
Sebuah rumah mewah dengan bernuansa cat warna putih, halaman yang sangat luas dengan berbagai macam tanaman tumbuh di sekitarnya, Berlian dibuat terpana oleh kemegahan rumah Mahesvara ini. Saat kakinya sudah menginjak lantai marmer berwarna abu-abu, matanya turut berkeliaran menatap keindahannya, namun dia sudag mengklaim bahwa rumah ini tidak patut untuk dia singgahi terlalu lama, mengingatkannya akan rumah Zoya.
"Ayo, masuk sayang." Perintah dari Abraham saat pria itu tengah membuka bagasi.
Berjuang lah Berlian, Ini tidak akan berlangsung lama, ucapnya dalam hati, ia sudah merasa bosan sendiri dari awal pertama masuk.
Berlian tersentak ketika sebuah tangan menyentuh punggungnya. "Ayo masuk jangan bengong,"
"Eh iya om," Abraham mendorongnya hingga masuk, lalu berjalan melewatinya dan berdiri di sebelah Udayana ditangga kecil yang lebar, mungkin digunakan sebagai pembatas ruang tamu menuju ruang keluarga. Rumah ini sangat besar, sungguh. Berlian tidak bohong.
Aryan mencekam lembut bahunya, menuntun masuk ke dalam rumah, di belakang laki-laki itu berjalan seorang pria cukup berumur menenteng koper milik mereka dengan bantuan seorang pemuda. Pria paruh baya itu menaruh koper Berlian disebuah ruangan tanpa perintah, sedangkan pemuda itu sudah membawa koper yang lain menuju ruangan yang berbeda.
Seorang wanita berpakaian rapi dengan di ikuti beberapa wanita muda yang mengenakan pakaian sama datang dan berdiri tidak jauh di belakang Udayana.
Berlian menatap datar.
"Bu Nuri, di mana Gena???"
"Tadi sedang di kamar mas Aryan, mungkin sedang mencari buku, biar saya panggilkan," bu Nuri menghentikan langkahnya ketika seorang gadis lari turun dari tangga.
Berlian meneliti penampilan gadis yang lari langsung memeluk Aryan, cukup imut, membuat siapapun akan gemas melihatnya.
"Gena, hati-hati sayang, nanti kamu terjatuh." Ucap Abraham memperingati.
"Iya Paa," gadis itu memasang wajah cemberut,
Berlian hanya mengrenyit dengan sesuatu yang membuatnya penasaran.
"Berlian, perkenalkan ini Gena, anak dari Bu Nuri dan Pak Hendra, Maklumi ya, dia memang manja kepada Aryan," Berlian membalas tersenyum saja, memang sudah terlihat jelas. Menggelayut manja kepada Aryan, sepertinya Aryan juga memberikan perhatiannya kepada gadis itu.
"Sudah seperti anak kami sendiri, jangan merasa tersaingi ya Berlian," ucapan Abraham membuat Berlian tertawa.
Siapa yang merasa tersaingi, aku bahkan gak perduli dengan keberadaan kalian.
"Kalau butuh sesuatu, bisa minta tolong kepada Gena, atau orang yang ada di depan kamu ini," Berlian mengangguk saja, tidak heran jika berhadapan dengan Udayana, wanita yang tidak pernah kehabisan kata-katanya.
"Ayo Gena perkenalkan dirimu," Gena menatap cemberut Berlian lalu mengencangkan pelukannya.
"Tidak mau," Berlian melebarkan pandangannya. Apa maksud dari gadis itu? Dari sudut pandang mata Berlian, dia akan masuk daftar orang membosankan setelah Udayana.
"Gena,,," panggil lirih pak Hendra, membuat Gena melepaskan pelukannya dan berjalan mendekati Berlian.
"Hallo, aku Gena"
Berlian menerima uluran tangan Gena. "Berlian,"
"Cantik," seluruh orang tersenyum.
"Hah?"
"Aku cantik?" Berlian menelan saliva pelan.
"Iya, kamu cantik,"
"Makasih-jangan rebut Mas Aryan ya?" Abraham dan Udayana malah menahan tawa mendengar ucapan Gena.
"Tidak akan," jawaban Berlian malah semakin membuat Udayana dan Abraham cekikikan.
"Tidak akan apa?"
"Mengambil dia darimu,
"Nona tidak suka dia?"
"Tidak, tolong, panggil Berlian saja." Aryan melirik pura-pura tidak mendengar.
"Mas Aryan itu ganteng loh?"
"Hmm,," jawaban Berlian membuat Gena cemberut menatap Aryan. Seperti meminta sebuah bantuan, Aryan malah menanggapi dengan senyuman.
"Nona, kamu beneran tidak suka sama mas Aryan?" membuat Berlian menghela nafas jengah.
"Tante dimana kamar Berlian, Berlian capek."
Capek denger ocehan gadis di depannya ini, kenapa gadis ini harus menuruni sifat dari Udayana, kenapa tidak sifat bu Nuri saja yang notabene adalah ibu kandungnya. Terlihat lebih pendiam sedari tadi. Kasihan Sekali, Berlian mengkasihani Gena yang mendapat turunan sifat dari Udayana.
"Gena, tolong antarkan Berlian ke kamarnya," ucap Udayana kepada Gena.
"Siap," Gena memberikan hormat kepada Udayana.
__ADS_1
"Kamu istirahat dulu ya sayang," Berlian mengangguk. "Kamar Aryan ada diatas," tunjuknya, Berlian mendongak melihat arahan Udayana yang menunjuk letak kamar Aryan di lantai dua. "Kamar tante disana," tunjuk Udayana letak kamar tidurnya. "Gena ada di sebelah kamar kamu, disana," tunjuk Udayana.
Entah Berlian paham atau tidak dia mengangguk saja. "Em.."
"Atau mau tante ajak berkeliling rumah terlebih dahulu?" Berlian menggerakkan kedua tangannya sembari menggeleng.
"Gak apa-apa tante, Berlian juga baru sampai, jadi tidak usah terburu-buru."
Udayana mengangguk. Lalu menatap Gena. "Sayang, tolong antar ya?"
Gena mengangguk. "Oke Mama, permisi-Mari nona." Berlian mengangguk permisi dan berjalan mengikuti Gena di depannya yang sangat bersemangat.
********
Sebuah kamar dengan desain interior berwarna manis, hitam, abu-abu dan putih. Kamar yang akan ia tempati untuk beberapa hari kedepan cukuplah luas, Berlian termangu sejenak, terlalu rapi untuk dia yang berantakan.
"Silahkan masuk nona," cukup menarik perhatian Berlian adalah sebuah rak dengan banyak buku yang tersusun rapi dan sebuah gambar cukup besar antara keluarga Wijaya dan keluarga Mahesvara, sebuah foto yang diambil setelah acara pertunangan selesai.
"Nona, boleh aku tanya?" Berlian menghela nafas berat.
Cobaan apa lagi ini Tuhan.
"Iya,"
"Kenapa tidak suka mas Aryan??"
"Siapa bilang tidak suka,"
Gena memasang wajah cemberut. "Tadi,"
"Aku tidak merasa menjawab itu."
"Berarti nona menyukainya?"
"Tidak juga," Gena menghela nafas kesal mendengar jawaban sekena dari Berlian.
"Sebaiknya nona istirahat. Jam delapan malam nanti aku bangunkan untuk makan malam, selamat sore," Gena menunduk kecil dan hendak berjalan keluar.
"Gena," Membuat gadis itu menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Berlian. "Tolong, panggil aku Berlian saja,"
"Bolehkah??" Berlian mengangguk, ia kurang nyaman jika di panggil seperti itu, seketika Gena merubah wajah dengan tersenyum lebar.
********
Bu Nuri membalas mengangguk kecil dan Berlian hanya tersenyum kepada pelayan lain, karena belum mengenal masing-masing dari mereka. Entahlah, Berlian akan mengenal atau tidak karena pada kenyataannya, Berlian saja tidak mengenali semua pelayan di rumah Timo. Kecuali Mbok Jem.
"Malam Berlian,," Abraham dan Udayana kembali menyapa Berlian yang datang.
"Aryan kemana tante?" Tanya Berlian.
"Dia itu jarang sekali makan malam, soalnya selalu banyak kerjaan. Ayok makan sayang, dia biar diurus sama bu Nuri," Berlian mengangguk dan langsung menyantap hidangan yang tersedia. Benar, perutnya sangat lapar karena perjalanan dari rumah Timo kerumah keluarga Mahesvara membutuhkan waktu lama.
"Gimana? Suka gak sama kamarnya?"
Berlian mengangguk. "Suka Tante, makasih om-tante," menatap Udayana di sebrangnya dan menatap Abraham di sampingnya.
"Itu yang rekomend rak buku Aryan loh, karena dia tau kamu suka baca buku " Berlian mengangguk lagi.
"Oh yaa?? terima kasih om,"
"Jangan lupa ucapkan terima kasih juga sama Aryan," Berlian mengangguk.
"Iya. Padahal Berliankan cuma sebentar disini,"
"Nanti juga akan kesini terus kok dan untuk kamu apapun kami lakukan, karena om juga sudah berjanji kepada Daddymu," suapan Berlian mengambang di udara.
Udayana mengangguk menyetujui ucapan suaminya mengatakan bahwa semua itu bentuk kasih sayang dari mereka karena benar-benar ingin menjaga dan membuat Berlian selalu nyaman.
"Daddy?" tanya berlian penasaran.
"Iya, dia meminta kami selalu menjagamu, dan tidak memaksamu melakukan sesuatu yang tidak kamu inginkan," Berlian tersenyum mendengar itu.
"Iya Berlian. Pokoknya kamu boleh menolak semua yang tidak sesuai sama hati kamu. Kamu jangan sungkan ya? tante pasti turutin," Berlian tersenyum kearah Abraham dan Udayana bergantian.
Setelah selesai menyantap hidangan makan malam, Berlian mencoba untuk membantu membersihkan meja atau sisa makanan yang di tolak sopan oleh Gena.
"Kalau kak Berlian yang mengerjakan. Lalu, apa kerjaanku? Bisa di gantung aku ketahuan ibu kalau aku gak membantu sama sekali,"
"Bukan urusanku," Gena mundur kebelakang ketika Berlian berusaha merebut piring di nampan.
__ADS_1
"Kalau kakak merasa tidak ada kerjaan sebaiknya kakak istirahat aja," ucap Gena sopan sebaik mungkin.
"Aku sudah istirahat tadi, gak bagus untuk kesehatan juga kalau aku istirahat terus," Berlian menatap cemberut.
"Non, jangan buat Gena menjadi gadis yang membangkan. Biarkan dia mengerjakan tugasnya," Bu nuri memberikan nampan berisi cokelat panas dan sandwich kepada Berlian.
"Apa ini?" Bu nuri menggeleng.
"Kakak gak tahu, ini cokelat panas dan sandwich," Membuat Berlian terkekeh mendengar jawaban Gena.
"Aku tahu,"
"Bu Yana, menyuruh nona Berlian mengantar ini kepada mas Aryan, jangan lupa ucapkan terimakasih," ucap Bu Nuri sembari mengetuk hidung Berlian yang menatap coklat panas di tangannya.
"Benar juga, terima kasih bu Nuri," Berlian langsung berjalan ke lantai atas menuju kamar Aryan.
"Bu, kenapa mama menyuruh kak Berlian yang anterin, biasanya kan Gena?" Memasang wajah tidak terima.
"Dia kan tunangan masmu, biarin saja. Hitung-hitung biar mereka saling mengenal, kalau kamu yang anterin. Masmu jadi gak konsen ngerjain tugasnya, gara-gara di kacau sama kamu," Gena hanya mengangguk, Gena tahu kalau Berlian dan Aryan butuh pendekatan, karena Aryan juga sempat meminta Gena memberi saran tentang dirinya dan Berlian.
"Gena bakal buat kak Berlian suka sama mas Aryan bu," Gena masih menatap punggung Berlian yang semakin jauh.
"Kamu gak perlu ikut campur untuk urusan hati mereka, biar mereka sendiri yang mengatur itu." Membuat Gena mengurunkan niatnya. "Heh, udah cepet cuci piringnya," langsung cemberut menatap Ibunya, padahal tadi ia sengaja mengajak ibunya berbicara hal lain.
********
Aryan yang tengah sibuk di depan layar komputer mengalihkan pandangannya ke arah pintu yang terketuk. "Siapa??"
Tidak ada jawaban.
Aryan berjalan membuka pintu, bermaksud melarang untuk mengganggunya, tapi yang di lihatnya adalah Berlian.
"Hei.." Berlian menyapa Aryan yang tampak terkejut dengan kehadirannya.
"Ada apa?"
"Suruh gue masuk kek. Gue berat nih bawanya," Aryan melihat nampan yang di bawa Berlian, lalu membuka pintu mempersilahkan Berlian masuk. "Wah.. Kamar cowok rapi juga," Berlian menoleh kesana kemari melihat kamar Aryan yang begitu rapi.
Laki-laki mendekati dan meraih nampan yang di bawa Berlian setelah menutup pintu, Aryan takut coklat panas itu akan jatuh karena Berlian yang tidak fokus membawanya.
"Oh iya, makasih ya, gue suka kamarnya."
Aryan tersenyum. "Sama-Sama," mengelus kepala Berlian lembut, lalu membawa cokelat panas keatas meja kerjanya. "Makasih udah bawain ini,"
Berlian mengangguk. mata Aryan bergerak mengikuti pergerakan tubuh tunangannya itu berjalan menyusuri kamarnya.
"Lo suka lukisan?"
"Iya,"
"Pernah kepameran lukisan juga dong?"
"Pernah, waktu di Jerman," Berlian melihat Aryan yang fokus menatap layar komputer.
"Lo pernah ke Jerman?"
"Pernah, beberapa waktu lalu untuk urusan bisnis."
"Ohh," Berlian mulai menyusuri rak buku di sebelah Aryan dan mengambil salah satu buku yang menarik untuk dia baca.
Berlian duduk di sisi kasur Aryan, matanya terfokus menatap bingkai foto di atas meja kecil. "Kok ada foto gue?"
Aryan tiba-tiba berdiri hingga menjatuhkan salah satu mapnya, membuat Berlian ikut terkejut. "Ee. . , mama yang taruh foto itu di situ, kalau kamu keberatan buar aku pindahkan,"
Foto yang telah di tarik Aryan kembali Berlian ambil, "biarin aja di sini, hitung-hitung buat puasin mata lo biar gak curi pandang terus ke gue,"
"Kelihatan banget ya?"
"Iyalah," Berlian malah tertawa, mengingat Aryan yang selalu mencuri-curi pandang kepadanya. "Sudah sana, lanjutin kerjaan lo aja, gue numpang baca di sini."
Aryan mengiyakan dan kembali menuju meja kerjanya, beberapa jam berlalu membuat Aryan melupakan Berlian karena terlalu fokus mengerjakan tugas kantornya, dia memperhatikan Berlian yanh sudah berganti posisi, tertidur di atas kasur miliknya sembari memeluk buku.
Aryan menghentikan aktivitas kerjanya dan melihat kearah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 23.30 pm. Cokelat panas yang di berikan Berlian sudah berubah menjadi cokelat dingin, sandwich sudah habis di makan oleh Berlian sendiri.
Aryan terus mencoba membangunkan Berlian yang terlihat kelelahan, mungkin perpuan itu terlalu kelelahan hingga dia tidur dengan nyenyak, Aryan tersenyum jahil, mendekatkan wajahnya hingga bibirnya menyentuh kening Berlian dan mengecup cepat.
Perempuab itu masih terlelap, membuatnya tersenyum kecil, dia akan terus mengambil kesempatan agar bisa bersentuhan dengan Berlian, wanita yang sudah menyentuh hatinya.
...☘️☘️...
__ADS_1