Unforgettable Mistake

Unforgettable Mistake
UM (25)


__ADS_3

"Sam.. "


"Hmm???"


"Aku ingin melamar Gita," Samuel tertawa meledek. "Jangan meledekku"


"Ups, maaf. Apa kamu yakin? Bukannya Mamamu tidak terlalu suka kamu disini, malah memilih pendamping hidup orang sini?" mengingat Zoya yang selalu merengek Andro untuk pulang.


"Aku cinta dia, aku akan mencoba meyakinkan Mamaku,"


"Iya, semua orang juga tahu," Andronico tertawa mendengar respon Samuel.


"Jadi bagaimana menurutmu?"


"Lamar saja, dia tidak akan menolakmu,"


"Kamu serius?"


"Percaya padaku?" Samuel dan Andro saling berpelukan, Andro sangat menyayangi Samuel. Karena Samuel selalu ada dan selalu mendukung apa yang diperbuat oleh Andro.


Samuel selalu dapat dipercaya, setiap ucapannya selalu ada benarnya. Dia selalu berpikir melalu nalarnya. Haha, entahlah intinya Samuel itu adalah sahabat yang terbaik.


Samuel menggenggam erat bingkai foto dirinya dan Andronico. Berat rasanya memikirkan ini semua. Samuel yang sudah berusaha membesarkan perusahaan dan mengembangkan cabang dimana-mana, sama sekali tidak dianggap oleh keluarga Andro terutama Zoya, entah kenapa Zoya begitu membenci dirinya.


********


"Sam..."


"Ada apa Gita?" Samuel khawatir mendengar suara tangisan dari Basagita lewat panggilan teleponnya.


"Bagaimana ini, sepertinya Mama Andro tidak menyukaiku. Sedari tadi kami mengobrol pandangan matanya seperti ingin aku pergi saja" Basagita menghela nafas panjang.


"Gita, dengarkan aku. Zoya orang yang baik, coba yakinkan dia dengan apa yang diinginkannya"


"Maksudnya?" Basagita belum mengerti maksud dari sahabatnya.


"Dia hanya tidak ingin jauh dengan Andro, Gita."


"Aku memang berencana setelah menikah, kami akan tinggal disini."


"Itu bagus, katakan pada Zoya sekarang." Ucap Samuel menyemangati.


"Apa itu membantu," tanyanya ragu.


"Coba saja,"


"Oke, makasih Sam. Aku akan menghubungimu nanti" Basagita lebih dulu mematikan sambungan telepon. Samuel menghela nafas lega. Kenapa untuk urusan restu ia harus mencampuri juga. Apa mereka harus terus bergantung pada dirinya.


********


Ternyata bukan pada saat pertemuan dan perencanaan untuk menikah saja Samuel harus mencampuri.


Pada saat urusan rumah tangga pun, Samuel terus ikut campur. Perebutan hak asuh Berlian, kekerasan Zoya kepada Berlian juga.


"Sam, bantu aku merebut Berlian dari Mamaku,"


"Hey tenang," Samuel berusaha menenangkan Andro yang tampak gelisah.


"Ternyata selama ini kita dibohongi. Mama sama sekali tidak merawat Berlianku dengan baik," ucapan Andro membuat Samuel terkejut.


"Kamu dimana?"


"Aku baru mau menuju Jerman Sam, Tolong. Bantu aku untuk merebut Berlian,"


"Aku ke Jerman sekarang," Samuel langsung mematikan sambungan telepon. Padahal saat itu Samuel sedang melakukan tugas perusahaan di Kanada. Andro selalu tidak bisa mengontrol emosinya, membuat Samuel mau tidak mau harus membantunya.

__ADS_1


********


Pada saat kepergian Andro untuk bertugas juga,


"Sam, Kamu menyayangi Berlian dan Charlotte bukan?"


"Yah, Aku sangat menyayangi mereka,"


"Tolong jaga mereka saat aku sudah tidak ada," Samuel tertawa.


"Kamu bicara apa sih Andro,"


"Setiap bertugas, aku selalu takut, bahwa aku tidak hanya meninggalkan mereka untuk waktu sebentar. Besok aku bertugas jauh, jadi aku ingin kamu menjaga mereka,"


"Sudah pasti, bukankah itu tugasku setiap kamu pergi bertugas," Mereka berpelukan sangat erat. Samuel tidak tahu, kalau itu adalah pelukan terakhir mereka.


Pada saat kematian Andro, rupanya Andro sudah menulis sebuah surat wasiat, Samuel beberapa kali menghela nafas berat mengingat surat itu.


Hai, Samuel Bramantio sahabatku.


Kamu sahabat yang begitu berarti untukku, terimakasih sudah mau menjadi sahabat terbaikku, mau mengenalkanku pada seorang wanita yang amat sangat baik seperti dirimu.


Berkatmu, aku menemukan wanita yang selama ini aku cari, wanita yang menerimaku apa adanya. Mau menjadi wanita kedua yang aku cintai setelah ibuku.


Aku sudah menulis surat ini setelah aku mendapatkan pekerjaan yang amat beresiko untukku.


Setelah kamu membaca ini, tolong katakan pada ibuku, bahwa aku sudah menyerahkan hak atas Berlian kepadamu.


Terserah bagaimana pendapatnya, yang jelas aku sangat, sangat berterima kasih jika kamu mau menerima permohonan terakhirku.


Tolong jaga putriku Charlotte, dia gadis kecil yang lugu, ambil dia dari mama ku. Aku lebih tenang jika Anak-anak kami dirawat oleh ibunya sendiri. .


Sampaikan pada mamaku, Zoya.


Aku sangat menyayangi dia, mamaku. Aku harap dia tahu bagaimana menjadi seorang nenek yang baik untuk kedua cucunya. Tolong untuk menjaga ibuku juga ya. Walaupun dia wanita yang membosankan, hehe.


Sam, ada beberapa surat yang sudah aku ganti menjadi namamu, tolong jaga untukku.


^^^Ttd. Sahabatmu, ^^^


^^^Andronico.^^^


********


"Aku berjanji dan bersumpah Andro, aku akan menjaga Berlian dan Chacha dari apapun. Aku berjanji akan membahagiakan mereka, menjadi Ayah yang terbaik untuk mereka walaupun kamu tidak akan pernah tergantikan," Samuel mengucap janji itu ulang, ketika mengingat semuanya.


Dan bahkan hingga kini. Kehidupan keluarga Andropun, Samuel tetap campur tangan. Seperti menugaskan beberapa orang untuk menjaga Berlian dan Chacha dari kejauhan.


Siapa saja yang berada di dekat Berlian dan Chacha, Samuel tahu. Semua itu ia lakukan karena kasih sayangnya kepada buah hati Andro dan Basagita. Dan juga karena sebuah janji kepada Almarhum Andronico.


Tentang Zoya, juga Samuel tahu. Apa saja yang wanita tua itu lakukan, jika tidak karena Andro yang meminta ia tidak akan mau melakukannya. Sekarang Berlian dan Chacha yang menjadi alasannya bertahan pada keluarga Wijaya.


"Daddy," Chacha mendekati Samuel yang menatap bingkai foto ditangannya. Melihat itu sebuah foto Samuel dan Andro yang masing-masing menggendong anak kecil.


Chacha yakin anak kecil itu dirinya dan Berlian. Chacha tidak bisa berkata apa-apa, kebaikan Samuel membuat Chacha sedih hingga meneteskan air mata.


Samuel memeluk Chacha yang duduk bersimpuh dibawahnya. "it's OK sayang, Daddy baik kok. Hari ini Daddy akan pulang kekanada. Ayo bangkit, jangan duduk lantai, dingin," Chacha berdiri dengan bantuan Samuel. "Lain kali, kita jalan-jalan bareng ya?" Chacha mengangguk menyetujui.


Samuel keluar kamar diiringi Chacha yang menarik kopernya, berpamitan kepada seluruh keluarga Wijaya dan keluarga Mahesvara, bahkan Basagita sempat menangis dalam pelukannya. Wanita itu sangat mengasihani Samuel, baginya Samuel adalah orang yang sangat berharga dari apapun, menggantikan Andro menjaga kedua putrinya dari jauh sangatlah sulit, namun tetap Samuel lakukan.


"Maafkan aku Sam," ucap Basagita lirih.


"Tidak masalah," Aryan mengambil alih koper ditangan Chacha dan membawa masuk kedalam mobil.


"Sam tunggu," Samuel menghentikan langkahnya untuk masuk kedalam mobil, berbalik menatap seseorang yang memanggilnya. Muak rasanya melihat orang itu mendekat. "Maafkan aku soal semuanya"

__ADS_1


"Aku tidak Perduli itu Timo," Bahkan setelah pesta selesai, ia dan Timo sama sekali belum berbicara.


"Sam,"


"Aku punya saran, Sepertinya kau harus belajar bagaimana caranya menghargai seseorang," Samuel melangkah pergi meninggalkan Timo. Tentu saja ucapan Samuel didengar oleh semua orang dirumah, bahkan Abraham dan Udayana juga mendengar. Timo hanya diam, bagaimana bisa ia begitu tega terhadap seseorang yang sangat penting untuk keluarganya.


Berlian dan Aryan bertugas mengantar Samuel kebandara. Sepanjang perjalanan Berlian memeluk dan menangis tidak ingin berpisah dengan Samuel.


Saat sampai dibandara juga Berlian terus memeluk Samuel.


********


"Daddy mau pulang, bukan mau perang? Kenapa tangisanmu berlebihan sayang, jangan sedih dong." Samuel menghapus airmata yang jatuh dipipi Berlian yang tersenyum mendengar lelucon Samuel.


"Dad.. Kalo Berlian telepon ingin Daddy ke Indonesia Daddy mau kan?" Tanya Berlian.


"Ya mau dong sayang," Samuel tersenyum dan memeluk Berlian erat, menatap putrinya sejenak, lalu Samuel berjalan mendekati Aryan, menepuk bahu aryan yang tegap. "Mulai sekarang aku percayakan Berlian padamu, tolong jaga dia,"


Sekarang yang Samuel percaya untuk menjaga Berlian adalah Aryan. Hatinya akan tenang meninggalkan Berlian dengan Aryan dibandingkan keluarga Berlian sendiri, Samuel sudah yakin bahwa Basagita tidak akan pernah bisa berkutik jika disitu ada Timo dan Zoya.


"Pasti om, serahkan padaku," Samuel dan Aryan saling berpelukan.


"Dadyy.,,,," ucap Samuel mengingatkan.


"I-ya Daddy, Pasti."


"Tapi ingat, aku akan tau apa saja yang kamu lakukan kepada anakku," Aryan tersenyum. "Termasuk pada malam konser Bring Me The Horizon." Tiba-tiba Aryan merasa jantungnya berdegub kencang. Samuel tertawa melihat perubahan pada wajah Aryan. "Haha... Aku maklumi, Berlianku memang menggiurkan?" Berlian mengerutkan dahinya.


"Daddy, Memangnya Berlian ice cream?" protes Berlian polos.


Sekali lagi samuel memeluk Berlian untuk kepergiannya kali ini sebelum masuk keruang tunggu.


********


"Ahhh kenapa es degan ini seger banget sih. Mas mau satu lagi dong," Berlian mengangkat tangannya agar penjual es degan melihatnya. Aryan hanya menggeleng melihat Berlian yang seperti baru pertama kali meminum es degan.


"Ini pertama kalinya gue minum es degan," Aryan menatap Berlian lagi, mengerjap matanya beberapa kali. Ternyata benar, ini pertama kalinya Berlian minum es degan.


"Serius? Kenapa?" Berlian mengangkat bahunya.


"Daddy ngelarang gue sama Chacha buat gak jajan sembarangan, dia bilang bakal mantau kita terus. Gue kira itu anceman doang. Ternyata daddy beneran tau, ngirim bukti foto kita lagi jajan diluar terus besoknya Daddy balik ke Indonesia dan nyuruh kita gak boleh kemana-mana kalau bukan Daddy yang anter," Aryan tertawa.


"Segitunya?" Berlian mengangguk. "Tenang aja, kali ini aku yang bakal bertanggung jawab. Es degan juga gak buruk kok, kamu kan cuma minum es degan murni," Berlian mengangguk lagi.


"Gue masih gak ngerti kenapa Daddy selalu bilang, dia tau soal malam konser Bmth. Emang ada apasih?" Aryan tersedak mendengar ucapan Berlian, membuat Berlian sontak mengambil tissue disampingnya dan memberikan kepada Aryan. "Lo gak apa-apa?"


Aryan menggeleng dan mencoba mengambil nafas dan meminum air putih yang disodorkan oleh pedagang es degan. Aryan mengangguk berterimakasih. "Gak apa-apa, pulang yuk??"


"Es degan gue?"


"Dibungkus aja mas," menatap penjual es degan. Berlian menyetujuinya, karena hari sudah semakin sore.


...☘️☘️...


Gais. . .


Mon maap ni yak, Lagi banyak kesibukan. Jadi rada lama Updatenya.


hehe


follow ig aku dong : Intanksm


tengkyu yah,


Jangan lupa, like cerita ini. Bye Bye

__ADS_1


__ADS_2