
Dengan pandangan menerawang, Berlian terus menatap pemandangan lewat jendela mobilyang berjalan dengan kecepatan sedang. Perempuan itu meneliti setiap pengguna sepeda motor, melihat sepasang kekasih yang tengah asik berbincang.
Kayaknya seru tuh, naik motor berdua. Bisa peluk gitu, romantis. Gumamnya.
Berlian jadi merasa iri melihat seorang wanita yang di bawa pasangannya menggunakan sepeda motor. Dulu, setiap pergi bersama Farrel, ia selalu membawa mobilnya. Farrel selalu tidak mengizinkan Berlian menaiki motor bututnya. Hah, padahal Berlian tidak mempermasalahkan hal itu.
"Apa ya rasanya naik motor?"
Aryan melihat kearah Berlian yang menggumam. "Hah?"
Wanita itu tidak menanggapinya, mungkin tadi ia salah dengar. Saat dilampu merah, perhatian Berlian terpusat kepada sepasang kekasih yang sedang menyanyi. Tidak terlalu jelas menyanyikan lagu apa, tapi Berlian dapat mendengar itu karena mereka tepat di sampingnya. Laki-laki yang mengendalikan sepeda motor juga mengayunkan tangan sang kekasih ke kiri dan ke kanan, mereka terlihat sangat bahagia. Berlian tersenyum kecil melihat itu.
"Kenapa senyum-senyum gitu?" Berlian tersadar karena Aryan sedang mengelus kepalanya. Berlian menggeleng kecil.
"Lagi liatin pasangan itu, mereka lucu," Aryan ikut melihat pasangan yang di tunjuk Berlian, mereka sudah berada di depan mobil mereka.
Apanya yang lucu? Aryan memilih tidak menanggapi.
Melihat jam tangan yang menunjukan jam 17:25 pm, Cuaca terlihat sangat cerah hari ini. "Kita mau kemana sih?"
"Ketemu temen-temen, lagi ada acara juga," Berlian kembali menatap ke arah lampu merah.
"Acara sore-sore gini, tanggung banget. kenapa gak sekalian malam aja," Kenapa jadi Berlian yang protes!!
"Acaranya memang malam," Berlian menatap Aryan yang fokus untuk melajukan kendaraannya pelan, karena jalanan sangat padat sore ini.
"Kalau malam, kenapa kita berangkat waktu langit masih terang gini?" Selagi menunggu kendaraan di depan melaju, Aryan memasangkan sabuk pengaman pada Berlian yang selalu tidak menaati keamanan saat berkendara dan berpikir sejenak menatap Berlian.
"Karena ini lumayan jauh. Sepertinya, kita perlu waktu yang lama untuk ke sana." Berlian mengangguk setuju.
__ADS_1
"Memang acara apa sih?" Aryan tersenyum. Pertama kalinya Berlian bertanya banyak.
"Ini festival music, kita harus nonton. Karena, tamu bandnya 'BMTH' aku tau kamu heavy metal music fans, apa lagi sama Bring Me The Horizon." Mengingat sewaktu di taman Rumah sakit mereka berdua membicarakan tentang BMTH. Berlian menutup mulut dengan kedua tangannya.
"Bring... Bring Me," menelan salivanya. "Bring Me The Horizon???" Teriaknya terbata-bata. "Serius?? Lo gak bohong? kok gue gak tau ya?" Aryan menggeleng. "Gue mau nonton," Aryan tersenyum melihat Berlian yang sangat bersemangat. Menambahkan kecepatan mobil saat lampu lalu lintas sudah berganti.
"I almost went crazy because of Bring Me The Horizon." Aryan melihat Berlian yang bercerita penuh semangat. "Sewaktu konser ketiga mereka, Gue pernah pergi sendiri ke jakarta terus terbang dari Jakarta ke Labuan Bajo yang tiket mahalnya gak ngira-ngira cuma buat nonton konser mereka."
"Seriously?" Berlian mengangguk sambil tertawa.
"Yassss..... I am Horizon death cult." Sebutan untuk fans Bring Me The Horizon. "Itu mami gak tau kalau gue sempet kerja sana sini buat ngumpulin duit, nipu Daddy buat ke sana. Pergi sendiri lagi," Berlian bercerita sampai membuat matanya berkaca-kaca dan membara.
"Terus?" Aryan tidak terlalu penasaran dengan cerita itu, hanya saja Aryan sangat menginginkan Berlian yang seperti ini. Berlian yang mau bercerita tanpa di paksa.
"Gue bilangnya bakal ada acara dari tempat les, makanya gue pergi dari rumah lima harian. Habis itu ketahuan mami pas sudah pulang, brosur konsernya ketinggalan. Soalnya juga gue gak pernah bisa pergi sendiri apalagi ketempat ramai. Besok nya kalo nonton di kawal mami," Berlian sampai tertawa keras membuat Aryan ikut tertawa.
Di jalanpun Berlian sesekali bernyanyi salah satu lagu dari album Bring Me The Horizon, itu juga karena Aryan memutarnya di mobil. Karena macet yang panjang membuat mereka sedikit akan terlambat.
Berlian melihat diri sendiri dan menghela nafas lega, bahwa dirinya tidak salah kostum, memakai sneakers putih tinggi dan crop top hitam, levis hitam di padukan dengan jaket levis biru. Kemudian Berlian tersadar dan melirik Aryan yang mengenakan canvas sneakers dan kaos hitam, levis hitam yang memiliki sobekan di lutut, di padukan dengan jaket levis dan memakai topi polos berwarna putih.
Selain setelan jas ternyata Aryan bisa mengenakan pakaian yang sesuai tempatnya. Berlianpun tersadar bahwa selama pergi dengannya memang Aryan selalu tampil fashionably.
Aryan sesekali melirik jam tangan yang ia kenakan. Jam menunjukkan pukul 20:30 pm dan musik sudah terdengar dari band lokal yang menyambut, terlebih dahulu.
"Kita bakal pulang jam berapa? Gak kemaleman?" Aryan menggeleng.
"Aku udah search location ke om Timo. Beliau bakal ngerti kok kita dimana, mobil yang aku pinjem dari om Timo juga ada GPS'nya. Jadi bakal tau kita kemana. Lagian aku juga sudah nunjukin tiket yang bakal kita tonton." Saat sudah menempatkan posisi mobil di parkiran sesuai arahan tukang parkir, Aryan mengajak Berlian turun.
********
__ADS_1
Setelah memberikan tiket masuk dan menjalani beberapa pemeriksaan yang mereka ikuti, Aryan dan Berlian akhirnya masuk.
Berlian mengekor di belakangnya, melihat ke kiri dan ke kanan merasa canggung dengan tempat yang ramai. Aryanpun melakukan hal serupa mencari para anggotanya yang berjanjian untuk bertemu, tangan yang di masukkan ke dalam kantong jaket sangat gatal ingin menggenggam tangan Berlian, dan ketika akhirnya Aryan menemukan anggotanya.
"Mereka disana," Aryan langsung menggenggam tangan Berlian yang berusaha ia tahan sedari tadi, Berlian tekejut melihat genggaman Aryan dan hanya mengikuti langkah pria di depannya menuju gazebo permanen yang memang sudah ada di area tersebut. Kenapa Berlian tidak mengelak dengan genggaman itu. Entahlah, yang ia ingat adalah pesan Mamanya, ikuti permainan mereka.
Beberapa orang yang belum Berlian kenal duduk di sana dengan keadaan yang tidak memungkinkan lagi. Padahal sewaktu masuk ke dalam aera konser, Berlian sempat mendengar pembicaraan pwngunjung lain tentang BMTH yang akan keluar belakangan. Lantas, lenapa mereka semua sudag tidak sadarkan diri sebelum menonton Bring Me The Horizon???
Aryan menghampiri perempuan yang menunduk dengan satu tangan menjadi tumpuannya menyandarkan kepala, lalu dia mengguncang pelan. Karena merasa terganggu, perempuan itupun mendongak memperlihatkan wajah cantik natural namun ekspresi mabuk yang terlihat jelas.
Perempuan itu berdiri dan memeluk Aryan manja, membuat Berlian sedikit terkejut. "Woy.. boss dateng," teriakan perempuan itu membuat penghuni gazebo tersadar dan melihat ke arah seseorang yang mereka panggil bos. Lalu mereka semua melambaikan tangan, Aryan membalas dengan mengangkat satu tangannya.
"Eh bawa Berlian," celetuk perempuan yang masih menggelayut manja, membuat mata Berlian sakit melihatnya.
"Dia Zaskia, sahabatku," Zaskia memaksakan lebar matanya untuk melihat Berlian yang sedang menunduk kecil menyapanya. "Mereka semua temanku, ada yang satu sekolah, ada anak dari tan bisnis papa dan ada yang menjadi rekan kerjaku." Aryan membalikkan badannya agar mampu menatap Berlian, dia sama sekali tidak membiarkan tangan Berlian terlepas dari genggamannya.
Sedangkan tangan satunya masih memeluk tubuh Zaskia yang oleng. "Maaf, rencana ingin mengenalkan mereka dengan baik, malah begini keadaannya." Memang terlihat jelas seluruh teman Aryan sudah tidak ada yang sadar, Aryan menuntun Zaskia untuk kembali duduk, lalu ia menatap Berlian lagi.
"It's Ok, lain kali kalo mereka sadar, kenalkan sama gue lagi." Aryan tersenyum dan mengelus rambut Berlian yang panjang dan anehnya Berlian sama sekali tidak protes dengan apa yang di perbuat oleh laki-laki itu, Berlian malah membalas dengan senyuman.
Benarkan? Senyuman Aryan itu bisa menghipnotis siapapun yang melihatnya dengan waktu yang lama.
...☘️☘️...
ARYAN TARA MAHESVARA
BERLIAN WIJAYA VALFREDO
__ADS_1