Unforgettable Mistake

Unforgettable Mistake
UM (83)


__ADS_3

"Nduk bangun." Bu Nuri menepuk bahu sang putri, gadis itu masih berperang dalam mimpinya dipertengahan sore.


Bu Nuri menggeleng pelan, bisa-bisanya tidur menjelang malam.


Sekali lagi, ia mengguncangkan bahu anaknya. Tidak ingin membangunkan lebih keras karena pasti ia akan dimarahi oleh nyonyanya. Gena sangat dimanjakan dirumah ini.


"Bangun, bantu ibu nyiapin makan malam. Pak Abraham mengundang semua keluarga Timo Wijaya, jadi perlu masak banyak."


Gena menguap sekali lagi, lalu ia bangkit dari kasur lebarnya.


"Iya ibuku sayang." mengecup pipi sang ibu lalu berjalan menuju kamar mandi.


Setelah siap membersihkan diri dan mengenakan pakaian yang pantas, Gena turun dan langsung membantu Bu Nuri mempersiapkan semuanya. Walaupun banyak pelayan yang membantu, tapi Bu Nuri selalu berusaha mengajarkan Gena untuk menjadi anak yang tahu kerjaan, dan tidak seenaknya karena sudah dianggap anak pada keluarga Mahesvara.


Keluarga Mahesvara dan Wijaya sudah berkumpul dimeja makan. Sengaja Udayana mengundang Timo beserta anak dan istrinya, menurutnya aji mumpung karena Samuel dan Basagita mampir.


Apalagi saat tahu, Keluarga Timo sedang berada di daerah rumahnya. Tidak akan memakan waktu yang lama untuk menunggu mereka datang.


"Ayo silahkan dimakan Mas Timo, kita makan apa adanya saja ya? Maklum ini makan malam dadakan. Hahaha." tawa Abraham memecah kecanggungan.


Maklum, Samuel dan Timo masih perang dingin.


Setelah makan malam bersama, mereka berkumpul diruang tengah dan mengobrol bersama, karena merasa tidak enak Timo dan keluarga memutuskan untuk pulang.


Tersisa Abraham, Udayana, Samuel, Basagita, dan Berlian. Bergabung Gena sembari membawa teh hangat.


"Gena kuliah semester berapa?" tanya Basagita, ketika melihat gadis kecil Mahesvara duduk langsung memeluk Udayana.


"Semester dua Tante."


"Wah baru ya?" Gena tersenyum.


"Kenapa tidak menginap saja sih Git? mau sampai jam berapa di Jakarta?" Udayana membujuk.


"Tergantung Samuel Mba, gimana Sam?"


"Biar kutanyakan Rozza dulu. Mana Aryan?"


Udayana menunjuk lantain atas dan Abraham menjawab. "Kalau sudah malam begini dia akan sibuk didalam kamarnya. Sedang ada masalah pabriknya akhir-akhir ini."


"Okelah. Aku permisi dulu." menunjuk ponsel yang sudah terhubung.


"Menelpon siapa?" bisik Udayana ketika melihat Samuel berjalan keluar halaman belakang.


"Rozza, wanita yang bertugas menjaga Chacah." Udayana membulatkan mulutnya. Waw, petugas wanita. Samuel memang mengesankan bukan? "Dulu Berlian juga ada, tapi kudengar Samuel menghentikan mereka semua, karena menurutnya Berlian sudah ada yang menjaga." pernyataan itu membuat Udayana tersipu malu, yang menjaga Berlian siapa lagi kalau bukan Aryan.


"Gita, kita akan menginap." ucap Samuel masuk dengan langkah cepat.


"Yeey. . ." teriak Berlian berlari memeluk Samuel. Sudah lama ia merindukan Samuel, karena jarak yang lumayan jauh.

__ADS_1


Tapi tidak bisa ia ungkapkan karena Berlian merasa ada sesuatu yang berbeda pada diri Daddy nya, sejak datang tadi.


"Kamu merindukan Daddy ya?" Berlian tersenyum dan mengangguk. "Daddy mau menemui Aryan sebentar. Aku boleh naik Tuan Abraham."


"Silahkan."


********


Tok. . . Tok. . .


"Permisi Tuan Aryan." Aryan menoleh melihat kearah pintu yang tidak terkunci.


"Yah, silahkan Daddy? apa ada masalah?" melihat Samuel masuk sembari menoleh kekanan dan kekiri.


"Kamu sedang melakukan apa?"


"Pabrik sedang ada masalah Daddy."


"Lanjutkan saja. Aku hanya mau duduk disini, boleh merokok?" Aryan mengangguk. Lalu berjalan mematikan AC dan membuka pintu kaca balkonnya.


Samuel duduk bersandar menghadap meja kerja Aryan.


"Waw, tidak merokok tapi punya Asbak?" melihat Aryan menaruh Asbak kayu berbentuk tengkorak.


"Berlian suka merokok disitu." menujuk sofa santai diteras balkon. "Dan itu dia yang membelinya sendiri."


"Kamu boleh mengaturnya, kalian kan sudah bertunangan. Mengatur bukan hal yang menjadi masalah Aryan."


"Terserahmu saja. Berlian anak yang tidak pernah protes kalau diatur-atur." Aryan mengangguk.


Samuel menatap Aryan saat sedang serius mengerjakan tugasnya. "Kalau pusing jangan tanya padaku, aku tidak tahu soal Pabrik."


Aryan tertawa. Tidak mungkin juga ia bertanya pada Samuel.


"Aryan, boleh bertanya sedikit?"


"Boleh." menjauhkan laptopnya agar leluasa melihat Samuel, dan meraih gelas berisi air putih disebelah tangan kanannya.


"Emm . . apa yang kamu lakukan pada tanggal 20 Oktober?" Samuel langsung berdiri ketika melihat Aryan tersedak. Pria bertubuh besar itu langsung menepuk punggung Aryan. "Hey, pelan-pelan kalau minum. Bahaya."


"Maaf Daddy." Samuel memberikan tissue kepada Aryan.


Setelah siap membersihkan mulutnya Aryan membuang sampah tissue kedalam tong sampah.


"Kenapa Daddy bertanya soal tanggal itu?"


"Hanya penasaran. Waktu itu kamu belum mengendalikan perusahaan bukan?"


"Iya betul. Masih anak muda yang belum memikirkan masa depan."

__ADS_1


"Apa? bermain tidak jelas, kebut-kebutan liar, ke club, memperebutkan wanita dengan taruhan, pulang malam. Begitu?" kembali ketempat duduknya.


Aryan tertawa, dan mengangguk. Menyetujui ucapan Samuel.


"Ada informasi yang kudapatkan tentang dirimu saat itu."


Deg.


Mematung mendengar ucapan Samuel, Tiba-tiba tangannya berkeringat, tidak mungkin Samuel tahu. Mamanya sudah bekerja keras untuk semuanya, bagaimana mungkin sampai ada yang tahu.


Samuel berdiri menghampiri meja Aryan. "Hah, bagus kalau kamu melepaskannya."


"Hah?"


"Apa Berlian tahu?"


"Ap. . Apanya Daddy?" tanya Aryan, gagap.


"Soal wanita itu?"


"Wanita? wanita mana?"


"Kau ini Tuan Aryan." menepuk bahu Aryan kasar. "Calon menantu keluarga Mahaprana lah. Wanita itu wanita yang bersarang dihatimu bukan? wanita gila yang ingin mengambil dirimu lagi."


"Zivana maksud Daddy?"


"Aku tidak perduli namanya. Apa Berlian tahu, kalau kamu menerimanya karena ingin lari dari wanita itu."


"Ah. . Hahaha, iya Berlian tahu Daddy."


"Dasar, pria gila. Berani-beraninya kau menggunakan putri kesayanganku." Aryan bangkit menghindari pukulan Daddy.


"Kami sudah sepakat."


"Jadi, kesepakatan ini yang kamu maksud waktu bilang kepadaku saat pertunangan kalian waktu itu?" Aryan mengingat sebentar, beda. Kesepakatan antara dirinya dan Berlian waktu itu kalau Farrel kembali ia akan melepaskan Berlian, itukan? Sudahlah, mengangguk saja.


"Pertahanan Berlian."


"Hah." Samuel berhasil memukul Aryan dengan keras.


Aryan mengelus lengannya. "Sakit Daddy."


"Makanya fokus. Kubilang pertahankan Berlian. Apapun yang terjadi, jangan kecewakan dia."


"Siap."


"Hmm.. . Lanjutkan pekerjaanmu, aku mau kelur." berjalan menuju pintu keluar dan menutup dengan pelan.


Setelah melihat pintu benar-benar tertutup Aryan bernafas lega.

__ADS_1


"Hah, syukurlah bukan itu yang Daddy maksud."


__ADS_2