Unforgettable Mistake

Unforgettable Mistake
UM (66)


__ADS_3

"Kemana Om dan Tante Bu?" menarik sekotak strawberry dan memilih untuk ia makan, padahal sama saja.


"Mereka sedang berlibur kerumah Bu Yana" jawab Bu Nuri sembari menuangkan susu hangat kedalam gelas.


"Waah, Ke Bali?"


Bu Nuri mengangguk. "Iya, Nona" menyodorkan gelas berisi susu hangat yang baru ia sajikan kepada Berlian. "Silahkan Nona"


Berlian meraih dengan senang. "Terima kasih" sembari meniup gelas pandangannya beralih kepada Aryan yang baru masuk. "Hei, susu hangat" menunjuk gelas ditangannya.


Aryan menanggapi dengan tersenyum. "Bu Nur, tolong antarkan cemilan sama hot green tea ke perpustakaan ya?"


"Mau keperpus?" Aryan mengangguk. "Boleh ikut?"


"Iya"


Mereka berjalan beriringan menuju perpustakaan, setelah Aryan membuka pintu ruang perpustakaan Berlian lebih dulu masuk dan duduk dikursi yang memang disediakan.


"Wahh, baru tau gue ternyata lebih banyak buku disini. Apa gue pindahin aja buku dikamar ke sini? ah jangan deh, entar malah ribet gue mau baca" Aryan menggeleng mendengar percakapan antara Berlian dan diri Berlian sendiri.


"Kenapa gak bilang kalau mau kesini? Aku kan bisa jemput dibandara?"


"Biar berasa kasih kejutan dong. Dia sering kesini?" Aryan tahu yang Berlian maksud.


"Baru tadi, itupun Bu Nuri izinkan tanpa bilang sama aku"


"Ohh"


"Kakaakkkk" Aryan dan Berlian sama-sama mengarahkan pandangan kepintu, Gena berdiri dan menatap Berlian dengan tersenyum lebar.


"Kenapa Gena?"


"Mau ngajak gibah? soal manjah litahh" dengan cepat Berlian turun, padahal ia bukan tipe wanita yang suka bergosip.


"Manjah litah? What is that?"


Berlian berjalan mendekati Aryan dan ia sempat berjinjit sampai ditelinga Aryan, ia berbisik "Rahasia"


Berlari mendekati Gena dan membawa gadis itu menuju kamarnya. Sedangkan Aryan sendiri malah tersenyum,


"Kenapa?" Berlian duduk diranjangnya. Sedangkan Gena menutup pintu lalu berjalan mendekati Berlian.


"Tadi, Kak Kia dateng kekantor Devan. Dia emang rencana mau nemuin Devan gitu deh, tapi tiba-tiba denger ribut-ribut para karyawannya. Jadi, Kak Kia samperin tuh"


"Terus?"


"Ternyata si manja habis dari sini langsung kekantor Devan. Kakak tahu?" Berlian menggeleng.


"Devan nyuekin gitu, terus nyuruh si manja buat gak gangguin Kak Berlian lagi kalau sampai dia berani gangguin hubungan Kakak sama Mas Aryan. Habislah hidup dia" jelas Gena dengan sangat antusias.


"Kenapa sama hidup dia?"


"Kakak tahu? dia itu sampai punya pengawal pribadi tahu dari Devan, dia dikasih kemewahan sama Devan" Berlian menganga lebar. "Cuma katanya sih, akhir-akhir ini dia itu udah jarang kayak diistimewain lagi sama keluarga Mahaprana"


"Memangnya dulu diistimewaain gimana maksudnya?"


"Ya, dibangga-banggain didepan umum. Dipamerin dimana-mana, disayang-sayang. Sekarang udah engga lagi"


"Kenapa?" Gena mengangkat bahunya.


"Mana Gena tahu, makanya sekarang dia ngebet buat dapetin Mas Aryan lagi"


"Bukannya Aryan itu sayang sama dia? kenapa gak kembali aja?"


"Papa sama Mama gak setuju, lagian semua orang itu tahu kalau si manja itu cuma suka mengincar harta aja"


"Are you seriously?" Gena mengangguk.

__ADS_1


"Dan dia gila hormat"


"Waw.. daebak"


"Haha, makanya kami semua mempertahankan Kakak, apa lagi Mama. Karena kami tahu, Kak Berlian bukan orang yang seperti itu"


"Maksudnya?"


"Kakak gak gila harta, Kakak gak gila hormat, yakan?" Berlian mengangguk membenarkan.


Untuk apa ia gila harta? kebutuhan ia sendiri sudah terpenuhi dari hasil usahanya bersama Angga, tanpa membuka sebuah Cafe pun hidup Berlian juga terpenuhi oleh Mamanya yang membuka butiq khusus wanita. Atau ia meminta dari Samuel Daddynya yang memiliki perusahaan dan Hotel diluar Negeri, apalagi salah satu induk perusahaan adalah milik Almarhum Papanya atau ia meminta kepada Zoya, Omanya yang memiliki sebuah usaha rumah makan. Jadi, kenapa ia harus gila harta?


Untuk gila hormat? Jangankan dihormati, kalau tidak dikenal saja Berlian sudah sangat berterima kasih. Dia lebih memilih untuk terkurung saja didalam rumah, ketika Basagita mengajak untuk datang keacara pesta Berlian selalu menolak. Untuk apa? ia pasti akan selalu menjadi pusat perhatian, Berlian tidak suka itu. Ketika Samuel mengajaknya untuk menjadi partner dansa diacara pesta rekan bisnisnya Berlian menolak. Untuk apa? semua orang pasti akan menunduk menghormati setiap langkah Berlian, mengetahui dengan siapa Berlian datang. Berlian tidak suka itu.


"Kak, kenapa diam? Oh iya, kenapa Kakak kembali? semua orang khawatir kakak pergi" Berlian tersenyum menyadarkan diri. "Gena udah suka sama Kak Berlian, semua juga suka, kami semua khawatir kalau sampai Kakak gak kembali, Mas Aryan udah kayak kucing kehilangan induknya. Gak jelas"


Berlian meraih tangan Gena yang mendekap bantal kecil. "Maaf. Kemarin situasinya sedikit berbeda, buat aku gak bisa disini"


"Apa Kakak bakal lama disini?"


"Sampai urusannya selesai"


"Urusan apa?" Berlian mendekat ketelinga Gena.


"Mau menagih janji seseorang" Gena mudur dan menatap Berlian.


"Nagih? Janji? sama siapa?"


"Rahasia" Berlian tersenyum sendiri.


"Ihh Kakak, nagih sama siapa?" Berlian tersenyum sembari menatap Gena yang terus merengek. "Janji apa dulu?"


"Gena kamu terlalu berisik"


Gena terdiam dan menghentikan rengekannya, ketika mendengar suara sentuhan tuts piano. "Akhirnya, piano itu dimainin lagi"


"Engga, kata dia males, moodnya gak ada"


"Berarti sekarang, moodnya lagi bagus dong" Gena tersenyum lebar.


"Berkat kedatangan Kak Berlian" Berlian tersenyum menanggapi. "Ayo keluar" ajak Gena sembari menarik tangan Berlian keluar.


Mereka berdua mendekati Aryan, pria itu fokus bermain piano sampai tidak menyadari kedatangan Berlian dan Gena.


"Mas" panggilnya lirih.


Aryan menghentikan permainannya dan menatap keduanya. "Ada apa?"


"Kak Berlian mau diajarin main piano katanya"


"Ehh engga"


"Iya, tadi bilang sama Gena dikamar"


"Genaaaaaa" Berlian diam ketika tanganya ditarik oleh Aryan.


"Sini, gak apa-apa?" Berlian manut saja, lebih nurutnya ketika Aryan menyuruhnya untuk duduk dalam pangkuannya karena bangku piano terlalu mini.


Tangan Berlian menyentuh satu persatu tuts piano dengan bantuan tangan Aryan. Mengajari Berlian dengan sentuhan dasar, wanita itu belajar dengan antusias.


Sekiranya Berlian mulai memahami, Aryan mulai mengajari dengan masuk tangga musik yang standar. "Lagu apa yang kamu mau?" tanya Aryan.


"Terserah lo aja"


"Apa ya?"


"Lagu Bollywood aja kali. Apa kek? Biar kita ala-ala india gitu. Haha"

__ADS_1


"Oke"


Aryan memilih. (Mohabbatein - theme tune)


Berlian tersenyum saja, ketika jari-jarinya mengalun indah mengikuti ajakan jari-jari Aryan.



"Kapan kita mulai?" Berlian memudarkan senyumannya.


"Apanya?" memilih dengan kembali bertanya.


"Dating" Berlian menggigit bibir bawahnya, ia merasa jantungnya berdegub sedikit lebih cepat. Dengan posisi Aryan memangkunya, berbicara tepat ditelinganya dan suara alunan piano dengan ala film Bollywood. Berlian jadi merasa sedang bermain peran ala shahrukh khan dan Aishwarya rai disini.


"Whatever" lupakan soal Shahrukh khan dan Aishwarya rai.


"Kalau malam ini?"


"Cepet banget?" masih dengan jari-jari mereka memainkan lagu.


"Katanya terserah" Ah, Benar juga.


"Oke, malam ini"


"Yaudah, siap-siap"


"Ini masih sore dan lo baru pulang kerja kan. Gak kecepetan?"


"Berangkat sekarang"


"Hah? emang mau kemana?" sepertinya Aryan tidak melupakan tuts mana yang harus ia sentuh, karena lagu terus berlanjut.


Aryan berbisik ditelinga Berlian. "Rahasia"


"Haha, Okee. Kasih gue waktu buat siap-siap" Berlian mulai berdiri tapi ia kembali duduk karena Aryan mencegahnya. "Apaa?" menatap Aryan dibelakangnya.


"Pakai baju yang ada dibox"


"Box? where it is located?"


"Dilemari"


"Okee, sekarang lepasin gue?" Aryan memberikan jalan keluar untuk Berlian dan dengan cepat ia masuk kedalam kamar, disusul Gena yang berasal dari dapur membawa jus alpukat ditangannya.


"Kenapa kak?"


"Keppo"


"ih Kakak? Apaa? Kakak cari apa?" melihat Berlian membongkar-bongkar lemarinya, dengan rasa penasaran yang tinggi Gena menghampiri lemari.


"Dapet" teriak Berlian diselingi dengan mengeluarkan kotak berwarna hitam dengan pita berwarna merah, ini yang dimaksud Aryan.


"Apa itu?" Berlian mengeluarkan isi yang ada didalam Boxnya. Gena menganga lebar, sejak kapan ada baju didalam kotak itu. Siapa yang menaruhnya saja Gena tidak tahu.



"Bajunya cantik"


"Bantu aku siap-siap ya?"


"Mau kemana?"


"Dating?" Gena tersenyum lebar,


"Oke, aku buat Kakak jadi semakin cantik" Gena menatap heran baju yang diletakkan Berlian diatas ranjang.


Menatap kearah Berlian yang sudah berlari kedalam kamar mandi, wanita itu mengatakan mandinya akan memakan wantu yang lama.

__ADS_1


Gena tersenyum, sebaiknya ia memberikan laporan kepada Udayana.


__ADS_2