Unforgettable Mistake

Unforgettable Mistake
UM (50)


__ADS_3

Aryan turun menghampiri Udayana yang asik membaca majalah terbaru di tangannya. Jarinya sibuk mengetuk-ngetuk gambar tas keluaran terbaru. Di hadapannya, Berlian dan Gena sibuk mengobrol asik. "Aryaaann," teriaknya, ketika melihat putranya sudah turun.


"Kenapa ma?" Udayana bergegas menunjukkan gambar yang baru di lihatnya.


"Tas ini bagus loh,,"


"Terus??"


"Jeng Meri kemaren nunjukin ke mama, dia punya warna orange bagus banget."


Aryan tertawa mendengar itu. "Bikin sakit mata aja?"


Sontak Udayana memukul lengan Aryan. "Mama gak akan beli warna orange sayang, mama mau beli warna hitam, untuk Berlian," kali ini Berlian yang kaget, di ikuti dengan Gena di sampingnya.


Udayana tersenyum menatap Berlian yang Menunjuk dirinya. "Iya Aryan, mama mau beliin Berlian"


"Beli saja, nanti Aryan transfer," Udayana tersenyum girang. "Mama, juga beli. Gena juga jangan lupa di beliin."


"Terima kasih sayang."


Aryan mengangguk lalu berjalan, "Aryan berangkat."


Wanita itu berjalan menghampiri Aryan dan mengendus-endus tubuh putranya membuat Aryan kebingungan, "ada apa lagi ma?"


"Wangi, gak bau alkohol." Aryan menanggapi dengan gelengan.


"Papa, sudah berangkat?"


"Sudah, baru saja," pantas mamanya berani bicara terus terang.


"Ya sudah, Aryan berangkat dulu," mengecup pipi Udayana lalu berjalan keluar, kalimat Berlian membuat langkahnya berhenti.


"Bareng aja, soalnya gu-aku mau nganter Gena ke kampus," mengigit bibir bawahnya, hampir saja dia bicara tidak sopan dengan Aryan di hadapan Udayana.


********


Ada yang aneh dari sikap Aryan, baru kali ini Berlian meminta untuk menyetir Aryan diam saja, bahkan laki-laki itu memilih untuk duduk di belakang tanpa mengucapkan sepatah katapun. Gena dan Berlian saling pandang, mereka sama-sama menyadari sikap aneh dari Aryan.


Kemudi Berlian tuju ke arah hotel terlebih dahulu, padahal dia tahu bahwa menuju kampus Gena lebih cepat di bandingkan mengantar Aryan, tapi Berlian tidak biasa dengan sikap laki-laki itu.


"Kita anterin lo dulu ya? soalnya gue mau nyicip bubur di kantin kampir Gena." Ujarnya sembari melirik kaca spion tengah.


"Iya,"


Jawaban singkat Aryan membuat Gena dan Berlian saling pandang lagi, Aryan benar-benar bersikap tidak biasa.


Sampai di depan hotel juga Aryan langsung keluar tanpa mengatakan apapun, buru-buru Berlian keluar dari mobil mengejar Aryan.


"Ar tunggu...."


Membuat Aryan membalikkan badan. "Kenapa?"


"Mau gue jemput gak?"


"Tidak usah," melirik jam tangannya, "aku ada pertemuan jadi jangan jemput, kamu bukan supir ku."


Saat Aryan kembali berbalik Berlian mencegahnya, "lo kenapa?"


"Maksudnya?"


"Gue ada salah sama lo?"


Aryan menggeleng kecil, "enggak kok."


"Ya sudah gue pergi." Lagi-lagi jawaban tidak enak Aryab membuat Berlian menggerutu menuju mobil yang terparkir di pinggir jalan, dia langsung melajukan mobilnya menjauh dari halaman Hotel Mahesvara.


Aryan masih menatap mobil itu hingga tidak terlihat lagi. Kemudian ia berjalan menuju pinggir jalan dan menghentikan Taxi yang melintas lalu pergi dari Hotel.


"Pak, ke Taman ini ya???"


"Baik pak," mobil melaju dengan cepat, karena memang jarang sekali ada kemacetan disini.


Aryan keluar Taxi dan menemui seseorang yang ia ajak bertemu pagi tadi.

__ADS_1


"Aryaaan........." Mata Aryan berputar mencari sosok yang memanggilnya. Setelah menemukan orang yang memanggilnya, ia berjalan mendekat dan duduk di depan orang itu.


"Udah lama Za???" Dilihatnya Reza sudah memesan beberapa cemilan. Membuatnya langsung memesan cemilan juga untuk dirinya.


Reza mengangguk menjawab Aryan. "Lumayan, kenapa lo ngajak gue ketemu?" Bertanya to the poin, karena tidak seperti biasanya mereka bertemu di pagi hari kecuali tentang pekerjaan, Reza berpikir pasti ada masalah, tentang Berlian mungkin. Tebaknya.


Aryan menatap Reza sebentar. "Apa gue harus cerita sama Berlian??" Meminta sebuah pendapat. Tepat pada apa yang di pikirkan oleh Reza.


"Gue terserah lo aja." Kembali menatap Aryan penuh penekanan. "Lo yakin dengan perasaan lo sama Berlian?" Aryan mengangguk yakin. "Lo bimbang gini karena Devan semalam kan?" Aryan mengangguk lagi. "Kan gue bilang, gak usah tanggepin dia soal apapun."


"Mau gimana lagi, ini menyangkut soal Berlian," Reza menghela nafas berat, mengingat soal kisah cinta sahabatnya yang menyedihkan.


"Kalo kata gue sih, dari awal emang lo harus kasih tau Berlian soal ini." Aryan masih menimang-nimang lagi.


********


"Holaa Mr.Aryan???" Aryan melirik Berlian sebentar, lalu ia pergi ke atas menuju kamarnya untuk menerima panggilan itu.


"Apaa??" Jawabnya ketus.


"Jangan jutek-jutek mas," Aryan menghela nafas.


"Gue gak bisa lembut sama lo."


"Iya seterah lo aja. Sini?"


"Sibuk "


"Gue mau cerita soal Berlian."


"Mau lo apa sih??"


"Berlian,,"


"Lo mau mati???"


"Maksud gue, gue mau cerita soal Berlian. Bukan mau Berliannya," Terdengar desahan kesal dari seberang telepon.


"Hmmm..."


"Kia!!!!" Aryan langsung berdiri. "Gue kesana." Aryan bergegas mengambil jaket lalu turun dan menuju tempat yang Devan berikan.


Di jalanpun Aryan tidak ada hentinya merutuki perbuatan Devan. Berani-beraninya laki-laki itu menggunakan Zaskia untuk bertemu dengannya.


Setelah sampai dan masuk kedalam club malam, Aryan berjalan dengan tergesa matanya sibuk berkeliling mencari keberadaan Zaskia. "Aryaaann!!!!" Zaskia berteriak melihat Aryan berada di lantai bawah.


Aryan yang melihat itu, bergegas naik. "Ayok pulang." Menarik tangan Zaskia dengan cepat.


"Gak mau..." Menarik tangannya dari cengkraman Aryan, perempuan itu duduk lagi di hadapan Devan. Membuat Aryan akhirnya ikut duduk juga.


"Masa gue harus pakai Zaskia buat lo mau duduk bareng gue," Aryan tidak menanggapi.


"Mana Reza?" Zaskia menggeleng.


"Dia gak mau keluar, katanya besok mau meeting penting."


"Seharusnya lo pergi sama suami lo," menarik Zaskia untuk posisi duduk yang benar.


"Aryaan,," Penepuk pundak sahabat karibnya. "Gue udah gede. Jangankan keclub, ke luar Negri aja gue bisa sendiri"


"Tapi gak seharusnya lo pergi sama orang asing." Devan sedikit terkejut ketika melihat Aryan berkata orang asing dan menunjuk dirinya tanpa melihat kearahnya.


"Gue denger, cuy.." Mendengarkan percakapan Aryan dan Zaskia, tapi tatapannya pada wanita sexy di sebelah kirinya. Aryan malas menanggapi itu.


"Biar gue panggil Reza."


Zaskia merebut ponsel Aryan. "Jangaan, dia bisa ngamuk kalau tau gue disini sama Devan,"


"Itukan salah lo,"


"Jangan, nanti gue jadi berantem sama Reza gara-gara dia," Menunjuk Devan.


"Gue gak perduli,"

__ADS_1


"Aryan," Meraih ponsel Aryan lagi.


"Ini kalian ngobrol berasa gue ini lagi engak disini ya?" Devan menengahi.


"Siapa suruh pergi kesini sama orang asing,"


Brak....


Membuat salah satu botol minuman tersenggol jatuh dan pecah. "Gue disini," Devan menunjuk dirinya. "So, ngomong sama gue jangan main sindir-sindir"


"Jadi, lo udah tau diri kalo lo itu orang asing?" Devan terdiam. "Mau lo apa? Sampek gunain Zaskia biar gue kesini?"


"Tadinya gue mau gunain Berlian," Mencium wanita di samping kanannya. "Tapi diakan di rumah lo. Pasti om Abraham gak bakal ngebiarin Berlian keluar sendirian."


Aryan tidak menjawab, ia mengambil salah satu minuman disana. Hatinya gerah mendengar Devan menyebut nama Berlian. "Jadi, lo masih belum cerita apa-apa sama Berlian soal pacarnya itu?" Aryan bersandar menatap Devan.


"Sesuai perjanjian awal, tugas lo cuma satu. Diam!!"


Devan mendengus meremehkan. "kalau udah liat gini gue gak bisa diem kayaknya"


"Seharusnya gue sadar dari awal, kalau omongan lo emang gak bisa di percaya." Laki-laki itu tertawa lagi. "Lo tau gak?"


Devan menatap Aryan yang kembali meneguk minuman ditangannya. "Sepuluh dari omongan lo, sembilan koma lima gak bisa di percaya. And, sisanya gak boleh ada yang percaya." Aryan meneguk lagi.


"Lo tau gak?" Memberikan minuman kepada Aryan. "Walaupun semua omongan gue gak bisa dipercaya untuk siapapun. Tapi omongan gue bisa gue percaya, untuk diri gue sendiri" Aryan menerima dan meneguk minuman dari Devan. "Gue cuma pengen nyelamatin hubungan kalian aja"


"Hubungan gue fine fine aja"


"Kelihatan gak gitu"


"Semenjak ada lo," Devan meneguk minumannya. "Kalaupun ada masalah. Gak ada yang perlu bantuan lo, gue bisa sendiri ngatasi masalah gue"


"Lo gak bisa"


"Gue masih punya Reza"


"Reza gak bisa ngasih solusi apa-apa dan....."


"Dan lo bisa?" Devan mengangguk dengan bangganya. "Menurut gue lo malah gak bisa ngasih solusi. Dulu, lo bilang sama gue kalo lo bisa kasih solusi terbaik untuk kebahagiaan Zivana. Dan lo bilang kebahagiaan Zivana itu kalo gue kasih dia ke lo. Gue tolak!! Tapi lo kasih gue solusi lain. lo mau gue ikhlasih Zivana buat lo dengan cuma-cuma, atau gue harus berjuang dulu buat kebahagiaan dia. Dengan taruhan, Dengan bodohnya gue iyain padahal lo sama sekali gak kasih gue solusi apa-apa."


"Kasih dong. Solusinya adalah dengan Zivana sama gue kan? Lo harusnya terima kasih sama gue."


"Heh,"


"Bukan hanya Zivana yang bahagia tapi lo juga bahagia kan?" Aryan berdecak, mereka beradu argument tanpa memperdulikan bisingnya disekitar mereka.


"Bahagia gimana?? Bahkan gue lupa gimana caranya bahagia setiap inget wajah lo pas lagi bikin ketawa Zivana."


"Asal lo tau, Awalnya Zivana ngerengek gak mau sama gue. Tapi dia sama sekali gak kasih alesannya kenapa dia gak mau sama gue. Kalau aja dulu dimulut dia terucap 'Gue cuma mau Aryan' Mungkin gue bakal lepasin dia. Lo tau sendiri kan? Gue orangnya gak pernah ingkar janji. Bahkan gue pernah pancing dia." Mengambil minuman yang disodorkan oleh wanita disampingnya.


"Pancing gimana maksud lo??" Devan tersenyum miring. Aryan mulai tertarik untuk mengobrol dengannya, Devan merasa seperti hubungannya dengan Aryan sahabat dinginnya mulai biasa-biasa saja. Mungkin ia bisa meminta Aryan untuk memaafkannya dan memulai untuk menjalin persahabatnnya kembali.


"Gue pernah tanya sama dia 'Lo sebutun aja mau apapun gue turutin, apapun untuk kebahagiaan lo' Gue cuma butuh dia jawab, 'Gue mau Aryan' Itu aja, tapi itu gak pernah dia ucap. Yaudah apa boleh buat, berarti dihati dia gak pernah terlintas lo dong."Aryan hanya tertawa menanggapi. "Bahkan lo bisa lihat sendiri kan? Dia bener-bener kayak cinta mati sama gue, padahal gue udah gak perduli lagi sama dia." Terdengar suara tawa nyaring dari mulut Devan.


"Gue gak nanyak soal dia gimana sama lo sekarang??"


"Gue ngasih tau," Aryan tertawa meremehkan.


"What do you want?"


"Lo bakal nuruti semua permintaan gue?"


"Kecuali apapun yang menyangkut soal Berlian."


"Jadi tertarik gue sama Berlian" Aryan menatap tajam. "Bercanda"


Aryan berusaha memapah tubuh Zaskia yang bersandar pada bahunya. "Gue cuma minta satu," Membuatnya fokus kembali kepada Devan.


"Apa??"


"I want my friendship back again." Aryan tertawa, sangat keras. Bahkan ia membuat beberapa orang yang melihat kearahnya ikut tertawa.


"Wake up Dude, you are dreaming " Bangkit dan membawa Zaskia keluar dari club yang untuk pertama kali baginya, tempat yang sangat memuakkan.

__ADS_1


...☘️☘️...


__ADS_2