
Setelah Aryan memutuskan untuk pulang dari Jakarta, terhitung sudah dua bulan Aryan dan Berlian tidak pernah bertemu.
Jangankan untuk bertemu, bertukar kabarpun tidak mereka lakukan. Entah Berlian yang enggan menghubungi terlebih dahulu atau Aryan yang memang tidak ingin mengganggu Berlian berharganya.
Aryan membuka ponsel dan layar terakhir dalam roomchat antara dirinya dan Berlian, itu sekitar satu minggu yang lalu. Sewaktu dirinya bertanya sedang apa Berlian, wanita hanya menjawab tidak ada.
Apa maksudnya?
Membuat Aryan mengurunkan niatnya untuk membalas pesan tersebut. Aryan berjalan keluar ruangan dan menemui Sandra.
"Sandra?" panggilnya.
Buru-buru Sandra berdiri, karena ia tidak mendengar kapan Aryan keluar ruangan. Padahal, sedikit saja pintu tersenggol akan terdengar suara, mungkin karena ia terlalu fokus menonton Drama Korea hasil Rekomendasi dari Cika, sekretaris kedua Aryan.
"Iya Pak? Bapak butuh sesuatu?"
"Apa saya punya jadwal setelah ini?"
"Ada Pak. Bapak ada janji dengan Pak Reza, untuk mengunjungi pabrik karena ada masalah disana," jelas Sandra.
"Hanya itu?" tanyanya.
"Iya Pak?"
"Selamat siang pak?" Aryan dan Sandra sama-sama menoleh. Terlihat Cika datang membawa dua cup Coffe, menyantap cemilan dan Coffe menjadi kebiasaan mereka selagi bekerja.
"Iya, siang," berbalik untuk kembali menuju ruangannya
"Pak.." Panggilan Cika menghentikan langkah Aryan. "Pak Reza sudah menunggu di lobi beliau bilang lebih cepat untuk datang ke Pabrik lebih baik."
"Hmm, baiklah " Sandra berdiri dan membantu Aryan untuk menyiapkan apa saja yang perlu dibawa.
Selagi melihat Sandra tengah mengemaskan berkas-berkas miliknya disofa, Aryan berdiri dan bersandar pada meja besarnya menimang-nimangkan sesuatu dalam pikirannya, "Sandra?"
"Iya Pak?" menoleh menatap sang Bos. Terlihat raut wajah Aryan penuh keseriusan. Sandra merasa akhir-akhir ini ada yang berbeda dengan Tuannya.
"Boleh saya minta saran kamu?" Sandra mengerutkan dahinya.
Tumben, sejak kapan Pak Aryan jadi meminta izin untuk meminta sebuah saran.
"Silahkan pak," untuk menghormati Aryan, Sandra menghentikan aktifitas membereskan berkas dan laptop yang akan dibawa Aryan, ia berjalan mendekati Aryan yang sudah kembali duduk dikursi kebesarannya. "Apa yang bisa saya bantu?"
"Menurut kamu, kalau seorang perempuan hanya membalas pesan dengan satu kalimat. Apa maksudnya?"
"Perempuan tersebut sedang sibuk dan tidak ingin di ganggu pak."
"Kalau sudah di beri waktu bahkan sampai seminggu, apa itu tetap menganggu?"
Sandra terdiam. "Seminggu itu terlalu lama pak "
"Lama ya? jadi, menurut kamu apa yang harus laki-laki lakukan jika ia berhubungan dengan perempuan seperti itu, yang selalu menutup dirinya?"
Sandra termenung sebentar. "Sebuah tindakan."
"Maksudmu?"
"Pak, kalau seorang laki-laki sudah mengatakan akan menerima perempuan dengan apa adanya, itu tidaklah cukup. Laki-laki perlu membuktikan dengan sebuah tindakan."
"Kalau laki-laki sudah membuktikan tapi tidak ada perubahan, bagaimana?"
"Waktu," Aryan mengerutkan dahi. "Perempuan itu perlu waktu pak. Bisa saja perempuan itu merasa trauma, akan kegagalan cinta pertama itu bisa juga menjadi faktor utama yang membuatnya takut untuk memulai cinta yang baru."
"Terus?"
"Sebagai seorang laki-laki yang menerima apa adanya, si laki-laki tersebut harus memberikan waktu untuk si perempuan untuk membuka hatinya secara perlahan."
"Tapi Sandra......"
"Iya pak,,"
Aryan menegapkan tubuhnya dan bertopang dagu, "ada satu waktu si perempuan ini sudah menunjukkan sisi perhatiannya yang berarti dia sudah membuka hatinya, tapi, beberapa waktu kemudian perempuan ini mulai menunjukkan sisi tertutupnya lagi. Menurutmu bagaimana?" Sandra terdiam. Sebenarnya dia ini apa, Sekretaris atau penasihat cinta?
__ADS_1
"Pak, setiap hati manusia itu mampu berubah-ubah bukan? Mungkin saja perempuan itu masih perlu mempertimbangkan hatinya lagi."
"Bukankah itu namanya memberikan harapan palsu kepada laki-lakinya?" Aah, Sandra tidak sanggup, ia juga orang yang tidak terlalu mengerti soal hati seseorang. Cari cara untuk menghentikan Aryan.
"Sebenarnya siapa yang sedang bapak bicarakan? nona Berlian?" wajah Aryan berubah menjadi pias. Terlihat seakan-akan Aryan sedang tertangkap basah sedang mencuri.
"Bukan. This is my friend's problem."
"Pak Reza? Ah, tidak mungkin, beliau sudah menikah. Pak Devan? Ahaa, apa bapak dan pak Devan sudah baikan sekarang?"
"Jaga bicaramu Sandra, itu tidak mungkin."
Sandra tersenyum geli, "apanya yang tidak mungkin??"
Aryan berdiri. "Sudahlah, bertanya padamu tidak ada solusinya. Siapkan dengan cepat, saya tunggu dilobi" Sandra menunduk melihat Aryan berjalan keluar ruangan.
Tidak ada solusinya bagimana? Jelas-jelas Pak Aryan tadi mengangguk-angguk mendengar setiap ucapanku.
********
"Selamat siang Pak?" Sandra menunduk sedikit ketika berhadapan dengan Reza.
Reza membalas sapaan. "Siang juga, Sandra."
Sandra menunduk kecil saat melihat Aryan keluar dari dalam lift dan berjalan kearahnya, "Sandra, saya akan pergi bersama Reza. Kamu dan Cika sebaiknya pulang saja,"
"Baik pak." Reza memerintahkan Sandra untuk memberikan perlengkapan Aryan kepada Sekretaris Reza yang berdiri didepan pintu kantor.
"Gimana? Ada kabar dari Berlian?" Aryan menatap Reza, padahal ia sedang sibuk mengajak bicara Reza soal pabrik.
"Tolong ya pak Reza, kita sedang membicarakan soal kerusakan pabrik, kenapa membicarakan hal yang tidak perlu?" tanyanya.
Reza bercedak, "padahal ini sangat diperlukan!!"
"Fokus dong,"
Reza hanya menggumam melihat Aryan kembali menatap fokus kearah ipadnya. "Apanya yang harus fokus, dia saja sibuk mengecek email."
"Kenapa harus anda yang menunggu pak, padahal sudah jelas pabrik akan melaporkan semuanya pada saya."
Mendengar decakan Aryan, Reza memberi jarak dan mengajaknya untuk segera berangkat menuju pabrik, mereka berjalan beriringan keluar kantor menuju mobil Reza yang sudah terparkir.
Sekretaris Reza menunduk melihat keduanya. "Selamat siang Pak Aryan?"
"Iya, selamat siang," supir pribadi Reza cepat menutup pintu penumpang setelah memastikan Reza dan Aryan sudah masuk dan lalu. menunggu sekretaris Reza masuk.
Aryan menurunkan kaca mobilnya dan menatap Sandra yang masih setia berdiri. "Sandra, sudah masuklah lalu pulang."
"Baik pak, hati-hati dijalan." Sandra menunduk, dan menatap mobil hingga keluar halaman.
Didalam mobilpun, tidak ada satupun yang membuka suara, baik Reza maupun Aryan. untuk sekretaris dan supir pribadi Reza, lebih memilih untuk tutup mulut, tidak ada hak mereka untuk mengajak berbicara atau apapun itu.
Setelah beberapa lama mereka saling terdiam, hanya saling melempar pandangan keluar jendela. Reza mulai membuka suara, ketika melihat Aryan tersenyum menatap layar ponselnya.
"Siapa?"
"Siapa lagi?" jawab Aryan.
"Berlian." Aryan mengangguk. "Gue berharap hal itu yang akan terus buat lo tersenyum sampai tidak berhenti."
"Hmm,,"
"Gue berharap lo selalu bahagia,"
"Gue gak pernah gak bahagia Za," Ah Benar juga, Sesuatu yang menyangkut soal Berlian. Aryan selalu bahagia kan? Bahkan saat Berlian marah sekalipun, Aryan tetap menganggap itu sebuh kebahagiaan. Benar kata Zaskia 'kalo masalah Cinta semua orang dewasa bisa berubah menjadi anak kecil'
"Iya, gue paham kok. Jadi kapan?"
"Apanya?" menatap Reza datar.
"Soal Farrel. Zaskia maksa gue buat terus ngasih tahu lo. Dia takut lo terluka karena udah ngelukai Berlian,"
__ADS_1
"Bisa kasih gue waktu buat masalah itu."
"Jangan ngulur-ngulur lagi, please," Aryan menarik nafas panjang dengan berat. "Lo tahu kan, apa yang jadi firasat buruk Zaskia itu selalu ada benarnya. kita semua khawatir sama lo Aryan."
Aryan menepuk bahu Reza. "Gue bisa atasi, Oke. Mending kita urus masalah pabrik dulu." Mengalihkan pembicaraan ketika mereka sadar bahwa mereka sudah masuk kedalam kawasan Pabrik.
********
Setelah penat dan jenuh melakukan aktifitas kantornya. Aryan merebahkan diri diatas sofa, memejamkan mata untuk sekedar meregangkan otot yang lelah karena seharian bekerja.
Aryan merasakan seseorang memijat pelipisnya dengan lembut, ia semakin memejamkan sekedar merasakan nikmatnya pijatan tersebut. "Makanya jangan terlalu ambil alih semuanya, jadi lelah kan?" Aryan membukanya dan terbelalak.
Buru-buru ia bangkit dari tidurnya dan berdiri menatap perempuan yang membuatnya benar-benar terkejut. "Zee, ngapain kamu disini?"
"Aku nungguin kamu dong." Zivana menepuk tempat dimana Aryan baring tadi. "Biar aku pijit lagi,"
Dengan cepat Aryan menggeleng. "Pusingnya sudah tidak terasa lagi, dari kapan kamu disini?"
"Dari tadi, aku udah nunggu kamu lama. Aku langsung naik aja kelantai atas. Bu Nuri juga mengiyakan, Om sama Tante lagi pergi kah? Aku belum lihat dari masuk tadi, mau nanyak Bu Nuri, dia kelihatan gak suka sama kedatangan aku tadi. Apalagi Gena, dia masih aja sensi kalau lihat aku, dia langsung pergi waktu lihat aku," masih dengan wajah tersenyum walaupun dari ucapannya terlihat sangat kecewa.
"Bisa kita turun dan ngobrol dibawah aja?"
"Kenapa? Biasanya juga disini, bahkan dulu kita sering ngobrol dikamar kamu," Aryan tidak menanggapi. "Kenapa diam? Tadi aku sempet lihat-lihat kamar kamu, masih seperti itu, yang bikin beda foto aku udah gak ada lagi disitu," tersenyum miris menatap Aryan.
Bahkan foto dirinya dulu tidak Aryan pajang seperti foto Berlian yang ia lihat tadi, dengan bingkai dan foto ukuran besar terpajang diatas dinding berhadapan dengan ranjang tidur. Mungkin kalau Aryan tidak bisa tidur, pria itu akan menatap foto Berlian sepanjang malam.
"Kita ngobrol dibawah aja gimana?"
"Kenapa sih?" tanyanya kesal.
"Bukan kenapa-kenapa Zee." Aryan diam ketika melihat Bu Nuri masuk dengan membawa minuman dinampan. "Bu,,,"
"Iya Mas?" mendongak melihat Aryan.
"Ibu kenapa gak bilang sama saya kalau ada Zee ada dirumah?"
"Maaf mas, Ibu kira nona Zivana sudah buat janji dengan mas Aryan". melirik Zivana, wanita malah pura-pura tidak melihat kearah Bu Nuri.
"Mau sudah buat izin atau tidak seharusnya ibu....."
"Kenapa sih???" Zivana mencela, lalu ia berdiri mendekati Aryan dan Bu Nuri. "Kenapa aku gak boleh main kerumah ini? Kelihatan banget aku kayak gak diterima disini?"
"Bukan seperti itu, Zee."
"Lalu?"
"Aku....."
"Aku apa?? Aryan, apa benar kalau kesempatan itu sudah tidak ada lagi untukku??" lebih baik Aryan diam dan tidak usah menanggapi. Zivana mendekat dan meraih tangan Aryan, tentu saja Aryan menepisnya.
Tindakan itu membuat hati Zivana sedikit teriris. Zivana memilih berjalan dan mengambil tasnya. "Sudahlah, tidak apa-apa kok, lain kali aku bakal main kesini lagi,"
"Kak Berliaaaaaaannnnnn.." terdengar teriakan dari Gena didapur, Aryan bergegas melihat kebawah, ia sedikit terkejut melihat Berlian berjalan masuk dan berpelukan dengan Gena disana.
"Pantes ya, aku dari tadi diusir," Aryan tidak menjawab, ia lebih memilih berjalan menuju tangga dan menemui Berlian, sosok wanita yang ia rindukan selama beberapa bulan ini.
Kehadiran Berlian membuat jantung Aryan kembali normal, berdetak tidak tahu aturan. Dan lagi-lagi untuk Zivana, ia telah kalah telak dari Berlian. Jangankan untuk masuk kedalam hati Aryan, masuk kedalam lingkungan rumahnya saja ia sudah tidak diperbolehkan.
Zivana meremas jemarinya, lagi-lagi Aryan tidak menanggapi hanya dengan kehadiran Berlian. Zivana menyunggingkan senyuman.
...☘️☘️...
Setelah sekian lama.
Huaa kenapa aku moodian gini sih. Maaf kan aku,
Hey. jangan lupa like yaa,
disini nih
👇
__ADS_1