
"Kamu kenapa?" Masih memeluk Berlian dengan erat.
"Gak tau," jawabnya dengan suara parau khas orang sehabis menangis.
"Ayo masuk mobil aja, disini dingin," membawa Berlian masuk ke dalam mobil, diluar terlalu dingin untuk Berlian yang tidak menggunakan pakaian tebalnya.
Mereka duduk dibangku belakang dan Aryan kembali menarik Berlian kedalam pelukannya. "Ar.. Aryannn..." Panggil Berlian dengan suara sesegukan.
"Hmm." Mengelus kepala Berlian, ia sangat menginginkan pelukan hangat ini.
"Lo sama dia,," Berlian tidak berani mengucapkan kelanjutan pertanyaannya. Tiba-tiba hatinya berdenyut dan kembali mengeluarkan air mata. Ada apasih dengannya, Berlian bingung sendiri.
"Tidak ada apa-apa kok. You can believe me. Dia hanya membutuhkan seseorang yang mendengarkan suara hati dia,"
"Kenapa harus lo? Kan dia punya banyak temen?" Aryan mengangkat bahunya.
"Aku tidak tahu soal itu,"
"Devan kan ada,"
"Aku tidak tahu itu, Berlian." Menatap Berlian yang masih mengatur nafasnya dengan susah karena baru menangis. Air matanya juga terus turun. "Kamu kenapa sih, ada masalah?" Berlian menggeleng. "Kasih tau aku, kenapa kamu bisa sampai sini?"
"Aku cuma jalan-jalan?"
"Jalan-jalan tengah malam gini, pakaian gini. Kamu serius cuma jalan-jalan?"
"Iyalah,"
"Kamu tahu dari mana aku disini?"
"Gue gak ngikutin lo!!! Gue lagi jalan-jalan tadi, karena capek gue istirahat eh malah nyaman duduk disitu."
"Aku gak bilang kamu ngikutin aku,"
Berlian terdiam, ahh kenapa ia malah menjebak diri sendiri. "Gue bilang, gue lagi jalan-jalaaaan!!!"
"Beneran??" Berlian mendongak, lalu mengangguk. Tapi ia kembali menangis. "Loh kok nangis lagi??"
"Gue gak ngikutin lo.."
"Iya aku percaya," memeluk Berlian lagi.
"Gue liat mobil gue disitu,"
"Jadi bukan karena kamu lihat pesan dari Zivana ke aku?"
"Bukanlah, pedean banget lo."
"Jadi bukan kamu yang buang ponsel aku ke tong sampah?"
"Kurang kerjaan banget gue," melepaskan pelukan Aryan dan memasang wajah cemberut sembari menghapus jejak air matanya.
Aryan membantu menyapu air mata Berlian dengan jaketnya. "Iya bener juga sih. Maaf aku sudah curiga dan menuduh kamu, maaf kalau aku gak percaya sama kamu, lain kali aku bakal hati-hati buat gak ambil sikap main tuduh ke kamu," Aryan tersentak ketika Berlian menangis lagi dan memeluk tubuhnya.
"Iyaaa....... gue ngikutin lo tadii.." Aryan tersenyum. "Gue baca chat lo sama Zivana, gue lihat location yang Zivana kasih ke lo. Dan.." Berlian tidak melanjutkan karena ia kembali terisak.
"Iya. Udah udah, aku ngerti kok,"
"Dan gue yang buang ponsel lo."
__ADS_1
"Aku tau kamu gak sengaja. Udah jangan nangis lagi ssst ssstt"
"Gue sengaja Aryaaaann,,," memukul dada Aryan karena laki-laki ini masih membela dirinya tidak bersalah.
"Aku tahu," tetap memeluk Berlian erat dan mengelus punggung Berlian berusaha menenangkan.
"Gue sendiri aja gak tau kenapa gue harus ngikutin lo!!!!"
"Iya iya, udah ya jangan nangis lagi. Kamu gak salah kok, aku yang salah. Maaf ya? ya udah tolong berhenti."
Masih terdengar suara sesegukan dari Berlian. "Huahh,,,"
"Kenapa?" Melihat Berlian heran, kenapa tiba-tiba Berteriak. "Ada yang sakit?"
"Air matanya gak mau berhenti, gue capek" Aryan tersenyum.
Menangkup wajah Berlian, dan mengelus kedua pipi Berlian. Lalu mengecup mata Berlian satu persatu. "Cup, mata. Tolong berhenti nangis ya. Berliannya capek" Membuat Berlian memukul Aryan dan tertawa geli.
"Apaan sih lo.." Menepis tangannya
"Kan biar berhenti sayang,"
Berlian tertawa mendengar ucapan terakhir Aryan."lo manggil gue apa?"
"Sayang. Daddy suka panggil gitu kan? Sayang, honey, sweetheart, Baby." Berlian mengangguk. Ada benarnya juga sih, Samuel memang selalu memanggil anak yang dia sayangi dengan panggilan manis. Tapi itu terlihat menggelikan ketika Aryan yang menggunakannya.
"Gak cocok lo pakai, Ar." Protes Berlian.
"Hehe.. Ya udah, sini tidur. Kamu pasti capek kan? Dari tadi nangis sambil nguap terus," Berlian mengangguk menurut, dan mendaratkan kepalanya pada dada Aryan.
********
Merasakan kaku diarah tangannya, Berlian meneliti, telapang tangan dan punggung tangannya sudah di beri hansaplast, tercecer bekas obat merah di area punggung tangan. Berlian menggulung celana tidurnya sampai lutut, kedua lututnya sudah diperban, pasti Aryan yang melakukan itu.
Kemudian Berlian teringat, semalam ia habis menangis besar sembari memeluk Aryan. Bahkan ia sempat tidur dalam pelukan Aryan. Tapi kemana laki-laki itu? Aryan tidak lagi terlihat.
"Aryaaaaann......" Tentu saja teriakannya tidak akan dijawab oleh Aryan. Berlian melihat keluar jendela, ia berada di depan sebuah minimarket.
Berlian menurunkan kaca jendela mobilnya. Setelah mobil yang terparkir disamping mobilnya keluar halaman, baru Berlian dapat melihat keberadaan Aryan. Laki-laki itu tengah duduk dengan beberapa gerombolan laki-laki yang tidak ia kenali. Berlian sendiri merasa tidak yakin kalau Aryan mengenali laki-laki disekelilingnya.
Berlian keluar dari mobil. "Aryaaaan..." Teriakannya membuat segerombolan laki-laki disana termasuk Aryan menatap kearahnya. Aryan tersenyum melihat kearahnya.
Aryan tampak menunduk kecil setelah menaruh cup coffee dia atas meja, lalu berlari kecil menghampiri Berlian. "Kenapa sudah bangun?"
"Terbangun,"
Aryan mengelus puncak kepalanya dan menarik tangannya, "sudah tidak apa-apa kan?"
"Umm, siapa mereka?"
"Kamu masih inget Randika, itu dia sama temen-temennya. Tadi pagi pas subuhan aku lihat jadi aku samperin, terus menjelang pagi aku ajak mereka minum kopi disini."
"Oh. Inget."
"Randika bilang, semalam dia yang anterin kamu ke taman, benarkah?" Berlian mengangguk. "Aku mengucapkan terima kasih sama dia sudah mau anterin kamu."
"Aku tidak melihat dia,"
__ADS_1
"Nona Berlian," Randika menghampiri keduanya, "dimana sandal nona,"
Keduanya menatap kaki Berlian tanpa alas, "aku baru keluar mobil,"
"Oh, tuan Aryan. Mau sarapan bersama?" Aryan melihat kearah Berlian.
"Kita pulang aja, nanti mami nyariin lagi."
Aryan menepuk bahu Randika. "Lain kali saja ya? Kalau kita ketemu lagi?" Randika mengangguk. Aryan bergerak melambaikan tangan kearah gerombolan yang sedang asik menyeruput kopi di pagi hari, ia memohon izin pamit pergi. Mereka membalas dengan melambaikan tangan dan tersenyum ramah kepadanya.
"Pergi dulu ya Dika, terima kasih atas bantuannya. See you..." Randika membalas lambaian tangan Berlian yang sudah masuk ke dalam mobil.
Aryan keluar halaman minimarket dengan bantuan Tukang parkir yang muncul tiba-tiba. "Kamu jadi ngebalikin semua kerugian yang Randika terima karena Farrel?"
"He'em.." Sibuk fokus menyetir dan mengunyah suapan sosis goreng dari Berlian yang mereka pesan tadi sebelum berangkat pulang.
"Lo gak takut kalau ternyata Randika itu penipu?"
"Sekretaris aku sudah mengurus semuanya kok, semua cerita yang mereka buat benar adanya," Berlian manggut-manggut mengerti. Entahlah, kalau Aryan sudah menceritakan soal sekretarisnya ia merasa malas untuk mulai bertanya lagi.
********
Tidak butuh waktu lama bagi Aryan untuk sampai kerumah Berlian. "Siapa itu?" Berlian melihat kearah pintu gerbang, terlihat seorang wanita tua yang berdiri menatap kearah mereka.
"Bu Jannah, istri pak Jerden," Aryan menghentikan lanjunya tepat di depan bu Jannah berdiri.
Bu Jannah berjalan mendekat. "Nona, Tuan. Sebaiknya langsung masuk ke dalam rumah, Ibu sudah menunggu,"
"Kok Bu Jannah ada disini?" Bu Jannah lebih dulu menutup kembali pintu mobil, karena ia yakin Berlian akan keluar menghampirinya.
"Langsung masuk saja tuan," Aryan mengangguk dan melajukan mobilnya ke halaman rumah Berlian.
"Tumben Bu Jannah main kerumah.." Aryan menarik Berlian untuk berjalan masuk.
"Memangnya kenapa?"
"Gak apa-apa sih, mukanya kok kelihatan serius gitu?" Mereka berdua di kejutkan dengan pintu yang terbuka lebar, dan terlihat Basagita berdiri disana.
Menatap kearah mereka dengan tatapan mencekam. "Pinteeer ya, kalian pergi tanpa izin. Pergi tengah malam lagi..."
"Tante"
"Kamu panggil saya apaa?" Berlian menyikut Aryan. Memperingatkan Aryan soal panggilan yang mereka sepakati.
"Mami, Aryan bisa jelaskan."
"Semua sudah jelas... " Membentangkan kedua tangannya, wanita ini tampak sangat murka melihat dua insan yang masih terlihat sangat mengantuk.
"Jelas apaan mi?" Tanya Berlian, dia benar-benar tidak tahu posisi mamanya yang tampak sangat marah.
"Jelas, kalau kalian harus cepat-cepat menikah. Biar mami tidak perlu lagi khawatir kalau kalian pergi malem-malem secara diam-diam bersamaan,"
"Mami, gak gitu ceritanya.."
"Dasar kamu calon menantu kurang ajar YAAAAA!!!!!!!" Aryan memejamkan matanya ketika tangan Basagita melayang tanggi. Bukan sebuah tamparan yang Aryan rasakan, tapi sebuah elusan.
Mata Aryan terbelalak melebar, bahkan Berlian yang berekspresi serupa. Aryan baru menyadari bahwa seorang Basagita ternyata memiliki kesamaan seperti Udayana. Cerewet yang tidak terkontrol dan cenderung berlebihan.
...☘️☘️...
__ADS_1