Unforgettable Mistake

Unforgettable Mistake
UM (94)


__ADS_3

Tok.... Tok.... Tok....


Clara melongok kedalam. "Daddy, Uncle, sedang apa?"


"Hey Clara, sini sayang. Kenapa kamu mengintip?" tanya Samuel.


"Apa kalian sedang sibuk? anyone wants to meet you uncle Samuel." Clara semakin mengecilkan pandangannya.


"Siapa sayang?" hal itu membuat Samuel dan Mr.Smith berdiri menuju pintu. Lalu membuka pintu lebar-lebar. "Siapa dia?" tanya Samuel lagi.


"Hello Mr.Samuel, My Name is Devan Evano Mahaprana." mengulurkan tangannya dihadapan Samuel.


"Halo Devan, siapa Devan ini Clara?" menatap Clara, sembari menautkan tangannya pada Devan.


"I am clara's fiance." Samuel menatap Mr.Smith.


"Are you Crazy Mr.Smith, kamu tidak mengundangku saat tunangan Clara. Sombong sekali." Samuel menepuk bahu Mr.Smith.


Hal itu membuat Mr.Smith tertawa. "Haaiiss, pada saat tunangan Berlian pun kamu tidak mengabariku. "


"Aku sudah mengundangmu, tapi apa kata sekertarismu itu? dia bilang kamu sedang berada diJepang."


"Haha, benar juga sih."


Samuel menepuk bahu Devan kencang. "Waah kamu tampan ya."


"Dia keturunan Indonesia dan India."


Jawaban Mr.Smith membuat Samuel menatap Devan. "India? waw, dulu mantan calon menantuku juga. Tapi masih tampan dia."


"Benarkah?"


"Haiis,, lupakan soal dia. Jadi kamu bisa berbahasa Indonesia?" melihat kearah Devan, Devan mengangguk.


"Dia ini calon menantu idamanku, Sam." tampak Mr.Smith sangat membanggakan Devan.


"Daaadd, Uncle Come on. Ini bukan soal pertunangan Berlian dan Clara atau soal siapa tunangan kami. Tapi ini soal seseorang yang ingin dibicarakan oleh Vano." mendadak menatap Devan serius, pria itu berdehem untuk menetralkan rasa gugupnya.


"Mau membicarakan apa Vano? ayo masuk." Mr.Smith memerintakan semuanya untuk duduk disofa miliknya. "Apa ada masalah Vano?"


"Sebelumnya, saya minta maaf Tuan Samuel."


"No, panggil aku dengan santai saja."


Devan menghembuskan nafas pelan. "Om Sam," panggilan itu membuat Samuel mengangguk. "Saya mau minta maaf yang sebesar-besarnya sama Om Sam."


"Oke, soal apa?"


"Aryan."


Hanya dengan penyebutan satu nama saja membuat Samuel bangkit dari duduknya. "Apa maksudmu?"

__ADS_1


"Saya Devan, pria yang mengajak Aryan balapan untuk memperebutkan Zivana."


"Apaaa... Kurang ajar kauu, berani-beraninya muncul dihadapankuuuu!!??!?" Hal itu membuat Mr.Smith bangkit dan menahan Samuel agar tidak terjadi keributan. Memang tidak akan ada yang mendengar, namun tetap saja itu tidak boleh terjadi.


"Tahan, Samuel."


Samuel melepaskan pelukan Mr.Smith, lalu merapikan Jasnya dan duduk kembali. "Saya tidak butuh permintaan maaf mu, karena kalian hidup putriku menderita sampai sekarang."


"Om. Kami gak bersalah, kami tidak menghilangkan nyawa Farrel."


Samuel melotot menatap Devan. "Masih berani kau menyebutkan nama dia."


"Uncle, please. Biarkan Vano menjelaskan."


Clara tersentak ketika tangannya ditarik Samuel dan dipindahkan untuk duduk didekat Mr.Smith. "Dia adalah seorang pembunuh?"


"Pembunuh? apa itu?"


"Pembunuh means to kill." menatap sinis kearah Devan.


Clara terkejut bukan main. "What??"


"No Baby, bukan itu, saya mohon Om, biarkan saya menjelaskannya."


Samuel membuang muka. "Cih, aku tidak membutuhkan penjelasan darimu, untuk apa? kalau semuanya sudah sangat jelas."


"Om, saya mohon. Semua yang didengar Berlian itu salah, wanita itu berbohong."


Devan mengambil ponselnya dan mencari sesuatu lalu menyerahkannya kepada Samuel. "Ini foto seorang pria yang sudah menabrak Farrel, pria itu adalah sopir truk ekspedisi, dia bekerja lembur untuk menafkahi anaknya yang baru lahir. Tapi malam itu dia yang terlalu lelah dan mengantuk tetap nekat membawa barang-barang ekspedisi."


Samuel menyenderkan badannya. "Mungkin kalau Aryan tidak membanting setir kekanan, ada kemungkin Aryan memang sudah menabrak Farrel, tapi ternyata dari arah berlawanan sudah ada truk ekspedisi yang melintas, pria itu mengatakan dia sempat terkejut juga melihat kami melintas dengan cepat hal itu membuatnya membanting setir dan menabrak Farrel. Om percaya sama saya, kami sempat dipenjara untuk beberapa bulan karena sudah melakukan aksi balap liar. Tapi untuk pria itu, dia dipenjara karena sudah menghilangkan nyawa seseorang."


"Bagaimana dengan Farrel? apa dia benar-benar sudah tiada?"


"Dia memang sudah tiada. Sebetulnya ada berita soal kecelakaan itu, tapi Tante Yana sudah menutup nama korban. Mungkin itu yang membuat Berlian sama sekali gak tahu, kami juga sudah mencari keluarga korban. Tapi Mama bilang, dia sebatang kara dan semasa kecil hidup dipanti asuhan."


Devan menghela nafas. "Kami sama sekali gak tahu Om, kalau korban punya seseorang yang merasa memilikinya. Karena Aryan sudah menyembunyikan identitas Berlian, Farrel memberikan kunci tempat tinggalnya kepada Aryan dan memberitahukan buku diary tentang Berlian, semua foto-foto Berlian."


"Lalu?"


"Aryan menemui saya dan memberikan Zivana untuk saya, karena dia memiliki janji untuk menjaga Berlian. Farrel yang memintanya."


"Kamu menyetujui itu?"


Devan menggeleng. "Awalnya saya menolak, karena saya juga ingin bertanggung jawab akan hal itu. Tapi Aryan menolak, dia tetap menginginkan saya menjaga Zivana saja dan membiarkan dia untuk mencari Berlian."


"Kenapa dengan cara perjodohan?"


"Selama hampir satu tahun saya menemani Aryan mencari Berlian di Jerman, Mama saya memberi tahu bahwa dia memiliki teman arisan dari keluarga Wijaya, dan dikeluarga itu memiliki anak gadis bernama Berlian Wijaya Valfredo."


"Siapa teman Mama mu?"

__ADS_1


"Tante Sarah, istri dari Timo Wijaya."


Samuel mengangguk. "Apa dia tahu soal ini?"


"Enggak. Mama cuma cerita kalau ingin mencarikan seorang menantu untuk sahabatnya."


"Jadi, siapa saja saksi dari cerita itu?"


"Saya, Mama, Reza, Raisa, Zivana dan Tante Yana."


Samuel bertopang dagu menatap Devan. "Kenapa tidak menceritakan dari awal, kenapa harus melakukan perjodohan? itu sangat membuat Berlian terluka."


"Awalnya kami menyarankan hal itu, tapi tanpa kami sadari Aryan sudah jatuh cinta sama Berlian pada saat pencarian itu."


"Jatuh cinta?"


"Iya, setiap hari dia memandangi foto Berlian dan mencari keseluruh penjuru Jerman."


"Jadi itu alasan kenapa memulai semuanya dengan perjodohan?" Devan mengangguk. "Lalu, bagaimana dengan wanita itu?"


"Zivana maksud om?" Samuel mengangguk. "Saya gak tahu dia dimana sekarang, dia pasti takut karena saya tahu kalau dia sudah memberikan cerita bohong pada Berlian."


"Kalau pria yang menabrak?"


Devan menyodorkan ponselnya lagi, pria yang sama duduk dengan seorang putri kecil yang menggemaskan. "Seharusnya dia dipenjara hampir lima tahun, tapi baru satu tahun Aryan membebaskan dan memberikan jaminan, dia seorang duda, istrinya meninggal saat melahirkan putri kecilnya dan mereka tidak memiliki kerabat. Sekarang pria itu tinggal diBali, dirumah keluarga Tante Yana, bekerja sebagai penjaga disana, anaknya sudah ada yang menangani. Tante Yana akan pulang ke Bali satu tahun sekali untuk melihat putri kecil itu."


Devan bergerak dan berlutut pada Samuel, hal itu membuat Mr.Smith dan Clara sama terkejutnya seperti Samuel. "Tolong Om, pertemukan saya dengan Berlian, saya harus menceritakan yang sebenarnya, dan Mahesvara butuh Berlian."


"Berdirilah," Samuel melihat kearah Clara. "Kamu sudah bertemu dengan Berlian?"


"Sudah Uncle, tapi tadi Berlian lari setelah melihat Vano datang menghampiri kami." Samuel mengambil ponselnya dan menekan panggilan untuk Juna.


"Kamu dimana Jun?"


"Saya lagi mengikuti Nona Berlian Pak, tadi Nona lari meninggalkan gedung sembari gemetar, saya hampir meraihnya tapi Tuan Cleno sudah membawa Nona Berlian lebih dulu."


"Cleno membawa Berlian?"


"Benar Pak."


"Kerja bagus Jun, ikuti terus. Setelah itu bawa Berlian kembali kerumah dengan cepat."


"Baik Pak." Samuel menutup panggilan.


"Saya akan hubungi kamu lagi, kapan kamu bisa bertemu dengan Berlian, saya akan mencari tahu cerita itu lebih dulu." Samuel menyodorkan ponselnya. "Berikan nomor Reza dan Raisa. Habis ini, kirim identitas lengkap tentang pria itu."


Dengan tangan gemetar Devan meraih ponsel Samuel dan menyimpan nomor Reza dan Raisa. "Tolong Om, tidak ada yang bisa menghubungi Aryan."


"Hmm, jangan ceritakan pada siapapun kalau sampai bocor ke Indonesia, habis kamu." menarik ponselnya lalu berdiri. "Saya pergi Mr.Smith nanti kita akan berkabar lagi. Maaf membuatmu takut Clara." Clara mengangguk.


"It's Okay Uncle, tapi Clara mohon. Vano gak bersalah, dia pria baik."

__ADS_1


"Hem... " Samuel berjalan keluar ruangan dan memanggil satu supir Mr.Smith untuk mengantarnya pulang.


__ADS_2