
"Uhhhh, menantu mami yang gantengnya kayak Shahrukh Khan," mencubit pipi Aryan gemas, lalu ia merubah raut wajahnya lagi. "Jangan ulangin lagi." Lebih baik Aryan mengangguk saja, untuk mempercepat waktu introgasi, matanya sudah sangat letih.
Basagita melangkah masuk. "Mi, sebenernya,"
"Ssttt. Sudah, istirahat sana, kalian kelihatan kurang tidur.." Aryan dan Berlian masuk kedalam rumah dengan perasaan sedikit lega.
Sampai di ruang tamu, Aryan dan Berlian saling melempar pandangan ketika melihat dua orang pria duduk berlutut di lantai.
"Loh?"
"Kamu kenal?" tanya Basagita melihat kearah Berlian yang sepertinya sangat mengenali laki-laki ini.
"Pak Jerden sama mas Juna, mas yang nganterin Berlian semalam,"
"loh, bukannya kamu pergi bersama Aryan?"
Berlian menelan salivanya, Juna maupun pak Jeden tidak ada yang berani mengangkat kepalanya, "Berlian pergi ngikutin Aryan dengan bantuan mas Juna."
Menatap Pak Jerden. Pikirannya sudah yakin, pasti pak Jerden mengadu pada Basagita soal apapun. Susah sekali pak Jerden diajak untuk kerjasama.
"Pak Jerden gak ada bilang sama mami, mami tahu sendiri lihat dari CCTV," Berlian diam, mamanya bisa membaca pikirannya ya. "Kamu ngikutin Aryan?" Berlian mengangguk. "Kamu tahu yang kamu lakukan itu sebuah kesalahan sayang?" Berjalan duduk diatas sofa dengan Angkuhnya.
"Maaf, Berlian cuma...."
"Kamu tahu, maaf kamu tidak berguna untuk mereka berdua," memperhatikan kuku yang baru ia cat. Sembari menunggu Berlian mengumpulkan kata-kata untuk menjadi alasannya.
"Berlian yang udah paksa Pak Jerden buat izinin Berlian pergi.."
"Mami tahu. Seharusnya Bapak melakukan apa, Pak?" Menunggu Pak Jerden berbicara.
"Seharusnya saya tetap melarang nona Berlian pergi, bu..."
"Tapi faktanya Bapak melakukan apa?"
"Kesalahan, membiarkan nona pergi, bu," Basagita menatap Berlian sembari tersenyum, bukan tersenyum ramah.
"Pak Jerden tidak bersalah mi, Berlian yang memaksa pak Jerden membiarkan Berlian pergi," mencati segala cara agar pak Jerden selamat, pasalnya Basagita akan sedikit menakutkan jika menyangkut hal serius.
"Lalu salah siapa? apa salah bu Jannah?" Berlian langsung menggeleng.
Bu Jannah hanya menunduk, "kenapa jadi Bu Jannah yang salah, Berlian yang salah.."
"Kamu tahu kalau selama ini, Daddy kamu selalu nyuruh orang untuk ngawasin kamu dan Chacha selama dua puluh empat jam?" Berlian mengangguk.
Basagita mengangkat jari lentiknya kepada Aryan, menyuruh calon menantunya itu untuk diam. "Mami tidak mengizinkan kamu untuk mengatakan apapun, Aryan."
Membuat Aryan sedikit menundukkan kepalanya.
Dalam hati Basagita tertawa. Kapan lagi dia akan membentak dan membuat putra Mahesvara diam.
"Jangan suka bertindak gegabah Berlian? Bagaimana kalau sampai Daddy kamu tahu tentang hal ini?" Berlian menunduk dalam, dia bahkan sampai tidak memikirkan soal apa yang akan Daddynya akan lakukan. "Mami sudah nyaman dengan pekerjaan Pak Jerden, belum lagi istrinya yang selalu baik dan membantu kalau mami sedang kesulitan melakukan tugas sebagai ibu," menatap Bu Jannah yang berdiri tepat di samping Berlian.
"Maaf...." Lirih terdengar,
Basagita menghela nafas. "Mami gak mau kalau sampai Daddy kamu membuat pak Jerden tidak bekerja lagi disini, Berlian."
"Mami, semua itu terjadi karena Aryan yang mulai," Basagita menatap Aryan tajam.
"Siapa yang mengizinkan kamu berbicara, sayang?" lagi-lagi kalimat Basagita membuat Aryan terdiam, "mami tidak tau apa yang akan melakukan terhadap kamu Aryan, sudah lalai menjaga Berlian."
Berlian maju, "ini bukan salah Aryan, mami."
__ADS_1
"Lantas???"
"Mami, Berlian gak kenapa-kenapa kok. Kenapa Berlian terlalu di kekang? Berlian Oke, Berlian pergi karena Berlian ngelakuin hal yang benar," Aryan menggenggam tangan Berlian, menahan Berlian untuk tidak ambil gegabah dalam berbicara.
"Pak Jerden..." Panggilan itu membuat satpam abadi mendongak.
"Iya, bu. Saya,,"
"Jangan ulangi ini ya pak, mulai sekarang bapak boleh membentak Berlian kalau dia berani melawan ucapan bapak."
Pak Jerden menatap Berlian sebentar. "Baik Bu"
"Saya tidak dengar pak..."
"Saya berjanji Bu, saya akan membentak nona Berlian kalau nona Berlian membuat kesalahan, dan tidak mendengar ucapan saya."
Sebelum menunjuk Juna yang berlutut di samping pak Jerden, Basaguta sempat melirik tajam Berlian. "Untuk kamu,,,,"
"Iya, Nyonya"
"Jangan panggil nyonya, aku bukan majikanmu"
"I-ya, Bu..." Basagita menyodorkan amplop cokelat sampai menyentuh lututnya. "Pensiun dari kerjaanmu itu, pergilah ke alamat itu secepatnya. Disana kamu akan mendapatkan pekerjaan yang becus, bahkan kamu tidak akan membuat anakku terluka lagi. Buang motor bututmu itu, menyebutnya saja sudah membuatku emosi..."
Juna menatap pak Jerden, pria itu mengangguk, menyuruh Juna untuk menerimanya tanpa pikir panjang. "Te-rima kasih bu,"
"Hmm, pergilah. Aku memaafkan kalian." Basagita lebih dulu bangkit dari duduknya. "Bu Jannah, kita buat cemilan yuk,"
"Iya, Bu" mengangguk permisi kepada Berlian dan Aryan, saat melewati suaminya yang masih berlutut ia memukul keras. "Dasar nakal." Lalu memukul Juna yang masih menatap amplop cokelat ditangannya. "Akhirnya kalian berhenti main catur juga ya," lalu mempercepat langkahnya mengejar Basagita.
********
"Kamu mau pulang bukan karena habis mami marahin kan, Aryan?" Basagita menatap datar kepada calon menantunya.
"Umm, Berlian sudah mengakui kalau dia yang salah dalam kasus ini," ucapnya lagi dan masuk kedalam kamar putrinya yang di gunakan tempat istirahat untuk Aryan.
Basagita juga tidak tahu, kenapa dirinya menyuruh Aryan untuk tidur dikamar Berlian. Padahal dirumah ini banyak kamar kosong. "Jangan pulang."
Aryan tertawa kecil sembari memasukkan baju kedalam kopernya. "Kenapa mami yang merasa kehilangan begitu??"
"Mau nunggu Berlian yang merasa kehilangan, keburu Mami menua dan tidak cantik lagi Aryan!?" Benar juga, Berlian bukan tipe perempuan yang bisa menunjukan rasa apapun kepada orang lain. "Papa kamu bilang kok sama Mami, kamu bisa pulang kapan saja, tapi tidak sekarang juga. l"
"Jadi kapan?" Basagita mengangkat bahunya.
"Tahun depan, Maybe.."
Aryan tersenyum. "Mam, kapan-kapan Aryan akan main lagi kesini, okey?"
"Promise?"
"Emm," tersenyum tulus, Basagita membantu Aryan untuk turun dan berpamitan kepada Chacha dan bu Jannah yang masih menginap beberapa hari.
"Ahh, mas Aryan,," tiba-tiba Chacha berlari memeluk Aryan. "Enggak kerasa tahu, baru juga kita beberapa kali pergi bersama, eh sudah pulang saja."
"Namanya juga orang sibuk," timpal Berlian.
"Ikut campur aja lo, Jubaidah.."
Tidak mendengarkan Chacha. "Pesawat lo jam berapa?"
"Jam sepuluh.." Ucapnya setelah menatap jam tangan.
__ADS_1
"Berangkat sekarang aja gimana?? lo kan perlu check-in." Aryan mengangguk menyetujui dan berpamitan kepada Basagita, Chacha dan bu Jannah.
"Yah, padahal sebenarnya aku ingin ikut mengantar. Tapi kata mami gak boleh karena takut akan menganggu kalian berdua, l"
"Pinter anak mami," Basagita mengelus puncak kepala Chacha, gadisnya menatapnya cemberut.
"Lain kali kita akan main bersama, okey?" Chacha mengangguk, membalas lambaian tangan Aryan yang berjalan keluar mengejar Berlian yang sudah masuk dan duduk di belakang kemudi.
"Loh, gak aku aja yang nyetir?" tanyanya ketika Aryan duduk dikursi penumpang.
"Gue bisa," menghidupkan mesin dan membawa pelan mobil keluar halaman rumah. Sebelum itu Aryan sempat berpamitan kepada pak Jerden yang sudah mulai bekerja seperti biasanya sejak insiden pagi itu.
"Lo mau pulang cepet ini, beneran bukan karena sikap mami kemarin kan???
Aryan menggeleng. "Aku tidak sepengecut itu, Berlian. Tadi malam papa telepon dan meminta aku untuk menggantikannya pada pertemuan bersama klien." Sembari mengecek tiket pesawat yang ia pesan semalam di ponselnya.
"Memangnya om Abraham kemana, sampai lo harus gantiin?"
"Lagi liburan ditempat keluarga mama, kebetulan Gena juga lagi libur," Berlian manggut-manggut. "Oh iya, mas Juna beneran gak ngojek lagi?" Melihat kearah pangkalan ojek yang seharusnya ada Juna disana.
"Pastinya lah," ikut melihat kearah pangkalan ojek. "Mungkin mami sudah memberikan sesuatu yang menjanjikan untuk hidupnya,"
"Memang apa yang tante Gita kasih?"
Berlian mengangkat bahu. "Mana gue tau," menginjak pedal gas mulai mempercepat lajuan mobilnya, setelah keluar dari area perumahan.
********
Setelah sampai diparkiran Bandara, mereka masih terdiam di dalam mobil. "Huh, cepet banget sampek Bandaranya," Berlian tertawa mendengar suara kekesalan dari Aryan.
"Dari rumah kebandarakan enggak terlalu jauh sih," Berlian juga merutuki dirinya sendiri, padahal ia sudah membawa mobil dengan pelan tadi, mereka sama-sama kembali terdiam. "Um, lo gak mau masuk? Gue anter.."
"Oh ini mau turun kok," berlagak merapikan carger, handsets yang tidak berserakan didalam tasnya.
Mereka keluar mobil secara bersamaan lalu berjalan menuju bagasi mobil, mengeluarkan koper dengan bantuan Berlian alakadarnya.
Bahkan untuk berjalan menuju pelataran Bandara juga mereka sengaja berjalan perlahan, dihati masing-masing tidak rela jika harus berpisah.
"Yaudah masuk sana, gue langsung pulang setelah liat lo masuk nanti," Aryan meremas jemarinya yang menggenggam koper dan menatap Berlian di hadapannya. Ia sangat ingin memeluk Berlian sebagai tanda perpisahan, tapi tidak bisa ia lakukan itu. Seluruh tubuhnya membeku. "Lah kok malah bengong, sana masuk,"
Aryan mengangguk dan berbalik.
"Aryaaan" Dengan cepat Aryan berbalik mendengar panggilan Berlian. "Hati-hati yaa.." Aryan tersenyum.
Semakin membuat hatinya ngilu, Berlian berbalik tanpa melihatnya lagi.
Tubuh Berlian semakin tidak terlihat, "Ayo Ar, katakan sesuatu pada Berlian..." Merutuki dirinya sendiri, kakinya melangkah pelan dengan senyuman mengembang dia berteriak, "Berliaaan....!!!!" Teriak Aryan, membuat perempuan itu berbalik ketika hampir sampai teras menuju area parkir.
Aryan berlari kencang dan langsung memeluk Berlian erat. Berlian tampak terkejut namun peesekian detik ia tersenyum dan membalas pelukan itu.
"Yaelah, lo kayak mau pergi jauh tau gak?"
Aryan menjauhkan kepalanya dan menatap Berlian, tangannya masih melingkari pinggang Berlian, "kalau ada waktu. would you like to date me?" Berlian tertawa dengan tangan masih melingkar di leher Aryan.
"Lo, ngejer gue cuma mau bilang ini?" laki-laki di depannya mengangguk. Demi apapun Berlian sangat menginginkan sebuah kencan.
"Kamu mau?" Berlian mengangguk, membuat Aryan tersenyum begitu bahagia. Mereka kembali berpelukan dan Aryan berbisik kecil di telinga perempuannya. "I waited for it,"
Berlian mengeratkan pelukannya. "Me too."
__ADS_1
...☘️☘️...