju lift, saat keluar dari lift sandra berjalan mendekat, "apa mau saya reservasi tiket dan tempatnya pak karena......"


Aryan menghentikan langkahnya dan menatap Sandra, "hentikan kebiasaan mengupingmu itu Sandra."


"Tapi ide saya bagus kan pak?"


"Ya.... Iya sih, tapi saya tidak perlu bantuanmu." Aryan dan Sandra berjalan memasuki ruang kerja miliknya, terlihat sepi, mungkin mereka sedang istirahat makan siang. "Sandra kamu bisa pergi istirahat?"


"Sebentar lagi Pak, saya akan menunggu Cika," Aryan berhenti tepat di depan meja sekretaris sebelum masuk.


"Pergi saja, saya kan tidak ada jadwal lagi. Sesekali kamu juga harus makan siang bersama rekan kerja mu," ujar Aryan, Sandra selalu berdiri di dekatnya, dia akan makan siang jika Cika sudah selesai makan siang.


"Bagaimana dengan bapak???" tanya Sandra. "Mau saya belikan sesuatu??"


Aryan menggeleng. "Saya masih kenyang," Sandra berdiri di depan pintu, sudah menjadi tugasnya membukakan pintu untuk Aryan. "Oh iya Sandra, tolong kosongkan jadwal untuk saya besok.


Sandra mengangguk. "Baik pak, serahkan semuanya pada saya."


Aryan tersenyum tipis, "kamu memang bisa di andalkan."


"Apa bapak sudah memberitahu nona?"


"Belum, semoga saja dia tidak menolak," Sandrapun ikut tertawa melihat Aryan tertawa.


"Semoga saja Pak??" Mengikuti Aryan sampai ke dalam ruangan. "Pak dasi anda," karena kebiasaannya selalu memperhatikan Aryan, membuatnya refleks mendekat, merapikan dasi Aryan yang miring. Aryan tidak menepis itu, karena sekretarisnya yang selalu membantunya dalam urusan penampilan. Apalagi untuk dasi, Aryan selalu gagal dalam hal itu.


Saat suara deheman seseorang terdengar, Aryan dan Sandra sama-sama menoleh, melihat Berlian yang berdehem namun mata wanita itu masih menatap majalah di tangannya. Sandra langsung melepaskan tangannya pada dasi Aryan dan membungkuk melihat Berlian. "Selamat datang nona Berlian, kapan anda datang???" Berlian mendongak.


"Sekitar dua puluh menit yang lalu," Sandra membungkuk lagi.


"Senang bertemu dengan anda nona, kalau ada yang di butuhkan bisa panggil saya," Sandra membungkuk kepada Aryan dan Berlian, bergantian. Lalu ia keluar dengan hati merasa tidak enak. "Saya permisi,"


Di depan pintu ruangan Aryan, Sandra merutuki dirinya sendiri. "Nona Berlian tidak akan salah pahamkan?" Bertanya pada diri sendiri. "Ahh sudahlah, pasti dia akan mengerti."


Sembari melangkah gontai menuju tempat duduknya, Cika yang melihat itu menatap heran. "Kenapa kak?"


"Tidak apa-apa."


Cika hanya menggeleng, "aku sudah siap istirahat, giliran kakak, tadi nona Berlian juga sudah aku bikinkan minuman."


"Memangnya harus ya kak?"


Sandra merebahkan kepalanya di atas meja, "enggak perlu."


********


"Kok gak bilang kalau mau dateng?" Aryan duduk di sebelah Berlian.


"Terserah gue dong, kalau aja tadi gue bilang mau dateng, pasti gue gak bakal liat lo sama sekretaris lo gitu kan?"


Aryan tersenyum. "Enggak dong. Kamu pasti bakal liat yang gitu terus, udah jadi kewajiban dia buat merhatiin penampilanku," Berlian berdecih, ia mendekat dan membenarkan dasi Aryan yang sudah rapi.


"Gue bisa,"


"Bisa apa???" Berlian mengangkat bahunya tidak tahu. "Kamu bawa apa?" Melihat sebuah kotak di atas meja.


"Kue bolu, gue buat tadi,"


"Oh ya" Membuka kotak dengan rasa penasaran. "Waw, sebentar.." Aryan berdiri di depan pintu. "Sandra, ambilkan saya piring sama pisau"


"Baik pak," Sontak Sandra berdiri dengan cepat.


Lalu Aryan kembali duduk di samping Berlian dan menatapnya tersenyum, ia seperti mendapat sebuah kebahagiaan sederhana. Datangnya Berlian.


Tok... Tok...


Pintu terbuka dengan Sandra masuk membawa nampan berisi minuman dingin dan pesanan yang diminta Aryan.


"Terima kasih Sandra." Sekretaris itu membungkuk.


Berlian bergerak memotong kue dan menarus seperempat di piring, lalu sisanya ia bawa keluar dan di serahkannya kepada Sandra dengan wajah malas.


"Makanlah, kalau kamu tidak bisa menghabiskan semuanya bagikan kepada yang lain"


Sandra menerimanya dengan gemetat. "Te-rima kasih nona,"


Padahal, hari ini Berlian memutuskan untuk menebarkan senyuman manisnya. Tapi baru saja ia masuk ke Hotel ini sudah di suguhi oleh Devan yang membuat moodnya buruk. Masuk lebih dalam, moodnya di buat buruk oleh Sandra sekretaris Aryan. Sebaiknya Berlian bergegas pulang saja, apa yang akan terjadi kalau saja ia lebih lama berada disini???


"Loh, mau kemana???"

__ADS_1


"Pulang," Aryan menarik tangan Berlian untuk kembali duduk.


"Baru juga sampai, kamu udah makan?" Berlian mengangguk.


"Kesini naik mobil sendiri??" Berlian mengangguk.


"Jadi, tadi nganter Gena?" Berlian mengangguk.


"Besok, pergi nonton ya?" Berlian mengangguk.


Eh, menatap Aryan. "Nonton??" Berganti Aryan yang mengangguk.


"Film terbaru Frank Grillo, genre Thriller. Kamu kan suka dia,"


Berlian memperhatikan Aryan. "Kayaknya gue gak pernah bilang sama lo kalau gue suka Frank Grillo deh?" pandangan Aryan menerawang, mengurunkan niatnya memasukkan bolu kedalam mulut.


"Lo tau dari siapa??? Kita gak pernah akrab buat cerita tentang satu sama lain." Mengerutkan dahi melihat wajah panik Aryan.


"Cha.. Charlotte" Berlian mengangguk mengerti, ternyata adik menyebalkan itu.


"Gue mau," membuat Aryan mengukir senyuman, dia bernafas lega, untung Berlian langsung percaya. "Gue pulang ya? Mau jemput Gena, Udah gak usah di anter, gue bisa sendiri, " melihat Aryan hendak bangkit dari duduknya. Laki-laki itu kembali duduk, ia tidak akan pernah bisa memaksa Berlian untuk apapun. Sudah untung perempuan itu mau menerima ajakannya.


"Memangnya Gena sudah pulang?" Tanya Aryan sembari melihat Berlian mengemaskan beberapa barang yang sempat ia keluarkan dari dalam tasnya.


"Baru chat nih, katanya Dosennya enggak ada makanya minta jemput," menunjukkan roomchat antara Berlian dan Gena. "Yaudah, gue balik dulu yah? See you,," Berjalan keluar ruangan Aryan dan sempat tersenyum singkat kepada Sandra di depan.


Berlian berjalan pelan menuju lift, sembari merenung.


Chacha? Sejak kapan chacha tau kalo gue suka Frank, kita gak pernah nonton film berdua. yang dia tau cuma gue suka sama BMTH.


Kenapa tiba-tiba otaknya memikirkan hal itu, Berlian bergabung bersama beberapa orang untuk mengantri menunggu lift. Mereka bercengkrama seru, saling melemparkan candaan, sedangkan otak Berlian masih berpusat pada percakapannya bersama Aryan.


Ting...


Pintu lift terbuka, membuat beberapa dari mereka buru-buru masuk. Merasa ruang lift tidak cukup Berlian diam pasrah saja menunggu gilirannya nanti. Toh, pikirannya masih berputar pada Aryan.


"Eeh, non,, nona Berlian." Berlian tersenyum mengangguk kecil, ketika mendengar mereka menyapanya. Mereka semua langsung berhambur keluar dari ruang lift dan memohon untuk Berlian yang masuk terlebih dahulu.


"Loh, kenapa kalian keluar??" dia bertanya pada seorang laki-laki yang menahan pintu agar tidak tertutup.


"Nona masuk saja dulu," Berlian menurut. Sampai pintu lift hampir tertutup mereka belum juga ikut masuk.


Berlian menahan pintu lift. "Ada apa? Kenapa kalian tidak masuk??" Mereka semua menggeleng.


"Tidak nona, Silahkan nona saja," Berlian mengerutkan kening.


"Astaga, Ayo masuk saja. Aku tidak suka sendiri" Akhirnya beberapa dari mereka masuk karena merasa tidak enak pada Berlian. Dan untuk yang lainnya, memilih tertinggal karena merasa canggung jika harus satu lift dengan calon nyonya pemilik Hotel ini.


********


"Nona Berlian?" Seorang wanita berkacamata disampingnya memanggil.


"Iya, saya,"


"Kue buatan nona sangat enak," membuat Berlian menatapnya dengan jelas.


"Benarkah?"


"Benar nona, saya sampai niat untuk membukusnya nanti. Hehe," timpal pria di belakangnya.


"Wah, syukurlah," mereka kembali terdiam. Untungnya Berlian memberikan dalam porsi besar tadi. "Kalau kalian suka, akan saya buat kan lagi," mereka tersenyum canggung mendengar respon Berlian.


"Nona Berlian," Seorang pria berambut sedikit gondrong memanggil.


"Iya," Berlian tersenyum.


"Nona, Apa anda tidak apa-apa?" Membuat Berlian mengerutkan kening.


"Kenapa dengan saya?"


"Soal malam pesta perkenalan sewaktu itu," Membut Berlian mengingat jelas kejadian itu.


"Saya tidak apa-apa. Itu jelas kesalah pahaman," mereka bernafas lega. Setelah kejadian itu, banyak Artikel yang membuat pernyataan tidak enak tentang Aryan dan Berlian.


"Soalnya.... "


"Artikel?" Berlian mencelah, mereka mengangguk. "Tidak usah diperdulikan. Toh, masalahnya sudah selesai."


Ting...


Pintu terbuka, Berlian lebih dulu keluar. "Daa sampai ketemu lain waktu," mereka membalas lambaian tangan Berlian dengan menunduk Hormat.


"Ternyata Nona Berlian, wanita yang ramah ya."

__ADS_1


...☘️☘️...


__ADS_2