Unforgettable Mistake

Unforgettable Mistake
UM (61)


__ADS_3

"Aryaan.... Disini," Aryan berjalan mendekati seorang perempuan yang memanggilnya dari kejauhan.


Perempuan anggun, memiliki paras cantik dan senyuman yang terukir diwajahnya tidak pernah luntur.


Perempuan yang pernah hadir dalam hati Aryan, perempuan yang mampu membuatnya merasakan jatuh dan cinta untuk pertama kalinya.


"Zee, kamu sudah lama?"


"Belum," menarik Aryan untuk duduk didekatnya. "Kamu apa kabar?"


"Aku baik, kamu?"


"Aku juga," tersenyum lebar.


"Ada apa? Tumben ngajak ketemu, bahkan waktu dan tempat yang tidak terduga."


"Kenapa? Emangnya kita tidak boleh ketemu?" membuka sebuah kotak berisi steak kentang dan minuman bersoda. "Tadi aku sempat beli ini, kamu suka kan? Ayo kita makan bareng. Aku lapar," rengeknya. Aryan mengangguk dan mengambil steak yang di sodorkan Zivana.


Hampir beberapa menit Aryan duduk disamping Zivana, sebuah rasa tidak nyaman menghampiri hatinya.


"Bagaimana hubunganmu dengan Berlian?" Zivana mulai membuka topik pembicaraan setelah beberapa menit saling membisu.


"Kami baik, bahkan dia mulai menerimaku sebagai tunangannya," seharusnya tidak ia tanyakan soal perempuan lain, hati terasa teriris melihat senyuman manis Aryan terukir hanya dengan memikirkan perempuan lain.


"Baguslah, aku turut bahagia,"


"Terima kasih," menerima sodoran minuman bersoda dari Zivana, perempuan itu menatap Aryan dengan lekat, ia sangat merindukan wajah yang sedari dulu selalu menatapnya lembut.


"Boleh aku tanya sesuatu?"


Aryan menoleh, menatap Zivana, "silahkan..."


"Apa kamu tidak mencintai aku lagi?"


Senyumnya terukir lagi, "pertanyaan macam apa itu?"


"Pasti tidak lagi ya?"


"Zee......." Aryan sudah menunjukkan ketidak sukaannya terhadap pertanyaan semacam itu.


"Aryan aku capek," Zivana menunduk.


"Apa terjadi sesuatu?"


"Tepati janjimu. Kamu bilang akan membawa aku lari dari kehidupan Devan? sumpah demi apapun, aku lelah Aryan, aku lelah...." Mengusap air matanya.


"Apa dia menyakitimu?"


"Mungkin lebih baik dia menyakitiku dibandingkan dia tidak menganggapku ada," air matanya berlinang menatap Aryan, "tolong bawa aku pergi,"


Aryan menggeleng pelan, "maaf."


"Bawa aku pergii," isaknya keluar, perempuan itu benar-benar tidak bisa menahan tangisnya.


"Maaf, aku tidak bisa."


"Apa kamu tidak mencintaiku lagi, Aryan?"


"Zee," mengelus bahu Zivana lembut, "aku tidak lagi memiliki kuasa itu."


Rasanya sesak menahan kesedihan yang mendalam terhadap Aryan, "rasanya baru kemarin kita mengatakan cinta satu sama lain, aku tidak tahu kalau rasamu begitu cepat berubah,"


"Itu sudah masa lalu Zee, lupakan saja."


"Aku tidak bisa." Zivana menghela napasnya, "padahal dari dulu sampai sekarang kita masih saling mencintai bukan? lalu kenapa kita tidak bisa bersatu?"


"Tidak!!" Aryan menarik tangannya saat Zivana mulai menggenggam, "kita tidak pernah saling mencintai, tetapi aku yang mencintai kamu Zee."


"Aku mencintai kamu Aryan,"


"Kamu tidak pernah mencintaiku,"


"Padahal kita pernah saling mengungkapkan satu sama lain, apa kamu tidak memahami itu?" Aryan menoleh menatap Zivana, lalu menatap kearah depan, "aku mohon, lepaskan Berlian dan kembalilah kepaadaku, Aryan."


"Berulang kali sudah aku katakan, aku tidak bisa, Zivana."


"Kalau gitu, berikan aku alasan terbaik yang membuat kamu tidak bisa kembali kepadaku, selain soal Berlian."

__ADS_1


Aryan menarik napasnya, "kamu yang membuat aku tidak bisa lagi memperjuangkan kamu," Aryan menghela napas berat. "Untuk pertama kalinya, kamu membuang muka sewaktu kita berpapasan, kamu berjalan anggun merangkul tangan Devan di acara ulang tahun keluarga Mahaprana, kamu ikut tersenyum merendahkan waktu keluargaku menjadi bahan ejekan...


"Apa kamu tau, aku tidak berdaya saat itu." Elaknya.


Aryan tersenyum tipis, "kamu bukannya tidak berdaya Zivana, kamu hanya malu untuk dekat dengan keluargaku,"


"Aku tidak seperti itu, kenapa hanya itu yang kamu ambil di keseluruhan ceritanya,"


"Ini bukan cerita, tapi fakta." Aryan tetap mencoba untuk tenang, "kamu pikir aku tidak membaca ekspresi wajah kamu saat itu,"


"Kamu salah kira, Aryan." Zivana ikut bangkit dari duduk ketika melihat laki-laki di sampingnya berdiri, "kalau saja kamu benar-benar mencintaiku, kamu tidak akan kalah dari taruhan itu, seharusnya kamu lebih memperjuangkan aku."


"Kenapa mengalihkan pembicaraan?"


"Ar...."


"Zee,,,, kalau kamu mencintaiku sedari dulu, seharusnya kamu yang berusaha untuk pergi dari kehidupan Devan, bukannya malah menggelayut manja dan membuang muka saat bertemu denganku?"


"Saat itu aku terpaksaa!!!" Zivana menitihkan air matanya lagi. "Dia mengancamku kalau aku tidak menuruti kemauannya, dia akan semakin membuat kita berhauhan, dia akan melukaimu dengan parah. Aku tidak ingin itu terjadi,"


"Padahal kamu tau, Devan tidak akan pernah menyakiti siapapun, kalau hanya mendapatkanmu dengan adu kekuatan mungkin aku sudah menang," Aryan menghela napasnya lagi, "permasalahannya itu ada di kamu Zivana, seharusnya kamu bisa melakukannya."


Zivana menggeleng pelan. "Jangan pergiii,,," menarik lengan Aryan dengan kuat. "Please, bawa aku pergi. Devan selalu bilang sama aku, kalau perempuan yang dia dapatkan dari hasil taruhan bukanlah perempuan yang special. Sekalipun aku tidak pernah merasa dihargai olehnya,"


"Tapi bukan itu yang terlihat dimataku," Aryan melangkahkan kakinya untuk menjaga jarak, "saat ada pertemuan besar kamu selalu menggandeng tangannya dan menatapku dengan biasa saja, bukankah itu membahagiakan?"


"Tidak!!!!'


"Kamu selalu bisa menjadi topik terbaik dalam acara apapun, Zivana." Perlahan ia lepaskan cengkraman tangan Zivana.


"Itu sudah masa lalu kan? mari kita lupakan itu, dan lepaskan Berlian. Aku tidak mau melihatmu terluka kalau sampai kamu jatuh cinta sama perempuan itu," ucapnya dengan penuh keyakinan agar Aryan percaya pada ucapannya.


"Mungkin bukan aku yang terluka, tapi dia."


"Devan berencana merebut Berlian darimu, aku dengar percakapan dia sama Nozza malam itu sebelum dia berangkat," langkah Aryan berhenti.


"Jangan samakan Berlian denganmu Zee, dia mampu melawan kalau itu tidak sesuai dengan hatinya,"


"Lepaskan dia Aryaan, aku mohon...."


Aryan menarik tangannya, "Sampai kapanpun aku akan tetap memperjuangkan dia."


"Sudah kubilang!!!!" Meninggikan intonasi suaranya, membuat Zivana tersentak, ini pertama kalinya Aryan berteriak padanya. "Jangan samakan Berlian denganmu Zivana."


"Semua gara-gara taruhan itu, kalau bukan karena taruhan itu posisiku tidak akan tergantikan oleh siapapun?" Aryan tidak menjawab. "Lupakan janjimu untuk menjaga Berlian, Aryan."


"I can't,"


"Kamu bisa, sebelum kamu terluka lepaskan dia. Devan tidak membutuhkan ku lagi, Dia membutuhkan Berlianmu dan aku butuh kamu." Zivana begitu berharap besar terhadap Aryan, ia harus membuat Aryan melepaskan Berlian apapun caranya, "bawa aku pergi, Ar."


"Aku tidak pernah membuat janji untuk membawa pergi Zee, aku ingatkan lagi ucapanku saat itu, aku akan berusaha merebutmu dari Devan kalau saja kamu tidak bahagia dengannya."


"Aku tidak bahagia dengannya,"


"Tapi aku selalu melihatmu begitu bahagia dengannya, aku bisa apaa???"


Tangisnya belum mereda, "itu semua bohong, aku tidak pernah bahagia bersama dia," Aryan membuang muka ketika melihat Zivana mulai menitihkan air matanya lagi, ia tidak akan sanggup jika melihat air mata itu jatuh. Hati kecilnya pasti akan goyah. "Oke begini, aku akan tetap berada di dekatmu bagaimanapun caranya, tapi satu hal, jangan cintai dia, oke?"


Menarik tangannya, "maaf, aku sudah jatuh cinta sama dia, jauh sebelum aku bertemu dengannya,"


"Aryaaannn!!!!!!!!"


"Zee, aku mohon hentikan perbuatanmu ini,"


"Aku tidak bisa. Aryan, lupakan janji kamu kepada laki-laki itu, mau kamu tepatin atau tidak, dia tidak akan pernah tau kan??????" Nada bicara Zivana meninggi, bahkan ia setengah berteriak.


"CUKUP?!!!!" Zivana tersentak lagi, mendengar suara Aryan lebih tinggi dari teriakannya.


"Kamu yang cukup!! pertunangan itu konyol Aryan. Kamu menerima dia bukan karena kamu suka sama dia,"


"Kamu tidak tahu apa-apa soal hatiku Zee, pulanglah. Kamu perlu istirahat. Seharusnya aku gak pergi kesini." Benar, seharusnya Aryan tidak disini.


"ARRRGGGGHHHHKK!!!!!!" Aryan menghentikan langkahnya, ia berbalik menatap Zivana yang sudah berjongkok dan menangis sedih. "Bodoh, bodoh, bodoh...."


Tangannya mengambang, Aryan menghentikannya untuk tidak memukuli kepalanya berulang kali. Namun itu malah membuat Zivana bergerak memeluk Aryan erat, ia menangis dalam pelukan laki-laki itu dengan kuat. Terpaksa, Aryan bergerak menepuk punggung Zivana pertanda menguatkan.


"Maafkan aku Aryan, ayo mulai semuanya dari awal. Aku akan tinggalkan Devan sebelum dia meninggakkan aku, dan aku akan benar-benar setia disampingmu."

__ADS_1


"Kamu bisa pulang sama Reza," melepaskan pelukan Zivana.


"Lo buang waktu gue Ar," Aryan hanya tersenyum. "Zee, ayok pulang. Gue harus tinggalin istri gue karena lo,"


Zivana kembali menatap Aryan setelah melirik Reza, "kamu benar-benar ingun menjauh dariku? bahkan kamu tidak ingin mengantarkan aku pilang, kamu malah menyuruh orang lain?"


"Dia Reza, sahabat aku, orang yang sangat aku percaya, bukan orang lain."


"Kamu benar-benar tidak memikili perasaan, Ar."


"Ada hati yang harus aku jaga Zee, aku bertemu denganmu diam-diam saja itu sudah menjadi kesalahan besar bagiku," Zivana terdiam ketika melihat Aryan berjalan semakin menjauh, ia benar-benar sudah tidak ada tempat lagi dihati Aryan.


"Mari tuan putri, saya antar," Menunduk memberikan jalan kepada Zivana.


Terlihat wajah kesal Zivana melihat Reza melakukan itu, sia-sia ia menangis dan memohon kepada Aryan.


Oke, ia akan mencari cara lain.


********


Lega, itu yang dirasakan Aryan. Benar juga kata Zaskia, ia harus berani ambil tindakan tegas kepada Zivana. Perempuan itu tidak akan pernah terima jika Aryan memiliki perempuan lain, selain dirinya di hati Aryan.


Walau dia sudah berada dalam genggaman Devan, sifat egoisnya akan selalu ada untuk memiliki Aryan diam-diam. Sedangkan Aryan tidak bisa diam melihat dirinya dilakukan seperti itu oleh perempuan yang pernah ia cintai dahulu.


Sampai di depan pintu mobil, Aryan mencari kunci mobil yang entah ia taruh dimana.


Ujung matanya melihat seseorang, membuatnya kembali menaruh kunci kedalam saku setelah beberapa menit mencari.


Aryan menatap lekat perempuan yang duduk dibangku di depan gerbang, sepertinya ia tidak asing dengan perempuan yang terus menunduk itu. Samar terdengar isakan dari perempuan itu, terlihat dari bahunya yang bergetar. Hal itu membuat Aryan memberanikan diri untuk mendekati, bisa saja ia mengenali perempuan itu atau bisa saja perempuan itu membutuhkan bantuannya.


Perempuan itu masih tidak merasakan kehadiran Aryan.


Sedangkan kening Aryan berkerut karena mengenali perempuan itu, ia tidak asing dengan celana tidur bermotif tengkorak ini.


"Berlian,," panggilannya membuat perempuan itu mendongak dan melebarkan matanya. Sembari berdiri ia menghapus air matanya. "Kamu ngapain disini?"


"Ahh, gue, guee...."


"Kamu ngikutin aku?"


"Hah. Guee? Ngikutin lo?" Aryan mengangguk. "Dih, gak usah kepedean lo ya? Gue cuma jalan-jalan aja,"


"Kamu nangis?" Berlian menggeleng.


Cepat-cepat menghapus jejak air matanya. "Ngapain gue nangis? Dahlah," Berlian melangkah pergi.


"Tunggu.." Berlian berbalik dan melihat Aryan berjalan mendekat. "Kamu lihat aku dan Zivana tadi?"


"Enggak, gue gak lihat apa-apa," membuang wajahnya, Aryan tersenyum dan mengelus puncak kepala Berlian.


"Sama siapa kamu kesini?"


"Bukan urusan lo " Aryan meraih tangan Berlian dan ia genggam kuat. Berlian sama sekali tidak mengelak, sampai laki-laki itu menariknya kedalam pelukan.



"Ngapain lo,,,,,"


"Maaf,"


"Lepas,,,"


"Apa aku tidak boleh memeluk tunanganku sendiri?" tanyanya ketika menenggelamkan wajahnya pada bahu Berlian.


Berlian tidak mampu menahan air matanya lagi, ia menangis dalam pelukan Aryan. Tangan Berlian bergerak membalas pelukan laki-laki yang sudah membuatnya menangis. Membuat Aryan semakin mengencangkan pelukannya.


Kenapa ia malah memperlihatkan sisi sedihnya, seharusnya ia pergi tadi bukannya malah termenung disini. Seharusnya Aryan tidak melihatnya disini, seharusnya Aryan tidak menghampiri dirinya. Seharusnya ia lari saat Aryan menghampirinya.


Seharusnya, , , , ,


Seharusnya, , , , ,


Dan seharusnya, , , , ,


Tapi tidak Berlian lakukan, pikirannya menyalahkan dirinya sendiri. Tapi hati


Berlian menyuruhnya untuk tetap stay berada disini, dan itu membuatnya menangis semakin kuat dalam pelukan Aryan.

__ADS_1


...☘️☘️...


__ADS_2